
"Berbalik!" katanya setelah mengecek badanku.
Aku berbalik, menghadapnya. Tapi alangkah terkejutnya aku saat melihat sesosok yang kukenal di depanku. Dia adalah...
"Do-do-dosen Lee?!!" Aku tak percaya melihatnya.
Ya Tuhan apa ini mimpi? Apa aku mengalami hal serupa seperti kemarin?
Hatiku bertanya-tanya saat melihat Lee di depanku. Tapi bedanya Lee yang ini mengenakan pakaian bak ninja dengan sebilah pedang di tangan, bukan pistol atau senapan laras panjang.
Jangan-jangan aku kesasar ke waktu lampau?
Sungguh aku tidak tahu bagaimana bisa sampai ke sini. Aku pun terkejut mengapa bisa bertemu dengan Lee. Apakah aku mengalami peristiwa itu kembali? Tapi jika iya, apa alasannya? Apa aku benar-benar bisa menjelajahi waktu. Lalu apakah ini jiwa dan ragaku? Atau hanya sebatas jiwaku saja yang pergi? Aku benar-benar tak mengerti.
"Dosen? Apa itu dosen?" tanyanya dengan tatapan yang mematikan.
Benar dugaanku jika dia tidak tahu apa yang dinamakan dengan dosen. Dia bukanlah Lee yang kukenal, melainkan Lee yang berada di bumi lain.
Aku sebenarnya ada di mana, ya? Kenapa kesasar lagi?
Sepanjang mata memandang adalah dataran yang lebih tinggi dari dataran lainnya. Bisa dipastikan jika ini bukit. Di bukit ini juga banyak pepohonan pendek di sekitarnya, seperti belum pernah terjamah sama sekali. Uniknya ada rumah pohon di sini.
"Em, maaf. Aku bukanlah orang jahat. Tadi saat sampai aku sudah jatuh di bawah sana. Apakah aku bisa menumpang sebentar? Sepertinya aku membutuhkan tempat singgah sementara." Aku mencoba bernegosiasi dengannya.
Dia menaikkan satu alisnya, mungkin curiga padaku.
"Sungguh aku ke sasar. Aku tidak berbohong. Jika aku berbohong, aku siap menerima hukumannya," kataku lagi sambil memasang wajah memelas.
Pria di hadapanku lantas memasukkan pedangnya. Dia lalu berjalan membelakangiku. Aku jadi bingung harus bagaimana.
"Tu-tuan ...." Aku mencoba menyapanya.
__ADS_1
"Kau tahu ini ada di mana?" Dia bertanya padaku.
"Aku tidak tahu. Sungguh." Aku menjawabnya segera.
Kulihat dia memperbesar api unggunnya seorang diri. Entah ke mana teman-temannya. Tapi mungkin dia memang seorang diri di sini.
"Ini adalah kawasan perbatasan Negeri Bunga dan Asia. Kawasan ini dijaga ketat oleh prajurit dari masing-masing negeri. Apa kau berniat mencuri apa yang ada di perbatasan ini?" tanyanya seraya menoleh ke arahku.
"Mencuri?!"
Pertanyaannya begitu membuatku tak habis pikir. Buat apa juga aku mencuri sampai jauh-jauh ke sini. Memangnya tidak ada tempat lain di duniaku apa? Sungguh pria yang mirip dengan Lee ini mengesalkan sekali. Seenaknya saja dia berkata seperti itu.
"Ya, kawasan ini adalah kawasan yang dilindungi. Tidak bisa sembarang orang datang kemari. Tapi mengapa kau bisa?" Dia beranjak bangun setelah selesai memperbesar api unggunnya.
"Aku ... aku sungguh tidak tahu. Seiingatku ada mobil yang melaju cepat ke arahku. Lalu aku mendengar dentingan titanium dari dekat. Lalu aku melihat cahaya yang menyilaukan dalam sekejap. Lalu aku tidak sadarkan diri dan sampai di sini." Aku menceritakan serinci mungkin padanya.
Dia menyilangkan kedua tangannya di dada, seraya mengembuskan napas dengan kuat. "Aku hanya prajurit biasa. Jika kau seorang putri yang menyamar sebagai rakyat jelata, mengapa tidak langsung ke istana saja? Di sana ada dua pangeran yang bisa kau dekati." Dia lantas beranjak pergi dariku.
