Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Start


__ADS_3

Perjalanan pulang ke Kansas...


Rain mengendarai mobil sedang Owdie duduk di sampingnya sambil mengajak Rain mengobrol. Keduanya meneruskan perjalanan ke Kansas tempat hotel Rain menginap. Owdie akan menginap bersama Rain malam ini. Sepanjang perjalanan pun terjadi percakapan di antara keduanya.


"Jadi kau meninggalkan Ara bersama ibumu?" Owdie menoleh ke arah Rain.


"Hm, ya. Akhirnya aku dapat menemukan ibu kandungku setelah dua puluh tujuh tahun tak bertemu." Rain menceritakannya sambil terus mengendarai mobil.


"Kau beruntung, Rain. Aku juga berharap bisa bertemu dengan ibu kandungku. Sampai saat ini aku belum tahu keberadaannya. Kita semua dibesarkan sejak kecil tanpa mengetahui riwayat hidup yang sebenarnya. Di mana ayah, di mana ibu, kita tidak tahu." Owdie terlihat sedih.


Rain mengerti perasaan saudaranya karena ia juga pernah mengalami hal yang sama. "Terkadang sesuatu terjadi di luar kendali, Owdie. Aku juga baru mengetahui jika ayahku adalah seorang tentara yang berasal dari Saudi Arabia," tutur Rain kembali.


"Hei, jangan-jangan kau pangeran Arab yang tertukar." Owdie mengira-ngira. Ia seperti mengingat sebuah cerita.


Rain terperanjat. Ia melihat ke arah Owdie sejenak lalu meneruskan perjalanannya. Tersenyum tipis karena merasa Owdie sedang menghiburnya.


"Sungguh, Rain. Kau tahu, ada cerita tentang seorang putra mahkota yang tidak dianggap oleh pihak kerajaan karena dia mengambil jalan yang berbeda dari putra mahkota lainnya. Mungkin saja kau adalah keturunan putra mahkota yang tidak dianggap tersebut. Desas-desus yang berkembang dia menjadi tentara perdamaian antar negara Timur Tengah," lanjut Owdie lagi.


Rain tersenyum. Ia tertawa menanggapi cerita saudaranya. "Jangan menghiburku dengan banyolanmu itu, Owdie. Aku hanya seorang anak tentara yang kehilangan ayahnya." Rain tidak terlalu menanggapi.


"Ya, siapa tahu saja. Jika benar kau putra mahkota tersebut, berarti tidak perlu bersusah payah lagi untuk mencari ladang minyak. Karena kau sendiri adalah pemilik ladang minyak itu." Owdie tersenyum-senyum kepada Rain.


Rain juga tersenyum. Ia tidak dapat berkata apapun saat dicandai oleh saudaranya. Ia merasa Owdie hanya sekedar menghiburnya karena kesal setelah bertemu dengan Nick.


Keduanya lalu memasuki area lintasan padang tandus yang panjang. Terlihat sepanjang jalan terbias cahaya matahari yang terik. Menandakan jika cuaca hari ini sangat panas. Namun, keduanya tetap meneruskan perjalanan menuju ke Kansas. Hingga akhirnya sampai di sepertiga jalan terakhir. Saat itu juga keduanya melihat sederet mobil yang telah menunggu. Sontak Rain pun mengerem mendadak mobilnya.

__ADS_1


"Rain?!" Owdie terkejut. Untung saja keduanya memasang sabuk pengaman.


"Owdie, sepertinya jalan kita dihadang sekelompok orang." Rain menyadari jika ada sekelompok orang yang ingin menghadang jalan mereka dari jarak tiga ratus meter.


"Siapa mereka? Mengapa mereka mengenakan pakaian formal seperti itu?" Owdie pun bertanya-tanya.


"Kita putar balik saja." Rain akhirnya memundurkan mobilnya. Ia ingin memutar arah. Namun, saat itu juga ia melihat beberapa mobil ikut menghadangnya dari arah belakang.


"Sial!" Rain menyadari situasi tak diinginkan mulai terjadi.


"Rain sepertinya ada yang tak beres." Owdie juga menyadarinya.


