
Belasan menit kemudian...
Kami berangkat pukul 8.15 dari apartemen dan kini tak lama lagi akan sampai di kampusku. Sepanjang jalan kunikmati bersamanya. Kebersamaan ini tentunya membuat hatiku semakin gembira. Tapi, tetap saja ada hal yang kurang mengenakkan.
"Kenapa diam saja?"
Aku bertanya padanya yang masih mengemudikan mobil. Kutarik lengan kaus oblongnya agar dia tidak lagi diam kepadaku. Dia pun menoleh lalu tersenyum padaku. Hanya sebatas senyum tanpa berkata apa-apa. Jadinya aku salah tingkah sendiri karenanya.
Dia kenapa, ya?
Tuanku mengenakan jeans hitam dan sepatu kulit berwarna cokelat. Hari ini dia tidak memakai sweter lengan panjang melainkan kaus oblong abu-abu saja. Sepertinya dia ingin menggodaku dengan lengan berototnya yang sengaja dipamerkan. Entahlah, mungkin ini hanya sebatas perasaanku saja.
Tak lama kami sampai di depan kampus, mungkin berjarak sekitar lima meter dari gerbang. Masih ada tiga puluh menit lagi sebelum acara audisi dimulai. Jadi kugunakan kesempatan ini untuk bicara padanya.
"Sayang, kenapa sih?"
Aku bertanya lagi padanya yang masih diam. Ternyata tidak enak juga ya didiamkan seperti ini. Padahal baru beberapa menit dia tidak berkicau, tapi kok rasanya sudah seperti setahun?
Ah, Ara. Kau terlalu lebay!
Akhirnya aku bergantian diam. Wajahku tertunduk, tak lagi mengajaknya bicara. Dia pun akhirnya menyadari perubahan sikapku ini. Kulihat dia menggerak-gerakkan jarinya di atas stir mobil. Dia seperti kebingungan untuk memulai pembicaraan.
"Ara ...." Dia akhirnya menyebut namaku.
Aku menoleh cepat ke arahnya.
"Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke tempat olahraga." Dia akhirnya berkata jujur.
"Lalu?" tanyaku.
"Tidak jadi, karena kau akan ke kampus." Dia terlihat murung.
"Ke tempat gym kemarin?" tanyaku, memastikan.
"Tidak. Di apartemen juga ada tempat gym. Hanya saja aku memang lebih suka yang jauh," katanya tanpa melihat ke arahku.
"Nanti aku segera pulang setelah tahu siapa yang akan berperan menjadi Cinderella," kataku bersemangat.
"Tapi aku maunya sekarang." Dia berkata lagi seraya menoleh ke arahku yang duduk di sampingnya.
Aku tersenyum. "Aku tidak bisa. Ini impianku yang sudah lama. Aku ingin menggapai mimpiku dulu, boleh?" tanyaku lembut.
Dia tersenyum sambil memperhatikanku. "Maaf jika aku terlalu egois, Ara." Sepertinya dia tidak enak hati sendiri.
"Tidak. Tidak perlu. Kau tidak salah. Mungkin hanya waktunya saja yang kurang tepat. Tapi jika nanti kita ke Indonesia, aku akan menemanimu sepanjang hari. Kita akan berkeliling di sana." Aku meyakinkan.
__ADS_1
Dia mengangguk sambil tersenyum. Sepertinya hatinya sudah tenang sekarang.
"Ya, sudah. Kalau begitu aku masuk dulu, ya." Aku berpamitan, ingin keluar mobil.
"Ara."
"Ya?" Aku menoleh lagi ke arahnya.
"Nanti kau pulang jam berapa?" tanyanya sebelum sempat aku keluar mobil.
"Em, tidak tahu. Nanti kukabari saja," jawabku.
"Memangnya bisa mengabariku? Ponselmu bukannya di apartemen?" Dia seperti sedang mengingatkanku.
"Oh, iya juga." Aku teringat.
"Hah..." Dia menyandarkan kepalanya ke kursi. "Apa semua wanita sepertimu yang kalau marah mengembalikan semua barang pemberian prianya?"
"Eh?"
"Jika aku telah memberikannya, aku tidak akan memintanya kembali. Pria macam apa yang meminta kembali semua barang yang sudah diberikan ke wanitanya?" Dia malah bertanya kepadaku.
"Maaf," kataku yang tidak enak hati sendiri.
"Eh?" Aku kaget.
"Hubungi aku jika sudah selesai. Nanti aku akan menjemputmu. Kalau bisa lima belas menit sebelum acara berakhir, ya. Agar aku bisa siap-siap terlebih dahulu." Dia menuturkan.
"He-em." Aku mengangguk.
