
Di pantai...
Awan putih berarak menemani langkah kaki kami yang berjalan bersama seraya bergandengan tangan dengan mesra. Hal ini sudah kuimpikan sejak lama. Bersama seorang pangeran tampan nan menawan hati yang kini bisa terwujud nyata, bukan hanya mimpi atau sekedar angan belaka. Aku bersama pria yang sebentar lagi akan menjadi suamiku.
Deru ombak berkejaran seolah menjadi saksi akan perasaan yang ada di hati. Burung-burung berterbangan mengiringi setiap langkah kami. Pada akhirnya kami berhenti di keramaian yang sedang menikmati hari. Kami mencoba untuk berbaur bersama yang lain di tepi pantai ini.
Siang ini priaku membeli layang-layang berbentuk hati, kebetulan ada yang lewat tadi. Dan dia membelinya dengan harga sepuluh kali lipat dari harga sebenarnya. Sampai-sampai si penjual layang-layang berucap terima kasih berulang kali. Priaku memang amat dermawan dan baik hati.
Lantas setelah mendapatkan layang-layang beserta benangnya, priaku menuliskan nama kami di layang-layang tersebut. Ara dan Rain. Sontak membuatku terharu seketika. Dia bisa saja membuat hatiku cenat-cenut tak karuan di depannya.
"Sekarang kita terbangkan layangannya. Bantu aku ya, Sayang."
Dia menggunakan spidol permanen untuk menuliskan nama kami. Tadi dia sampai pulang dulu ke rumah hanya untuk mengambil spidol itu. Dia benar-benar berniat membahagiakanku. Dan kini spidol itu diletakkannya di atas batu pantai yang ada di dekat kami.
"Aku harus ke mana?" tanyaku sambil memegang layangannya.
"Ikuti saja arah anginnya. Oke? Mmuach." Dia sempat-sempatnya mencium pipiku di tengah keramaian pantai.
Dasar.
Sungguh aku kaget. Di tempat yang bisa dibilang ramai ini dia tanpa malu mencium pipiku. Lantas segera kuikuti arah angin sambil membawa layangan ini. Aku berjalan sedikit menjauh darinya. Lalu setelahnya kuangkat tanganku ke atas agar dia bisa menerbangkan layangannya. Dan akhirnya layang-layang kami terbang ke angkasa.
"Untung kita menggunakan benang kasur, ya. Layangan ini ternyata berat!" Dia berseru dari jauh, sekitar lima meter dariku.
Priaku dengan amat mudah menerbangkan layangannya. Sepertinya dia memang sudah mahir sebelum ini. Maklum, dia kan pria. Pasti masa kecilnya tidak jauh dari bermain layang-layang.
__ADS_1
"Benar, kah?" Aku segera berlari ke arahnya lalu ingin ikut menerbangkan layangannya juga.
"Kau mau coba?" tanyanya.
"He-em." Aku mengangguk.
Kulihat layang-layang kami sudah tinggi. Entah berapa meter dari permukaan laut, yang jelas benang kasur kami sudah hampir habis setengah. Aku pun bergantian memegang benangnya. Dan ya memang terasa berat.
"Sayang, layang-layang ini terbawa angin," kataku saat merasa layang-layang kami diterpa angin pantai yang kencang.
Kulihat priaku diam, tidak menjawab sepatah kata pun. Dia malah memperhatikanku dari sisi. Lalu kemudian...
"Sayang, lepaskan tanganmu!" seruku saat dia memelukku dari belakang.
"Kenapa sih selalu saja melarang?" Dia malah bergelayut manja di pundakku.
Baru saja bilang seperti itu, sedetik kemudian aku sudah kehilangan kendali atas layanganku. Priaku pun segera menarik kuat benangnya agar layangan kami tidak terbang jauh. Kuakui jika otot lengannya bisa diandalkan untuk ini. Dia begitu sempurna di mataku.
"Kita dadung saja biar tidak terbang."
Kulihat priaku memegang erat benangnya sambil mencari batu besar untuk mengganjal. Dan ternyata benar, batu itu digunakan untuk menahan gulungan benangnya agar tidak lepas. Kami pun akhirnya bisa bersantai sambil melihat layangan kami terembus angin pantai. Priaku lalu mengajak duduk di dekat bebatuan pagar.
