
Di ruang tamu dekan kampus...
Pria berkemeja putih dan berdasi hitam itu tampak duduk elegan di sofa ruang tamu dekan kampus. Ia mendengarkan setiap penuturan Lee tentang program studi terbaru di kampusnya. Ia juga amat antusias melakukan tanya jawab sekitar kampus kepada Lee. Dari raut wajahnya tersirat suatu keinginan terhadap dosen tertampan di kampus Ara tersebut. Tak berapa lama ia pun segera masuk ke inti pertemuan kali ini.
"Aku mendengar desas-desus perseteruan putriku dengan Jasmine karena ada keterkaitannya denganmu, Dosen Lee. Apakah itu benar?" Johnson tampak serius membuka percakapan tentang putrinya.
Lee menarik napas dalam sambil duduk penuh sopan di hadapan Johnson. "Maaf, Tuan. Sepertinya sedang terjadi kesalahpahaman mengenai hal ini." Lee menuturkan. Pria berkemeja hitam itu menunjukkan sikap seharusnya seorang dosen kepada Johnson.
Johnson menyandarkan punggungnya ke sofa. "Rose amat tidak menyukai jika keinginannya tidak terpenuhi. Aku terlalu memanjakannya sehingga dia banyak melakukan kekeliruan. Menurutmu, apa yang harus aku lakukan agar dia mau kembali kuliah?" tanya Johnson kepada Lee.
Setelah berseteru dengan ayahnya dan juga Jasmine, ternyata Rose memutuskan untuk tidak kuliah lagi. Ia pergi ke manapun yang ia mau tanpa memedulikan mata studinya. Hal itulah yang membuat Johnson turun tangan dalam menghadapi sikap anaknya. Ia mencari tahu duduk permasalahan yang terjadi. Dan ternyata, orang-orang suruhannya mengatakan jika perubahan sikap Rose karena ada keterkaitannya dengan salah satu dosen di kampusnya, yaitu Lee.
"Sebagai seorang dosen, saya akan mencoba untuk membujuknya kembali. Tapi, saya tidak bisa memberikan tanggapan lebih dari sekedar dosen, Tuan." Lee mengerti arah pembicaraan ini.
Johnson mengangguk. "Aku pikir kenaikan gaji dan tunjangan bisa membantu masalah ini cepat selesai." Johnson bernegosiasi secara halus kepada Lee.
Lee tertawa kecil. Ia menertawakan sikap Johnson yang ingin menyogoknya dengan kenaikan gaji dan tunjangan.
"Maaf, Tuan. Saya rasa imbalan yang diterima selama ini sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan. Saya tidak berminat untuk mencari tambahan di kampus. Lagipula saya dan Rose memang tidak mempunyai hubungan apa-apa selain sebatas dosen dan mahasiswinya " Lee menjelaskan.
Johnson tertegun. Ia berusaha memahami apa yang Lee katakan. Ia pun tidak bisa memaksa Lee untuk berbuat lebih agar putrinya dapat kembali ke kampus. Lee sudah menolak tawarannya secara halus pagi ini. Ia pun tahu sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik untuk ke depannya. Apalagi berkenaan dengan suatu hubungan.
"Aku sudah bicara dengan ayah Jasmine mengenai sikap Rose kepada putrinya. Untung saja dia tidak mempermasalahkan sikap putriku. Aku berharap kampus ini tetap bisa berdiri walaupun putri-putri kami sedang bertengkar." Johnson berharap dalam gurauannya.
__ADS_1
Lee tersenyum. "Anda tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, Tuan Johnson. Saya yakin baik Rose maupun Jasmine adalah sahabat dekat yang bisa saling memahami. Hanya saja untuk sekarang memang ada kesalahpahaman yang sedang menerpa mereka. Saya akan berusaha lebih keras untuk menjadi penengah. Tentunya sebagai seorang dosen di kampus ini." Lee mengungkapkan.
Johnson mengangguk. "Terima kasih. Kalau begitu aku menunggu kabar baiknya." Ayah dari Rose itu tersenyum.
"Kembali, Tuan."
Dengan tutur ramah dan juga sopan, akhirnya Lee bisa mengakhiri pembicaraan ini dengan baik. Tampak Johnson yang tersenyum puas dengan pertemuannya bersama Lee. Mereka kemudian berdiri lalu saling berjabatan tangan.