"Pasang sabukmu lebih kencang, Owdie! Kita pergi sekarang!" Rain memberi aba-aba.


"Sial! Mereka mengejar kita, Rain!"


Owdie pun melihat situasi yang terjadi. Enam mobil hitam mengejar mereka dengan cepat. Tiga orang dari masing-masing mobil itu pun menembaki mobil yang dikendarai Rain. Tak ayal mobil Rain mulai kehilangan keseimbangan karena salah satu ban mobilnya terkena tembakan.


Ya Tuhan lindungi kami.


Saat itu juga ia menyadari jika tidak ada yang dapat dimintai pertolongan selain Tuhannya. Rain kemudian meminta Owdie untuk menghubungi nomor darurat segera.


"Cepat telepon 911 untuk meminta bantuan. Kita tidak mungkin melawan banyak orang dengan enam butir peluru." Rain meminta kepada Owdie.


Owdie pun mengangguk. Ia segera mengambil ponsel dari saku celananya lalu menelepon 911 untuk meminta bantuan. Sedang Rain terus mengendarai mobil untuk menghindari sekelompok orang yang mengejarnya. Ia pun merasa ada hal tak beres sedang terjadi setelah pertemuannya dengan Nick. Mau tak mau pikirannya tertuju kepada Nick jika Nick lah yang menyuruh orang-orang itu untuk menghadangnya

__ADS_1


Jika benar ini ulahmu, maka aku tidak akan segan untuk membuat perhitungan. Cukup sudah kau menganggu kehidupanku, Nick!


Rain terus melajukan mobilnya dengan cepat. Sementara Owdie sudah tersambung dengan pihak 911 dan meminta bantuan agar kepolisian bisa segera datang dan melindungi mereka dari sekelompok orang. Pihak 911 pun menyanggupinya.


"Bagaimana?" tanya Rain sambil melihat ke arah spion mobilnya.


"Mereka menunggu di jalanan perbatasan Kansas. Kita ke sana." Owdie menerangkan.


Rain mengangguk. Ia mengerti apa maksud Owdie. Ia pun memperhitungkan kecepatan agar bisa segera sampai di tujuan. Namun, orang-orang itu terus saja mengejar mereka dan melepaskan tembakan. Alhasil Rain jadi harus ekstra mengendalikan keseimbangan mobilnya karena harus menghindari tembakan tersebut.


Sementara itu di Turki...


Ara sedang memasak di dapur dan tanpa sengaja menyenggol gelas yang ia letakkan di dekat tempat pencucian piring. Gelas itu baru saja digunakan olehnya untuk meminum susu ibu hamil. Namun, ia lupa untuk segera mencucinya sehingga tanpa sengaja terkena tangannya. Sontak Ara segera mengambil gelas yang jatuh tersebut. Namun, ia lupa jika tidak menggunakan sarung tangan pelindung.


"Akh!"


Jarinya pun terluka dan mengeluarkan darah. Ia kemudian segera mencuci jarinya lalu menghisap darah yang keluar. Saat itu juga sang ibu mertua datang ke dapur untuk melihat apa yang terjadi. Dan ternyata ia melihat pecahan gelas jatuh berserakan di atas lantai.


"Astaga, Ara." Sang ibu mertua segera mendekatinya. "Kau baik-baik saja, Nak?" Sang ibu tampak cemas.


Ara mengangguk, namun ia tetap meneruskan hisapannya pada jari yang terluka. Sang ibu pun membantu membersihkan pecahan gelas agar Ara tidak terkena kembali. Ia sudah seperti ibu Ara sendiri yang berada di Indonesia. Memperlakukan Ara bak anaknya dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Ara pun merasa nyaman tinggal satu atap bersama ibu mertuanya.


"Lain kali hati-hati, Nak. Jika merasa tidak enak badan, biar ibu saja yang memasak," saran ibu mertuanya.


Ibu Rain itu baru saja selesai menjemur pakaian di teras apartemen. Sehingga Ara lah yang mengambil alih memasak hari ini. Namun, ia malah tanpa sengaja memecahkan gelas susu yang baru saja dipakainya. Alhasil ia jadi tak enak sendiri kepada ibu mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2