
Aku kembali ke apartemen dan saat sampai ternyata dia sudah bangun. Seketika itu juga hatiku deg-deg-an tak karuan. Aku khawatir dia akan marah padaku.
"Aku habis berolahraga. Maaf tidak mengajakmu," kataku lalu berjalan melewatinya.
"Ara." Dia menahanku. "Kenapa sekarang mulai berani pergi tanpaku?" tanyanya sambil terus memperhatikanku dan tidak mau melepas pandangan.
"Kau masih tidur tadi. Aku tak ingin mengganggu," jawabku seraya melepaskan pegangan tangannya.
Aku tak tahu apa yang dia pikirkan. Tapi kulihat dia terdiam lalu menelan ludahnya. Sepertinya dia menahan kesal karena aku pergi tanpa pamit.
Ya, kutahu jika aku salah. Tapi aku juga butuh kebebasan untuk bergerak dan bersosial dengan siapa saja. Aku tidak ingin jadi kuper karena rentang aktivitasku yang itu-itu saja. Jika tidak di kampus, di apartemen. Aku ingin menghirup udara segar dan mengekspresikan diri ini. Toh, aku belum menikah dan usiaku masih terlalu muda untuk dikekang.
Maaf, Tuan ....
Dia masih diam di dekat pintu. Kutinggal saja lalu bergegas pergi ke dapur. Aku ingin membuatkan sarapan terlebih dulu. Kebetulan aku juga memang sudah lapar.
Kupikir bisa memasak dengan tenang. Tapi nyatanya pria bersweter krim itu mengikutiku ke dapur. Dia berdiri di depan pintu sambil memperhatikanku yang sedang menyiapkan bahan-bahan untuk memasak. Dan tiba-tiba saja dia menyeletuk kepadaku.
"Kau pergi dengan orang lain?" tanyanya yang seketika membuatku takut.
Aku seperti sedang berselingkuh saja, padahal hanya sekedar mengobrol biasa. Haruskah aku mengatakan hal yang sesungguhnya? Tapi pastinya dia akan marah padaku jika tahu pergi dengan pria yang ada di foto itu. Ya, walaupun kami hanya sebatas mengobrol tentang keinginanku mempelajari suatu ilmu.
"Kenapa pertanyaanmu seperti menekanku?" Aku bersikap tak peduli.
"Ara." Dia berjalan mendekatiku. "Tiga minggu lagi kita akan menikah. Aku tidak ingin terjadi apapun padamu," katanya lalu berdiri di sampingku.
"Tuan, mengapa kau begitu yakin jika aku mau menikah denganmu setelah apa yang kau ucapkan kemarin?" tanyaku sambil menatapnya.
"Ara ...."
Seketika itu juga dia terdiam seribu bahasa. Tidak lagi melanjutkan kata-katanya. Kulihat dari sinar matanya memancarkan penyesalan yang begitu dalam. Tapi, aku tidak peduli, aku teruskan saja membuat sarapan untuk pagi ini.
Dia pergi?!
__ADS_1
Aku pikir dia akan bicara lagi padaku. Tapi nyatanya, dia berlalu pergi tanpa kata tanpa pamit. Dan tak lama kemudian kudengar suara keran shower air dihidupkan. Sepertinya dia bergegas mandi dan memutuskan untuk mengakhiri percakapan pagi ini.
Setengah jam kemudian...
Pagi ini aku membuat udang tepung dengan baluran mayones pedas. Tidak tahu kenapa aku lagi ingin saja membuat udang tepung. Dan sepertinya rasanya tidak kalah dengan yang ada di restoran.
Aku belum mandi tapi sudah bersiap untuk sarapan pagi. Kulihat dia keluar dari kamarnya dengan mengenakan sweter putih dan jeans hitamnya. Dan kini kami duduk bersama di depan meja makan, tapi tetap berdiaman. Sebisa mungkin aku menjaga jarak darinya agar tidak dibilang murahan lagi.
"Udang tepung dan nasi hangat?" Dia bertanya padaku.
"He-em." Aku hanya mengangguk lalu mengambilkan nasi untuknya.
"Ara." Dia menyapaku.
"Ya?" Aku jawab seadanya.
"Sampai kapan kau akan seperti ini? Aku tidak kuat, Ara." Dia mengeluhkan keadaan kami.
Aku terdiam sejenak sambil menatapnya. Kulihat dia memegang tanganku setelah kuletakkan piring berisi nasi untuknya.
