Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Thanks God


__ADS_3

Di waktu bersamaan...


Seorang pria berjas hitam memasuki ruangan seorang direktur wanita, pemilik pabrik kosmetik terkenal di USA. Ialah Nick, cucu dari sang penguasa dunia yang masuk ke dalam ruangan direktur tersebut. Hingga akhirnya ia tiba di hadapan seorang direktur wanita berdarah Korea, Jane.


"Lama tidak bertemu." Nick menyapa Jane.


"Nick?" Jane pun terkejut melihat kedatangan Nick.


"Boleh aku duduk?" tanya Nick kepada Jane.


"Tentu, silakan." Jane berdiri lalu mempersilakan Nick untuk duduk.


Nick kemudian duduk di hadapan Jane. Suasana di kantor Jane siang ini tampak amat sibuk. Hanya terdengar aktivitas mengetik dan juga suara printer yang terus beroperasi. Tidak ada suara orang bercakap-cakap di sana. Seluruh karyawan amat fokus dengan pekerjaannya, begitu juga dengan Jane.


Wanita berdarah Korea ini terlihat tak percaya dengan kedatangan Nick ke kantornya. Sebelumnya mereka telah saling mengenal karena sama-sama satu universitas. Tetapi Nick adalah kakak tingkat Jane, sama seperti Rain. Namun, Jane lebih menyukai Rain daripada Nick. Karena bagi Jane, Rain adalah yang terbaik.


"Kedatanganku ke sini karena ingin mengajakmu bekerja sama," tutur Nick.


Jane menghentikan aktivitasnya sejenak. "Kerja sama?" Ia tampak bingung.


"Ya. Aku rasa kau bukan tidak tahu jika Rain sudah menikah." Nick membuka pembicaraannya.


Seketika Jane terdiam. Ia terlihat menunduk. Perasaannya bercampur aduk saat Nick membicarakan Rain.


"Itu sudah menjadi pilihannya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa." Jane berusaha bijak di depan Nick.


Nick mendecih. "Kau kalah dengan gadis biasa, Jane. Lalu untuk apa kekuasaanmu di sini?" Nick memanasi Jane.


Jane mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu?" Jane tidak mengerti.


Nick beranjak dari duduknya. "Aku tahu jika kau menyukai Rain. Tapi kenapa tidak coba mengambil hatinya lewat kekuasaanmu?" Nick mulai melancarkan aksi untuk menyingkirkan Rain pelan-pelan.


Jane segera teringat dengan kejadian waktu itu di mana ia didatangi oleh kedua saudara Rain, Byrne dan juga Owdie. "Aku tidak tahu bagaimana caranya." Jane merasa khawatir kejadian waktu itu terbongkar.


Nick tersenyum picik. "Aku akan membantumu untuk mendapatkannya. Tapi tidak ada yang gratis di dunia ini." Nick menyilangkan kedua tangan di dada sambil menyandarkan punggung di dinding ruangan.


"Imbalan apa?" Jane merasa tertarik.


Nick berjalan mendekati Jane. "Setelah kau mendapatkannya, paksa dia untuk keluar dari organisasi," kata Nick yang seketika membuat Jane menelan ludahnya sendiri.

__ADS_1


Jane bingung. Imbalan yang diminta oleh Nick sangat berat untuk dilakukannya. Terlebih organisasi yang menaungi Rain tidaklah main-main. Jane khawatir jika sampai ketahuan memaksa Rain keluar dari organisasi, ia akan mendapat akibat buruk dari perbuatannya. Karena bisa saja anggota organisasi itu mengincarnya sewaktu-waktu dan Jane tidak mempunyai persiapan sama sekali untuk membela diri. Ia khawatir mati sia-sia karena perbuatannya sendiri.


"Em, aku ... tidak bisa dengan mudah memaksa Rain untuk keluar dari organisasi. Aku khawatir akan ada dampak buruk bagiku dan juga perusahaan ini." Jane menimbang ulang.


Nick mendekatkan dirinya ke Jane. "Jangan khawatir. Aku akan membantumu untuk mengurus semuanya. Kau hanya tinggal mengikuti semua instruksi dariku. Cukup mudah, bukan?" Aura iblis tersirat dari pria berambut pirang yang berdiri di hadapan Jane.


Jane melihat kedua mata Nick yang menyiratkan kesungguhan, ingin membantunya mendapatkan Rain. Ia merasa tertarik jika hanya tinggal mengikuti arahan dari Nick saja. Tapi, ia juga khawatir jika rencananya akan gagal lagi. Karena selama ini rencana yang ia buat selalu gagal, gagal dan gagal. Jane masih trauma dengan kejadian kemarin.


"Baiklah. Aku tunggu instruksi darimu."


Namun, karena rasa ingin memiliki Rain begitu besar, Jane akhirnya setuju untuk bekerja sama dengan Nick. Yang mana Nick mempunyai tujuan lain dari kerja sama ini. Bukan untuk mendapatkan Ara, melainkan mengusir Rain dari organisasi. Karena cepat atau lambat tahta organisasi akan jatuh sesuai perjanjian yang disepakati, jika tahta itu akan jatuh kepada cucu Sam yang sudah menikah. Dan Nick tidak ingin hal itu sampai terjadi.


Sore harinya...


