Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
You are Beautiful


__ADS_3

"Astaga, aku benar-benar ketiduran sampai tidak mendengar panggilan teleponnya."


Segera Ara membalas pesan dari Rain dengan sebuah permintaan maaf yang tulus dari hati. Dan tak lama, Rain meneleponnya. Bukan lewat telepon biasa, melainkan video call.


"Ha-halo?" Ara mengangkat panggilan video dari Rain.


"Kau dari mana saja?" Rain terlihat sedang duduk di kursi kerjanya.


"Aku ... aku baru bangun. Maaf, ya." Ara mengusap wajahnya.


Rain bisa melihat dengan jelas wajah Ara saat baru bangun tidur. "Ya, sudah. Nanti ada resepsionis datang membawakan gaun untukmu. Pakailah dan berdandan secantik mungkin. Aku ingin melihatnya malam ini." Rain berpesan kepada Ara.


"He-em." Ara pun mengangguk sambil melihat ke arah kamera.


"Aku pulang agak malam. Ada rapat yang harus kuselesaikan. Jika ingin makan, makanlah sendiri dulu," kata Rain lagi.


"Baik." Ara mengangguk lagi sambil menopang wajah dengan tangan karena masih mengantuk.


"Jika ingin keluar, tunggu aku pulang. Aku tidak mengizinkanmu keluar malam sendirian." Rain kembali berpesan.


"Baik, Sayang. Baaaiikk!" Ara memberi hormat kepada Rain.


Seketika Rain tersenyum sendiri. "Ya, sudah. Mandi sana biar cantik. Dan jangan nakal. Kalau nakal ...," Rain mendekatkan bibirnya ke arah kamera. "Muach!" Dia mencium kameranya sendiri bak orang gila.


Hilih, kenapa dia sekarang jadi genit seperti ini?


Ara tak habis pikir dengan sikap tuannya, seperti ABG yang sedang jatuh cinta saja. Rasanya ia ingin tertawa tapi takut berdosa.


"Ya, sudah. Aku mandi dulu, ya." Ara berniat mengakhiri video call dari Rain.

__ADS_1


"Sudah seperti ini saja? Tidak ingin membalas ciuman dariku?" tanya Rain terus terang.


"Dasar genit!"


Ara menggerutu lalu segera mematikan teleponnya. Ia tidak peduli jika Rain marah atau tidak padanya. Ia ingin segera mandi sebelum malam datang. Dan tak lama bel apartemen pun berbunyi.


"Em, mungkin itu resepsionis yang mengantarkan gaun untukku."


Segera Ara beranjak bangun lalu membukakan pintu. Dan ternyata memang benar resepsionis apartemen lah yang datang. Sebuah gaun mewah diantarkan olehnya. Ara pun menerimanya sambil mengucapkan terima kasih. Setelahnya ia segera menutup pintu lalu menguncinya dari dalam.


Dia ini memang sangat perhatian padaku. Tapi banyak syarat dan ketentuan yang harus aku patuhi. Dasar provider berjalan!


Sang gadis segera membawa gaun itu ke lemari dorongnya yang ada di lorong mesin cuci. Ia pun bergegas mandi, membersihkan diri. Setelahnya barulah memasak untuk makan malam. Malam ini ia lalui seorang diri sambil menunggu seseorang pulang. Seseorang pria yang membuatnya tiada berdaya hingga seluruh pikirannya terisi oleh nama pria tersebut. Dan pria itu bernama Rain.


Pukul tujuh malam waktu Dubai dan sekitarnya...


Rain masih sibuk mengadakan rapat dengan para pejabat tinggi Kota Dubai. Ia membahas masalah rasio keuntungan atas lahan minyak yang baru ditemukan. Adu argumen pun terjadi di ruangan rapat berukuran 10x10 meter itu. Beberapa di antara pejabat menolak pembagian keuntungan 50:50 atas lahan yang baru.


Timur Tengah adalah kawasan yang kaya akan minyak. Orang-orang dari barat berbondong-bondong datang untuk menjalin kerja sama dengan pemilik ladang minyak ini. Kerja sama yang terjalin itu mampu memajukan kota yang ada di Timur Tengah. Tapi sayang, beberapa di antaranya harus terkena invasi karena memperebutkan ladang minyak.


