Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Finally


__ADS_3

Kumandang adzan menggema di seluruh bumi Uni Emirat Arab. Cahaya terang fajar mulai menyelimuti langit kota termewah di Timur Tengah. Cahaya ungu itu menggantikan gelapnya malam.


"Segala puji bagi Tuhan semesta alam."


Kakek Ali akhirnya terbangun dari duduknya. Bersamaan dengan itu terdengar gumaman kecil dari mulut seorang gadis yang baru saja tersadar. Ia memanggil-manggil seseorang, yang mana membuat pria di sisinya kebingungan.


"Segala puji bagi Tuhan semesta alam."


Jack pun ikut menyambut kesadaran gadis tersebut. Ia beranjak dari duduk dan ingin melihat bagaimana kondisi terkini seorang gadis yang sedari tadi ditunggu kesadarannya. Kakek Ali pun tiba di dekat kamar dengan tersenyum.


"Kakek?" Rain menoleh ke arah Kakek Ali.


"Biarkan saja dulu, Cucuku. Dia masih belum tersadar penuh," katanya kepada Rain. "Mari, Jack." Kakek Ali beralih kepada supir pribadi Rain, Jack.


Jack mengangguk. Keduanya keluar dari kamar, berniat menunaikan kewajiban di ruang tamu apartemen. Awal waktu telah datang dan harus segera ditunaikan.


Kalimat takbir kemudian diucapkan Kakek Ali. Ia mengimami sholatnya. Sedang sang penguasa tampak mengusap dahi calon istrinya yang berkeringat.


"Ara, akhirnya kau tersadarkan."


Semburat kebahagiaan muncul di wajahnya. Penantian panjang yang diliputi kekhawatiran, akhirnya membuahkan hasil yang membahagiakan. Jiwa calon istrinya kini sudah kembali ke raga dengan selamat.


"Pangeran ...," ucap Ara pelan.


Dengan izin Tuhan Yang Maha Kuasa, Ara bisa kembali ke dunia aslinya. Kerja keras dan doa yang dipanjatkan bersama, tidaklah sia-sia belaka. Semuanya menghasilkan kebahagiaan. Dan kini Rain mengusap wajah Ara dengan rasa rindu yang begitu memenuhi seluruh rongga hatinya.


"Ara, ini aku Rain. Bukalah kedua matamu," pintanya lembut kepada Ara.


"Pangeran ...." Ara masih saja menyebut kata itu.

__ADS_1


Rain terheran. Ia tidak mengerti mengapa Ara menyebut kata pangeran berulang kali. Namun, ia mencoba memaklumi. Gadisnya baru saja tersadar dari tidur panjang. Ia tidak boleh posesif di saat seperti ini.


Ara tersadar tepat di adzan pertama berkumandang di Dubai. Jiwanya kembali ke raga dengan meninggalkan kenangan di alam bawah sadarnya. Sehingga ia berulang kali menyebut kata pangeran dalam gumaman kecilnya. Sebuah kata yang menyimpan rasa berbeda. Tak lain karena seorang pria yang ditemuinya di sana.


Setengah jam kemudian...


Kakek Ali meminta seluruh jendela dan pintu apartemen dibuka. Sehingga udara pagi bisa masuk dan bertukar dengan udara yang di dalam. Terasa jika pagi ini begitu sejuk sekali.


Rain, Jack dan Kakek Ali duduk di lantai kamar, dekat dengan Ara direbahkan. Mereka sedang berbincang sambil menikmati secangkir teh hangat. Kakek Ali berniat berpamitan kepada si pemilik apartemen, Rain.


"Jiwa calon istrimu sudah kembali. Tapi dia belum pulih sempurna. Kita masih membutuhkan waktu beberapa hari agar dia kembali segar seperti sebelumnya." Pria berjubah putih itu menuturkan.


"Apakah akan lama, Kek?" tanya pria bersweter lengan panjang yang tak lain adalah Rain.


"Tidak juga. Mungkin hanya membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga hari. Biasanya seperti itu. Jika ingin lebih cepat, perbanyak makan daging-dagingan," jawab sang kakek.


"Kakek, dini hari tadi seluruh jendela dan pintu seperti diketuk-ketuk dari luar." Jack menceritakan.