"Hubungi ke nomor selular biasa. Aku selalu membawa dua ponsel ke mana-mana," katanya lagi.
"Baiklah. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Apa tidak apa-apa aku membawa ponselmu?" Aku sedikit ragu.
"Tak apa, bawa saja sementara. Asal jangan dihapus data yang ada di situ." Dia mengingatkanku.
"Oke, baiklah." Aku mengangguk-mengangguk, mengiyakan.
Dia lalu mendekat ke arahku. Lalu...
Tuan ....
__ADS_1
Jantungku tiba-tiba saja berdegup kencang saat dia memegang wajah ini lalu mencium keningku. Bibirnya kini menempel di keningku, lama sekali. Sepertinya dia sedang menyalurkan perasaan sayangnya kepadaku. Aku pun memejamkan kedua mata, menghayatinya.
"Ara." Dia lalu menyebut namaku.
Kubuka kedua mata ini di depannya. Kami pun bertatapan dengan jarak yang dekat sekali.
"Jangan nakal. Ingat aku," pesannya.
Kedua tangannya masih memegangi wajah ini. Dan aku pun hanya mengangguk saat dia berpesan seperti itu. Kurasakan hangat napasnya yang seolah-olah ikut menghangatkan hati ini. Dia pun mencium kelopak mataku, kanan dan kiri secara bergantian. Rasanya syahdu sekali.
Tuan, katakan jika kau mencintaiku.
Sungguh aku ingin mendengar kata-kata itu darinya. Seakan tidak peduli dengan waktu yang terus berlalu. Namun...
"Nanti kabari aku, ya." Dia hanya berkata seperti itu lalu melepas kedua tangannya dari wajahku.
"He-em." Aku pun hanya mengangguk, tidak berani meminta dia mengatakannya.
Aku pikir dia juga akan mencium bibirku dan menyatakan cinta. Tapi nyatanya, lagi-lagi aku harus menunggunya. Dan karena tidak ingin terlalu tampak akan harapanku, aku bergegas keluar dari mobil. Tapi ... dia menahanku.
"Kau melupakan sesuatu, Ara." Dia seperti mengingatkanku.
Aku menoleh ke arahnya saat sudah memegang gagang pintu. Aku lalu mendekat dan memberanikan diri untuk meraih daging lembut itu. Aku menciumnya, ya menciumnya dengan satu kecupan yang lembut. Sontak dia terbelalak kaget dengan sikapku. Dia terdiam, tapi aku segera keluar dari mobilnya seraya tersenyum bahagia.
Dia lalu membuka kaca mobil setelah menyadari aku sudah keluar. "Ingat pesanku, Ara." Dia mengingatkan kembali, bicara dari dalam mobil.
"Iya, Bawel," kataku padanya.
Dia lalu mengejutkanku. Sesuatu hal dia lakukan pagi ini. Dia menjulurkan tangan kanannya dari dalam mobil seolah memintaku agar menciumnya. Aku pun terpana melihat sikapnya, seakan menunjukkan jika dia milikku, aku miliknya. Aku pun mencium tangannya bak istri kepada suami. Kucium dengan sepenuh hati tanpa peduli ada yang melihatnya atau tidak.
"Sudah, ya. Aku masuk dulu." Aku pun berpamitan setelah mencium tangannya.
"He-em." Dia mengangguk lalu tersenyum padaku.
Tak tahu mengapa hatiku terasa bahagia sekali. Rasa di dalam hatiku ini semakin hari semakin bertambah besar. Aku ingin selalu bersamanya dan tidak mau ribut lagi. Aku benar-benar mencintainya.
Kubalikkan badan lalu berjalan meninggalkannya yang masih melihatku dari dalam mobil. Sampai akhirnya aku masuk ke halaman kampus lalu berbalik lagi ke arahnya. Ternyata dia juga masih belum pergi dari sana.
Tuan, terima kasih.
Tak berapa lama kulihat dia melambaikan tangannya dan aku pun melambaikan tanganku kepadanya. Dia kemudian melajukan kendaraan sambil menutup kaca mobilnya. Aku pun tersenyum melihat kepergiannya dari gerbang kampus.
Bahagia sekali jika terus seperti ini.
Hari ini aku merasa telah dimiliki olehnya. Tak ada yang lain di hati selain dirinya seorang. Tapi sebagai perempuan aku tidak boleh terang-terangan menunjukkan perasaanku padanya. Karena seperti kubilang, lelaki bisa saja mempermainkan jika mengetahui hati kita yang benar-benar mencintainya. Rambut mungkin sama hitam, tapi isi hati siapa yang tahu? Aku masih berjaga-jaga sampai kata sah itu kudapatkan. Aku berharap ini adalah jalan yang terbaik untukku ke depannya.
__ADS_1