Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Sordid


__ADS_3

Sabtu malam pukul sembilan waktu Dubai dan sekitarnya...


Malam ini bertepatan dengan minggu ke tiga aku berada di Dubai. Malam ini juga menandakan jika aku mempunyai waktu tiga minggu lagi untuk menjawab ajakan pernikahan. Beberapa peristiwa telah aku lalui di sini. Tidak lagi hitungan hari, melainkan hitungan minggu. Dan aku merasa bahagia walaupun kadang duka menghampiri.


Aku masih mengenakan baju tidur yang serba panjang. Sedang tuanku mengenakan sweter lengan panjangnya yang berwarna hitam dan juga celana hitam panjang. Entah kenapa dia ingin memakai pakaian serba hitam malam ini. Apakah hatinya sedang berduka? Aku tidak tahu. Atau mungkin dia memang lagi ingin saja.


Angin cukup kencang menerpa rambutku yang dibiarkan tergerai. Aku sedang menatap indahnya pemandangan dari teras luas apartemen ini. Ditemani segelas kopi latte yang menenangkan, aku berusaha melupakan kejadian kemarin.


"Menyebalkan sekali."


Tuanku datang dengan wajah kesal sambil memasukkan ponsel ke saku celana. Dia baru saja menerima telepon di kamar, katanya sih telepon penting sehingga aku juga tidak ingin mengganggunya.


"Kenapa?" tanyaku, lalu meneguk kopi seraya melihat ke arahnya.


"Kakek minta rapat tahunan dipercepat. Bulan depan kami diminta kembali ke USA." Dia mengabarkan padaku.


"Oh ...." Aku hanya bisa berkata oh karena tidak tahu harus menanggapi apa.


"Nanti kau ikut ya, Ara. Sekalian kukenalkan dengan kakek dan saudara-saudaraku yang lain." Dia meminta lalu mengambil kopiku, meneguknya sampai habis.


Ih, dia ini.


Aku pun menggerutu dalam hati. Dia menghabiskan kopiku seenaknya. Tapi senang juga sih karena merasa tidak ada lagi jarak antara kami. Di hadapanku dia bukanlah bos besar yang ditakuti dan disegani. Di hadapanku dia adalah Rain, dirinya sendiri.


"Em ... aku ...." Aku ingin membicarakan sesuatu padanya.


"Kenapa?" Dia meletakkan gelas kopi ke atas meja teras lalu beralih kepadaku yang berdiri di dekat pagar.


"Nanti apa boleh aku minta libur?" tanyaku ragu.


"Libur?" Dia seperti bingung.


"Em, maksudku ... minggu depan aku ingin pulang ke rumah, aku rindu ibu," kataku yang sontak membuatnya terdiam. Dia lalu memalingkan wajahnya dariku.


Aduh, apa aku salah bicara, ya?


Tidak tahu kenapa wajahnya tiba-tiba murung. Dia menunduk, melihat pemandangan di bawah apartemen ini. Aku jadi tidak enak hati sendiri.


"Tuan ...." Aku menarik ujung sweternya.


"Ara, kau ingin meninggalkanku?" tanyanya yang sontak membuatku kaget.


Aku berjalan cepat ke hadapannya. "Tuan, aku tidak ada maksud seperti itu, aku hanya ingin menemui ibu. Beberapa hari saja," kataku lagi yang kini berdiri di hadapannya.

__ADS_1


Dia mengangkat wajahnya, melihatku. "Kita baru baikan, kenapa kau ingin pergi? Apa kau tidak kasihan padaku?" tanyanya dengan wajah murung.


Kupeluk saja dirinya. Kulingkarkan kedua tangan ini di pinggangnya. Aku rindu aroma parfumnya yang memabukkan. Dan bisa kurasakan jika degup jantungnya melaju kencang.


"Aku nanti kembali. Aku punya ibu yang harus kulihat. Lagipula aku sudah mencukupkan pekerjaanku satu bulan di sini. Sebagaimana seorang pekerja pada umumnya. Jadi boleh ya aku minta libur? Lima hari saja, nanti aku akan kembali." Aku berkata sambil merebahkan kepala di dadanya.


Dia membalas pelukanku. "Aku tidak pernah menganggapmu sebagai seorang pekerja, Ara." Dia membalas ucapanku.


Kudongakkan kepalaku ke atas, melihat wajahnya. "Jadi kau tidak akan membayar gajiku?!" tanyaku yang tiba-tiba merasa kesal.


"Eh?!" Seketika dia bingung, seketika itu juga aku melepaskan pelukan. "Ara." Dia pun seperti tidak rela lepas dari pelukanku.


"Pokoknya aku mau melihat ibu. Aku rindu. Jika kau tidak mengizinkannya, maka aku berhenti bekerja. Jika kau tidak mau membayar gajiku, aku akan mendoakanmu miskin." Aku beranjak pergi.


