Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Forever


__ADS_3

Esok harinya...


Pagi ini Ara dan Rain terbangun bersama setelah melewati malam dingin bersalju. Keduanya kini tengah bersiap-siap untuk kembali ke Dubai selepas rapat semalam. Rain akan segera kembali bekerja untuk keuntungan besar organisasi. Ia menjalankan tugasnya sebagai rasa balas budi kepada sang kakek. Karena mau tak mau Rain harus melakukannya, sekalipun hal itu tidak disenanginya sedikitpun.


"Semua sudah siap, Sayang."


Jam di dinding telah menunjukkan pukul sembilan pagi. Tapi semua persiapan keberangkatan kembali ke Dubai sudah selesai. Dan kini tinggal menunggu kabar dari Byrne dan juga Owdie yang akan ikut kembali ke Timur Tengah. Seperti biasa mereka akan menggunakan jet pribadi untuk keberangkatan ke sana.


"Sebentar, ya. Aku telepon Byrne dan Owdie dulu." Rain menelepon keduanya.


Ara mengangguk. Ia kemudian pergi untuk membuatkan teh pagi ini. Namun, hatinya tidak bisa dibohongi kala melihat perubahan perilaku yang terjadi pada Rain. Rain lebih kaku dan matanya juga terlihat sembab. Rasanya Ara ingin menanyakan langsung penyebab suaminya seperti itu. Tapi ia khawatir pertanyaannya malah akan membuat Rain salah tanggap.


Apa semalam dia menangis? Tapi karena apa?


Ara kepikiran. Sampai-sampai tanpa sengaja tangannya terkena air panas saat menyeduh teh. Ia pun lekas-lekas menghisap permukaan tangannya agar tidak melepuh. Dan ternyata hal itu dilihat juga oleh Rain.


"Sayang, kenapa?" Rain segera menghampiri istrinya.


Ara menyembunyikan tangannya yang terkena air panas. "Ah, tidak. Aku hanya ingin mencicipi gula." Ara beralasan.


Seketika Rain curiga. Ia kemudian melihat paksa tangan Ara. Saat itu juga ia pergi lalu kembali dengan membawakan pasta gigi. Diolesi permukaan tangan Ara yang terkena air panas dengan pasta gigi tersebut. Ara pun memperhatikan wajah suaminya tanpa berkedip sedikitpun.


"Lain kali hati-hati, ya." Rain mengingatkan Ara. Ia beranjak pergi setelah selesai mengobati.


Saat itu juga Ara memeluknya dari belakang. Langkah kaki Rain pun terhenti seketika kala hangat tubuh istrinya ia rasakan.


"Sayang, ada apa?" tanya Ara kepada Rain sambil memeluk Rain dengan erat.


Rain menelan ludahnya. Ia menyadari jika Ara telah mengetahui apa yang terjadi padanya. Mata sembabnya tidak bisa membohongi penglihatan sang istri.


Rain kemudian berbalik, menghadap Ara. "Aku tidak apa-apa, Istriku." Rain mencolek hidung istrinya.


"Tidak apa-apa tetapi kenapa matanya sembab? Apa kau habis menangis? Apa yang terjadi saat pertemuan semalam? Kenapa tidak menceritakannya padaku? Apa kau tidak lagi memercayaiku?"


Ara banyak bertanya kepada Rain, membuat hati Rain terenyuh dengan perhatian istrinya. Ia lantas memeluk Ara, lalu mengarahkan tangan Ara agar merasakan detak jantungnya. Saat itu juga Rain tersadar jika sudah memiliki tanggung jawab yang begitu besar. Tidak hanya kepada organisasi, tetapi juga kepada istri dan anaknya kelak. Dan Rain harus bisa mengimbangi hal itu semua.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, Sayang. Aku hanya merasa bahagia karena kita bisa memiliki keluarga kecil seperti ini. Tidak lama lagi kita akan menjadi seorang ayah dan ibu. Rasanya aku tak menyangka jika akan secepat ini dianugerahi Tuhan. Aku bahagia sekali." Rain mencoba mengalihkan perhatian agar Ara tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.


Ara lantas tersenyum. "Sayang, jika ada sesuatu yang harus dibicarakan, aku siap mendengarkannya. Jangan ragu, ya." Ara memeluk manja suaminya.


Rain mengangguk. Keduanya lalu berpelukan sebelum kembali ke Dubai. "Iya, Istriku." Rain memeluk Ara dengan erat.


