
Sore harinya...
Aku terbangun pada pukul lima sore waktu kota ini dan sekitarnya. Kulihat semburat merah sudah menyelimuti langit angkasa yang megah. Lantas saja aku beranjak mandi, menyegarkan tubuhku setelah lelah berpergian.
Setelah mengantarkan priaku pergi, aku lekas menutup semua pintu dan jendela rumah. Entah mengapa tiba-tiba rasa kantuk menerjangku begitu kuat, sehingga akhirnya aku tertidur sampai sore di kasur yang baru ini.
Semua perabotan di sini masih baru. Jadi tinggal pakai saja. Rumah yang kutempati ini juga dilengkapi dengan CCTV mini di hampir setiap sudut ruangannya. Kalau tidak melihat dengan saksama, tidak akan melihat ada CCTV. Mungkin sengaja dipasang yang berukuran mini untuk berjaga-jaga kalau ada kejadian tak terduga nantinya. Tidak berharap terjadi, tapi apa salahnya berjaga. Toh, demi keselamatan bersama.
"Airnya dingin sekali."
Aku sudah di kamar mandi dan menghidupkan shower air. Tapi entah mengapa airnya terasa dingin sekali. Kucek suhu tubuhku ternyata masih normal. Itu berarti akunya yang memang belum terbiasa mandi menggunakan air sini. Ya sudah, aku pun tidak berlama-lama mandi.
Selepas mandi kukenakan daster tanpa lengan dengan rompi kardigan panjang. Lantas kubuka laptopku untuk mengetik cerita sebentar. Aku terus saja menuliskan kisahku lewat untaian kata yang kubisa. Entah sudah berapa ribu kata yang kutulis, aku terus saja menulis. Berharap suatu hari nanti ada yang berminat untuk meminang naskahku ini.
Nada pesan berbunyi...
Kulihat ada pesan masuk di ponsel. Lantas segera kubuka dan melihat siapa yang mengirimkan pesan. Dan ternyata, priaku.
/Aku baru saja tiba di gedung pertemuan./
Priaku memberi tahu jika dia sudah sampai di tempat yang dituju. Dia juga mengirimkan kepadaku foto suasana di gedung tersebut. Entah gedung apa, tapi kelihatannya sih mewah. Lantas aku membalas pesannya.
/Yang fokus, ya. Tetap semangat!/ kataku.
/Iya, Sayang. Doakan cepat selesai. Nanti kita video call, ya?/
/Iya. Ya, sudah fokus dulu./ Aku membalasnya kembali.
/Siap, Nyonya Rain!/
Priaku lalu mengakhiri pesan ini. Bersamaan dengan itu rasa bahagia kembali menyelimuti hatiku. Dia benar-benar tahu bagaimana cara memperlakukan gadis bak putri kerajaan. Aku jadi terharu.
Sungguh aku bahagia sekali. Dan aku harap kebahagiaan ini akan selamanya kurasakan. Dan karena waktu semakin mendekati petang, lekas saja aku memesan makan malam. Aku memesannya melalui jasa online. Kupesan makanan yang bisa untuk disantap pagi juga. Ya sudah. Kunikmati hari-hariku ini menjelang pernikahan yang tidak akan lama lagi.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian...
Aku baru saja menyelesaikan tugas yang dikirimkan teman sekelasku. Tugas praktikum yang tidak terlalu sulit, tapi setelahnya membuat kepalaku jadi pusing sendiri.
Lantas kurenggangkan semua otot di tubuhku dengan merentangkan kedua tangan ke atas dan ke samping. Setelahnya aku merebahkan diri di atas kasur. Kasur mewah yang dibelikan oleh priaku. Besar dan nyaman, aku jadi betah tiduran di sini.
Kamarku berada di lantai satu. Sengaja memilih di lantai satu agar bisa cepat keluar jika ada apa-apa. Lagipula aku ngeri jika di lantai dua sendiri. Jadi memilih di lantai pertama saja.
Kuakui rumah yang kutinggali sekarang tidak terlalu besar. Tapi ada lantai tambahan sehingga terlihat lebih luas. Tapi tetap saja aku lebih memilih untuk tidur di lantai satu. Karena lebih efisien waktu jika terburu-buru.
"Hah ... banyak chat masuk."