"Tak apa. Semuanya sudah selesai atas izin-NYA. Pesanku untuk ke depannya, berhati-hatilah dalam memasang foto di media sosial. Karena yang kakek lihat penyihir itu menggunakan media foto kalian untuk mengirimkan sihirnya," tukas sang kakek.


Rain terdiam, merasa bersalah.


"Untuk sementara, biarkan asap dari kayu gaharu ini mengelilingi ruangan di apartemen. Semoga sisa energi negatifnya bisa segera hilang tak bersisa." Kakek Ali berpesan.


"Baik, Kek. Lalu bagaimana dengan minyaknya?" tanya Rain.


"Pakailah jika ingin memakainya. Tapi jangan berlebihan. Karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik." Kakek Ali menuturkan. "Ini sudah kakek buatkan air minum untuk calon istrimu. Minta dia meminumnya saat adzan berkumandang. Dengan izin Tuhan, dia akan segera pulih, kembali ke sediakala."


Kakek Ali menyerahkan satu botol air mineral berukuran besar yang bisa digunakan untuk minum dalam dua hari ke depan. Rain lantas menerimanya dengan senang hati.

__ADS_1


"Kalian beristirahatlah setalah matahari terbit. Untuk sekarang kakek berpamitan dulu." Sang kakek beranjak bangun.


"Terima kasih, Kek. Terima kasih banyak." Rain ikut berdiri.


"Saya akan mengantarkan Kakek." Jack pun berdiri, ia yang akan mengantarkan Kakek Ali pulang sampai ke rumahnya.


Rain lantas mencium tangan Kakek Ali. Pria tua berjubah putih itupun berpamitan seraya mengucapkan salam. Ia segera kembali setelah urusannya selesai.


Ya Tuhan, terima kasih.


Rain ikut mengantarkan Kakek Ali hingga sampai ke depan pintu apartemennya. Ia lepas kepergian sosok pria tua yang telah berjasa dalam hidupnya. Saat itu juga ia teringat dengan perkataan Jack jika sang kakek tidak meminta imbalan apapun dari pertolongan yang diberikan. Hati Rain pun terenyuh dengan kebaikan si kakek.


Ternyata masih ada manusia yang tidak mengharapkan imbalan dari kebaikannya. Aku sangat mengagumi beliau.


Rain melihat keduanya pergi sampai hilang dari pandangan mata. Ia kemudian kembali ke kamar untuk melihat Ara. Dilihatnya jam di dinding telah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Rain lalu merebahkan dirinya sejenak di samping sang gadis, seraya mengusap kepala gadisnya. Ia begitu menyayangi Ara, bak menyayangi istrinya sendiri.


Satu jam kemudian...


Jack datang bersama istri dan kedua putranya ke apartemen Rain. Setelah mengantarkan Kakek Ali, ia lekas-lekas menjemput keluarganya. Dan kini mereka baru saja tiba di apartemen.


Sesampainya di dalam, Jack segera mencari keberadaan tuannya. Dan ternyata sang tuan tengah tertidur di samping calon istrinya. Tersirat wajah lelah dari sang bos yang begitu ia hormati. Ternyata di hadapannya, sang penguasa bisa selemah seperti ini.


"Suamiku, beristirahatlah terlebih dulu. Nanti aku akan menyiapkan sarapan untuk kalian." Sang istri meminta suaminya beristirahat.


"Baiklah. Terima kasih. Nanti bangunkan aku jika tuan sudah bangun, ya." Jack meminta.


Sang istri pun mengangguk.


Jamilah, istri Jack datang bersama kedua putranya untuk menemani Ara sementara waktu. Karena Rain akan segera bekerja hari ini sehingga Ara tidak ada yang menemani. Sedangkan Ara membutuhkan teman sampai keadaannya pulih ke sediakala.

__ADS_1


Bukan hanya Jack yang membantu Rain, tapi juga istri Jack sendiri. Kedekatan yang terjalin seperti satu tubuh yang utuh. Di saat satu bagian terluka, maka bagian yang lain akan ikut merasakan sakitnya. Begitu juga dengan Jack kepada Rain. Hubungannya dengan Rain tidak hanya sebatas supir dan tuan, tetapi lebih dari itu. Mereka saling menganggap saudara satu sama lain. Tak ayal Jack pun tidak sungkan untuk membantu Rain dalam hal apapun.


__ADS_2