
"Em, kalau begitu Jumat depan juga tak apa." Akhirnya aku mencari jalan tengah.
Dia lantas memelukku. "Sabar ya, Sayang. Pekerjaanku memang seperti ini. Terkadang ada saja hal yang tak terduga. Nanti aku akan mengambil cuti panjang untuk bersamamu. Kau percaya padaku, bukan?" tanyanya seraya memelukku.
Aku mengangguk dalam pelukannya, menikmati aroma parfumnya yang memabukkan hati dan pikiranku. Lantas kulingkarkan kedua tanganku di pinggangnya. Kuakui jika amat menyayanginya.
"Ehem!"
Tiba-tiba kudengar suara orang berdehem. Dan kusadari jika pelayan tempat inilah yang datang. Seketika pipiku merona malu karena kepergok olehnya. Tapi kulihat pelayan itu tersenyum pada kami. Sepertinya dia mengerti bagaimana perasaanku saat ini. Ya, sudah. Akhirnya aku dan priaku memilih gaun pengantin untuk hari pernikahan kami.
Jam makan siang...
Deruan ombak menyambut kedatangan kami saat tiba di komplek perumahan yang berada di dekat pantai. Aku pun bergandengan tangan bersama priaku sejak turun dari mobil, menuju sebuah rumah yang akan menjadi saksi rumah tangga kami.
Priaku memutuskan untuk pindah tempat tinggal demi keamananku. Dia khawatir jika masih berada di apartemen akan ada saja kejadian yang tidak diinginkan. Sedangkan dia tidak ingin hal itu sampai terjadi. Priaku ingin tenang saat menjalani kehidupan rumah tangganya bersamaku.
"Sayang, kita tidak membawa apa-apa ke sini?"
Kami akhirnya tiba di depan pintu rumah. Priaku lalu segera membuka pintunya. Dan saat terbuka, terlihatlah jika di dalam sudah dipenuhi oleh berbagai perabotan rumah tangga. Seketika aku terkejut melihatnya.
"Sayang?!!"
"Silakan masuk, Tuan Putri." Dia membungkukkan badannya seraya mempersilakanku masuk.
Sungguh aku terharu karena sikapnya. Tak percaya jika kebahagiaan akan datang bertubi-tubi mengisi seluruh relung hatiku. Rasanya dunia ini hanya milik kami. Begitu luas dan juga syahdu.
Sayang, aku bahagia sekali.
Kuakui jika aku semakin menyayanginya. Terlepas dari sifat mesum dan cemburunya. Rasanya aku ingin sekali cepat menikah dengannya. Tapi bagaimana, dia akan berangkat siang ini juga ke Turki.
"Sayang, mau makan apa? Kita belum sempat beli tadi?"
Aku menuju dapur untuk melihat apa yang bisa kumasak siang ini. Namun nyatanya, rumah ini baru dipenuhi oleh berbagai macam perabotan rumah tangga, belum ada isinya. Kulihat kulkas juga masih kosong.
"Tidak perlu. Sebentar lagi akan ada yang datang." Priaku mengatakan.
__ADS_1
Benar apa katanya. Tak lama kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu. Dan kulihat jika Byrne dan Owdie lah yang datang. Priaku lalu menghampiri mereka.
"What's up, Rain!" Mereka lantas berpelukan bak Teletubbies.
Mereka memang dekat sekali.
Ketiganya lalu duduk di sofa tamu. Sofa sudut berwarna biru langit yang menenangkan hati. Perpaduan warna perabotan di rumah ini membuatku merasa seperti berada di taman bermain. Berwarna-warni menghiasi rumah kecil kami.
"Ara, kami membawa pizza. Mari makan bersama!" Byrne memintaku untuk ikut bergabung.
Lantas aku segera mendekati mereka yang sudah duduk di sofa. Aku pun duduk di dekat priaku sambil mencicipi yang ada. Tiga loyang pizza berukuran besar nan menggugah selera. Ya sudah, aku pun ikut memakannya tanpa malu. Toh, Byrne dan Owdie juga akan menjadi saudaraku. Tentunya setelah kami menikah nantinya.
Setengah jam kemudian...
Aku dan priaku sedang berada di teras lantai dua. Dan kini dia sedang berpamitan padaku sebelum berangkat ke Turki. Rasanya sedih sekali karena akan ditinggalkan. Tapi dia berjanji akan mengajak ku liburan saat kembali nanti.
