
***) Sudut Pandang Campuran
...
Kasih, berusahalah untuk memaafkanku.
Tetaplah di sini, jangan biarkan rasa itu hilang.
Dekaplah aku, jangan gelisah.
Andai tiap menit semakin melemahkanku,
Kau bisa selamatkanku dari diriku sendiri...
Teringat kembali hal yang telah kulakukan.
Dulu aku berusaha menjadi seseorang.
Kumainkan peranku, kubiarkan kau dalam ketidaktahuan.
Sekarang biarkan kutunjukan padamu bentuk hatiku...
Kesedihan itu indah, kesendirian itu mengenaskan.
Jadi, bantulah aku.
Tak bisa kumenangkan perang ini.
Sentuhlah aku, jangan gelisah.
Andai tiap menit semakin melemahkanku,
Kau bisa selamatkanku dari diriku sendiri...
Aku di sini dengan pengakuanku.
Tak ada lagi yang kusembunyikan.
Aku tak tahu harus mulai darimana.
Tapi akan kutunjukan padamu bentuk hatiku...
Mengingat kembali hal yang telah kulakukan.
__ADS_1
Aku tidak pernah ingin mengulanginya lagi.
Kubiarkan kau dalam ketidaktahuan.
Sekarang biar kutunjukan padamu bentuk hatiku...
...
Langit cerah berkat sang mentari yang tak pernah berhenti bersinar, menerangi bumi. Secerah hatiku yang kini mendapatkan ilmu tentang apa yang kumau. Rasanya tak percaya mempunyai guru yang akan mengajari sesuatu hal yang tidak ada di mata pelajaran manapun. Dia adalah Lee, dosen fakultas teknik yang bersedia membantuku mempelajari tentang cara kerja hukum tarik-menarik ini.
Jujur aku tertarik dengan hal-hal yang berbau spiritual dan supranatural. Menurutku keren jika bisa mempunyai kelebihan dibanding orang lain. Tapi, bukan untuk sombong-sombongan, melainkan membantu sesama yang membutuhkan. Rasanya tujuan diturunkan ke bumi telah sempurna jika bisa bermanfaat bagi semua.
Mungkin benar apa yang dikatakan oleh nenek pemberi gelang di tanganku ini. Dubai adalah tempat memulai perjalanan hidupku. Di sini memang terasa sekali perbedaannya, tidak seperti di negara asalku. Aku bisa berada dalam ruang lingkup yang lebih tenang dan juga nyaman.
Tempat tinggalku bisa dibilang sebagai kawasan hunian ekslusif jika dibandingkan dengan hunian di kotaku. Di sini serba elektronik dan menggunakan teknologi tinggi. Bahkan jika mau mencuci piring dan menyetrika pun bisa menggunakan mesin. Tidak perlu repot-repot lagi.
Saat ini aku sedang berada di dalam mobil Lee. Kami baru saja berbincang di taman yang ada di dekat air mancur Kota Dubai. Dia memberi tahu tentang langkah awal memulai hukum tarik-menarik. Terdengar simpel tapi tidak tahu jika nanti sudah dipraktikkan. Aku coba saja dulu.
Lee mempunyai mata sipit dan kulit yang putih untuk seukuran pria. Bibirnya juga tebal, seolah menantang untuk bercumbu. Terlebih dia mempunyai senyum yang menawan hati. Tinggi tubuhnya juga sama dengan tinggi tuanku. Dia memang mempesona. Jadi wajar saja jika disukai banyak mahasiswi di kampusku.
Aku sendiri tidak mengerti mengapa bisa dipertemukan kembali olehnya. Jujur saja ada rasa tak percaya menyelimuti hati ini. Jika bukan karena jalan darinya, mungkin aku sudah berada di rumah sakit sekarang karena terkena tumburan pengendara motor itu. Aku juga tidak mengerti mengapa hal kemarin bisa terjadi. Aneh, tapi nyata. Jelas-jelas sebelum menyeberang aku sudah memastikan jalanan aman, tapi kenapa saat menyeberang ada yang melaju cepat ke arahku?
"Kau tidak ingin membeli cemilan dulu, Ara?"
"Em, tidak. Terima kasih." Aku tersenyum lalu berniat membuka pintu mobil.
"Ara."
Saat itu juga dia menahanku. Seolah tidak memberikan izin untuk keluar dari mobilnya. Dan kulihat tangannya memegang tanganku.