Aku tersenyum palsu lalu mengambil nasi untuk diriku sendiri. Aku coba acuh tak acuh padanya lalu mencicipi udang tepung buatanku. Rasanya memang enak apalagi jika ditambah saus sambal level sepuluh.
"Ara ...."
Dia menegur lagi dengan masih memegangi tangan kiriku. Dia belum juga mau sarapan pagi. Dia masih berharap aku bicara.
"Makanlah dulu. Nanti aku ada jam pukul sembilan." Aku memberi tahunya.
"Kau mau kuliah?"
"He-em."
"Aku ikut, ya?"
__ADS_1
"Eh?!" Seketika aku terkejut. "Nanti aku segera kembali setelah selesai." Aku melarangnya untuk ikut ke kampus.
"Hah ...."
Dia mengembuskan napasnya sambil melihat nasi yang kusajikan. Pegangan tangannya pun dilepas. Entah apa yang dipikirkan olehnya. Jika memang benar perasaanku, dia sudah merasa lelah dengan keadaan ini.
Dia menoleh ke arahku. "Apa ada hati yang kau jaga sehingga aku tidak boleh ikut ke kampus?" tanyanya tiba-tiba.
Apa?!!
Sungguh benar-benar di luar dugaanku akan pertanyaan yang diajukan olehnya. Bisa-bisanya dia berpikir seperti itu. Padahal hatiku ini hanya untuknya seorang. Namun, memang keadaannya saja yang membuatku harus menata ulang.
"Kenapa bisa mempunyai pikiran seperti itu?" tanyaku yang tidak ingin masalah bertambah rumit.
"Aku hanya..." Dia menundukkan kepalanya. "Aku hanya takut kau diambil orang," katanya lagi.
"Tuan," Aku ingin meluruskan.
"Ara, kau gadis pertama bagiku yang membuatku seperti ini. Tak bisakah lunakkan hatimu? Kurang apa lagi aku, Ara?" tanyanya dengan tatapan sendu.
Aku tidak tahu harus bicara apa saat dia mengajukan banyak pertanyaan. Jujur aku ingin memeluknya saat ini, mengusap kepalanya lalu mencium keningnya. Tapi, lagi-lagi kata menyakitkan itu seolah menahanku untuk melakukannya.
Aku tahu budaya kami amat berbeda. Dan dia sudah membuktikan untuk mengikuti budayaku. Tapi tetap saja, yang namanya hati pasti akan terluka jika mendengar kata-kata yang menyakitkan. Begitu juga dengan hatiku, masih membutuhkan waktu untuk pulih ke sediakala.
"Maafkan aku. Beri aku waktu, ya." Aku memegang tangannya, mencoba menenangkan.
Kulihat dia mengangguk. Aku pun tersenyum lalu mengambilkan udang tepung untuknya. Kuletakkan di atas nasinya agar dia segera menyantap sarapan. Dan akhirnya, kami sarapan pagi bersama dengan keadaan yang belum seperti dulu. Tapi jujur, aku ingin semuanya kembali ke sediakala.
Rain sudah merendahkan harga dirinya di depan Ara. Tapi sayang, sang gadis belum juga membuka hati sepenuhnya. Ucapan yang Rain katakan waktu itu seolah mengunci pikiran Ara agar tidak terlalu dekat kepada tuannya. Namun, jauh di dalam hatinya, Ara menginginkan semua kembali ke sediakala. Tapi apa daya, hatinya masih membutuhkan waktu untuk memulihkan luka.
Begitulah dampak besar dari sebuah ucapan yang sampai kapanpun akan membekas di hati pendengarnya. Benar apa kata pepatah, lidah memang lebih tajam dari pedang. Dan Ara kini merasakannya.
Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku benar-benar amat menyesal dengan ucapanku. Tolong maafkan aku dan kembalilah seperti dulu. Aku menyayangimu, Ara.
__ADS_1
Cuaca cerah pagi ini mengantarkan sang penguasa ke penyesalan yang terdalam. Ia bertekad dalam hati untuk tidak mengulangi kesalahannya di waktu mendatang. Sudah cukup sudah didiamkan Ara berhari-hari. Ia tidak mampu jika terus-terusan dalam keadaan seperti ini.
Rain menyadari betapa besar dampak yang ditimbulkan akibat sebuah ucapan. Dan ia akan lebih berhati-hati untuk berbicara ke depannya. Apalagi berbicara kepada pencuri hatinya, Ara.