Tepat pukul tiga sore, sepulang Byrne dan Owdie dari rumahnya, Rain mengajak Ara jalan-jalan ke kebun anggur miliknya. Ternyata kebun anggur Rain sangat luas dan juga lebat. Para pekerja kebun terlihat memanen anggur-anggur itu lewat cara yang tradisional. Dipetik langsung dari pohonnya.


"Sayang."


"Hm?"


"Kau tidak lelah menggendongku?"


Ara sedang digendong belakang oleh Rain. Mereka melewati para pekerja kebun yang sedang memetik anggur.


"Kau ini bisa saja." Ara pun mencium tengkuk leher suaminya.


Seketika bulu kuduk Rain merinding karenanya. "Sayang, jangan diteruskan, ya. Nanti aku minta jatah di sini." Rain memperingatkan.


"Hahaha." Ara pun tertawa. "Kau ini mudah sekali naik." Ara meledek Rain.


"He-em. Cepat naik, tapi susah turunnya," kata Rain yang membuat keduanya tertawa bersama.


"Ih, dasar!"


Tak lama mereka tiba di salah satu tempat peristirahatan para pekerja kebun. Mereka duduk sebentar di tempat itu sambil memandangi hamparan kebun anggur yang lebat. Ara pun mengambil tas kecilnya yang sudah dipenuhi oleh anggur masak. Berwarna ungu pekat dan menggugah selera.


"Anggur ini manis sekali. Apakah akan langsung dijadikan minuman?" tanya Ara ingin tahu. Ia sambil mencicipi anggurnya.


"Iya. Tanpa tambahan bahan pengawet atau yang lainnya. Kami menjual murni anggur ini." Rain mengusap kepala istrinya.

__ADS_1


"Sayang, bukannya anggur itu minuman yang memabukkan, ya?" Ara sangat ingin tahu.


Rain memutar tubuhnya ke Ara. Ia tatap dalam-dalam istrinya. "Cintamu lebih memabukkan dari anggur ini, Sayang." Rain mengatakan sesuatu yang membuat hati Ara berbunga-bunga seketika.


Ara pun tersenyum bahagia. Ia lekas-lekas memeluk suaminya. "Terima kasih, Sayang. Kau selalu bisa membuatku bahagia." Mereka berpelukan di gubuk kebun.


Rain mencium istrinya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang istri yang begitu dicintai. Rain merasa menjadi pria paling bahagia di bumi, karena sebentar lagi akan menjadi ayah dari anak yang dikandung Ara. Seolah-olah dunia ini hanya miliknya seorang.


"Ara."


"Hm?"


"Terima kasih," kata Rain yang membuat Ara melepas pelukannya.


"Untuk apa?" Ara menatap suaminya.


Rain lalu menarik Ara lebih dekat. Ia raih bibir ranum sang istri lalu dikecupnya sepenuh hati. Ara pun terbelalak dengan tindakannya. Perlakuan lembut Rain ini dilakukan di tempat terbuka dan disaksikan ratusan pohon anggur yang sedang berbuah lebat. Tapi, Rain sama sekali tidak khawatir jika ada yang melihatnya.


Sayang ....


Ara sendiri hanya bisa terdiam dalam ciuman suaminya. Ia tidak tahu harus berbuat apa.


Semakin lama ciuman Rain pun semakin dalam. Sang penguasa rupanya tidak berhenti mencium istrinya, seperti sedang menyalurkan perasaan yang ada di hati. Dikecupnya bibir Ara, ditekannya berulang kali. Sampai Ara lemas, seolah tiada bertenaga. Ia pun akhirnya membalas ciuman suaminya.


Langit sore ini menjadi saksi akan cinta yang berbeda kasta. Cinta yang datang tanpa diundang, lewat jalan yang tidak pernah terduga. Hingga akhirnya Tuhan merestui cinta keduanya. Dan Rain pun menyadari jika semua ini tidak terlepas dari campur tangan Tuhan. Ia amat mensyukurinya.


Rain menjauhkan bibirnya. "Sayang?" Saat itu juga kedua bola mata hitam Ara menatap mata birunya. "Aku bahagia sekali," kata Rain yang membuat Ara terheran.


"Karena?" Ara ingin tahu.


Rain lalu mengambil sesuatu dari saku celananya. Ia kemudian memberikannya kepada Ara. "Lihat, Sayang," pinta Rain dengan lembut.


Ara pun melihat apa yang diberikan oleh Rain kepadanya. Saat itu juga ia terkejut bukan main, tak menyangka jika akan melihat hal ini. Dua garis merah di dalam testpack urinnya.


"Sayang, ini?" Mata Ara berkaca-kaca melihatnya.


Rain memeluk istrinya. Ia cium dalam-dalam bahu sang istri yang terbalut jaket tebal musim dingin. "Aku akan menjadi ayah, Sayang. Terima kasih." Rain mengucapkannya sepenuh hati.


Saat itu juga air mata jatuh membasahi pipi Ara. Ia begitu bahagia menerima kabar ini. Sebuah anugerah dari Tuhan yang sudah lama dinantikannya. Yang mana sebentar lagi akan hadir di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Iya."


Ara mengangguk, ia membalas pelukan Rain dengan sepenuh hatinya. Ia tidak lagi bisa menahan tangis haru akan kabar ini. Ara begitu senang dan juga bahagia. Ia amat bersyukur dengan anugerah yang Tuhan berikan kepadanya. Dan Ara percaya akan ada balasan besar untuk setiap orang yang mau bersabar. Ara pun selalu belajar bersabar dalam menjalani kehidupannya.


__ADS_2