Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Busy Day


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Pagi hari aku terbangun dengan hati yang bahagia. Bahagia karena impianku kini telah berhasil diraih. Rasanya aku bersyukur sekali. Tidak menyangka jika semua anganku menjadi nyata.


"Sudah hampir setengah enam."


Kulihat jam di dinding telah menunjukkan pukul 5.20 pagi. Lantas segera saja aku beranjak bangun untuk menyediakan sarapan. Kupikir calon suamiku masih tertidur kala ini, namun nyatanya dia sudah tidak ada di sampingku.


"Sayang?!"


Aku terkejut saat melihatnya tengah duduk di depan meja laptop. Dia juga menyeduh kopinya sendiri. Dan kulihat dia seperti sedang menarik titik koordinat dari layar laptopnya.


"Ara, sudah bangun?" tanyanya seraya menoleh sebentar ke arahku.


"Hem, iya." Aku mengangguk.


"Kakek memberiku tugas mendadak hari ini. Lekaslah mandi. Kutunggu sarapannya, ya."


Priaku meminta agar aku lekas mandi. Mungkin dia amat sibuk sampai tidak ingin berbasa-basi lagi denganku. Aku pun berusaha memaklumi kesibukannya. Ya sudah, lekas saja aku mandi lalu membuatkannya sarapan. Kebetulan aku juga sudah lapar pagi ini.


Kuhidupkan keran air lalu membasuh tubuhku. Kusabunkan tubuhku dengan sabun cair beraroma terapi. Rasanya bahagia sekali. Kebahagiaanku ini sepertinya bisa menjadi doping agar tubuhku tidak mudah sakit. Bukankah bahagia itu adalah obat dari segalanya?


"Hah, segarnya."


Selepas mandi, aku segera mengenakan pakaian di lorong mesin cuci. Tapi hari ini kukenakan dres selutut yang berwarna lembut. Ditambah setelan bolero untuk menutupi bagian lenganku yang terbuka. Setelahnya aku pun berdandan minimalis. Secukupnya saja agar tidak terlalu mencolok pandangan mata.


"Girly sekali penampilanku hari ini."


Lekas-lekas aku membuatkan sarapan. Aku membuatkan nasi goreng dengan tambahan toping sosis dan suwiran ayam. Rasanya cukup untuk memberi tenaga sebelum memulai aktivitas hari ini.


"Hem, harum sekali nasi gorengku."


Oseng sana, oseng sini. Harum bawang bombay bercampur bawang merah-putih ini begitu menggugah seleraku. Ditambah irisan paprika, lengkap sudah. Lantas saja segera kusiapkan topingnya.


Priaku sebenarnya tidak terlalu menyukai nasi. Perbedaan iklim dan cuaca membuat kami memiliki cita rasa yang berbeda. Aku lebih suka pedas, sedang dia lebih menyukai rasa yang asam manis. Tapi walaupun begitu tidak menjadi halangan kami untuk mencinta. Perbedaan yang ada malah semakin membuat kami saling mengisi satu sama lain.

__ADS_1


"Minumnya apa, ya?"


Kubuka kulkas besar yang ada di dapur lalu kuambil susu kotak yang tersedia. Lantas kupanaskan terlebih dahulu sebelum kusajikan ke atas meja. Nasi goreng spesial dan susu cair hangat menemani kami bersantap pagi ini. Lekas saja kubawakan semuanya ke atas meja makan dan bersiap bersantap bersamanya.


Beberapa menit kemudian...


Priaku baru saja keluar dari kamar dengan mengenakan setelan jas hitamnya. Sepertinya dia ingin ke kantor terlebih dahulu sebelum mengantarkanku memilih gaun pengantin. Aku pun segera menuangkan air putih untuknya. Dia kemudian duduk di depanku.


"Sayang, hari ini terlihat imut," katanya seperti menggodaku.


"Benar, kah?" Aku menanggapinya segera.


"He-em. Dres yang kau kenakan berwarna kalem. Hijau lembut dengan bawahan corak bunga melati. Apalagi di tambah bolero lengan panjang ini, girly sekali." Dia memujiku.


"Terima kasih, Sayang," kataku padanya.


Kami akhirnya memulai santap pagi bersama. Priaku terlebih dulu meminum air putihnya. "Aku diminta kakek untuk ke Turki hari ini." Dia menceritakan.


"Ke Turki?"


Astaga, berarti ...?


Entah mengapa aku merasa sedih mendengarnya. Padahal dia bilang hari ini akan mengajak ku untuk memilih gaun pengantin. Tapi nyatanya, dia akan pergi ke Turki.