Kulihat ponselku dan ternyata banyak chat yang masuk. Kini aku sudah bergabung di grup fakultasku. Aku pun melihat sebentar percakapan di grup lalu setelahnya beralih ke chat pribadi. Dan ternyata ada pesan masuk dari tiga sekawan di kampus. Taka, Nidji dan Ken. Mereka berharap aku bisa segera kuliah karena ada kabar mengejutkan di kampus. Entah apa.
Tak lama, ponselku berdering. Fotoku terpajang di layar ponselku sendiri. Dan ternyata priaku lah yang menelpon.
Dia masih memajang fotoku di profilnya. Bukannya sudah dilarang, ya?
Lantas aku mengangkat teleponnya dengan sejuta rindu yang terpendam. Ya, aku sudah rindu padanya, padahal baru tadi siang kami berpisah. Mungkin ini yang dinamakan cinta, selalu saja ingin bersama.
"Sayang, sedang apa?" tanyanya segera.
"Aku baru saja selesai mengerjakan tugas. Pertemuanmu sudah selesai?" tanyaku.
"Sudah. Kita ganti video call saja, ya."
Priaku lalu mengganti sambungan telepon menjadi panggilan video. Aku pun menerima permintaannya. Dan seketika itu juga aku bisa melihat sedang apa dirinya sekarang.
"Sayang? Habis ngapain?!" Kulihat dia bertelanjang dada, hanya memakai celana dasar hitamnya.
"Aku baru mau mandi. Temani, ya?" pintanya.
Dia ini, dasar mesum. Seperti biasa, dia mulai seperti itu. "Kau sendirian di sana?" tanyaku lagi.
__ADS_1
"Sendiri."
Dia langsung memutar ponsel ke sekeliling agar aku bisa melihat keadaan di sana. Dia sepertinya amat terbuka padaku. Aku jadi semakin sayang padanya.
"Masih ada pertemuan lagi, kah?" tanyaku kembali.
"Hem, ya." Dia mengarahkan kembali kamera ponsel ke dirinya. Kulihat dia sedang berjalan sambil membawa handuk. "Besok masih ada pertemuan siang dan malam. Rencana aku akan segera pulang. Tunggu aku, ya." Dia mengabariku.
"Berarti Sabtu sudah sampai di sini?" tanyaku lagi.
Priaku lalu melepas celananya. Dia tanpa malu membukanya di hadapanku. Dan kulihat dia sudah berada di dalam kamar mandi sekarang. Dia lalu menghidupkan shower airnya, membasuh tubuhnya yang maskulin itu. Terlihat dadanya yang bidang dan perutnya yang kotak-kotak. Dia memang idaman sekali.
"Kemungkinan Sabtu kalau tidak ada acara tambahan. Tapi biasanya ada pertemuan empat mata sebelum menentukan keputusan," katanya yang berbicara sambil menyabunkan tubuhnya.
Priaku mandi hanya dengan mengenakan celana pendek ketatnya saja. Dia juga meletakkan ponsel di sampingnya, sehingga aku bisa melihat dengan jelas jika dia sedang mandi. Dia sama sekali tidak takut ponselnya rusak atau terkena air. Mungkin sudah terbiasa seperti ini atau memang karena tidak bisa menahan rindu lagi padaku. Tapi aku berharap sih yang ke dua.
"Ya, sudah. Kabari aku saja. Besok aku sudah mulai kuliah," kataku memberi kabar padanya.
Kulihat dia mengangguk.
"Aku matikan saja dulu teleponnya, ya? Nanti telepon lagi," kataku.
"Eh, jangan-jangan!" Dia melarangku.
"Lho, kenapa?" tanyaku bingung.
Kulihat dia tersenyum nakal di depan kamera. "Sayang, bisa lepas rompimu?" tanyanya yang sontak membuatku mengerti ke mana arah pembicaraan ini.
"Tidak mau!"
Segera kumatikan saja teleponnya karena dia sudah mulai mesum padaku. Aku tahu persis ke mana arah pembicaraannya ini. Pasti dia menginginkan hal itu.
Dasar. Bisa-bisanya memintaku untuk melepas rompi.
__ADS_1
Kadang aku tak habis pikir, dia selalu saja seperti itu. Tapi aku harap hanya denganku saja, tidak dengan yang lainnya. Aku sudah terlanjur mencintanya dan juga ingin memilikinya. Selamanya, sampai nanti sampai mati.