
Malam harinya...
Ara terbangun dan mendapati jika ia lagi-lagi berada di atas kasur Rain. Dengan segera ia keluar kamar lalu mencari keberadaan pria yang membuat hatinya terpesona. Namun ternyata, sang pria tidak ia temukan di ruang tamu maupun ruang makan.
"Ke mana dia, ya?"
Ara bergegas ke teras luar. Tapi, lagi-lagi Rain tidak ada di sana. Ia pun segera ke dapur dan ke kamar mandi. Tapi rupanya, pria bermata biru itu tidak kunjung ia temukan.
"Dia ke mana, sih?"
Lekas-lekas Ara mengganti pakaiannya. Mengenakan tengtop hitam dibalut sweter lengan panjang berwarna biru. Ia juga mengenakan celana pensil selutut dan sandal tingginya. Ia kemudian mencari di mana ponselnya berada.
"Dia pergi tidak bilang padaku!"
Ara merasa kesal karena Rain tidak berpamitan terlebih dulu. Dilihatnya jam di dinding ternyata sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ia kemudian keluar apartemen untuk mencari prianya. Namun...
"Dia ...?"
Dari jauh Ara melihat seorang wanita bergaun pendek menahan Rain agar tidak pergi. Wanita itu terlihat memohon sambil merengek tak karuan. Seketika perasaan Ara berubah sendu melihatnya.
Siapa sebenarnya wanita itu?
Ara tidak mendekati keduanya. Ia kembali masuk ke apartemen untuk menetralkan perasaan yang dipenuhi tanda tanya. Ia ambil segelas air minum untuk menutupi kegelisahan hatinya. Dan tak beberapa lama kemudian, Rain datang lalu mengunci pintu dari dalam. Sedang Ara masih duduk di depan meja makan dengan rambut yang dibiarkan tergerai.
"Ara, kau sudah bangun?"
Rain terkejut saat melihat Ara sudah bangun. Ia pun bersikap biasa saja, seolah-olah tidak terjadi sesuatu apapun padanya di luar.
"Darimana, Sayang?" Ara juga berpura-pura tidak tahu.
"Aku habis dari luar sebentar. Ada sesuatu yang ingin kubeli," kata Rain, tersenyum sambil berjalan mendekati Ara.
"Oh." Ara pun meneguk air minumnya kembali.
"Besok kuliah pagi, kan?" Rain lalu mengambil gelas minum Ara.
"Eh, itu bekas minumku!" Ara melarang Rain meminum air bekasnya.
"Memangnya kenapa?" Rain meneguk habis air minum bekas Ara.
"Ih, dasar!" Ara pun berlagak kesal, padahal hatinya memang benar-benar kesal.
__ADS_1
"Aku ingin mengantarkanmu besok, boleh?" tanya Rain sambil menatap Ara dari depan.
Keduanya duduk berhadapan di meja makan. Bak sepasang kekasih yang sedang berbincang dengan mesra.
"Besok aku masuk pukul delapan. Bukannya jam enam kamu sudah harus berangkat?" Ara balik bertanya.
"Em, iya sih. Tapi tak apa sekali-kali." Rain tidak keberatan.
"Baiklah. Kalau begitu sekarang kita mau makan apa?" Ara beranjak dari duduknya.
"Tidak usah masak, Ara. Kita makan yang tadi saja. Sudah kuhangatkan." Rain beranjak ke dapur.
Ara terheran-heran sendiri melihat Rain mengambil alih tugasnya. Sejuta pertanyaan kembali muncul di benaknya.
Dia menggantikan tugasku. Apakah hal ini dilakukannya untuk menutupi kejadian di luar tadi?
Ada rasa penasaran bercampur khawatir menjadi satu kala mendapati Rain berbicara dengan wanita lain di belakangnya. Tapi, Ara berusaha lebih memercayai kata-kata prianya daripada penglihatan kedua matanya sendiri. Ia masih memegang ucapan Rain jika tidak ada gadis selain dirinya. Dan ia pun berharap hal itu memang benar adanya.
"Mari makan!"
Rain datang membawa dua piring nasi beserta lauknya. Ara pun segera membantu. Keduanya segera makan malam bersama dengan makanan pemberian dari pemilik acara syukuran tadi sore. Tampak keduanya mulai menyuap nasi ke dalam mulut masing-masing.
