
Beberapa saat kemudian...
Meja kecil yang terbuat dari kayu gaharu menjadi saksi atas pembicaraan yang akan segera terjadi. Pelayan wanita yang bersamanya pun berdiri sedikit menjauh dari kami. Dia seperti mengerti jika pembicaraan ini tidaklah perlu didengar olehnya. Cukup menjadi saksi jika kami hanya sebatas bicara. Tidak lebih dari itu.
"Pejabat Han telah menceritakan padaku perihal yang terjadi. Aku secara pribadi memohon maaf atas perbuatan putri Mile kepadamu. Aku harap hal ini cukup menjadi konsumsi pribadi." Dia menuturkan maksud tujuannya datang.
Seketika aku mengerti arah pembicaraannya. Pangeran tidak ingin hal ini sampai diketahui oleh orang lain.
Lantas aku mengangguk. "Jika itu yang Pangeran minta, aku bisa melakukannya. Tapi, apakah dia akan didiamkan begitu saja setelah mencoba menodai rumah tangga kami?" tanyaku yang masih kesal terhadap kelakuan wanita itu.
Pangeran menghela napas. "Tentu tidak, Nona. Pihak kerajaan terutama aku akan memberi hukuman padanya. Tapi sebelumnya, apakah dia pernah membicarakan sesuatu hal yang berkaitan dengan hal ini?" tanya pangeran padaku.
Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba. Ini adalah kesempatan bagiku untuk membeberkan apa saja yang telah dikatakan oleh Mile sebelumnya. Bagaimana ucapannya yang menginginkan suamiku, dan bahkan secara terang-terangan ingin menjadi yang ke dua. Lekas saja kukatakan semua hal yang pernah wanita itu ucapkan. Saat itu juga kulihat pangeran mengernyitkan dahinya. Ia terlihat menggeleng-gelengkan kepala, seakan tak percaya jika Mile pernah berkata sampai seperti itu.
"Dia ingin menjadi yang ke dua dan ikut ke duniamu?" tanya pangeran tak percaya.
"Benar Pangeran," jawabku seraya mengangguk.
"Astaga." Pangeran memegangi kepalanya. "Aku sama sekali tidak dianggapnya. Sebenarnya apa yang dia inginkan sampai ikut sayembara kalau bukan untuk bersamaku?" Entah mengapa aku merasa kisah pangeran sungguh dramatis.
Aku termenung sendiri. Tidak berani bicara.
"Maaf, Nona. Aku sungguh tidak tahu jika dia sampai seberani itu padamu." Pangeran terlihat menyesal di hadapanku.
Seketika aku jadi tidak enak hati sendiri saat dia meminta maaf kepadaku. "Maaf, Pangeran. Aku tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian. Tapi mengapa dia sampai menginginkan suamiku, sedang dia adalah calon istri Pangeran?" Aku mencoba menguak tentangnya dan wanita itu.
__ADS_1
Pangeran beranjak berdiri. Dia meletakkan kedua tangannya ke belakang. Dia menatap bunga-bunga mawar yang ada di taman. Seperti menyiratkan sesuatu hal yang tak patut untuk diceritakan.
"Aku ... aku terpaksa menerimanya sebagai calon istriku." Dia kemudian berkata seperti itu.
"Ap-apa? Maksud Pangeran?" Aku seperti salah mendengar.
Dia berbalik ke arahku. "Sungguh beruntung tuan Rain karena bisa bersama wanita yang dicintainya. Aku pun berharap bisa seperti itu." Dia menuturkan kembali.
Aku jadi semakin tak mengerti. "Em, maaf. Apakah Pangeran bisa menceritakan duduk permasalahannya agar aku lebih paham?" Aku pura-pura bodoh saja agar dia mau menceritakan semuanya. Aku dilanda penasaran akan kisahnya.
Ara tiba-tiba penasaran dengan cerita cinta pangeran. Ia tertarik untuk mengetahuinya lebih lanjut. Pangeran Agartha pun tampak mengerti keinginan Ara. Ia kemudian mengutarakan kisah di masa lalunya bersama seorang gadis dari kalangan rakyat jelata.
"Namanya Lily. Kami tanpa sengaja bertemu di telaga." Pangeran Agartha mulai menceritakan.
"Lalu?" Ara ingin lebih tahu.
Waktu itu...
Musim panas menjadi momen yang tepat untuk Pangeran Agartha melatih kekuatan tenaga dalam. Ia bertelanjang dada di tepi telaga seribu warna sambil duduk bersila, menikmati setiap cakra alam yang menyatu dengan tubuhnya. Lengan kekarnya, dada bidangnya tampak dipenuhi peluh keringat yang banyak. Ia tampak bersungguh-sungguh dalam pelatihannya.
