Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Unusual


__ADS_3

Dua jam kemudian...


Rain baru saja tiba di apartemen. Tak lupa ia berpesan kepada Jack agar datang terlebih dahulu ke bandara sebelum menjemputnya. Malam ini jet pribadi milik pejabat kota akan segera terbang menuju Indonesia. Dan Rain harus bersiap-siap sebelum keberangkatannya.


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Rain dan Ara memiliki waktu sekitar empat jam untuk bersiap-siap. Sang penguasa pun segera masuk ke apartemennya setelah berpisah dengan Jack. Tapi, sesaat kemudian ia melihat calon istrinya tertidur di sofa.


"Ara?" Ia bergegas mendekati Ara. Ia gendong tubuh calon istrinya ke dalam kamar.


Kenapa dia masih tidur di sofa? Padahal sebentar lagi kami akan menikah. Apa dia masih ingin menjaga jarak denganku?


Rain tidak habis pikir dengan calon istrinya yang masih saja tidur di sofa. Padahal ia sudah meminta agar Ara tidur di kasurnya saja. Rain belum menyadari jika Ara dalam keadaan pingsan saat ini.


Direbahkannya tubuh sang gadis ke atas kasur lalu diselimutinya. Ia pun mengecup kening sang gadis dengan sepenuh perasaan. Setelahnya ia bersiap-siap untuk berangkat. Ia ambil handuk untuk mandi terlebih dahulu.


Mungkin dia kelelahan.


Rain melepas jasnya, kemejanya dan juga celana dasarnya di depan Ara. Sehingga ia hanya mengenakan celana pendeknya saja. Ia kini tanpa ragu melakukan hal itu di hadapan gadisnya. Ia merasa sudah sangat dekat dengan Ara.


Tak lama, Ara pun perlahan-lahan tersadar dari pingsannya. Ia membuka kedua mata dan samar-samar melihat Rain di hadapannya dengan hanya memakai celana pendeknya saja.


"Sayang, sudah pulang?" Ara beranjak bangun sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Ara? Istirahat saja dulu. Nanti aku bangunkan jika sudah mau berangkat." Rain memakai handuknya lalu mendekati Ara.


"Gendong," kata Ara yang tiba-tiba membuat Rain kaget.


"Hah?!" Sang penguasa tak percaya jika Ara akan berkata seperti itu.


"Gendong aku," kata Ara lagi.


Rain menelan ludahnya lalu menggendong sang gadis. Gendongan ala pengantin yang membuat Ara merasa nyaman.


"Kita mau ke mana?" Rain pun bertanya.


"Mandi," jawab Ara singkat.


"Ap-apa?!" Rain tambah kaget.

__ADS_1


"Kenapa? Aku mau mandi," kata Ara lagi.


"Em, tapi aku juga mau mandi." Rain memberi tahu gadisnya.


"Kalau begitu bersama saja." Ara mengungkapkan.


Sontak Rain bertambah kaget dengan sikap gadisnya. Dia kenapa ya? Tidak biasanya bersikap seperti ini? Ada apa dengannya? Rain bertanya-tanya sendiri.


Ia menuruti kemauan sang gadis. Ia bawa gadisnya itu ke kamar mandi. Sesampainya di dalam kamar mandi, Rain menurunkan Ara dari gendongannya. Sang gadis pun lalu menggulung rambutnya di depan Rain. Dan Rain pun hanya dapat melihatnya saja.


"Tadi saat pulang kuliah aku melihat pasir," kata Ara sambil membuka kancing kemejanya satu per satu.


Sontak mata Rain terbelalak melihatnya. Pikirannya semakin tak karuan. Ara tak biasanya bersikap seberani ini di hadapannya.


"Lalu?" Rain hanya menanggapinya singkat.


Ara melepas kemejanya di hadapan Rain. Sehingga ia hanya mengenakan tengtop hitamnya saja. Rain pun menelan ludah melihat bahu mulus sang gadis.


"Aku minta petugas membersihkannya. Aku tidak tahu apa itu," kata Ara lagi.


Ara lalu menurunkan resleting celana jeans-nya. Sontak Rain menahannya. Ia tatap wajah sang gadis, ingin memastikan jika Ara sadar dengan apa yang dilakukannya saat ini.


Ara menjawabnya. "He-em. Tidak boleh?" Ara balik bertanya.


Astaga. Seketika Rain merasa ada yang aneh pada gadisnya.


Biasanya dia amat keras terhadap dirinya sendiri. Tapi kenapa sekarang dia dengan mudahnya melepaskan pakaian di hadapanku?


Rain merasa bingung.


"Sudah lepas handuknya." Ara meminta.


"Handukku?" tanya Rain lagi.


