Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Nothing At All


__ADS_3

Jane kesal. Ia memegangi kepalanya yang terasa sakit akibat kenyataan tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Ia pecahkan apa saja yang ada di depan mata untuk melampiaskan rasa emosi yang membumbung tinggi ke angkasa. Jane tidak pernah menyangka jika akan kalah bersaing dari seorang gadis biasa. Ia merasa lebih layak untuk bersanding dengan sang penguasa.


"Kurang ajar! Gara-gara gadis itu aku kehilangan Rain! Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Jika aku tidak bisa mendapatkan Rain, maka dia juga tidak boleh mendapatkannya!"


Jane tidak terima. Tujuh tahun kebersamaannya bersama Rain harus kandas begitu saja. Jane sakit hati, ia juga frustrasi. Ia ingin cepat mengakhiri semua ini. Ia ingin mendapatkan Rain kembali, bagaimanapun caranya. Sekalipun hal itu tidak manusiawi.


Rasa sakit di hatinya bertambah kala penghinaan itu didapatkannya. Ia tidak terima dikatakan bodoh oleh Owdie. Ia ingin membalas semua ini dengan mendapatkan Rain kembali.


Sementara itu...


Rain, Byrne dan Owdie masuk ke dalam mobil. Byrne menyetir mobil, sedang Rain duduk sendiri di belakang. Ia meneguk botol air mineral yang ada di mobil Byrne untuk meredakan rasa hausnya.


"Dia benar-benar gila, ya." Owdie melihat rekaman video saat pertama kali masuk ke apartemen Jane.


"Untung saja kita cepat datang. Jika tidak, singa buas di belakang ini sudah dijinakkan olehnya." Byrne menimpali.


"Hahaha." Owdie tertawa. "Kau harus berterima kasih kepada kami, Rain. Sepuluh botol anggur racikan sendiri kutunggu di rumahku." Owdie menoleh ke arah Rain yang duduk di belakang.


Rain mengembuskan napasnya. "Ambil saja sendiri di kebun. Aku tidak sempat lagi mengurusnya," cetus Rain, seraya meletakkan kembali botol air mineral itu ke jok tengah.


"Apa aku tidak kebagian?" Byrne ikut bertanya sambil membelokkan stir mobilnya.


"Tenang saja, Byrne. Rain amat baik. Dia akan memberikan anggurnya asal kita ambil sendiri. Nanti saat perkumpulan tahunan, kita bawa truk saja ke kebunnya." Owdie memberikan saran.


"Sialan! Dikasih hati malah minta jantung!" Rain pun kesal kepada Owdie.


"Hahahaha." Owdie tertawa kembali.


Byrne tersenyum karena candaan Owdie kepada Rain. Ia lantas bertanya, "Jadi apa aku bisa segera pergi menuju negara lain, Rain?" tanya Byrne dari depan.


"Kau sudah selesai?" Owdie menoleh dengan rasa tak percaya, ke arah Byrne yang sedang menyetir.


"Sudah. Eksperimen sudah selesai dan aku juga sudah mendapatkan tanda tangan dari kepala farmasi di kota ini." Byrne menoleh sesaat ke Owdie yang duduk di sampingnya.


"Tunggulah sebentar lagi. Aku masih ada urusan malam ini. Bisa bantu aku, kan?" Rain menahan kepergian Byrne untuk yang ke sekian kali.


"Apa ada sesuatu yang lebih penting?" tanya Byrne, melihat Rain dari kaca spion tengah.

__ADS_1


"Amat penting. Dan aku ingin kalian yang menjadi saksinya." Rain berharap.


Byrne dan Owdie saling melirik satu sama lain. Keduanya manggut-manggut, mengiyakan permintaan Rain. Entah apa yang akan dilakukan sang penguasa malam nanti, tapi sepertinya ia membutuhkan kedua saudaranya untuk ikut menemani.


Sore ini menjadi saksi keberhasilan rencana Rain dalam mendapatkan bukti atas perbuatan Jane. Baik Owdie maupun Byrne berharap hubungan Rain dan Ara tidak ada yang mengganggunya lagi. Kedua saudara itu mendukung penuh sang penguasa untuk mempersunting Ara. Dan Rain tidak akan melupakan kebaikan keduanya.