Dia lalu berbalik ke arahku. "Di sini kotor dan tidak ada kasur. Kalau kau mau, bisa naik ke atas sana." Dia menunjuk rumah pohon itu.
Sungguh aku tidak habis pikir mengapa bisa berada di situasi seperti ini. Aku bingung, tidak tahu harus bertanya kepada siapa mengenai hal ini. Dan karena merasa lelah, aku pergi saja ke rumah pohon yang ada di atas sana. Aku memanjat tangga yang ada talinya seperti latihan pramuka saja.
Aku harap bisa menemukan jalan pulang secepatnya. Aku tidak mau pergi-pergi lagi. Ya Tuhan, tolonglah aku.
Beberapa saat kemudian...
Akhirnya aku sampai juga di atas rumah pohon ini. Dan kulihat rumah pohon yang kusinggahi tempatnya luas. Mungkin ada sekitar 5x5 meter dengan tanpa sekat sama sekali. Di sini juga tidak ada kasur atau bantal. Hanya ada peralatan makan dan minum dan juga jemuran yang digantung sembarang.
Di rumah pohon ini ada jendela yang cukup besar dan juga pintunya. Saat aku mencoba menutup semuanya, ternyata seperti rumah pada umumnya. Bisa untuk berteduh dari panas atau hujan, dan jika malam seperti ini bisa berlindung dari dinginnya angin. Dan sekarang aku sedang melihat apa saja yang ada di sini.
"Jika mau tidur, hamparkan saja kulit domba itu." Pria yang mirip dengan Lee memberi tahuku.
__ADS_1
Aku berbalik menghadapnya, dan kulihat dia membawakan teko kecil yang sepertinya berisi teh. Lantas kutanyakan saja kebenarannya.
"Itu apa?" tanyaku.
"Ini teh daun mint dan melati. Mau coba?" tanyanya.
Sepertinya pria di hadapanku tidaklah jahat. Dia tadi mencabut pedangnya mungkin hanya karena untuk berjaga diri dari ancaman yang ada. Sama seperti yang dilakukan priaku waktu itu yang juga menodongkan pistolnya ke arahku.
"Em, kau sendiri di sini?" Aku mencoba memberanikan diri bertanya.
"Ya, aku sendiri. Aku sedang bertugas di sini." Kulihat dia mengelap tangannya.
"Namamu siapa?" tanyaku lagi.
Dia terdiam sejenak. "Bukankah kau sudah tahu namaku?" Dia balik bertanya padaku.
"Eh, jadi maksudnya?!" Aku langsung berpikir cepat mengenai hal ini.
"Namaku Lee, tapi tidak pakai dosen," katanya.
"Astaga!"
Seketika aku terperanjat kaget. Ternyata Lee yang kutemui ada dua, sama seperti Rain yang kutemui waktu itu. Ini membuktikan jika kami mempunyai kembaran di tempat lain. Atau jangan-jangan tempat yang kusinggahi ini masih satu bumi dengan bukit waktu itu? Sungguh aku jadi semakin penasaran dengan adanya dunia pararel. Apakah hal itu memang benar-benar ada?
"Sudah. Tidurlah. Malam sudah semakin larut." Dia lantas menghamparkan kulit domba ke lantai rumah pohon yang terbuat dari kayu ini.
Aku ingin sekali banyak bertanya padanya. Tapi rasanya kurang pantas jika baru pertama kenal sudah banyak bertanya. Jadi ya sudah, aku juga ikut beristirahat saja. Toh, tenangaku belum pulih sempurna. Mungkin setelah beristirahat aku bisa berpikir jernih dan mendapatkan jawaban atas hal ini. Ya, semoga saja. Aku berharap cepat mendapatkan jawabannya.
Selamat tidur, Ara. Jalani saja yang ada.
Pria yang bernama Lee ini tidak menutup pintu dan jendela rumah pohon. Dia biarkan terbuka begitu saja sehingga angin bisa masuk. Tapi anehnya, aku tidak merasa kedinginan di sini. Berbeda saat di bukit pohon tin waktu itu. Dinginnya udara terasa menusuk sampai ke sumsum tulangku.
__ADS_1
Apakah bukit waktu itu berbeda iklim dengan bukit yang kusinggahi sekarang? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu. Tugasku hanya menjalani skenario yang ada. Toh, Tuhan tidak akan pernah meninggalkanku. Kuyakini hal itu.