Satu jam kemudian...
Dia ini manja sekali.
Tidak hanya itu. Rain juga mengambil tangan Ara lalu meletakkannya di atas kepala tanpa berkata apapun. Seolah meminta agar Ara mengusap-usap kepalanya tanpa perlu diminta. Hal ini membuat Ara menyadari sikap Rain yang sebenarnya.
"Tadi beli apa memang?" Ara mulai bertanya sambil mengusap kepala Rain.
"Beli pengaman," jawab Rain dengan penuh percaya diri.
"Apa?!" Ara pun terbelalak mendengarnya.
"Kenapa memang? Tidak ada salah membelinya, bukan? Hanya sebatas berjaga saja." Rain membela diri sambil terkekeh sendiri.
"Untuk bersama wanita itu?" Ara segera menuju pembicaraan ke wanita yang ia lihat tadi.
"Ara?!" Seketika Rain terbangun. "Kenapa berpikir orang lain? Ada kau di sini." Rain tidak terima.
"Lalu jika tidak ada aku, bagaimana?" Ara balik bertanya.
__ADS_1
"Kau ...."
Ucapan Rain terputus seperti tidak dapat berkata apa-apa lagi. Sedang Ara memalingkan pandangannya. Rain pun tertunduk sedih karena merasa dirinya dianggap begitu rendah oleh gadisnya.
"Apa karena aku berasal dari Amerika jadi mengiraku bisa berbuat semena-mena dengan wanita lain?" Rain tertunduk sedih.
Ara segera membalasnya. "Aku tidak beranggapan begitu. Semua tergantung pribadi masing-masing, bukan? Hanya saja..." Ara ragu meneruskan kata-katanya.
"Hanya saja apa, Ara?" Rain menoleh ke Ara.
"Hanya saja kenapa membelinya setelah wanita itu datang?" Ara beranjak bangun.
"Ara! Jangan biasakan pergi meninggalkan masalah!" Rain ikut berdiri dari duduknya.
"Aku tidak meninggalkan masalah. Aku hanya heran saja. Sebenarnya ada apa di antara kalian?" Ara ingin kepastian.
"Ara, Jane itu temanku." Rain menjelaskan.
"Teman? Sedekat apa pertemanan kalian?" tanya Ara lagi, menutupi rasa cemburu di hatinya.
Rain memegang kedua lengan Ara. "Ara, dia memang suka padaku. Tapi aku tidak suka padanya." Rain berterus terang.
"Lalu kau suka dengan siapa?" tanya Ara lagi.
"Aku ... aku ...." Seketika lidah Rain berkeluh, ia tidak dapat melanjutkan ucapannya.
"Tidurlah, sudah malam. Besok akan mengantarkan aku, bukan?" Ara kembali duduk di sofa.
"Ara, tolong jangan seperti ini." Rain tampak menyesal.
"Tak apa. Lagipula aku orang baru. Aku cukup sadar diri." Ara tersenyum palsu kepada Rain.
Ara ....
Seketika hati Rain tersentak dengan perkataan Ara. Ia merasa gadisnya belum juga bisa memahami bagaimana sifatnya.
Ara, kenapa kau seolah-olah tidak percaya padaku? Dari kata-katamu tersirat kemarahan yang kau tahan. Apa aku ini hanya beban bagimu?
Rain membalikkan badannya. Ia berusaha menutupi kerisauan di hati dengan segera melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar. Sedang Ara terdiam sendiri di atas sofa. Ia berusaha menutupi rasa cemburunya.
Sampai saat ini kau belum pernah menyatakan rasa cintamu. Apakah hal itu memang terlalu sulit bagimu?
__ADS_1
Ara merebahkan punggungnya di sofa. Ia merasa Rain belum benar-benar mencintainya sebelum kata cinta itu terucap dari mulut Rain sendiri. Ara ingin sekali Rain menyatakan cintanya, sedang Rain masih belum bisa mengatakan hal itu kepada Ara. Dan akhirnya, keduanya tenggelam dalam pemikiran masing-masing.
Beberapa hari menjalin ikatan resmi membuat Ara dan Rain harus menyesuaikan diri lagi. Si gadis yang pikirannya masih kekanakan dan si pria yang ingin dimengerti tanpa berkata. Keduanya masih membutuhkan waktu untuk saling mengenal sebelum hari pernikahan itu tiba.