Lain Rain, lain juga dengan Lee. Lee tampak duduk termenung di kursi taman dekat pancuran air Kota Dubai. Ia memandangi air mancur seorang diri. Di jam yang sama tapi di hari yang berbeda, namun tanpa Ara di sampingnya.


Di taman air mancur Kota Dubai...


Semilir angin sore mengingatkan Lee akan seorang gadis yang dulu pernah duduk di sampingnya. Di sini, di kursi taman yang ada di dekat air mancur kota.


Masih teringat jelas akan sosok gadis yang ia temui pertama kali di depan toserba, saat gadis itu hampir saja tertabrak pengendara motor yang melaju cepat ke arahnya. Dan semesta akhirnya kembali mempertemukan mereka di kursi taman ini. Dimana Lee baru saja pulang dari toserba itu. Ia merasa pertemuannya adalah sebuah pertanda untuk masa depan. Namun, sungguh disayangkan rasa kecewa itu harus dirasakannya sekarang.


Ara ....


Lee menatap langit sore sambil mengingat-ingat hal apa saja yang pernah terjadi di antara dirinya dan juga Ara. Ia duduk sendiri di atas kursi panjang yang ada di taman itu sampai satu per satu pejalan kaki datang dan berolahraga di sana. Namun, Lee tidak menghiraukannya. Ia tetap menatap langit seraya mengingat kejadian yang telah ia lalui bersama Ara.


Ara ... mengapa cepat sekali ...?


Lee masih tidak percaya jika pertemuannya harus berakhir dengan cepat, terlebih ia baru saja merasakan getaran aneh di dalam hatinya. Sebuah getaran yang menghasilkan gaya tarik untuk memiliki sesuatu. Dan sesuatu itu adalah Ara.


Rasa sedih, kecewa, dan luka kini menjadi satu menggerogoti hatinya. Ia tidak menyangka jika akan tertarik dengan seorang gadis yang menurutnya biasa-biasa saja. Jarang berdandan, polesan make up juga seadanya. Tapi, Lee menyukainya. Dia harus mengakui jika menyukai Ara.


Sore ini, burung-burung berterbangan di angkasa menjadi saksi kegundahan hatinya. Ia lantas termenung seraya menatap tempat yang kosong di sisinya. Ia membayangkan jika Ara ada di sana. Duduk bersama di sore hari sambil menikmati kedamaian air mancur yang menemani. Andai semua itu terjadi, mungkin Lee tidak akan sekecewa ini.


"Aku seperti sudah kalah sebelum berperang ...."


Ia berucap pelan di antara keramaian orang yang lalu-lalang di sekitarnya. Lee kemudian beranjak meninggalkan kursi itu, kursi taman yang menyimpan kenangan. Ia tidak ingin terlarut lebih lama dalam rasa nyaman yang tidak tergapaikan.


...


Menakjubkan caramu.


Berbicara menyentuh hatiku.


Tanpa sepatah katapun.

__ADS_1


Kau bisa menerangi kegelapan.


Meski kucoba, tak pernah bisa kujelaskan.


Apa yang ku dengar saat kau tak mengatakan apapun.


Senyum di wajahmu,


Beritahuku bahwa kau membutuhkanku.


Kebenaran di matamu,


Mengatakan kau takkan pernah meninggalkanku.


Sentuhan tanganmu mengatakan kau 'kan menangkapku ke manapun aku jatuh.


Kau mengatakan yang terbaik saat kau tak mengatakannya sama sekali.


Sepanjang hari aku bisa mendengarnya.


Orang berbicara keras.


Tapi saat kau memelukku erat,


Kau menenggelamkan orang banyak.


Cobalah sebisa mungkin, mereka tak pernah bisa menentukannya.


Apa yang telah dikatakan antara hatimu dan hatiku.


Senyum di wajahmu.


Kebenaran di matamu.


Sentuhan tanganmu.


Memberitahuku bahwa kau membutuhkanku.

__ADS_1


Kau mengatakan yang terbaik saat kau tidak mengatakannya sama sekali...


__ADS_2