
Sementara itu di kampus Ara...
Taka harus datang pagi-pagi untuk menghadap kesiswaan kampus. Dan kini ia sedang diperingatkan agar tidak lagi sembarang bicara kepada salah satu anak pemilik saham kampus, Rose. Tapi, Taka melawannya.
"Saya tidak pernah menabuhkan genderang perang dengan siapapun di kampus ini, Pak. Saya hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Jika karena memiliki saham di kampus bisa seenaknya memperlakukan mahasiswa lain, itu berarti kredibilitas kampus ini harus dipertanyakan." Taka tak terima.
Dosen berkemeja biru itu menarik napas panjang setelah mendengarkan penuturan dari Taka. "Taka, kau akan mendapat masalah jika masih bersikeras seperti ini. Tuan Johnson, ayah dari Rose memintaku untuk memperingatkanmu. Jika kau melawan, bea siswamu akan dicabut. Apa kau tidak bisa mengalah demi masa depanmu sendiri?" Dosen kesiswaan itu bertanya.
Taka berdiri dari duduknya. "Aku tidak takut jika benar, Pak. Permisi." Taka berpamitan lalu segera keluar dari ruangan.
Pemuda berkemeja hitam itu lekas-lekas pergi setelah urusannya selesai. Ia mengepalkan kedua tangannya, merasa kesal dengan apa yang terjadi.
Nona Rose, kau benar-benar angkuh!
Taka keluar ruangan dengan cepat dan menemui kedua temannya yang sudah menunggu. Baik Ken maupun Nidji setia menemaninya.
"Taka, bagaimana?" Ken, pemuda berjaket levis biru itu bertanya.
"Apa kau terkena sangsi?" tanya Nidji yang khawatir.
Ketiganya lalu berjalan menjauh dari ruang kesiswaan. Terlihat Taka amat kesal pagi ini. Nidji dan Ken pun saling melirik, tak berani bertanya lagi. Namun, tak lama Taka akhirnya bicara.
"Rose mengadu kepada ayahnya atas apa yang terjadi di lapangan basket waktu itu." Taka menuturkan.
"Lalu?" tanya Nidji segera.
__ADS_1
"Dosen kesiswaan memintaku untuk diam saja atas apapun yang Rose lakukan. Bukankah hal itu gila?" Taka bertanya kepada kedua temannya.
"Bisa-bisanya dia seperti itu?! Aku tak menyangka." Ken merasa heran dengan sikap Rose.
Nidji berpikir. "Taka. Aku mempunyai cara untuk memberinya pelajaran. Apa kau mau?" Nidji bertanya.
Taka segera menoleh ke Nidji yang berjalan di samping kanannya. "Ide jitu untuk membuatnya tidak sombong lagi?" Taka memastikan.
"Tenang saja. Semua bisa diatur asal kalian ikut bekerja sama." Nidji merasa yakin bisa membalas ulah Rose.
"Tapi bagaimana jika ketahuan?" Ken tampak khawatir.
"Tenang, Ken. Ini tidak membahayakan, tapi bisa membuatnya kapok berlaku sombong. Bagaimana?" Nidji tersenyum-senyum sendiri saat sebuah ide terlintas di benaknya.
"Em, baiklah. Boleh dicoba." Taka akhirnya setuju.
"Baiklah." Keduanya mengiyakan.
Mereka akhirnya berjalan menuju taman kampus. Membicarakan sebuah ide jahil untuk mengerjai Rose. Sesampainya di taman kampus pun Nidji segera mengutarakan idenya kepada Taka dan juga Ken. Mereka akan segera beraksi untuk menumbangkan kesombongan anak pemilik saham kampus terbanyak, Rose Johnson.
Indonesia, pukul sembilan pagi waktu sekitarnya...
Pagi menjelang siang ini mengantarkan aku bersama ibu menuju sebuah salon kecantikan yang ada di pusat kota. Tuanku menyerahkan sepenuhnya kepadaku apa yang aku inginkan. Tak tahu mengapa rasanya kok ada yang berbeda. Ibu dengan mudahnya menerima tuanku begitu saja. Tanpa bertanya apa pekerjaannya dan berasal dari mana.
Setelah berkenalan, aku meminta ibu segera bersiap-siap untuk berjalan-jalan hari ini. Belum banyak yang aku bicarakan pada ibu, hanya sebatas ingin tahu apa saja yang ibu tanyakan kepada tuanku saat aku di dapur. Dan ibu menjawab jika hanya bertanya seputaran kenal aku di mana.
