Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Adventure


__ADS_3

Bak melawan arus, aku terus saja berlari menuruni bukit. Namun, suara deru langkah kaki kuda itu semakin lama semakin mendekatiku. Lalu akhirnya...


"Akhhh!" Tubuhku melayang. Pria gila itu ternyata menarikku ke atas kudanya.


Dasar gila! Stres! Kurang waras!


Kata-kata umpatan pun bermunculan di hatiku. Dia benar-benar gila. Bisa-bisanya menarikku ke atas kudanya saat ku berlari. Tidak memikirkan bagaimana jika aku sampai jatuh.


Kudanya pun berhenti. "Kau ini bandel sekali. Sekarang ikut aku." Dia mengunci tubuhku.


Kedua lengan kekarnya mengunci lenganku. Sedang kakinya menghimpit kedua kakiku. Posisi seperti ini jelas saja tidak bisa membuatku bergerak. Apalagi untuk melarikan diri. Deru napasnya pun sampai terasa di tengkuk leherku. Aku benar-benar risih dengan posisi seperti ini.


"Turunkan aku! Aku bukan penjahat yang harus kau bawa untuk dihakimi!" Aku berteriak kepadanya.


"Sudah diam! Atau kujatuhkan sekalian ke bawah?!" katanya mengancamku.


"Hih!" Aku benar-benar benci dengan pria ini.


Aku berharap ini hanyalah mimpi. Aku tidak peduli siapa dirinya dan apa pangkatnya. Aku sudah bersuami dan tidak boleh jelalatan lagi. Tapi tak tahu mengapa semesta membawaku kembali ke sini. Apakah ada kaitannya dengan masa depanku? Atau dengan kembaranku di belahan bumi yang lain? Katanya sih setiap manusia mempunyai kembaran tujuh. Dan mungkin saja pria ini salah menangkap gadis yang bernama Ara sepertiku. Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.


Sayang, maafkan aku. Kembaranmu ini agresif sekali.


Lantas aku pun pasrah dibawa olehnya. Aku duduk di depannya dengan jarak yang amat berdekatan. Tubuhku pun menggigil setiap kali bersentuhan dengan tubuhnya. Apalagi saat terkena embusan napasnya. Aku tidak tahu harus bagaimana. Namun, satu hal yang harus kucari adalah bagaimana cara agar bisa lari dari pria agresif ini. Entah bagaimana nantinya.


Beberapa saat kemudian...


Entah sudah berapa lama melakukan perjalanan, akhirnya kami sampai juga di sebuah istana bercat putih. Kami memasuki gerbang belakang istana lalu berbelok ke arah kanan, melewati beberapa prajurit yang sedang berlatih memanah. Kuakui jika halaman istana ini begitu luas sehingga harus menggunakan kuda untuk mengelilinginya agar tidak kelelahan. Ya, mungkin ada sekitar dua kali lapangan sepak bola.

__ADS_1


"Jangan kabur lagi," katanya, lalu tak lama kami sampai di belakang sebuah rumah yang seperti manshion kerajaan.


"Pa-pangeran, ak-aku—"


"Sudah menurut saja." Dia memintaku untuk tidak banyak melawan.


Rasa kesal melandaku terhadap pria yang mengaku sebagai pangeran ini. Ingin kutendang anunya agar bisa lari. Tapi, ini sudah berada di kawasan istana. Apa yang bisa kulakukan? Sepanjang perjalanan tadi juga kami hanya berdiaman. Entah mengapa aku merasa mulai aneh dengan kemampuan yang kumiliki. Apakah semua ini karena tusuk konde yang nenek pemberi gelang berikan padaku?


"Ayo, jalan!"


Dia kemudian turun dari kudanya dan meninggalkanku. Aku pikir bisa beralasan untuk tetap berada di atas kuda karena tidak bisa turun sendiri. Tapi ternyata, kuda hitamnya malah duduk selonjoran. Seolah mengerti apa yang harus dia lakukan. Alhasil, mau tak mau aku turun dari kuda. Sedang pria menyebalkan itu menunggu sambil terus memperhatikanku.


Menyebalkan!