Pangeran Agartha sedang mencoba melatih kekuatan turun-temurun yang diberikan oleh kakeknya. Tapi sayang, ia belum juga berhasil menguasai ilmu tenaga dalam dengan sempurna. Sehingga akhirnya ia memutuskan untuk berlatih sendiri di telaga seribu warna. Yang mana aura kekuatan alam sangat besar terasa di sana. Pangeran Agartha pun bisa dengan cepat melatihnya. Namun, karena sesuatu hal ia seringkali terjaga dari konsentrasinya.
"Hah, hah, hah."
Satu tangan menopang tubuhnya kala terjaga. Keringat deras bercucuran dari keningnya. Raut wajahnya tampak kesal karena tidak bisa fokus lebih lama. Sesuatu kejadian di istana membuat konsentrasinya hancur hingga pelatihannya gagal.
__ADS_1
"Mengapa mereka selalu saja bertengkar?" Tiba-tiba ia berbicara seperti itu.
Pangeran Agartha teringat dengan sebuah kejadian di istana yang terjadi di antara kedua orang tuanya. Yang mana hal itu membuat Pangeran Agartha melarikan diri dari situasi. Ia tidak ingin terbawa emosi karena pertengkaran kedua orang tuanya. Ia lebih baik menghindar dengan pergi berlatih. Dan membiarkan kedua orang tuanya memutuskan masalah sendiri.
Aku harus bisa menguasai ilmu turun-temurun ini sebelum menjadi raja. Jika ada yang mengetahui kelemahanku, pastinya mereka akan dengan mudah mengalahkanku. Cukup aku saja yang tahu apa kelemahan diriku ini.
Telaga seribu warna merupakan kawasan danau kecil yang di sekelilingnya dipenuhi bunga berwarna-warni. Dari bunga mawar, melati, anggrek, lily, bahkan bunga keabadian pun ada di sini. Walaupun areanya kecil, tapi cukup untuk memanjakan mata. Terlebih kekuatan alam begitu besar terasa di sini. Seperti sebuah tempat yang terhubung langsung dengan semesta.
Pangeran Agartha pun meneruskan latihannya, mengambil napas panjang dan dalam. Ia memutar kedua tangannya berlawanan lalu menempelkan kedua telapak tangannya. Ia mencoba berkonsentrasi kembali. Keberhasilannya ditandai dengan dapat mendengarkan setiap tetes air yang jatuh dari dedauan telaga. Namun, saat mencoba konsentrasi, saat itu juga ia mendengar suara yang mengagetkannya.
"Aduhhhh ...."
Pangeran mendengar suara seorang perempuan tak jauh dari tempatnya berlatih. Ia pun kembali terjaga dari konsentrasinya. Ia segera berdiri lalu menarik pedangnya. Berjaga-jaga jika ada orang asing yang ingin mencelakainya.
"Siapa kau?! Keluar!" Pangeran Agartha merasa kesal karena latihannya diusik.
Hening. Kata itulah yang cocok untuk menggambarkan suasana sekitar setelah terdengarnya suara kesakitan seorang perempuan. Pangeran Agartha pun memutar tubuhnya, mencari asal suara yang ia dengar. Sambil memegang pedang, ia terus waspada terhadap keadaan sekitar.
Satu, dua menit berlalu, tak ada juga tanda-tanda akan munculnya seseorang perempuan. Pangeran Agartha pun naik pitam, ia merasa dipermainkan. Lantas ia segera mencari asal suara itu dengan menyingkapkan dedauan yang ada di pinggir telaga. Satu per satu semak bunga dijelajahinya karena ingin tahu suara siapa yang didengarnya. Dan akhirnya...
Dia bersembunyi di balik semak bunga lily?
Pangeran Agartha melihat gaun berwarna putih bercorak merah muda di antara semak bunga lily yang rimbun dan tinggi. Ia pun mengernyitkan dahinya karena merasa curiga. Pelan-pelan ia melangkahkan kaki untuk mendekati pemilik gaun tersebut.
"Kena kau!"
__ADS_1
"Aaaaa!"
Saat Pangeran Agartha memergoki, saat itu juga jerit ketakutan terdengar. Terlihatlah sesosok gadis berparas manis di pandangan matanya. Gadis itu mengenakan gaun berwarna lembut yang menarik perhatiannya. Pikiran buruk tentang gadis itu pun hilang seketika.