"Dosen Lee?" Aku jadi bingung sendiri.
"Kau mempunyai utang padaku. Kapan akan membayarnya?"
Hah?!
Seketika aku terkejut karena pertanyaannya. Dia juga menatapku dengan pandangan penuh harap agar aku bisa segera melunasi utang itu. Aku jadi berpikir ulang, jenis utang apa yang kumiliki padanya.
"Em, apakah ini ... sedang membicarakan traktiran itu?" tanyaku seraya mengingat-ingat.
Dia diam, hanya mengangguk dan memejamkan kedua mata. Setelahnya ia kembali menatap ke arahku yang duduk di sampingnya. Terbesit wajah seriusnya yang membuatku sedikit takut.
"Em, kalau itu ... setelah aku gajian saja, ya. Bagaimana?" Aku balik bertanya.
__ADS_1
"Kapan memangnya kau gajian?" tanyanya balik.
Aku terkejut dengan sikapnya. Dia ini seperti debt kolektor saja. "Seminggu lagi.
Aku pasti memenuhi janjiku, Dosen Lee. Anda jangan khawatir." Aku tersenyum. "Tapi untuk sementara, tolong lepaskan dulu tanganmu." Aku mengingatkannya.
Seketika dia tersadar jika sedari tadi memegang pergelangan tanganku. Seketika itu juga dia melepaskan pegangan tangannya lalu berdehem. Sepertinya dia malu sendiri.
"Baik, aku tunggu," katanya tanpa melihat ke arahku.
Aku tersenyum lagi lalu membuka pintu. Aku berdiri di samping pintu mobilnya lalu mengucapkan terima kasih. Tak tahu mengapa dia tidak juga pergi. Ya, sudah. Kutinggal saja dia. Kulangkahkan kaki masuk ke dalam gedung apartemen ini.
Ara belum menyadari apa yang sebenarnya Lee rasakan padanya. Ia tampak cuek dan tak peduli terhadap apa yang terjadi. Ia hanya fokus dengan tujuannya tanpa memikirkan perasaan seorang pria yang terus memperhatikannya.
Dia kurang peka atau aku yang terlalu agresif?
Lee masih melihat kepergian Ara sampai hilang dari pandangan matanya. Pagi ini tanpa ia sadari telah melakukan sesuatu hal di luar batas kendalinya. Tubuhnya seolah bergerak sendiri untuk mencubit hidung sang gadis. Ia pun tanpa sadar berani memegang tangan Ara.
Dia seperti kutub selatan yang menarik kutub utara.
Lee menyadari jika Ara amat menarik. Sikap Ara yang seolah tidak peduli membuat Lee semakin penasaran dengannya. Ia lantas mencoba membantu Ara untuk mencapai tujuannya yang mana selama ini belum pernah ditanyakan oleh mahasiswa di kampusnya.
Hah ... kita lihat saja nanti.
Ditutupnya kaca mobil lalu segera melajukan mobilnya keluar dari halaman apartemen. Lee pun berusaha menunda hasrat yang ada di dalam hatinya untuk mencari tahu Ara lebih dalam. Ia biarkan waktu yang menjawabnya.
Sementara itu...
Rain telah terbangun dari tidur dan kini ia mencari Ara ke sekeliling apartemen. Tapi sayang, gadis itu tidak juga ditemukannya.
"Dia ke mana, ya?"
Dilihatnya jam di dinding yang telah menunjukkan pukul tujuh pagi. Rain jadi berpikir kembali tentang keberadaan gadisnya.
"Apa dia pergi ke mini market? Atau jangan-jangan ...?!"
Pikiran buruk melintas di benaknya. Ia pun segera mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang. Namun, bersamaan dengan itu pintu apartemen terbuka dari luar. Tak lain jika Ara lah yang datang. Rain pun segera berjalan ke arah pintu.
"Ara? Dari mana?" tanyanya tanpa basa-basi.
Dilihatnya sang gadis yang mengenakan pakaian olahraga. Rain pun menyadari jika gadisnya itu sehabis berolahraga di luar. Seketika itu juga ia merasa jika Ara tak lagi membutuhkannya.
"Kau pergi tidak mengajak ku?" Ia bertanya lagi, namun Ara tidak menjawabnya.
__ADS_1
Sang gadis segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Ia terlihat acuh tak acuh pada Rain pagi ini.