Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
I am Happy


__ADS_3

Dua jam kemudian, di kampus Ara...


Ara baru saja menyelesaikan satu mata kuliahnya dan tinggal menunggu satu lagi. Jam di gedung kampus pun telah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dan kini sang gadis tengah duduk di kursi taman seperti biasanya. Ia sedang mempelajari mata kuliah selanjutnya.


Ara kuliah di Universitas Wollongong Kota Dubai, sebuah universitas cabang dari Australia. Universitas ini termasuk ke dalam jajaran universitas tertua di dunia. Lulusannya juga telah diakui oleh berbagai lembaga terpercaya dan terakreditasi. Dan Ara mengambil fakultas bisnis di sini.


Program studi Ara adalah bisnis. Tapi ia juga tertarik dengan seni yang ada. Saat Taka memperkenalkan bagaimana teater drama, Ara berniat untuk mengikutinya. Tapi, karena keterbatasan waktu ia harus menimbang ulang tawaran bergabung ke organisasi kampus.


Bukanlah hal yang merepotkan bagi sang penguasa untuk menguliahkan Ara di sini. Terlebih ia juga mempunyai banyak kenalan sehingga bisa menyelidiki Ara jika bermain-main saat kuliahnya. Tapi, hal itu bukanlah menjadi pokok utama bagi Rain. Rain menguliahkan Ara agar sang gadis memiliki bekal yang cukup untuk masa depan. Rasa di hatinya membuat Rain peduli kepada Ara walaupun perasaannya amat susah diungkapkan.


"Hei, Ara!" Seorang pemuda berkemeja biru datang lalu duduk di samping sang gadis.


"Taka?" Ara pun melihat siapa yang datang.


"Lama tak bertemu, apa kabarmu?" tanya Taka sambil memperhatikan Ara dari sisinya.


"Kau ini bisa saja. Baru dua hari." Ara terkekeh sendiri.


"Hari ini pulang jam berapa?" tanya Taka lagi.


"Aku pulang setengah dua belas siang. Ada apa memangnya?" Ara tampak curiga.


"Tak ada, sih. Hanya saja mungkin kita bisa makan siang bersama." Taka tersenyum-senyum sendiri.


"Wah, sayang sekali. Aku harus segera kembali karena masih ada pekerjaan di rumah." Ara menolak secara halus.


"Em, baiklah." Taka pun mengerti. "Ara."


"Hm?"


"Kau di sini sendiri?" tanya Taka ingin tahu.


"Aku?"


"Ya." Taka mengangguk.


"Tidak juga, sih. Kan ada Tuhan yang selalu bersama kita." Ara tersenyum.


Seketika itu juga Taka terperanjat dengan perkataan Ara. Ia tatap gadis yang ada di sampingnya seraya menelan ludah karena takjub.

__ADS_1


Dia amat religi. Sepertinya dia memang gadis baik-baik.


Pertemuan keduanya memang terbilang masih baru. Tapi kepribadian Ara mampu membuat Taka terpukau. Terlebih Ara sangat menjaga diri dengan tidak mau berjabatan tangan dengannya waktu itu. Dan Taka amat menghargai sikap Ara yang seperti ini.


"Hei, Bro!" Tiba-tiba satu pemuda datang menghampiri Taka.


"Hei, kau membawa apa?" Taka melihat temannya membawa sesuatu.


"Ini selebaran pencarian bakat dari organisasi kampus. Kami sedang membutuhkan pemain untuk berperan di dongeng Cinderella. Apakah kau berminat?" tanya teman Taka.


Seketika Ara antusias. "Dongeng Cinderella?" Ara ingin tahu.


"Hei, kau kan yang kemarin bersama Taka?" Teman Taka mencoba mengingat Ara.


"Ya, dia Ara. Dia kemarin bersamaku melihat pertunjukan teater dan amat tertarik. Tapi dia belum bisa bergabung." Taka menjelaskan kepada temannya.


"Oh, kalau begitu coba saja ikuti seleksi pemain ini dulu. Siapa tahu bisa mendapatkan peran tokoh utamanya." Sang teman menyarankan.


"Bagaimana Ara?" Taka beralih kepada Ara.


Ara terdiam sejenak. Ia berpikir tentang waktu yang akan terpakai untuk mengikuti proses seleksi. "Em, nanti aku pikirkan kembali. Terima kasih, ya." Ara tersenyum.


"Kalau begitu aku pamit dulu. Sampai nanti!" Teman Taka segera pergi dari hadapan keduanya.