Dia kemudian memintaku untuk jalan terlebih dahulu. Aku bagai tawanan yang harus menurut pada setiap perintahnya. Atau mungkin dia menganggapku sebagai pendatang asing yang membahayakan? Andai ini mimpi, aku ingin lekas terbangun dan tidak ingin kembali lagi. Aku takut dengan sikap agresifnya. Apalagi sekarang sudah bukan gadis lagi. Aku sudah menjadi istri orang.


Ara, petualanganmu memang ngeri-ngeri sedap.


"Masuk!" Dia kemudian memintaku masuk saat sudah berada di depan pintu sebuah rumah.


Aku menurut, masuk ke dalam. Dan sepertinya rumah besar ini adalah rumahnya sendiri. Kulihat ada kolam ikan di halamannya dan juga sofa panjang di teras. Tidak salah lagi jika ini adalah pintu belakang rumahnya.


"Pangeran, aku haus." Aku membuka percakapan untuk mengalihkan rasa takutku.


"Duduk di sini!" Kami pun akhirnya sampai di teras rumah dan dia memintaku untuk duduk di sofa.


Aku menurut. Dia kemudian masuk ke dalam rumahnya. Sedang aku, berpikir cepat bagaimana cara agar bisa lari dari tempat ini. Aku tidak ingin berlama-lama di sini.

__ADS_1


"Ini minumlah." Dia kemudian membawakanku segelas air putih.


Cuma air putih? Dasar pelit!


Entah mengapa tiba-tiba saja aku menggerutu saat dia hanya membawakanku segelas air putih. Aku pun pura-pura meneguknya sekali.


Dia kemudian duduk di sampingku. Sedikit jauh, tapi lengan kekarnya bisa menahanku pergi dari jarak seperti ini. "Kau seorang putri?" Dia bertanya padaku.


"Pangeran?" Aku pun bingung dengan pertanyaannya.


"Kau mengenakan gaun khas penghuni istana Asia. Apa kau berasal dari sana?" tanyanya lagi.


Sepertinya aku pernah mendengar nama itu.


Aku kembali mengingat kata-kata Asia di dalam pikiranku. Tak lama, pertemuanku dengan pria yang mirip sekali dengan Dosen Lee pun kembali teringat di benakku. Seingatku dia pernah mengatakan jika ingin merayu, rayulah pangeran yang ada di istana. Karena dia hanya prajurit biasa. Dan tempat kami bertemu waktu itu kalau tidak salah adalah di perbatasan Negeri Bunga dan Asia. Mungkin Asia yang dimaksud adalah Asia itu.


"Em, aku ... aku dari Agartha. Tepatnya pakaian ini diberikan Pangeran Agartha kepadaku," kataku terus terang.


"Agartha?" Dia tampak berpikir.


"Ya, Pangeran. Aku kesasar lagi ke sini. Tadi sebelumnya sedang bermeditasi, mencoba menyatu dengan alam. Tapi entah mengapa tiba-tiba saja sudah berada di atas bukit." Aku berterus terang.


Dia mengerutkan dahinya, seperti berpikir.


"Sungguh aku tidak bohong. Aku juga bukan putri dari Asia. Aku memang diminta untuk mengenakan gaun ini saat berada di istana Agartha," kataku lagi.


Kulihat dia berpikir keras mengenai hal ini. Namun, ada satu hal yang kusadari. Dia ternyata tidak mengenal apa itu Agartha. Itu berarti Agartha bukanlah bagian dari dunianya.

__ADS_1


Ngapain juga aku sampai nyasar lagi ke sini? Astaga ....


Aku sendiri masih tak habis pikir mengapa bisa sampai ke sini. Mau tak mau pikiranku tertuju kepada tusuk konde yang ada di kepalaku ini. Mengapa bisa berpindah begitu cepat hanya dengan meditasi? Apakah benda ini akan tetap berfungsi jika sudah kembali ke duniaku? Sungguh kapasitas otakku tidak mampu untuk melogiskan semua yang kualami. Jadi mungkin lebih baik jalani saja sampai menemukan jalan keluarnya. Karena sekeras apapun berusaha, jika belum waktunya tidak akan menghasilkan juga.


__ADS_2