Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Offer


__ADS_3

"Tidak ada. Biasa-biasa saja. Aku dan Jane memang berteman sejak dulu." Rain menjelaskan.


"Ya, kau menganggapnya seperti itu. Tapi apa Jane menganggapnya sama? Tentu tidak, bukan?" Byrne seperti mengetahui apa yang terjadi pada Jane dan Rain dulu.


"Entahlah. Aku memang sering jalan dengannya saat kuliah. Tapi rasaku saat bersama Jane dengan gadis ini amatlah jauh berbeda." Rain menjelaskan.


"Itu mengartikan jika kau jatuh cinta pada gadis itu?" selidik Byrne.


"Mungkin ... lebih dari itu." Rain segera menanggapi.


"Rain, coba kau pikir baik-baik sebelum memutuskan untuk menikahinya. Bagaimana perasaan Jane yang sudah lama dekat denganmu? Bahkan kalian sering berlibur bersama waktu itu. Apa dia tidak akan terluka dengan keputusanmu ini?" Byrne meminta Rain menimbang kembali.


"Aku sudah bilang padanya jika akan menikah," kata Rain lagi.


"What?!!" Byrne benar-benar tak percaya.


"Keputusanku sudah bulat. Lagipula aku yakin jika dia adalah gadis masa depanku." Rain tersenyum saat mengingat kenangan bersama Ara.


"Dari mana kau yakin?" tanya Byrne lagi.


"Aku melihat seorang gadis kecil mengenakan gaun putih, memanggilku dengan sebutan ayah. Dan gadis kecil itu bergandengan tangan dengannya." Rain terlihat amat bahagia.


"Rain, apa benar yang dikatakan nenek waktu itu?" Byrne teringat perkataan neneknya.


"Entahlah. Tapi semoga saja ini yang terbaik. Lagipula dia seperti memiliki rasa yang sama denganku." Rain berusaha yakin akan perasaan Ara.


"Hah ... ya ... jika ini sudah keputusanmu, aku amat menghargainya. Tapi, aku berharap pekerjaanmu tidak sampai terganggu. Karena sehabis ini kita akan mengunjungi negara lain." Byrne mengingatkan.


"Eksperimenmu sendiri sudah selesai?" tanya Rain kepada Byrne.


"Mungkin dua minggu lagi aku bisa menyelesaikannya. Bagaimana denganmu?" Byrne balik bertanya.


"Hari ini aku akan mengecek lokasi dan mulai mengambilnya." Rain menuturkan.


Kedua saudara itu akhirnya saling bercerita tentang pekerjaan masing-masing sambil menyantap hidangan yang tersaji. Rain pun merasa lega karena telah mengeluarkan unek-unek dari dalam hatinya. Karena bagaimanapun Rain membutuhkan tempat untuk bercerita mengenai rencana ke depannya.

__ADS_1


Rain berusaha meyakinkan diri jika Ara memiliki rasa yang sama seperti dirinya. Walaupun di hatinya ada sedikit keraguan karena Ara sudah berulang kali menolaknya. Tapi kali ini Rain berusaha membulatkan tekad untuk meminang sang gadis. Dan tinggal hitungan minggu kepastian itu akan segera didapatkannya.


Rain amat berharap impiannya bisa segera terwujud untuk melabuhkan bahtera rumah tangga bersama Ara. Karena menurut Rain tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Pastinya pertemuannya dengan Ara memang sudah dituliskan. Dan kini ia tinggal berusaha untuk memiliki hati Ara seutuhnya. Tapi apa iya Ara akan percaya jika Rain benar mencintainya, sedang kata cinta itu belum juga terucap dari bibirnya?


Pukul 8.15 pagi waktu Dubai dan sekitarnya...


Ara baru saja tiba di kampus dengan diantarkan oleh Jack. Ia pun segera berjalan masuk ke kampusnya karena mempunyai mata kuliah pada jam 8.30 nanti. Tetapi tiba-tiba seseorang menghentikan langkah kakinya.


"Tunggu!"


Seorang wanita berhodie hitam menunggu kedatangannya dari balik gerbang kampus. Ia menghentikan langkah kaki Ara setelah Jack melaju pergi dengan mobilnya. Wanita itu berjalan mendekat lalu berdiri di hadapan sang gadis.


"Halo, Nona," sapa wanita itu lalu membuka penutup kepalanya.


"Kau?!!" Ara pun terkejut.


"Kau terkejut dengan kedatanganku?" tanya wanita itu sambil menyilangkan kedua tangan di dada.


