
Sementara itu...
Owdie sedang menerima telepon dari anak buahnya tentang hal yang terjadi tadi sore di jalanan Kansas. Ia pun terkejut saat mengetahui kebenarannya. "Kalian yakin?!" tanya Owdie seraya menahan kesal.
Saudara seperasuhan Rain itu sedang berdiri di dekat jendela kamar rumah sakit, membelakangi Rain. Ia tidak ingin mengganggu Rain yang sedang beristirahat sehabis meminum obat.
"Benar, Tuan. Kami mendengar informasi jika mereka ingin menghabisi seluruh sayap kanan organisasi tanpa terkecuali. Sehingga hanya sayap kiri lah yang tetap berdiri. Kami sarankan untuk Tuan agar segera pergi dari USA karena sayap kiri sepertinya masih ingin melakukan sesuatu terhadap Tuan dan juga tuan Rain." tutur anak buah Owdie dari seberang.
Keterlaluan!
Saat itu juga Owdie geram bukan main. Ia tahu benar siapa pemimpin sayap kiri di organisasi. Tak lain dan tak bukan adalah Nick, saudara seperasuhannya sendiri. Seseorang yang amat tidak menyukai Rain sebagai pemimpin sayap kanan.
Ini seperti perseteruan yang terjadi antara blok barat dan blok timur. Sepertinya aku harus segera membawa Rain pergi dari rumah sakit.
Owdie memikirkan cara lain untuk menyelamatkan Rain. Dalam kondisi lengan kiri yang tertembak, Rain tidak mungkin bisa menang jika beradu tangan dengan banyak orang. Ia harus memulihkan lukanya terlebih dahulu.
"Baiklah, terima kasih. Terus awasi pergerakan sayap kiri. Utus beberapa orang untuk tetap berjaga di manshion kakek. Dapatkan informasi yang lebih banyak dengan keahlian kalian." Owdie meminta.
"Baik, Tuan." Seseorang dari seberang pun menyanggupi.
"Ada apa Owdie?"
__ADS_1
Rain terlihat memerhatikan percakapan Owdie sedari tadi. Ia merasa cemas dengan hal yang terjadi. Selang infus yang masih terhubung dengan tubuhnya tampak membuatnya kesulitan bergerak lebih cepat.
Owdie berbalik, menghadap Rain. "Rain, kita harus segera pergi dari sini. Ada orang gila yang ingin melenyapkanmu. Kita keluar malam ini juga dari rumah sakit." Owdie meminta.
Saat itu juga Rain mengerti apa yang terjadi dengan percakapan telepon Owdie tadi. Ia memahami apa yang dimaksudkan oleh saudaranya.
"Baiklah. Aku mengikut saja." Rain pun setuju.
Tak lama kemudian ponsel Owdie kembali berdering. "Halo?" Owdie pun segera menjawabnya.
"Tuan, ada kabar dari manshion jika sayap kiri mulai bergerak malam ini. Saya khawatir mereka akan dengan mudah menemukan keberadaan tuan Rain di rumah sakit. Bagaimana jika saya saja yang menggantikan di rumah sakit?" Seseorang dari seberang telepon menawarkan pada Owdie.
Owdie pun tampak menimbang kembali hal tersebut. Tak lama ia mengambil keputusan. "Baiklah. Kau gantikan Rain di sini. Aku pergi sekarang ke timur USA. Siapkan kendaraan yang paling bagus untuk berangkat ke sana. Sejam lagi aku berangkat." Owdie menuturkan. Tak lama sambungan telepon mereka pun terputus.
Malam ini Owdie akan membawa Rain menemui seseorang agar luka tembaknya bisa lekas sembuh. Rain berencana segera kembali ke Timur Tengah secepatnya. Ia ingin menemui Ara di Turki. Tapi sebelum ia kembali, Rain tidak ingin meninggalkan bekas luka apapun karena tidak ingin membuat Ara mencemaskan dirinya. Apalagi Ara sedang mengandung sekarang, tentunya kabar penembakan yang terjadi padanya akan membuat Ara down. Dan Rain tidak ingin hal itu sampai terjadi.
