Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Give Me, Now!


__ADS_3

Di istana kerajaan Uni Emirat Arab...


Aku masuk ke sebuah istana. Kukatakan istana karena jika rumah tidak mungkin seluas ini. Bangunan megah dengan ukiran emas di setiap sisi sudutnya. Aku datang bersama priaku dengan disambut orang-orang berpakaian serba putih. Aku pun hanya bisa tersenyum dan memastikan diri agar tidak grogi.


Pilar-pilar bangunan ini seperti terpoles emas. Warnanya kuning keemasan dengan dinding ruangan berwarna putih. Lampu hias tersusun-susun jumlahnya, banyak menggantung di atas ruangan, indah sekali. Ini memang istana bukan rumah biasa. Lantainya juga terhampar karpet merah, dan pasti harganya mahal. Kudengar UEA adalah negara terkaya. Jadi bisa dipastikan jika pemimpin negara ini pasti lebih kaya.


"Ara, mari kita duduk."


Priaku mengajak duduk di depan sebuah lantai yang lebih tinggi, mungkin sejenis podium untuk bicara. Aku lantas duduk di antara tamu undangan lainnya. Kami lalu disajikan makanan pembuka acara ini. Dan saat kubuka ternyata isinya kurma semua.


Astaga ... apa tidak ada makanan lain?


Aku tersenyum melihatnya. Mungkin memang sudah menjadi tradisi untuk menyediakan kurma kepada tamu yang baru datang. Benar atau tidak, lebih baik kuteguk saja air mineral yang sudah tersedia.


Aku datang mengenakan gaun yang tadi. Tapi ternyata, gaunku ini ada atasannya. Dan priaku memang sengaja menyimpannya terlebih dulu. Dia bilang sih ingin bercanda sebentar denganku. Tapi namanya candaan darinya pasti akan berujung sungguhan. Sebelum pergi tadi saja kulihat raut wajahnya pusing sendiri.


Sabar ya, Sayang. Setelah menikah kapanpun kau mau, aku akan memenuhinya.


Terkadang aku geli dan ingin tertawa sendiri. Terkadang aku juga heran mengapa mendapatkan pria dengan hasrat begitu besar. Tapi aku juga harus memaklumi sifatnya. Dia baru kali ini bertemu dengan yang satu frekuensi. Dan katanya sih hanya aku dan aku yang pertama. Benar atau tidak, itu hanya akan menjadi rahasianya sendiri.


"Sayang, minumlah." Aku mengambilkan segelas air minum untuknya.


"Terima kasih, Istriku." Dia tersenyum padaku.


Aku tertawa kecil mendengar dia mengatakan hal itu. Tapi mungkin benar apa yang dikatakan olehnya, aku memang sudah seperti istrinya. Seharusnya aku tidak perlu lagi malu kepadanya. Dia saja sudah seterbuka ini. Jadi, apalagi yang harus kukhawatirkan?


Sebenarnya bisa saja sih meminta ini dan itu padanya. Tapi rasa tidak enak hati itu masih bergelayut di pikiranku. Aku khawatir dia berpikiran yang macam-macam tentangku karena status kami belum menikah. Entah kalau sudah, mungkin aku akan memintanya untuk berkeliling Eropa.


"Ara, itu putra mahkota."


Priaku menunjuk seseorang di depan sana yang mengenakan baju terusan berwarna putih atau disebut kandurah. Dengan kafiyah atau penutup kepala khas Arab.


Aku melihat sosok yang ada di depan sana dan ternyata memang tampan-tampan. Aku lantas mencoba membandingkan dengan priaku. Kutatap priaku lalu kuamati dengan cermat, kemudian aku melihat pangeran tampan yang ada di sana. Aku bolak-balik bergantian melihat mereka sampai akhirnya priaku menyadari. Lantas dia membisikkan sesuatu di telingaku.


"Jangan nakal, nanti kau akan terkena hukuman. Jaga pandanganmu, Ara." Dia berbisik seraya meremas tanganku.

__ADS_1


Kutahu jika dia cemburu. Priaku memang seorang pencemburu. Dia tidak terima jika aku memandangi pria lain. Dan karena aku ingin membalas kejahilannya tadi, aku bergantian berbisik di telinganya.


"Sayang, nanti ingin dihisap atau dijilat?" tanyaku, yang sontak membuat kedua matanya terbelalak hebat.


"Arrrraaaa..." Dia meremas tanganku dengan kuat.


Aku tertawa sendiri. Tertawa semanis mungkin dan tanpa ada suara, karena banyak orang di sini. Aku merasa puas mempermainkannya dengan kata-kata. Dia mudah sekali merespon apa yang aku katakan. Tubuhnya cepat bereaksi.


"Awas kau, ya! Aku akan memakanmu sehabis dari sini." Dia mengancamku, berbisik di telingaku.


Aku pun menanggapinya dengan mendekatkan wajahku ke wajahnya, seperti menantang agar melakukannya sekarang. Seketika itu juga dia melepas kancing jasnya. Sepertinya dia kepanasan.