"Ara, aku rasa kau mempunyai bakat dalam bidang ini. Kenapa tidak dicoba saja terlebih dahulu? Siapa tahu kita bisa mendapatkan penghasilan lebih." Taka memberikan saran.


"Em, masalahnya aku tidak punya banyak waktu untuk mengikuti prosesnya. Kau tahu sendiri jika aku harus bekerja selepas kuliah." Ara bingung.


"Kalau tidak begini saja. Kita ikutin saja seleksinya terlebih dahulu. Jika lulus baru pikirkan bagaimana mengatur waktunya. Bagaimana?" Taka memberikan semangat.


"Em ...," Ara berpikir. "Baiklah. Kalau begitu kita coba saja dulu." Ara akhirnya mengiyakan ajakan Taka.


Terlihat roman bahagia dari sang pemuda karena Ara mau ikut serta dalam ajang pencarian pemeran dongeng Cinderella kampus. Keduanya lalu menuju ruang pendaftaran untuk melihat-lihat terlebih dahulu. Taka juga memperkenalkan Ara dengan teman-temannya di sana.


Menjelang siang ini merupakan momentum tersendiri bagi Ara maupun Taka. Keduanya mulai dekat dan tidak canggung seperti dulu. Sang gadis sepertinya sudah dapat menyesuaikan dirinya sekarang.


Dubai, 11.30 siang...


Ara baru saja keluar dari kelas. Mata kuliah hari ini berakhir dengan baik. Sang gadis yang dipaksa menikah dengan tuannya sendiri ini berjalan menuju gerbang kampus. Tak lama ponsel Ara pun berdering, sebuah panggilan masuk harus segera ia angkat.

__ADS_1


"Halo?" Ara mengangkat teleponnya.


"Kau di mana?" tanya seseorang dari seberang.


"Aku baru saja keluar dari kelas. Ada apa, Sayang?" tanya Ara sambil tersenyum.


"Aku di depan gerbang kampus. Cepatlah kemari!" kata seberang lagi.


"Iya. Baik."


Sang gadis akhirnya berjalan cepat menuju gerbang kampus bersama beberapa mahasiswa lainnya. Sesampainya di sana terlihatlah seorang pria berkacamata hitam sedang menyilangkan kedua tangan di dada sambil menunggu kedatangannya. Pria itu berdiri di samping mobilnya.


Tuan ... kau menjemputku hari ini?


Betapa senang hati Ara karena sepulang kuliah dijemput oleh prianya. Segera Ara berlari mendekati sosok pria tersebut yang tak lain adalah Rain.


"Kau sudah lama di sini?" tanya Ara seraya tersenyum semringah.


"Cepat masuk!" Tanpa basa-basi Rain menepuk kening Ara dengan kepalan tangannya.


Ih, dia ini menyebalkan! Ara pun menggerutu di dalam hati.


Sang gadis segera masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Jack. Mereka menuju apartemen untuk beristirahat di sana.


"Bagaimana kuliahmu hari ini?" tanya Rain seraya menoleh ke Ara yang duduk di sisi kirinya.


"Baik. Sepertinya tidak terlalu sulit," jawab Ara yakin.


"Belajarlah yang benar. Jangan sampai kutemukan macam-macam di sana," kata Rain lagi.


"Ih, apaan sih!" Sontak Ara mencubit lengan Rain.


"Ara, ada Jack di sini. Jangan memaksaku membalasnya." Rain terlihat gemas.


Hampir-hampir saja Jack tertawa melihat tingkah tuannya. Tapi, ia pun bisa mengerti apa yang sedang terjadi pada Rain saat ini. Sengaja ia naikan sekat tanpa diminta oleh Rain. Sontak Ara terkejut dengan hal yang Jack lakukan. Ia segera menatap tajam ke arah Rain.


"Kalian bersekongkol, ya!" Ara curiga.


"Sudah jangan memasang wajah seperti itu. Nanti kucium baru tahu rasa." Rain mengancam gadisnya.

__ADS_1


"Dasar!" Ara pun tak berdaya menghadapi Rain.


Perjalanan siang ini terasa sedikit panas karena matahari amat menyorot kota. Belum lagi debu pasir berterbangan jika terkena angin, sehingga semua pengendara menutup kaca mobilnya. Begitu juga dengan Rain dan Ara. Keduanya kini saling merebahkan kepala sambil menunggu tiba di apartemen. Sang penguasa tak lagi segan untuk menggenggam tangan gadisnya di sepanjang perjalanan.


__ADS_2