Entah kenapa aku merasa kesal sekali. Kesal karena seolah-olah dia tidak mau membayar gajiku. Akhirnya aku pergi ke ruang tamu, menarik selimut lalu berusaha tidur. Aku kesal. Mungkin karena mau datang bulan makanya begini.


"Ara ...." Dia mendekatiku, duduk di pinggir sofaku. "Kau salah paham," katanya lagi.


Aku pura-pura tidur.


"Ara ...." Dia memanggilku lagi. "Sudah jangan ngambek, nanti kau kugigit," katanya yang seketika membuatku bangun.


"Kau menyebalkan, Tuan." Aku duduk menggerutu di sampingnya.


"Kau ini ... ish!" Aku duduk sambil melipat kedua tangan di dada, kesal dengannya.


"Ara, bukan maksudku untuk seperti itu." Dia merangkulku.


"Lepaskan!" Aku tidak mau dirangkulnya.


"Sayang,"


Dia lalu menyebutku dengan kata sayang. Seketika hatiku cenat-cenut tak karuan. Riang bukan main. Tapi aku berlagak jutek saja padanya. Kututupi perasaan yang sebenarnya ada di hatiku.


"Jika kau menganggap bekerja maka aku akan memberikan hakmu sebagai pekerja. Kau jangan mengkhawatirkan hal itu. Tapi jika kau menganggap kekasihku, aku malah akan lebih senang," lanjutnya.


Aku menghela napas lalu mengembuskannya perlahan.


"Sudah, jangan ngambek lagi. Lebih baik kita bercinta mumpung sepi." Dia mengeluarkan kata-kata yang mengerikan kepadaku.


"Apaan, sih!" Aku pindah sofa, tidak mau dekat-dekat dengannya.


"Hah ...." Dia bergantian mengembuskan napasnya. "Kita menikah saja besok, Ara." Lagi, dia membuatku takut dengan kata-katanya.

__ADS_1


"Hah? Besok?!" Aku tak percaya.


"Iya. Aku sudah tidak tahan. Apa aku harus menerkammu sekarang?" Dia seperti pusing sendiri.


Ya ampun, dasar mesum!


Dia malam ini mengerikan sekali. Mengucapkan kata-kata yang menakutkan bagiku.


"Kalau kau seperti itu, aku akan pergi dan tak kembali," ancamku.


"Eh, jangan!" Dia mendekatiku, duduk di sampingku. "Jangan ya, Ara. Jangan begitu. Aku cuma bercanda. Iya, bercanda. Hehehe." Dia tersenyum tak jelas di depanku.


Rasanya aku ingin tertawa saat melihatnya menyerah. Padahal aku cuma ngambek bohongan saja. Aku ingin melihat bagaimana reaksinya saat aku ngambek. Dan ternyata dia memanjakanku.


Tuan, kau memang menyenangkan hati.


Ide jahil pun muncul di benakku. Aku lalu menariknya ke kamar. Sontak dia terkejut dengan sikapku ini. Sesampainya di kamar, aku segera mendorongnya ke kasur. Dia pun terjatuh di atas kasurnya sendiri.


"Ara?!" Dia terkejut, tak percaya jika aku akan melakukannya.


"Kenapa? Ada yang aneh?" tanyaku lalu membuka satu kancing baju tidurku di hadapannya.


"Ara ...."


Kulihat dia menelan ludahnya sambil terus menatapku. Mungkin dia berharap aku akan membuka semua kancing bajuku. Kusampirkan juga rambutku ke kiri sehingga dia bisa melihat betapa menggodanya poseku ini. Dia pun memejamkan matanya, seperti menanti apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Tapi ... saat itu juga aku segera berlari keluar lalu mengunci pintu kamarnya.


Kena kau, tuan!


Kukunci pintu kamarnya dari luar, seketika dia menyadari jika aku sedang mengerjainya. Dia akhirnya bangun lalu menggerak-gerakkan gagang pintu setelah tersadar apa yang aku lakukan.


"Ara, apa yang kau lakukan?! Buka pintunya!"


Dia juga berteriak-teriak meminta pintu dibukakan. Tapi, kubiarkan saja dia seperti itu sambil tertawa bahagia. Ya anggap saja ini pembalasanku karena kata-katanya yang menyakitkan waktu itu.


Baiklah, kita impas sekarang.


"Ara, buka pintunya, Ara!"


Dia terus berteriak memanggil namaku, tapi aku tidak peduli. Kutarik selimut lalu segera merebahkan diri di sofa. Aku tidur awal di malam ini. Dengan perasaan senang akhirnya aku bisa tertidur dengan cepat. Tak tahu apa yang dia lakukan di kamar, aku tidak peduli.


Selamat malam, tuan. Selamat tidur.


Kututup hariku dengan senyuman sebelum terlelap dalam mimpi. Jika ini memang mimpi aku berharap tidak terbangun. Tapi jika nyata aku berharap akan abadi selamanya.

__ADS_1


__ADS_2