"Aku kembali sekitar Minggu pagi. Aku akan langsung pulang setelah urusan di sana selesai. Aku janji." Dia memegang erat kedua tanganku dengan raut wajah yang sungguh-sungguh.
Entah mengapa aku merasa sedih karena akan ditinggalkannya. Aku jadi ingin ikut juga pergi ke sana. Tapi, aku telah lama tidak masuk kuliah. Bisa-bisa banyak mata kuliah yang tertinggal karena ini.
Dia lalu memelukku. "Mau nakal dengan siapa coba? Aku cuma nakal denganmu saja. Di sana aku benar-benar bekerja, bukan mau bermain-main." Dia menenangkanku.
Hatiku terasa lega setelah mendengar ucapannya.
"Nanti setelah sampai dan senggang, kita video call, ya. Aku sudah meminta pengawasan yang ketat untuk rumah ini. Kau jangan khawatir. Jack pun akan mengantarjemput dirimu." Dia mengusap kepalaku.
Sungguh aku semakin sedih mendengar dia begitu menjagaku. Rasa-rasanya aku tidak mau berpisah lama dengannya. Dia bilang hanya dua hari di sana. Tapi entah mengapa aku merasa seperti akan berpisah dua tahun? Apakah aku terlalu mencintainya?
"Sudah jam satu. Aku harus berangkat sekarang. Aku pamit." Dia lantas melepaskan pelukannya.
Aku tidak tahu harus bagaimana saat ini. Aku seperti terkaku di tempat karena akan ditinggalkannya. Dia lalu memegang erat tanganku dan mengajak ku ke lantai satu. Tapi, aku tidak ingin dia pergi begitu saja. Aku menahannya saat sudah sampai di dekat tangga. Aku memeluknya lalu mencium bibirnya dengan sepenuh perasaanku. Aku miliknya.
Priaku terdiam. Mungkin dia terkejut karena aku menciumnya. Biasanya dia yang selalu menciumku terlebih dulu. Tapi kini berbeda, kuserahkan ciuman ini untuknya. Dan perlahan-lahan dia pun memelukku, membalas ciumanku dengan lembut. Aku pun tidak keberatan saat lidahnya menelusup masuk ke dalam mulutku. Kubiarkan lidahnya bermain-main dengan lidahku. Sampai akhirnya deru napas kami mulai memburu. Barulah dia melepaskan ciumannya.
"Aku mencintaimu, Ara." Dia memegang lembut wajahku dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu," kataku, membalas ucapannya.
Kulihat dia tersenyum lalu mencium keningku. Ciuman lama yang membuatku merasa semakin dimiliki olehnya. Ternyata aku amat mencintainya. Cintaku padanya sudah benar-benar gila. Dan aku berharap dia juga sama.
Angin yang berembus lewat celah jendela seakan memintaku agar merelakan kepergiannya ke Turki. Lantas setelah semua selesai, aku pun mengantarkannya sampai ke depan pintu. Tak lupa dia juga memberi uang saku padaku. Uang dalam bentuk kartu dengan nominal yang membuatku terpaku.
Kulihat kedua saudaranya juga saling melirik satu sama lain. Sepertinya mereka tak percaya dengan sikap Rain padaku. Priaku kini tidak lagi jaim menunjukkan kemesraan di depan Byrne dan juga Owdie. Ya, sudah. Aku pun sama begitu.
"Aku pamit, Sayang." Priaku akhirnya melangkah pergi.
Kulihat punggungnya yang begitu kokoh untuk menjadi tempat sandaranku. Dia akan menjadi pakaianku selamanya di sepanjang hidupku. Dan aku berharap dia tidak mencari pakaian lain setelah kami menikah. Semoga dia menjadi pria yang setia hanya kepada satu hati. Sampai nanti, sampai mati.
...
Meskipun kesepian sudah menjadi teman dalam hidupku.
Kugantungkan hidupku di tanganmu.
Orang bilang aku ini gila dan aku buta.
Karena mengambil risiko tanpa berpikir panjang.
Dan bagaimana caramu membutakan aku, masih menjadi misteri.
Aku tak bisa mengusirmu dari kepalaku.
Tidak peduli apa yang tertulis di masa lalumu.
Selama kau masih di sini bersamaku.
Aku tak peduli siapa dirimu.
Darimana asalmu.
Apa yang sudah kau lakukan.
__ADS_1
Selama kau mencintaiku...