Pagi ini mereka akan menghabiskan waktu dengan bersantai, sebelum keberangkatan kembali ke Dubai. Ara pun tidak lupa untuk membawa anggur dari kebun suaminya itu. Ia ingin mencemili anggur itu sesampainya di sana.


Keberangkatan ke Dubai...


Rain menerima pesan dari kakeknya. Sebuah pesan yang langsung ia hapus. Ia tidak ingin Ara sampai melihatnya. Karena saat ini keduanya tengah berada di mobil, menuju Bandara Internasional USA.


"Sayang, kapan kembali lagi ke sini?" tanya Ara sambil melihat pemandangan jalanan kota.


Rain cepat-cepat memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. "Selepas di Dubai, kita bisa kembali lagi ke sini. Tapi aku harus ke Saudi Arabia terlebih dahulu." Rain menerangkan.


"Ada kerjaan di sana?" tanya Ara seraya menoleh ke suaminya.


"Ya. Ada kerja sama di bidang pertambangan minyak dengan pejabat setempat. Mendiskusikan harga minyak mentah per barelnya," tambah Rain.


Rain tertawa. "Minyak modal utama untuk berperang, Sayang. Jadi pasokannya harus stabil. Tanpa pasokan bahan bakar minyak, peperangan tidak akan bisa berjalan." Rain tiba-tiba berbicara seperti itu, entah sadar atau tidak.


Ara terheran-heran dengan perkataan Rain. Ia merasa Rain sedang tertekan sekarang. Lantas sebisa mungkin ia meringankan beban yang melanda suaminya.


"Sayang?" Ara menyapa Rain.


"Iya?" Rain pun menatap istrinya.


"Kau tampan," kata Ara yang seketika membuat Rain merona merah.


Bagaimanapun Rain adalah pakaian Ara. Sudah sepantasnya bagi Ara untuk mengerti apa yang Rain rasakan tanpa harus diceritakan. Sebagai seorang istri tentunya harus pintar-pintar membaca raut wajah suami. Apa yang sedang ia rasakan, tertekan kah, bosan atau memang lagi ingin sendiri? Ara pun sedang mempelajarinya sekarang.


"Sayang, sini dong!" Ara meminta Rain mendekat.


"Kenapa, Istriku?" Rain pun lebih mendekat ke Ara.

__ADS_1


"Mmuach!" Saat itu juga Ara mencium pipi Rain.


Lunaklah hati Rain saat sang istri bermanjaan dengannya. Ciuman di pipi itu terasa sampai ke relung hatinya yang terdalam. Membuat hati Rain merasakan ketentraman dan juga kedamaian. Ia pun mengusap-usap kepala istrinya.


"Nanti sesampainya di rumah langsung beristirahat ya. Jangan banyak pikiran." Rain berpesan.


"Tapi ... aku mau kuliah." Ara mulai jahil untuk mengalihkan beban pikiran suaminya.


"Sudah nanti lagi kuliahnya. Kau sedang mengandung, Sayang. Kau harus lebih mementingkan janinmu daripada kuliah yang bisa kapan-kapan." Rain mengingatkan. Ia terlihat kesal.


"Iya, deh. Iya." Ara pun segera memeluk suaminya.


Rain membalas pelukan Ara. Sikap manja sang istri begitu disenangi olehnya. Sampai-sampai pesan dari sang kakek tidak lagi diingatnya. Rain pun berharap bisa selalu memanjakan Ara. Memanjakan sang istri tercinta, Aradita.


Sayang, bertahanlah bersamaku.


Lantas Rain mengecup kepala istrinya. Kecupan sayang dari relung hati yang terdalam. Tidak ada lagi yang ia inginkan selain Ara seorang. Rain telah jatuh ke dalam lautan cinta yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Dan ia ingin selalu tenggelam di lautan cinta itu bersama Ara, istrinya.


...


Semua hal kecil yang sudah kau katakan dan lakukan.


Terasa merasuk ke dalam relung hatiku.


Tak masalah jika engkau sedang melarikan diri.


Tampaknya kita sudah ditakdirkan bersama.


Telah kucoba tuk menyembunyikannya agar tak ada yang tahu.


Tapi kurasa semua terkuak saat kutatap matamu.


Apa yang sudah kau lakukan dan darimana asalmu.


Aku tidak peduli.

__ADS_1


Selama kau mencintaiku, Kasih...


__ADS_2