Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Battle


__ADS_3

Sementara itu...


Ara dan Rain berjalan bersama menuju istana untuk membantu persiapan resepsi pernikahan pangeran. Namun, tiba-tiba saja langkah kaki Ara terselandung sesuatu saat memasuki halaman belakang istana. Ia pun hampir jatuh, namun sang suami segera menahannya.


"Sayang, kau tak apa-apa?" Rain tampak cemas. Ia memegangi tubuh istrinya.


"Sayang, jangan jauh dariku. Aku sepertinya ... akan pergi lagi." Ara berpesan.


Saat itu juga Rain terbelalak kaget. Ia bertambah khawatir dengan keadaan istrinya.


"Kita kembali saja ke padepokan."


Ia pun segera menggendong istrinya kembali ke padepokan. Dengan cepat ia membawa Ara dalam gendongannya. Rain amat mengkhawatirkan keadaan istrinya.


"Sayang, rebahkan tubuhmu. Aku akan mengambilkan air minum."


Tak lama kemudian, mereka akhirnya tiba di padepokan. Rain pun segera merebahkan Ara di atas kasurnya. Wajah istrinya terlihat pucat dan juga mengeluarkan keringat. Rain pun berniat memanggilkan tabib untuk memeriksa keadaan istrinya.


"Jangan lama-lama Sayang." Ara meminta.


Rain mengangguk. Ia pun segera pergi meninggalkan kamar. Sedang Ara merebahkan tubuh dengan bantal sebagai penahan punggungnya. Namun, saat Rain meninggalkan kamar, saat itu juga tusuk konde di rambut Ara bergetar. Seperti memberi tanda jika Ara harus bersiap-siap untuk melakukan penjelajahan lagi. Ara pun mengambil napas dalam sambil mempersiapkan diri. Ia seperti tahu jika akan tidak sadarkan diri.


Dalam beberapa helaan napas saja, cahaya putih keemasan muncul di penglihatannya. Saat itu Ara tak lagi sempat untuk berpamitan kepada suaminya. Ia seperti tersedot ke suatu tempat, sedang raganya jatuh pingsan di atas kasurnya. Ia kembali menjelajahi dimensi lagi.


Ini?!


Tak lama kemudian Ara melihat pemandangan sekitarnya gelap. Cahaya putih pun mulai muncul menerangi keadaan sekitar. Ara sadar jika dirinya sedang di sebuah ruangan tanpa batas. Seperti dimensi berwarna sama sejauh mata memandang.

__ADS_1


Ini seperti berada di dalam ruang berlayar putih. Semua yang kulihat putih seperti ini.


Dalam harap-harap cemas, ia menantikan apa yang akan terjadi. Ara pun berdoa di dalam hatinya, meminta perlindungan Yang Maha Kuasa. Tak lama kemudian sebuah putaran dimensi muncul di hadapannya. Lama kelamaan membentuk sebuah raga yang tak pernah Ara lihat sebelumnya. Sesosok perempuan bertanduk dengan gaun hitam muncul di hadapannya.


Sosok itu menatap tajam ke Ara. "Jadi kau yang telah menggagalkan rencanaku?" Ia berkata seperti itu.


Ara terkejut dengan kedatangan sosok itu. Namun, ia berusaha tetap tenang. Sosok itu begitu hitam, namun menyerupai seorang perempuan. Ara pun melihat lebih jelas sosok yang berada di hadapannya. Saat itu juga aura-aura negatif terlihat dari tubuh wanita itu. Ara tak percaya jika akan menemui sosok bertanduk sepertinya. Sedang sosok itu terlihat kesal kepada Ara.


Jarak mereka hanya sekitar sepuluh meter saja. Tidak terlalu jauh dan juga tidak terlalu dekat saat berada di ruang dimensi tanpa batas. Ara pun berhati-hati walaupun sejujurnya ia takut sekali. Tapi, keyakinan itu sudah tertanam di dalam hatinya. Bahwa tidak ada satupun kejadian tanpa izin dari Yang Maha Kuasa. Dan Yang Maha Kuasa tidak akan memberi ujian melebihi batas kemampuannya. Sehingga hal itulah yang membuat Ara kuat menjalani takdirnya. Ia akan sekuat tenaga melewatinya.