Ara bergantian menjahili prianya. Ia mengucapkan kata-kata yang membuat prianya mabuk dan membayangkan apa yang dikatakan olehnya. Seketika itu juga prianya kehilangan konsentrasi. Seluruh pikirannya hanya tertuju ke arah sana. Ia lalu mengancam Ara agar tidak meneruskannya.


Sang gadis tampak menahan tawa karena telah berhasil menjahili calon suaminya. Sedang si calon suami tampak kegerahan setelah mendengar kata-kata dari gadisnya. Ia akhirnya membisikkan sesuatu ke Ara.


"Jika kau tetap seperti ini, kita pulang saja." Rain kepikiran dengan kata-kata Ara.


"Maaf-maaf."


"Aw!" Satu jitakan dari kepalan tangannya mendarat ke kening sang gadis. "Sakit, tahu!" Ara memegangi keningnya.


"Salahmu sendiri terus memancingku!" Rain tampak gemas.


"Memangnya kau ikan apa?" Ara malah bertanya.


"Aku bukan ikan." Rain mendekatkan wajahnya. "Aku ular laut yang dapat mengeluarkan bisa jika terpancing." Rain memperingatkan.


Ara menelan ludahnya. Ia tiba-tiba merasa khawatir. Baru ia sadari jika sifatnya sama dengan calon suaminya. Tidak mau mengalah dan sama-sama suka memancing. Sang gadis lantas berdehem untuk memecahkan pikirannya yang diliputi akan bayang-bayang ular itu.


Dasar mesum! Di tempat seperti ini dia masih sempat-sempatnya berkata seperti itu!


Ara bergumam dalam hati.


Ara, kau ini memang tidak melihat tempat. Jika di tempat umum saja kau berani memancingku. Tapi jika di kamar, susahnya minta ampun. Malah harus aku dulu yang memulainya.

__ADS_1


Kau ini memang menyebalkan. Awas saja nanti jika sudah menikah. Aku tidak akan memberikan waktu jeda sedetikpun untukmu.


Rain melampiaskan kekesalannya dengan menggerutu dalam hati. Dan akhirnya mereka menghabiskan waktu beberapa jam untuk menghadiri pertemuan siang ini. Sebisa mungkin Ara bersikap biasa saja. Ia selalu menggandeng tangan Rain ke mana-mana. Bak sepasang kekasih yang tidak akan bisa dipisahkan.


Beberapa jam kemudian...


Ara dan Rain tiba pukul satu siang di pertemuan kali ini. Pertemuan yang membahas kerja sama antara pekerja asing dan juga pejabat negeri. Banyak hal yang dibahas menggunakan layar proyeksi. Tapi setelah acara inti selesai, Rain segera pergi. Ia berpamitan kepada si empu acara seusai pertemuan dilakukan. Ia tidak lagi sempat untuk mencicipi hidangan yang tersedia di meja makan.


Kini Rain dan Ara masuk ke dalam mobil. Rain lalu meminta kepada Jack untuk menaikkan sekat dan membuka atap mobilnya. Jack yang ikut mengantarkan Rain pun menuruti permintaan tuannya. Ia lalu menaikkan sekat dan membuka atap mobil. Setelahnya ia segera melajukan mobil kembali ke apartemen Rain.


Di dalam mobil, sang penguasa menatap gadisnya dengan kesal. Ia duduk di sisi kanan sang gadis dengan tatapan meminta pertanggungjawaban. Sontak Ara pun menelan ludahnya. Ia tahu persis apa yang akan prianya lakukan.


"Sa-sayang ...?" Ara menjadi gugup.


"Ingin buka sendiri atau aku yang membukakan?" tanya Rain kepada gadisnya.


"Sayang, ada Jack." Ara memperingatkan.


"Dia tidak akan mendengar, sekat sudah dinaikkan, atap juga sudah dibuka." Rain menatap tajam gadisnya.


Astaga ....


Ara tak habis pikir jika akan ditagih oleh prianya sekarang. Ia lantas berpura-pura pusing, Ara memegangi kepalanya.


"Ara, jangan berakting di depanku. Pertanyaanku masih sama." Rain berkata tegas.


Ara kembali menelan ludahnya. "Sayang, nanti saja. Ini di mobil." Ara memohon.


"Nanti jika di apartemen lain lagi ceritanya. Sekarang ya sekarang." Rain bersikeras.


Ara seperti menemui jalan buntu. Ia lantas membuka rompi gaunnya sendiri. Ia turunkan hingga sebatas siku tangannya. Sehingga terlihatlah bahu indahnya yang mulus dan menggoda.


Rain lantas tersenyum. "Kau hanya milikku," katanya lalu mulai merendahkan wajahnya ke dada Ara.


"Sayang ... ahh ...."

__ADS_1


Ara memejamkan kedua matanya saat sesuatu menyentuh dadanya itu. Ia remas jas belakang Rain karena tidak bisa menahan reaksi tubuhnya sendiri. Ia melihat bagaimana sang penguasa bak seorang bayi di hadapannya. Rain tidak ingin menunggu lama.


__ADS_2