
“Ya, sudah. Kita kembali ke rumah, ya.” Aku mengajaknya pulang.
“Eh?!” Kulihat dia terkejut.
“Masih ada cara lain, bukan? Kita pulang sekarang,” kataku seraya tersenyum padanya.
Dia menatap wajahku heran, seperti tak percaya. “Kau ingin melakukannya?” tanyanya ragu.
Aku menghela napas. “Bukan seperti itu. Tapi masih ada cara lain, bukan? Kita pulang saja. Nanti sesampainya di rumah, aku akan melakukan sesuatu untukmu.” Aku menarik tangannya.
Entah apa yang ada di pikirannya, Rain tampak terheran-heran dengan sikapku. Kudorong keranjang belanjaan sambil menarik tangannya agar dia segera mengikutiku. Pada akhirnya dia tersadar lalu mengambil alih keranjang belanjaku. Dia gantian mendorongnya sampai kami tiba ke kasir. Kami pun lekas-lekas melakukan pembayaran atas barang belanjaan ini.
Sabar ya, Sayang. Mungkin setelah ini Tuhan akan segera memberi kita bayi. Jangan ngambek lagi, aku tidak akan menghindar darimu. Aku sudah menjadi milikmu.
Selesai melakukan pembayaran, kami segera melangkahkan kaki menuju parkiran. Masuk ke dalam mobil lalu melajukannya ke Palm Jumeirah, komplek perumahan kami. Kulihat sepanjang jalan Rainku termenung seraya menoleh ke arahku sesekali. Sepertinya dia ragu akan hal yang kulakukan nanti padanya.
Palm Jumeirah, pukul dua siang…
Semilir angin siang ini mengantarkan kami menuju puncak asmara yang diidam-idamkan. Status resmi hubungan suami istri telah didapatkan. Dan kini kami sedang saling menggoda satu sama lain di atas kasur yang berada di kamar lantai dua rumah kami. Rain menggelitikku, seolah memberi hukuman karena semalam tak jadi. Namun, sebisa mungkin kutahan rasa geli ini agar tidak kalah darinya.
“Sudah, Sayang. Gantian!”
Sedari tadi dia menggelitik pinggangku, leherku, telingaku, sesuka hatinya. Sekuat mungkin aku menahan, namun akhirnya kalah juga. Ternyata aku tidak mampu untuk menahan gejolak yang muncul saat bersamanya. Tak ayal di bawah sana pun sudah basah semua.
“Baru sebentar, Sayang." Dia menolak permintaanku.
"Aku geli tahu!" Aku menggerutu, mencoba menjauhkan dirinya yang berada di atas tubuhku sedari tadi.
"Bukannya geli enak?” tanyanya yang membuatku malu.
“Kau ini!”
Kudorong saja dirinya sampai jatuh ke kasur. Aku bergantian di atas tubuhnya. "Sayang, aku masih menstruasi. Tidak mungkin melanjutkan ke tahap selanjutnya. Tapi, biarkan aku membantumu melepaskannya, ya?" Tanpa malu-malu aku bertanya padanya.
Dia terlihat ragu. “Kau yakin ingin membantuku?” tanyanya cemas.
__ADS_1
“Kita lihat saja nanti. Sekarang aku akan melepas sabuk celanamu,” kataku yang mulai nakal padanya.
Kulihat dirinya menelan ludah saat aku mulai melepaskan sabuk celananya. Dia lalu memperhatikan setiap apa yang kulakukan. Siang ini aku akan memuaskan hasratnya karena bagaimanapun aku sudah bertanggung jawab atas kebutuhan batinnya.
“Sayang ….”
Belum apa-apa, kulihat dirinya menggigit bibirnya sendiri. Padahal aku baru saja menurunkan celana jeans-nya sampai ke lutut, belum menurunkan celana lainnya. Dan entah mengapa wajahnya terlihat imut dan seksi saat menggigit bibir di hadapanku.
“Sayang, lepas swetermu!” pintaku manja.
Dia menurut. Melepas sweternya lalu meletakkannya di pojok kasur. Dada bidangnya terlihat begitu menawan pandangan mataku. Lengan kekarnya, otot-otot perutnya, begitu polos tanpa tertutupi sedikit pun. Tubuhnya benar-benar menghipnotisku.
“Kita mulai sekarang, ya.”
Karena tidak ingin membuang waktu, aku segera menimpa tubuhnya. Kedua tanganku menopang tubuh ini, di sisi kiri dan kanan tubuhnya. Saat ini aku mengenakan tengtop putih dan leging pendek hitam. Sepertinya bisa membuatnya menjelajah alam fantasi.
“Sayang … engghh ….”
Baru saja mendaratkan bibir di lehernya, dia sudah mulai bereaksi. Kukecup lehernya dengan kecupan yang lembut, lalu memberi penekanan di setiap inchi permukaannya. Rain memegang pinggulku dengan gemas. Sepertinya api sudah berkobar di dalam tubuhnya.