Rain adalah sosok pria yang ramah kepada rekan kerjanya. Tapi, jangan sekali-kali membuatnya marah karena hal itu dapat membahayakan si pelaku. Tak hanya pelaku, tapi juga keluarga pelaku akan terkena imbasnya. Sang penguasa terkadang bisa menjadi kucing Persia, terkadang juga bisa menjadi singa Afrika. Sehingga banyak orang yang segan padanya.


Lima tahun Rain menjalankan tugas di Timur Tengah, baru di tahun kelima ini ia mengalami kejadian tak masuk akal dalam hidupnya. Seorang gadis polos datang tengah malam dan mengagetkan jantungnya. Hampir saja peluru dari pistolnya ditembakkan jika gegabah. Namun, saat ia melihat kedua bola mata sang gadis, semuanya berubah. Ada sepercik harapan dalam kesepian yang melandanya. Dan kini ia nekat untuk mempersunting gadis tersebut.


Hanya dalam hitungan minggu, Rain membulatkan tekad untuk menikahi gadis asal Indonesia yang telah membuatnya susah tidur berhari-hari. Gadis itu juga telah berhasil membuat seluruh sarafnya bereaksi. Padahal masa-masa dulu Rain tidaklah seperti ini. Walaupun bergelut dengan kehidupan bebas, Rain belum pernah melakukan sesuatu dari hati selain kepada Ara seorang. Alam bawah sadarnya seolah terikat dengan sang gadis. Dan Rain berharap keputusannya ini benar untuk masa depannya kelak.


Lain Rain, lain pula Ara. Sang gadis tampak sedang mengerjakan tugas kuliahnya di meja ruang tamu sambil menunggu kedatangan tuannya. Sajian makan malam pun sudah tersedia di atas meja. Namun, ia belum mengenakan gaun yang diminta oleh Rain. Ara masih ingin bebas bergerak dengan sweter krimnya.


Dua jam kemudian, di apartemen...

__ADS_1


Elite Royal apartemen mempunyai banyak gedung bertingkat di Kota Dubai. Tak ayal menjadi kawasan pemukiman bagi para pelancong mancanegara. Tapi, Rain sengaja memilih tinggal di gedung tertinggi di antara gedung lainnya. Ia juga memilih di lantai teratas agar bisa menikmati pemandangan indah saat beristirahat. Pekerjaannya yang rumit membuat waktu istirahatnya amatlah berharga.


"Selesai."


Sang gadis baru saja menyelesaikan tugas kuliahnya. Lekas-lekas ia masukkan ke dalam tas lalu beranjak ke kamar mandi untuk membasuh wajah yang lelah. Namun, bersamaan dengan itu bel apartemen berbunyi.


"Apakah itu dirinya?"


Ara segera melangkahkan kaki menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. Dan ternyata memang benarlah Rain yang datang.


"Sayang?" Ara menyapa prianya.


"Hei, kau belum mengenakan gaun yang kupinta?" Rain bergegas masuk, Ara pun lekas-lekas menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


"Belum, ini baru mau pakai," kata Ara.


"Cepatlah pakai. Aku tunggu." Rain duduk di sofa ruang tamu.


"Em, baiklah. Tunggu, ya."


Sang gadis meminta Rain menunggu. Wajah Rain yang lelah pun semakin lelah karena Ara membuatnya menunggu. Detik demi detik berlalu, menit demi menit terlewati. Ia pun jadi haus sendiri. Ia lalu mengambil air minum dari dispenser yang ada di dekat meja makan. Lalu tak lama sang gadis muncul dari balik tirai lorong mesin cuci.


"Taraaaa! Bagaimana?" Ara tersenyum semringah ke arah Rain.


Sayang ...?!


Seketika itu Rain terperanjat, ia melihat Ara tanpa berkedip. Rain melihat gadisnya begitu anggun dan cantik. Aura dari sang gadis mempu menghipnotis dirinya. Ia terpana dalam angan indah bersama Ara di masa depan.


"Ara ...."

__ADS_1


Rain menelan ludahnya sendiri. Gelas yang ia pegang lekas-lekas diletakkannya ke atas meja makan.


__ADS_2