Beberapa jam kemudian...
Ribuan kilometer akhirnya Rain dan Owdie lalui bersama menuju ke sebuah tempat yang ada di perbatasan Kansas. Memasuki hutan yang ada di sana dengan semak belukar yang begitu tinggi. Sampai akhirnya keduanya sampai di depan sebuah gubuk tua yang temaram. Tidak ada lampu ataupun cahaya lilin di sana. Hanya ada lampu minyak yang menyala dan itu juga tidak banyak. Owdie pun segera turun dari mobil lalu membantu Rain. Lengan kiri Rain yang masih terperban sedikit menyulitkannya untuk bergerak lebih cepat. Alhasil, Owdie pun membantunya.
"Ini adalah rumah seorang tabib yang terbiasa menangani hal-hal yang berkaitan dengan luka. Banyak orang bilang luka jenis apapun bisa sembuh dalam waktu yang cepat. Aku tak percaya, tapi kita coba saja. Setelah sembuh kita akan segera berangkat ke Timur Tengah." Owdie memaparkan sambil berjalan memapah Rain.
__ADS_1
"Hah, ya. Aku ikut saja denganmu. Lagipula lebih cepat lebih baik. Aku tidak ingin Ara melihat luka tembak di lenganku ini." Rain menurut pada Owdie.
Owdie tersenyum. Ia merasa senang karena akhirnya seorang Rain dapat tunduk kepadanya. "Biasanya kau yang selalu memerintahku untuk ini dan itu. Tapi kini Tuhan memberiku kesempatan untuk memerintahmu. Hahaha." Owdie pun tertawa.
"Hah ... kau ini. Itu juga karena aku diminta oleh kakek untuk menyampaikannya. Jika tidak, malas sekali menghubungimu." Rain pun seakan tidak mau kalah dari Owdie.
"Hahahaha."
Owdie tertawa sambil terus memapah Rain. Keduanya berjalan bersama menuju gubuk tua yang ada di sana. Jaraknya sekitar puluhan meter dari tempat Owdie memarkirkan mobilnya. Owdie pun dengan sigap membantu Rain berjalan. Hingga akhirnya keduanya sampai juga di depan gubuk tua tersebut.
Owdie mengetuk pintu rumah. "Permisi. Apakah ada orang di sini?"
Gubuk yang tampak sepi itu seperti tidak berpenghuni. Owdie pun terpaksa harus berteriak untuk memanggil penghuni rumahnya agar membukakan pintu. Tak lama kemudian seorang kakek tua membukakan pintu. Namun, saat kakek membukakan pintu, saat itu juga Rain terbelalak kaget melihatnya. Jantungnya berdegup kencang tak percaya.
"Ta-tabib Hu?!!"
Rain melihat pria tua itu seperti seorang tabib yang pernah ditemuinya di istana Agartha. Raut wajahnya, usianya, sampai perawakannya pun sama dengan tabib yang ada di istana Agartha. Sontak Rain menelan ludahnya. Ia seperti bermimpi bertemu dengan Tabib Hu di dunianya. Sedang Owdie tampak terheran melihat saudaranya. Ternyata saudaranya itu telah mengenal pria tua yang dikunjunginya.
"Kalian sudah saling mengenal?!" tanya Owdie yang terheran-heran melihat keduanya.
Rain hanya diam. Ia seakan tidak bisa berkata apa-apa. Malam yang dingin menjadi saksi pertemuannya dengan seorang tabib yang mirip sekali dengan yang ada di istana Agartha. Rain tidak percaya dengan pria tua yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Apakah ini bukti jika dunia paralel itu ada?
Rain lantas berpikir tentang teori dunia paralel yang diketahuinya. Ia pun diliputi rasa penasaran yang begitu besar untuk mencari tahu kebenarannya. Benarkah dunia paralel itu memang ada?