"Siapa dirimu? Aku tidak kenal denganmu." Ara berkata tegas kepada sosok itu.


Sosok wanita bertanduk hitam itupun tertawa. "Hahahaha. Sudah menggagalkan rencanaku malah sok tidak tahu." Sosok itu berjalan ke arah kanan dan kiri, seperti ingin membuat Ara kehilangan fokus.


Ara pun berdoa kepada Tuhannya.


Ya Tuhan, tolong aku. Lindungi aku. Lindungi janin di dalam kandunganku. Hanya kepada-Mu lah aku berserah diri. Bantu aku menyelesaikan urusanku. Aku ingin segera kembali ke duniaku.


"Aku adalah pembenci manusia. Karena manusia lah aku disingkirkan dari surga. Aku membenci anak keturunannya. Kau pasti tahu siapa aku." Wanita bertanduk itu menuturkan.


Ara menelan ludahnya.


"Harusnya gadis itu bisa mati di tanganku. Tapi kau dengan kesombonganmu malah membantunya sembuh. Kau memang menyusahkan saja." Wanita bertanduk itu berkata lagi.


Ara berusaha tetap tenang sambil memegang erat tusuk konde yang ada di tangannya.


"Kewajiban seorang manusia adalah membantu sesama yang sedang mengalami kesulitan. Aku rasa tidak salah dalam mengambil jalan. Jika usahaku menyusahkanmu, maka harusnya kau berpikir ulang atas tindakan yang kau lakukan. Apakah itu benar atau salah." Ara menegaskan.

__ADS_1


"Cih! Jangan sok suci di hadapanku! Kau tidak lebih dari seseorang yang ingin berbangga diri dengan apa yang kau miliki! Kau tidak jauh berbeda dari mereka yang durhaka!" Wanita itu mengintimidasi Ara.


Ara mengambil napas dalam. "Jika aku berdosa, semoga Tuhan mengampuni seluruh dosa dan kesalahanku. Tapi, jika kau yang berdosa, semoga Tuhan memberimu petunjuk." Ara membalasnya.


"Bedebah!"


Wanita bertanduk itupun tidak terima dinasehati oleh Ara. Ia segera memutar tangannya, mengeluarkan tenaga dalam dari tubuhnya. Tak lama sinar hitam pun muncul dari tangannya.


"Rasakan ini!!!"


Sinar hitam itu menyerang Ara. Namun, tusuk konde Ara berubah cepat menjadi perisai yang mengelilingi tubuhnya.


Ini?!


Percaya tak percaya, Ara mengalaminya. Tusuk konde itu ternyata berubah menjadi piringan yang melindungi seluruh tubuhnya. Ara akhirnya membuktikan sendiri kebenaran yang nenek pemberi gelang katakan.


"Lemparkan benda itu ke arahnya, Cucuku. Kita selesaikan segera urusanmu di Agartha." Suara nenek pemberi gelang tiba-tiba terdengar di telinga Ara.


Nenek?! Saat itu juga Ara menyadarinya.


Wanita bertanduk itu semakin kesal karena sinar hitamnya tidak berhasil mengenai Ara. Ia kemudian menarik kembali sinarnya. "Siapa sebenarnya dirimu?! Katakan!" Wanita bertanduk itu ingin mengetahui siapa Ara.


"Siapa aku?" Piringan pelindung pun berubah menjadi tusuk konde kembali. Ara menggenggamnya kembali di tangan. "Aku adalah ...." Saat itu juga Ara melemparkan tusuk konde itu ke arah wanita bertanduk. Dengan secepat kilat tusuk konde itu melesat bak anak panah yang tak lagi bisa terhindarkan. Dan akhirnya...


"Akkkhhh!!!"


Tusuk konde itu menembus kepala si wanita bertanduk. Wanita bertanduk itupun perlahan-lahan hilang dari hadapan Ara. Seperti butiran pasir yang terbiaskan air.

__ADS_1


"Sampai kapanpun aku akan membenci kalian! Bahkan hingga hari pembalasan!" Wanita bertanduk itu berjanji sebelum lenyap dari pandangan Ara.


.........


__ADS_2