__ADS_1
Ibu bilang tidak kepikiran jika pria bermata biru ini akan menjadi menantunya. Mereka baru pertama kali bertemu dan belum mengenal lebih jauh. Tapi ibu juga tidak tahu kenapa bisa langsung dekat kepadanya. Seperti digerakkan begitu saja. Mungkin ini pertanda jika semesta merestui hubungan kami. Ya, semoga saja.
Kini aku duduk di kursi belakang mobil. Tuanku di kananku sedang ibu di sisi kiriku. Kami menunggu tiba di sebuah salon kecantikan yang katanya sudah terbukti. Rencana nanti malam akan segera dilakukan lamaran. Gila, bukan? Begitu cepat sekali prosesnya. Seperti dimudahkan Yang Maha Kuasa.
Entah apa yang sudah tuanku persiapkan, dia seperti ingin cepat-cepat resepsi pernikahan itu diselenggarakan. Dan hari ini memang sudah dijadwalkan untuk melamar. Besoknya kami baru bisa liburan. Karena kebetulan tuanku tidak bisa berlama-lama di sini. Jadi semuanya harus cepat untuk mengejar waktu.
Hari ini hari Sabtu. Malam Minggu yang akan menjadi syahdu, tidak lagi kelabu. Malam yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Di mana aku akan dilamar pangeranku.
Sungguh gembira hati ini. Rasanya ingin melompat saja karena kegembiraan yang menyelimuti hati. Andai bisa berteriak, aku akan berteriak. Tapi hal itu tidak mungkin kulakukan untuk mengungkapkan perasaan. Yang aku bisa hanya bersyukur dan terus bersyukur. Semoga saja saat hari H prosesi dilancarkan.
"Ibu sebentar lagi kita akan sampai." Aku mengatakan pada ibu.
"Baik, Nak." Ibu mengangguk.
Tak perlu menunggu lebih lama, kami akhirnya tiba di sebuah calon kecantikan. Aku dan ibu pun turun dari mobil, sedang tuanku mengikutinya dari belakang. Sontak karyawan salon kecantikan ini terperangah melihat ketampanan tuanku saat kami melangkahkan kaki masuk ke dalam. Seluruh pengunjung yang ada pun menujukan pandangannya kepada tuanku. Tapi kulihat dia biasa-biasa saja. Dia setia mendampingiku sambil bertanya-tanya tentang ini dan itu.
Kami mengambil nomor urut dan meminta perawatan yang terbaik untuk ibu. Ibu pun lalu diarahkan seorang terapis untuk mengikuti beberapa sesi perawatan. Sedang aku ... aku bersama tuanku menunggu di lobi salon. Kami sengaja memilih duduk di pojokan agar bisa bersandar.
Kujelaskan kepadanya ke mana saja nanti akan liburan esok. Kupaparkan tempat-tempat mana yang terbaik di kota ini untuk berwisata. Dan akhirnya, tuanku memilih untuk berlibur di pantai. Ia ingin tahu bagaimana keadaan pantai di sini. Cemas sih, aku khawatir tidak sesuai dengan apa yang dibayangkannya. Tapi semoga saja dia akan menyukainya. Katanya sih dia ingin menyelam, melihat terumbu karang yang ada di sini. Jadi ya sudah, aku ikuti saja kemauannya.
Rain akhirnya memilih pantai sebagai tempat berlibur esok hari. Ia ingin bersantai sambil menyelam, melihat keindahan terumbu karang yang ada di sini. Sepertinya Rain memang menyukai suasana laut daripada yang lainnya. Ia menyukai deburan ombak yang berkejaran di pantai.
Lain Rain lain pula Ara. Ara khawatir jika pantai yang akan dikunjunginya nanti tidak sesuai dengan selera Rain. Karena menurut Ara pantai di Dubai belum ada tandingannya. Ia merasa jika Dubai begitu teristimewa. Di mana kenangan indah tercipta di sana.
Hari ini Rain akan menghabiskan waktu untuk menjamu calon mertuanya dengan sedikit hal yang ia punya. Uang bukan lagi menjadi alasan untuk menunda pernikahan. Rain sudah bertekad untuk mempersunting gadisnya.
__ADS_1
Puji syukur selalu dipanjatkan keduanya. Baik Rain maupun Ara berharap pernikahan nanti adalah pernikahan pertama dan terakhir bagi mereka. Mereka ingin saling berbagi kasih dan sayang dalam jalinan cinta. Mengikat diri dengan resmi sehingga tidak ada lagi kesenjangan yang melanda.