
"Halo?" Rain menjawab suara dari seberang.
"Rain, Motel Red Chile—"
"Ya, benar. Seperti apa yang kuceritakan tadi, Byrne." Ternyata yang menelepon Rain adalah Byrne.
Byrne baru saja terbangun dari tidur. Ia melihat jika Rain banyak mengirimkannya pesan, sehingga ia baru sempat menelepon Rain. Pria berpiyama biru itupun terdiam sejenak saat melihat layar televisi yang dihidupkannya. Ternyata benar apa yang diceritakan oleh Rain kepadanya.
"Em, ini di luar dugaan dan tidak bisa dijelaskan secara ilmiah." Byrne masih duduk di tepi kasurnya. Ia berada di rumahnya sendiri yang ada di Washington DC.
"Maksudmu?" Rain kembali duduk di sofa.
"Sains belum dapat membuktikan secara ilmiah jika kekuatan supranatural itu memang benar-benar ada. Selama ini hal semacam itu hanya ada di kisah-kisah fantasi. Nyatanya belum pernah terjadi dan tertangkap kamera secara murni." Byrne menuturkan.
"Kau benar, Byrne." Rain mengiyakan.
"Di zaman modern seperti sekarang, semuanya bisa direkayasa. Bahkan seperti benar-benar terjadi. Aku sendiri tidak bisa memberi saran yang spesifik untuk Ara karena hal ini tidak tampak nyata," lanjut Byrne.
Rain memijat dahinya. "Aku kasihan dengannya. Dia harus mengalami hal seperti itu. Kau masih ingat dengan kejadian yang di pesawat kemarin?" tanya Rain.
"Ya. Tentu saja aku ingat."
"Saat itu Ara terlihat ketakutan. Dia berkeringat dingin, napasnya juga terdengar berat. Dia terengah-engah, Byrne. Seperti habis berlari jarak jauh saja. Aku tidak tega melihatnya seperti itu." Rain mengungkapkan kekhawatirannya.
Byrne berpikir. Ia takut salah memberi masukan kepada Rain. Apalagi Byrne tahu jika Rain amat menyayangi Ara.
__ADS_1
Jika aku memberi saran untuk melakukan terapi hipnosis atau sejenisnya, mau tidak, ya?
Kadang Byrne harus berbicara serius dengan Rain. Kadang kala ia juga bisa setengah bercanda. Tapi kali ini terlihat dahinya berkerut karena masih bingung untuk memberikan saran kepada Rain. Sedang Rain membutuhkan bantuannya.
"Begini saja, Rain. Kita coba menunggu sambil melihat kondisi Ara selanjutnya. Jika Ara tidak bisa mengontrol diri, mungkin kita harus melakukan alternatif lain. Tapi, aku tidak menyarankannya." Byrne ragu mengatakannya.
"Hah ...." Rain membungkukkan badannya di sofa. "Aku tidak ingin yang aneh-aneh, Byrne. Aku ingin yang biasa-biasa saja. Aku tidak ingin kehilangannya walaupun seujung kuku pun. Bantu aku cari tahu apakah ada obat dari hal yang dialaminya ini? Aku harap kau bisa membantuku." Rain seperti putus asa.
Byrne mengerti. "Baik, sebisa mungkin aku akan mencari tahu. Kau harus sabar menunggunya, Rain. Nanti siang jangan lupa datang. Kita akan berkumpul bersama yang lainnya." Byrne berpesan.
"Ya, baik." Rain mengangguk. Tak lama sambungan telepon mereka terputus.
Ada kegelisahan melanda hati Rain saat menghadapi hal ini. Walaupun sebenarnya ia merasa senang karena memiliki seorang istri yang mempunyai kemampuan lebih dari manusia pada umumnya. Andai Ara bisa mengendalikan diri, mungkin Rain tidak akan sekhawatir ini.
Suami mana yang tega melihat istrinya susah tidur? Selalu terjaga karena mengalami mimpi buruk. Bahkan kesulitan bernapas karena tubuh seperti tidak mempunyai kekuatan untuk menghirup udara. Pastinya tidak ada suami yang tega membiarkan istrinya seperti itu. Begitu juga dengan Rain. Ara sudah menjadi belahan jiwanya, pemilik hatinya dan juga raganya. Ia tidak akan membiarkan Ara terluka.