"Sini, kemarilah." Dia mengajak ku duduk di sisinya. "Capek tidak?" Dia lalu membenarkan poniku.
Aku duduk di sisi kirinya, dia pun mengambil topi pantaiku. Aku biarkan saja karena mungkin dia ingin membantuku menyampirkan rambut. Tetapi...
__ADS_1
"Mmhh?!"
Tiba-tiba saja aku terkejut saat bibirnya mencium bibirku. Dia menciumku tiba-tiba dan tanpa aba-aba terlebih dahulu, dengan tangan kanan yang memegang topi pantaiku, menutupi ciuman ini. Priaku tidak lagi bisa menahan diri.
Sayang ....
Aku seolah tidak bisa melawannya saat bibir itu menyapu bibirku. Kecupan-kecupan kecil nan dalam kurasakan, bersama dengan kobaran api di dalam tubuhku. Tangan kirinya memegang tengkuk leherku, sedang tangannya menutupi ciuman kami dengan topi pantaiku. Rasanya sungguh luar biasa sekali. Berciuman di muka umum memang memunculkan sensasi tersendiri.
Aku milikmu, hujanku.
Lantas aku pun seperti tidak mau kalah darinya. Kubuka sedikit mulutku, mencoba mengambil inisiatif. Di saat itu juga lidahnya menelusup masuk ke dalam mulutku, mengajak beradu. Dan ya, sepertinya aku tidak bisa mengendalikan diri lagi. Aku terhanyut ke dalam permainannya.
Menjelang siang ini kami memadu kasih di tepi pantai. Seakan dunia hanya milik berdua dengan sejuta cinta yang kami rasakan. Aku pun begitu menikmati suasana yang dia ciptakan. Tak dapat kupungkiri jika hati ini telah dicuri olehnya. Dan ya mungkin bukan cuma hati, tapi juga tubuhku ikut menyertai. Aku menyayanginya, amat menyayangi Rainku.
Malam harinya...
Aku baru saja mengerjakan tugas kampus. Tugas yang cukup rumit jika tidak dicicil sedari awal. Dan kini aku bisa bersantai sejenak sebelum mengerjakannya kembali. Tidak baik juga berlama-lama duduk tanpa jeda, bisa-bisa badanku kram dan kaku seketika. Kalau sudah begitu aku juga yang akan tersiksa.
Tadi selepas bermain di pantai, priaku segera tertidur pulas di atas kasur. Sedang aku mencicil tugas kampusku. Kutahu jika dia amat lelah dan membutuhkan istirahat sejenak dari perjalanan panjangnya. Walaupun sudah terbiasa dengan jadwal yang padat, tetapi tetap saja priaku membutuhkan waktu untuk beristirahat. Jadi ya sudah, dia tidur di kasur sedang aku mengerjakan tugas di meja belajar. Toh, aku sudah cukup tidur semalam.
Di kamarku ini bisa dibilang lengkap. Ada lemari besar dan juga meja belajar yang cukup luas. Di sini juga ada lemari untuk berhias. Peralatan make up-nya bisa dibilang mumpuni. Jadi jika ingin berganti tema make up, bisa-bisa saja. Tinggal akunya yang belajar berdandan lebih baik lagi, agar tidak acak-acakan dan tidak salah tema.
Priaku kini sedang sibuk di dapur. Dia sudah mandi dan berpakaian modis sekali. Aku paling suka jika dia mengenakan sweter lengan panjangnya yang berwarna krim itu. Ditambah celana jeans putih yang membuatku terpaku melihatnya. Dia memang rupawan dan harus kuakui itu.
Aku sendiri sudah mandi dan mengenakan polesan make up tipis dengan baju rajutan pink yang kupakai. Sedang celananya mengenakan celana kulot panjang berwarna putih. Dan aku hanya memakai krim malam serta lipbalm berwarna oranye agar bibir tidak terlihat kering. Sengaja aku memakainya agar priaku betah di rumah. Toh, jika sudah sah menjadi pasangan suami-istri, aku harus selalu berdandan di depannya. Jadi hitung-hitung sekalian belajar saja.
__ADS_1
"Sayang, sudah siap!" Dia lalu memanggilku.