"Sayang." Dia lantas memegang tanganku. "Kita akan tetap menikah walau aku pergi ke Turki. Tidak lama, kok. Mungkin hanya sekitar dua hari saja," katanya lagi.


"Lalu bagaimana dengan gaun pengantinnya?" tanyaku memastikan.


"Kita bisa membelinya sekarang. Itu tidak jadi masalah. Apa kau ingin ikut juga ke Turki?" Dia balik bertanya padaku.


Aku terdiam sejenak.


"Ini urusan pekerjaan. Aku tidak bohong, sungguh." Dia meyakinkanku.


Sebenarnya bukan hal itu yang kutakutkan. Aku percaya jika dia tidak akan berkhianat padaku. Tapi masalahnya, aku khawatir jika dia lama di sana malah akan kepincut gadis Turki dengan alasan pekerjaan. Terlebih priaku ini memang tampan rupawan. Siapa sih wanita yang tidak mau dengannya?

__ADS_1


"Em, baiklah. Aku ke kampus saja kalau begitu. Sudah lama tidak masuk, banyak mata kuliah yang tertinggal." Aku berusaha menerimanya.


Sejujurnya aku ingin ikut ke Turki. Tapi priaku sedang mengurus pekerjaannya. Tak pantas rasanya jika ikut pergi apalagi belum berstatus suami-istri. Bisa-bisa malah akan menjadi bahan pembicaraan orang. Terkecuali jika dia sudah menjadi suamiku, ke manapun akan kuikuti.


"Yakin tidak mau ikut?" tanyanya dengan tatapan meminta kepastian.


"He-em. Aku kuliah saja. Tak apa, bukan?" tanyaku.


"Ya, tak apa." Dia pun mengiyakan seraya tersenyum.


Tak lama berselang, bel apartemen kami berbunyi. Aku pun segera berdiri untuk membukakan pintu siapa yang datang pagi-pagi ini.


"Mungkin itu manajer apartemen, Ara." Dia memberi tahuku.


Lantas aku membuka pintu. Dan ternyata yang datang adalah seorang pria berkaca mata dengan mengenakan setelan seragam bisnisnya. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh priaku jika dia adalah manajer apartemen ini.


"Selamat pagi, Nona. Saya diminta tuan Rain untuk membicarakan administrasi tinggal. Boleh saya masuk?" tanyanya terus terang.


Aku mengangguk. Lantas kupersilakan dia masuk ke dalam. Priaku pun lalu menyambut kedatangannya, mereka berjabatan tangan. Sedang aku seperti biasa, berada di sisi priaku tanpa bersentuhan tangan dengannya.


Pagi-pagi apartemen Rain sudah kedatangan tamu yang tak lain adalah manajer apartemen tempatnya tinggal. Mereka akan membicarakan status apartemen ini bersama. Yang mana Rain tidak berniat untuk menjualnya karena apartemen ini telah menyimpan sejuta kenangan indah.


Ara pun dengan setia mendampingi pembicaraannya. Hingga akhirnya Ara menyadari jika rumah yang akan ditempati selanjutnya sudah siap untuk diisi. Dan kini hanya tinggal membawa sedikit barangnya ke sana.


Rain sudah meminta orang untuk membersihkan rumah di komplek perumahan Palm Jumeirah. Ia juga meminta pihak interior untuk memenuhi rumah kecilnya dengan peralatan rumah tangga. Rain sudah mempersiapkan semuanya. Hingga akhirnya ia hanya tinggal menyelesaikan proses administrasinya saja di sini.


"Saya harap apartemen ini tetap menjadi milik walaupun sudah pindah ke tempat lain. Saya meminta tolong agar apartemen ini tetap dibersihkan setiap minggunya." Rain berpesan kepada si manajer.


"Baik, Tuan." Sang manajer pun mengiyakan.


Keduanya lantas berjabatan tangan sebelum mengakhiri pertemuan. Mereka telah bersepakat untuk tidak menjual apartemen ini kepada siapapun walau Rain tidak lagi tinggal di sana.


Pagi ini cuaca tampak cerah. Mentari terbit dengan sempurna dan menghangatkan dunia yang diterpa dingin semalam. Dan kini sepasang insan itu sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan hidupnya.


Mereka mengantarkan sang manajer sampai ke depan pintu lalu segera menyelesaikan sarapan paginya. Setelahnya mereka bersiap menuju ke Burj Khalifa. Rencana Rain akan membawa Ara ikut serta ke kantornya.

__ADS_1


__ADS_2