Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
I am Happy


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Menjelang sore ini ibu Rain dikejutkan dengan sebuah pemandangan di depan matanya. Dimana putra dan menantunya memberikan kejutan yang begitu membahagiakan dirinya. Ibu Rain diberi kunci apartemen oleh menantunya, sedang Rain memberi surat-surat penting atas pembelian apartemen ini. Tak ayal sore ini menjadi saksi kebahagiaan hati seorang ibu yang diberi hadiah oleh anaknya. Mereka berpelukan layaknya keluarga bahagia.


"Terima kasih, Nak. Ibu senang sekali." Ibu Rain memeluk keduanya.


Ara dan Rain pun mengangguk. "Sekarang ibu tidak perlu berjualan lagi. Semua kebutuhan ibu sudah ditanggung olehku. Jika ibu ingin sesuatu, tinggal bilang saja ke pihak apartemen. Mereka yang akan menyediakannya." Rain menuturkan.


"Itu benar, Bu. Walaupun belum lama ini kita bertemu, tetapi Ara sudah merasa dekat dengan ibu. Jadi anggaplah Ara seperti anak ibu sendiri." Ara meminta.


Tiba-tiba saja air mata sang ibu menggenang. Ibu Rain terharu dengan permintaan menantunya. "Baik, Nak. Baik. Ara sudah menjadi anak ibu sekarang. Mulai sekarang Ara juga tidak perlu segan jika membutuhkan bantuan ibu ya." Sang ibu bergantian meminta.


Ara tersenyum. Ia kemudian memeluk ibu mertuanya lagi. Rain pun merasa senang melihat kedua wanita yang dicintai saling menyayangi. Rain berharap bisa selalu melihat mereka seperti ini.


Anakku, terima kasih. Ibu bahagia sekali. Walau belum banyak kita bercerita, ibu tahu jika kau sudah mapan dan juga dewasa. Semoga bahagia selalu menyertai dirimu dan istrimu, Nak. Ibu mendoakan kalian.


Segala doa baik dipanjatkan oleh sang ibu untuk putra dan menantunya. Ibu Rain berharap rumah tangga putranya bisa selalu bahagia dan sejahtera. Karena bagaimanapun orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Begitu juga dengan ibu Rain, yang menginginkan kebaikan bagi Ara dan putranya. Semoga saja semesta selalu menyertai orang-orang yang berbuat kebaikan. Baik ditampakkan maupun disembunyikan.


Rumah sakit Turki, pukul empat sore waktu sekitarnya...


Sore ini sepasang suami istri tengah menunggu giliran bertemu dokter spesialis kandungan. Keduanya duduk di kursi tunggu sambil melihat orang yang lalu-lalang. Terlihat sang istri merebahkan kepala di bahu suaminya. Ia tampak khawatir dengan hasil diagnosa dokter nantinya. Apalagi kini ia merasa tubuhnya mengalami perubahan yang drastis. Baru beberapa hari saja sampai di dunianya, ia merasa perutnya membesar begitu cepat.


Perbedaan waktu antara Agartha dan dunia sebenarnya membuat kandungan Ara harus ekstra menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitar. Hal itu tentu saja berdampak kepada Ara sendiri yang mengalami mual hebat dan perut yang terasa semakin begah. Kandungannya membesar lebih cepat dari biasanya. Dan karena hal itu juga Ara harus ikut menyesuaikan diri sekembali ke dunia sebenarnya. Mau tak mau semua itu harus ditanggungnya.

__ADS_1


"Nyonya Rain?!" Tiba-tiba saja terdengar seorang perawat yang memanggil.


"Sayang, itu!" Ara menunjuk suster yang memanggilnya.


"Ayo."


Rain pun beranjak bangun dari kursi tunggunya. Keduanya berjalan bersama menuju ruang pemeriksaan, menemui dokter spesialis yang praktik sore ini. Ara pun deg-degan bukan main saat semakin mendekati ruang pemeriksaan.


Beberapa saat kemudian...


Rain membayar tunai seluruh pemeriksaan yang dilakukan istrinya. Ara pun kini masih dibaringkan di atas kasur setelah menjalani tahap pemeriksaan. Ia harus melalui beberapa tahap untuk mengecek kondisi kandungannya. Dan kini sang dokter sedang berbincang bersama Rain, sedang Ara dibiarkan beristirahat sejenak.