Terlintas di pikiran Rain untuk kembali ke Dubai secepatnya. Ia ingin meminta bantuan Kakek Ali agar dapat mengobati Ara. Tapi ia juga menyadari jika pertemuan tahunan ini tidak bisa ditinggalkannya. Sehingga mau tak mau ia harus mengalah sementara waktu. Dan ia berharap Ara bisa menunggunya.
Sementara itu, di manshion Nick...
Pria berambut pirang keturunan asli USA itu tampak memerhatikan layar televisi yang masih menyiarkan kejadian langsung di selatan Kota New York. Ia terkejut karena ternyata kabar simpang-siur itu benar-benar terjadi. Ia jadi penasaran dari mana kabar itu sebenarnya berasal.
"Tuan, saya sudah mendapatkan informasi dari pihak keamanan kota." Sang asisten berjas rapi menghampirinya.
Nick menoleh. "Siapa?" tanyanya segera.
__ADS_1
"Tuan Rain," jawab asisten itu.
Seketika Nick beranjak dari duduknya. Ia menuju ke jendela ruangan. "Rain?" tanyanya lagi. Raut wajahnya terlihat tidak begitu senang. "Dari mana Rain tahu akan kabar ini?" Ia menoleh sedikit ke belakang, ke asistennya.
"Saya kurang tahu persis, Tuan. Tapi sepertinya istri dari tuan Rain sendiri yang mengabarkannya," duga sang asisten.
"Istri Rain?" Nick amat penasaran.
"Ya. Saya rasa begitu. Sebelum-sebelumnya tuan Rain tidak pernah bisa meramal. Tapi semenjak menikah, dia jadi amat berbeda," kata sang asisten lagi.
Nick berbalik. "Cepat cari tahu jati diri istri Rain. Aku ingin informasi tentangnya." Nick memerintah.
"Baik, Tuan. Secepatnya akan saya kabarkan." Sang asisten pun lekas-lekas undur diri dari hadapan Nick.
Nick mengangguk. Ia membiarkan asistennya untuk mencari informasi tentang Ara. Entah mengapa ada sesuatu hal yang membuatnya tertarik, ingin mengetahui lebih lanjut mengapa Rain bisa mengabarkan berita yang ternyata benar-benar terjadi. Ia seperti tidak ingin tersaingi.
Ternyata dia mendahuluiku.
Nick adalah cucu kandung dari kakek Rain, pemegang tahta organisasi ternama selama tiga windu terakhir. Sang kakek mempunyai tiga belas cucu yang mana hanya satu orang merupakan cucu aslinya. Ia adalah Nick, pria berambut pirang yang tak kalah tampan rupanya dari Rain. Namun sepertinya, Nick kurang senang jika dilampaui oleh Rain. Terbukti dengan ia ingin mencari tahu dari mana Rain dapat mengetahui kabar runtuhnya Motel Red Chile di selatan Kota New York. Nick seperti tidak ingin tersaingi.
Jika benar istri Rain yang mengabarkan berita itu, berarti aku juga harus mendapatkan yang serupa atau bahkan lebih. Aku tidak akan membiarkan Rain melampauiku. Apalagi sampai menjadi sorotan organisasi. Aku harus mengambil langkah cepat untuk menyingkirkannya.
Butiran salju yang turun menjadi saksi gumaman hati seorang cucu kandung penguasa. Ternyata ia benar-benar tidak ingin dilampaui oleh Rain. Nick tidak ingin tersaingi oleh saudara seperasuhannya. Ia bahkan berniat untuk menyingkirkan Rain agar tidak menjadi sorotan organisasi. Niat jahat itu mulai merasuki hatinya. Tanpa sadar jika ia dibesarkan bersama Rain sejak kecil.
Nick mempunyai rencana untuk menyingkirkan Rain. Tapi apakah niatannya itu akan berhasil? Lalu bagaimana dengan nasib Ara selanjutnya?
__ADS_1
Pertemuan tahunan akan segera diselenggarakan. Ketiga belas saudara seperasuhan akan berkumpul menjadi satu di rumah keluarga besar. Mereka akan membahas kinerja selama satu tahun ke belakang dan rencana selama satu tahun ke depan. Lalu mampukah Ara menerima siapa Rain yang sebenarnya?