Dia melenguh. Pelan tapi pasti, bibirku mulai bergerilya di sepanjang leher lalu menari-nari di daun telinganya. Saat itu juga dia semakin kuat meremas pinggulku. Kulihat dia memejamkan matanya, seolah menikmati setiap ritme sentuhan yang kuberikan. Wajahnya begitu imut sekali.
“Sayang … mmmmuach.” Aku mengecupi bibir tipisnya yang berwarna merah muda.
“Istriku …,” Dia membalas ciumanku. “Aaaah!” Tiba-tiba dia terkejut saat aku memegang sesuatu yang sudah mengeras di bawah sana.
“Keras sekali.” Aku berbicara sambil menatap wajahnya dari jarak yang amat dekat.
“Sayang, teruskan.” Dia memintaku dengan pandangan mata yang sayu.
Aku tersenyum, mengerti apa yang dia inginkan. Lantas aku mulai menciumi dada bidangnya, sesuka hatiku. Di saat itu juga kudengar dia merintih seksi sekali.
“Sayang … uuhhh ….”
Dadanya naik turun, laju napasnya mulai tidak terkendali. Aku pun terus menciumi dadanya, kemudian turun perlahan-lahan ke bawah, lalu ke bawah lagi. Kuintip dirinya tengah menggigit bibir sendiri sambil memejamkan kedua mata. Di saat itu juga aku menurunkan celananya.
__ADS_1
Malam harinya…
Kami sedang mengobrol ringan sebelum terlelap dalam mimpi. Sedari tadi suamiku tidak mau melepaskan pelukannya. Mungkin ikatan batin sudah semakin kuat terjalin di antara kami setelah kejadian tadi. Di mana aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri. Ya, walaupun belum sepenuhnya.
Kini kami sedang merebahkan diri di atas kasur sambil melihat-lihat kenangan indah yang telah terukir. Beberapa foto dan video pun diputar ulang oleh suamiku, mengingat kembali hal yang pernah terlewati. Termasuk foto-foto yang terjadi di gubuk pantai waktu itu. Seketika itu juga aku terkejut saat melihat ulahnya yang mengabadikan kenakalannya padaku.
“Sayang, kau tidak takut semua ini tersebar?” Aku heran padanya yang begitu berani menyimpan foto-foto seperti ini.
“Tidak.” Dia menjawabnya dengan yakin. “Aku memang berniat memperistrimu, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Dia amat yakin dan memang sudah membuktikannya.
"Tapi ...."
"Lagipula jika ada yang menyebarkannya, dia akan malu sendiri. Karena sekarang … kau sudah menjadi istriku.” Dia mengecup pipiku.
Benar apa katanya. Sekarang aku telah menjadi istrinya. Tapi bagaimana kalau kami tidak jadi dan foto-foto itu tersebar? Pasti akan sangat memalukan sekali.
Lantas aku tersenyum, percaya pada semua hal yang dilakukannya. Hujanku pasti bisa menempatkan posisi jika ada hal-hal yang membahayakan. Dia adalah seorang penguasa pertambangan minyak bumi di Timur Tengah. Pastinya dia akan mempertimbangkan segala sesuatu sebelum melakukannya.
“Sayang.” Dia memanggilku.
“Ya?” Aku pun masih melihat-lihat foto kami lainnya.
“Tadi enak sekali. Aku jadi ingin lagi.” Dia menggodaku.
“Sekali saja biar hemat,” kataku tanpa berpikir.
“Hah? Apa?!” Dia terkejut.
Aku menatap wajahnya. “Sayang jika dibuang-buang tidak pada tempatnya, bukan? Bagaimana jika yang dibuang adalah benih tertangguh?” Aku mencoba berpendapat.
Kulihat dirinya menelan ludah sendiri. “Istriku ini bisa saja.” Dia lalu mencium pipi dan bibirku.
Aku tertawa. Segera meletakkan ponsel lalu memeluknya dengan erat. Kuhirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang khas. Seketika aku merasa tenang sekali.
Andai sedang tidak mens, mungkin malam ini kami sudah melakukannya. Tapi sayangnya, apa hendak dikata. Menstruasi juga anugerah yang patut untuk disyukuri. Dan aku percaya pasti akan ada hikmahnya.
__ADS_1
Lantas kami beristirahat dari lelahnya aktivitas hari ini. Tidur dengan mengenakan baju bermotif sama, namun warnanya saja yang berbeda. Kami memang satu frekuensi, namun berbeda kasta. Untungnya Tuhan menghendaki pernikahan ini sehingga kami bisa menjadi pasangan suami-istri. Dan aku amat mensyukurinya karena bisa menyerahkan sisa hidupku kepada orang yang kucintai.