"Ini adalah kasus yang amat langka, Tuan Rain. Janin di dalam kandungan istri Anda mengalami perkembangan yang sangat pesat. Perbandingannya satu banding tujuh. Dimana satu hari perkembangan janin sama dengan tujuh hari perkembangan janin pada kandungan istri Anda. Saya juga kurang mengerti mengapa bisa sampai terjadi hal seperti ini. Di ilmu kedokteran kandungan pun tidak bisa menjelaskannya lebih rinci." Sang dokter menuturkan.


Dokter tampak menelan ludahnya. Ia merasa heran kepada suami dari pasien yang ditanganinya. Seperti tidak mengalami masalah saat kandungan pasiennya mengalami pertumbuhan yang pesat.


"Satu hari sama dengan satu minggu. Diperkirakan istri Anda akan melahirkan pada bulan Juli nanti," jawab sang dokter.


Seketika Rain terkejut. "Berarti bulan depan?" tanya Rain lagi.


"Ya. Kemungkinan tak akan lama lagi. Apakah Tuan sudah mempersiapkan kelahirannya?" tanya dokter itu.


Rain tampak berpikir. "Sepertinya aku akan mencari metode melahirkan yang paling mudah dan tidak menyiksa, Dok." Rain menjawab dengan polosnya.

__ADS_1


Dokter kandungan itu tersenyum. "Tuan, di dunia ini semuanya diciptakan berpasangan. Ada laki-laki, ada perempuan. Ada siang, ada malam. Ada nikmat, ada juga rasa sakit. Semua sudah menjadi ketetapan Yang Maha Kuasa. Jika Tuan menginginkan metode melahirkan seperti itu, saya rasa operasi sesar juga akan mengalami rasa sakit." Sang dokter memaparkan.


Rain terdiam. Ia sejujurnya bingung harus berkata apa.


"Tuan nanti bisa mengonsultasikan metode melahirkan seperti apa yang diinginkan oleh istri Anda. Sementara ini saya sarankan untuk mendampinginya. Karena pertumbuhan janin berkembang pesat, khawatir kondisi istri Tuan tidak kuat. Jadi ada baiknya selama satu minggu ke depan Tuan ikut mendampinginya," tutur sang dokter kembali.


Rain mengangguk, mengerti. "Dok, apakah sudah bisa melihat bayinya melalui USG?" tanya Rain kembali.


Dokter melihat hasil USG 4D yang ia dapatkan. "Saat ini usia janin di dalam kandungan istri Anda diperkirakan baru sekitar tiga minggu. Belum bisa melihat dengan jelas jenis kelaminnya. Tapi, kemungkinan sel telur akan terbelah menjadi dua." Dokter itu tampak ragu mengatakannya.


"Apa itu berarti istriku akan memiliki bayi kembar?" tanya Rain lagi.


Dokter tampak berpikir keras sambil melihat hasil USG 4D yang ia dapatkan. "Sepertinya iya. Tapi ini aneh sekali." Dokter juga merasa heran sendiri.


"Maksud Dokter?" tanya Rain lagi.


Dokter menghela napasnya. "Ada baiknya jika kita menunggu satu minggu lagi. Saya harap Tuan Rain dapat bersabar menunggunya. Untuk sementara fokuslah menemani istri Anda agar semuanya berjalan lancar." Dokter memberikan sarannya.


Rain tampak berat menunggu satu minggu lagi untuk mengetahui berapa janin yang sedang dikandung istrinya. Dokter spesialis kandungan pun tidak bisa memastikan sebelum menunggu satu minggu lagi. Sedang Rain sudah tidak sabar ingin melihat anaknya.


Ara, bertahanlah. Ternyata anak kita menyesuaikan diri dengan waktu dunia ini. Kau pasti bisa melewatinya.


Jujur saja Rain merasa bahagia karena tidak lama lagi akan menjadi seorang ayah. Hal inilah yang ia idam-idamkan sejak dulu. Walaupun sebenarnya ia amat kasihan melihat istrinya, tapi sebisa mungkin ia menyemangati agar Ara kuat melewati masa-masa kehamilan.

__ADS_1


Sore ini Rain memutuskan untuk segera pulang pasca menemani istrinya menjalani pemeriksaan kandungan. Rain ingin memberi kabar bahagia ini kepada ibunya agar sang ibu ikut merasa bahagia, seperti yang ia rasakan sekarang. Bagaimanapun dianugerahi buah hati adalah kebahagiaan yang tak terkira. Dan Rain kini merasakannya.


__ADS_2