Kini dosen fakultas teknik itu mempunyai tugas baru untuk membawa Rose kembali ke kampusnya dan juga menyatukan perpecahan yang sedang terjadi di antara Rose dan Jasmine. Namun, ia melakukannya hanya sebatas sikap seorang dosen ke mahasiswinya, tidak lebih dari itu. Karena Lee masih belum bisa melupakan seorang gadis yang pernah mencuri hatinya. Di mana semesta berulang kali mempertemukan mereka tanpa sengaja. Ialah Aradita.
Ara ... aku harap kau baik-baik saja di sana. Aku masih sendiri di sini. Dan masih berharap kau akan kembali.
Pria berkemeja hitam itu kemudian keluar dari ruang tamu dekan kampus seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Semilir angin menjelang siang ini pun tampak menyapu helaian rambutnya yang terjuntai ke depan. Dosen tertampan di kampus Ara itu begitu menawan dan juga bersahaja dalam setiap tindak perilakunya. Maka jangan salahkan dirinya jika menjadi primadona bak idola yang dipuja.
Rain dan Pangeran Agartha baru saja tiba di tempat pertama kali Rain dan Ara datang. Suasana sekitar danau tampak asri dan juga menenangkan. Gemercik air terdengar menghipnotis alam pikiran. Sekeliling danau juga ditumbuhi pepohonan tinggi nan besar yang melindungi dari paparan sinar matahari. Tak ayal keadaan sedikit gelap karena tertutupi dedaunan.
Rain turun dari kudanya. Ia bersama pangeran menaiki kuda saat menuju ke tempat ini. Sang pangeran pun kemudian turun dan melihat keadaan sekeliling danau yang menenangkan. Ia kemudian menggulung tali kudanya.
"Ternyata Anda bisa melajukan kuda, Tuan." Sang pangeran berjubah hitam itu membuka percakapan.
Rain tersenyum. "Sedikit." Ia tidak banyak bicara.
Pangeran lalu melihat ke salah satu tepi danau. Ia kemudian memejamkan kedua matanya, seperti sedang menghayati sesuatu. Tak lama, ia pun tersenyum di hadapan Rain, seperti merasa bahagia.
__ADS_1
"Aku rasa amat beruntung bilamana pria dicintai seorang wanita. Pasti hidupnya akan damai dan juga tentram." Pangeran tiba-tiba berkata seperti itu.
Rain terdiam, mencoba menelaah kata-kata pangeran.
"Mari kita berjalan ke gubuk yang ada di sana. Telaganya ada di sana." Pangeran menunjuk sebuah gubuk peristirahatan yang ada di salah satu tepi danau.
Rain mengangguk. Keduanya pun mulai melangkahkan kaki setapak demi setapak di pinggiran danau. Pangeran Agartha memimpin perjalanan menuju gubuk itu. Sejenis gubuk untuk beristirahat para petani di sawah. Namun, kali ini lebih besar.
Hm, harum sekali.
Aroma semerbak perlahan-lahan tercium oleh Rain. Semakin mendekat ke arah gubuk, semakin kuat aromanya tercium. Rain pun penasaran dengan aroma jenis apa ini. Ia merasa belum pernah mencium sebelumnya.
"Aku dan Putri Mile tidak pernah merasa jika kami saling mencintai. Kehadirannya di istana karena sayembara yang dilakukan oleh pihak kerajaan untuk mencari calon permaisuriku. Kebetulan ayah sudah lanjut usia dan menginginkan kerajaan ini diteruskan. Sehingga mau tak mau aku yang mengemban tugas dan tanggung jawab kerajaan." Pangeran menuturkan.
Rain mendengarkan dengan baik.
"Aku sendiri sebenarnya sudah jatuh cinta kepada seorang gadis dari kalangan rakyat jelata. Kami tanpa sengaja bertemu di telaga ini. Tapi, entah mengapa sejak sayembara itu dimulai, aku tidak pernah melihatnya lagi." Pangeran menceritakan. Keduanya kemudian menaiki anak tangga setapak menuju gubuk yang ada di salah satu tepi danau.
"Berarti pangeran terpaksa menerima hasil sayembara?" Rain ingin tahu. Ia menanggapi cerita pangeran.
Pangeran menghentikan langkah kakinya. Ia membalikkan badan menghadap Rain. "Terkadang keinginan orang tua tidak bisa ditolak. Itulah yang membuatku merasa terkekang dengan keadaan ini." Pangeran menegaskan keadaan yang sebenarnya.
Seketika itu juga Rain merasa prihatin.
__ADS_1
"Ah, maaf. Aku terlalu banyak menceritakan tentang diriku. Mari kita ke gubuk itu." Tiba-tiba saja pangeran seperti tersadar dari ucapannya sendiri.