Mahasiswa lain tampak memperhatikan keduanya dari jauh. Mereka berbisik-bisik karena gelagat wanita berhodie hitam itu seperti ingin mengajak Ara berkelahi. Sedang pos satpam tampak kosong saat ini.


"Aku Jane, aku wanitanya Rain," kata wanita itu yang sontak membuat Ara tersentak.


Tiba-tiba saja detak jantung Ara berpacu cepat karena tidak dapat menerima pernyataan wanita yang memang benar adalah Jane. Ia pun lekas-lekas menghirup udara untuk menormalkan detak jantungnya.


"Aku ke sini karena mempunyai urusanmu. Aku tidak tahu siapa dirimu dan aku juga tidak peduli. Tapi, saat menyangkut Rain, mau tak mau aku harus turun tangan." Jane berjalan memutari Ara.


"Apa maksudmu?" Ara mengikuti arah Jane berjalan.


"Pintaku tak banyak. Aku hanya ingin kau meninggalkan Rain. Itu saja." Jane berhenti memutari Ara lalu memasukkan kedua tangan ke dalam saku hodienya.


"Kau tidak bisa mengatur kehidupan orang lain." Ara beranjak meninggalkan.


"Hei, tunggu! Aku belum selesai bicara!" Jane menahan bahu Ara dengan tangannya.


"Lepaskan tanganmu!" Ara berkata tegas.

__ADS_1


"Ups, maaf. Sepertinya Rainku sudah memberi udara segar sehingga kau bisa bersikap sesombong ini. Tapi sayangnya ... kau salah, Nona." Jane berkata lagi.


"Maaf. Sepertinya Anda telah salah orang." Ara beranjak pergi.


"Kau merasa Rain mencintaimu? Apa dia pernah menyatakan rasa cintanya padamu?" tanya Jane kembali.


Seketika langkah kaki Ara terhenti. "Itu bukan urusanmu," balas Ara segera.


"Nona-nona, jangan berharap Rain benar-benar mencintaimu jika dia belum pernah menyatakan cintanya. Jangan terlalu banyak bermimpi. Aku telah mengenalnya lebih dari tujuh tahun. Aku lebih tahu bagaimana dirinya. Sedang kau, kau baru beberapa minggu." Jane berjalan mendekati Ara lalu mengejeknya.


Ara amat kesal dengan ucapan Jane. Tiba-tiba terlintas kembali di benaknya bagaimana Jane bergelayut manja kepada Rain waktu itu. Rasanya ia ingin marah saat ini.


"Aku punya tawaran menarik untukmu." Jane melanjutkan. "Aku akan memberimu dua puluh ribu dolar jika kau mau meninggalkan Rain." Jane melakukan penawaran.


"Maaf, aku tidak tertarik." Ara bergegas pergi.


"Bagaimana jika lima puluh ribu dolar?" tanya Jane kembali.


Ara terdiam.


"Hei, Nona. Risiko yang kau tanggung begitu besar jika bersamanya. Terlebih kau merebut seorang pria dari wanitanya. Bagaimana jika posisinya dibalik? Bagaimana perasaanmu?" Jane mempengaruhi Ara.


Ara masih terdiam.


"Ini nomor teleponku. Jika kau berminat dengan tawaranku, kau bisa menelepon dan aku akan menyerahkan uangnya. Cukup adil, bukan?" Jane menyerahkan kartu namanya kepada Ara.


Ara masih diam di tempat.


"Kalau begitu sampai nanti." Jane segera berlalu, meninggalkan Ara yang masih terpaku di tempatnya.


Ara diam bukan karena tidak berani melawan Jane. Tetapi hatinya terasa sakit karena Jane mengatakan jika dia adalah wanitanya Rain. Terlebih Jane mengenal Rain lebih lama ketimbang dirinya. Ara merasa berkecil hati setelah kedatangan Jane pagi ini.


Bel tanda mata kuliah pun berbunyi, menyadarkan Ara dari alam pikirannya sendiri. Ia pun lekas-lekas masuk ke kelasnya dan berusaha melupakan kejadian tadi. Pagi ini Ara harus kembali menata hatinya yang sempat kacau karena ucapan Jane.


Bagaimanapun Ara mencintai Rain dan Rain mencintai Ara. Tapi sayang, sang penguasa belum juga menyatakan rasa cintanya kepada Ara. Dan Jane mengetahui hal itu adalah senjata utama untuk mempengaruhi Ara. Karena Jane lebih lama mengenal Rain ketimbang Ara sendiri.

__ADS_1


__ADS_2