"Iya, Sayang. Handukmu." Ara mencolek dagu Rain.


"Em ... baiklah." Rain ragu-ragu menurutinya.

__ADS_1


Rain hanya bisa menuruti apa kemauan Ara. Sang gadis pun melepas celana jeans-nya hingga hanya terlihat leging pendeknya saja yang memperlihatkan bentuk indah pinggulnya. Ara pun menghidupkan air untuk mengisi bathtub terlebih dulu. Ia membelakangi Rain dengan posisi yang menantang sekali. Sontak Rain bereaksi.


Ara ... kau memancingku.


Entah sadar atau tidak Ara melakukannya, ia dengan santai menunggu bathtub penuh dengan air sambil menceritakan kejadian sebelum ini. Dan Rain pun mendengarkannya.


Sementara itu di lain tempat...


Di salah satu gedung tinggi di USA, terlihat seorang gadis sedang sibuk mengutak-atik laptopnya. Ia duduk di depan meja kerjanya yang mewah. Ia mengenakan setelan seragam bisnis berwarna putih dengan dalaman hitam. High heels setinggi lima senti pun menghias kaki jenjangnya. Ia tampak sibuk dengan urusannya sendiri.


"Kenapa harus aku yang memindahkan semua datanya? Kenapa ibu tidak meminta bantuan orang lain?"


Ialah Jane yang sedang sibuk memindahkan inventaris milik ayahnya ke nama pribadinya. Rupanya serah terima saham sudah selesai dilakukan dan tinggal pematenan hak kepemilikan saja. Dan kini Jane sedang sibuk mencatat apa saja yang menjadi miliknya. Tak lama berselang, dering ponsel menyadarkannya dari kesibukan. Ia kemudian segera mengangkat telepon masuk itu.


"Halo?" jawabnya.


Jane senang. "Bagus. Lalu bagaimana hasilnya?" tanyanya pada seseorang di seberang.


"Apa? baru mulai hari ini?" tanyanya lagi.


Terlihat wajahnya berkerut saat mendengarkan penuturan dari seberang. Jane lalu beranjak dari duduk. Ia menuju jendela ruangan sambil terus mendengarkan penuturan dari seseorang di telepon.


"Besok baru bereaksi? Baiklah. Aku belum bisa cepat kembali ke Dubai. Mungkin Senin atau Selasa. Karena masih ada dokumen yang harus kutandatangani," kata Jane lagi.


"Oke, sampai nanti." Dia akhirnya menutup teleponnya.


Jane tertegun sejenak sambil melihat kendaraan yang lalu-lalang di bawah gedungnya. Ia merasa cemas jika ada yang sampai mengetahui kirimannya. Ia duduk kembali di kursi lalu meneguk secangkir kopi yang telah tersedia. Ia berharap semua rencananya berjalan dengan lancar.


"Jadi penyihir itu tinggal di perbatasan? Pantas saja Nail lama sekali menemukannya." Jane menghela napasnya.


"Aku harap semuanya berjalan dengan lancar. Aku ingin Rain jatuh berlutut di depanku. Aku hanya ingin dia, tidak ada yang lain." Jane berbicara sendiri.


Jane akhirnya menggunakan jasa penyihir untuk menaklukkan hati Rain. Ia meminta Nail mencari di mana keberadaan penyihir itu dan akhirnya ditemukan di kawasan perbatasan antar negara. Alhasil baru tadi pagi sihir itu bisa disebar oleh Nail di depan pintu apartemen Rain.


Ya, Nail lah yang menyebarkan pasir sihir itu untuk memecah belah hubungan asmara antara Rain dan Ara. Ia mendapatkan imbalan besar dari pekerjaannya. Tanpa peduli dampak yang akan ditimbulkan karena yang ada di pikirannya hanyalah uang dan uang. Ia tidak berpikir bagaimana jika hal itu berbalik kepada keluarganya. ***** dunia telah menguasai jiwanya.


Jane sendiri memercayakan sepenuhnya hal ini kepada Nail. Ia hanya menginginkan Rain kembali kepadanya. Karena Jane pikir tidak bisa melakukan kontak fisik dengan Ara selama beberapa pekan. Ia khawatir Rain menyiapkan perangkap untuk Nail. Sehingga Jane menggunakan cara halus untuk menjatuhkan sasarannya.

__ADS_1


Sihir memang ada dan nyata. Namun, hanya beberapa orang yang bisa merasakannya. Kehidupan lain ada di sekitar kita. Tak tampak, tapi bisa terasa. Dan Ara mampu merasakannya. Namun sayang, ia belum bisa mengatasinya. Sehingga harus jatuh pingsan karenanya.


__ADS_2