
Pukul tujuh malam waktu Washington DC dan sekitarnya...
Malam ini adalah malam musim panas. Cuaca pun terasa panas mengikuti pergantian musim. Tidak seperti biasanya yang terembus angin. Awan-awan putih pun ikut berarak menghiasi langit malam ini. Cerah berbintang dengan rembulan berbentuk sabit.
Di sebuah ruang kerja berukuran 5x4 meter, terlihat seorang pria berjas hitam sedang menerima telepon. Raut wajahnya sangat tidak enak dilihat. Muram dan seperti diliputi kemarahan yang tinggi. Ia pun memaki seseorang di seberang sana dengan seenaknya. Ternyata tugas yang diberikannya itu digagalkan semesta.
"Bodoh kalian!!!"
Ia pun mengumpat dalam rasa kesalnya. Mengepalkan tangan pertanda amarah dan kecewa yang berpadu satu. Ia lalu segera mematikan sambungan teleponnya. Menarik kursi lalu duduk terengah-engah. Seperti kehabisan udara dalam waktu sekejap.
"Kenapa? Kenapa semua harus gagal kembali? Kenapa?!!"
Ia berteriak di tengah ruang kerjanya yang kosong, tanpa ada seseorang pun di sana. Ia terlihat frustrasi dan menyesali mengapa semua rencananya bisa gagal. Amarahnya pun memuncak karena keinginannya tidak kesampaian.
"Rain, kau harus mati. Aku tidak rela tahta organisasi kau miliki. Sebelum mendengar kematianmu, hidupku tidak akan bisa tenang. Aku harus menghancurkanmu. Mungkin dengan menyandera istrimu. Ya, istrimu." Ia seperti gila sendiri.
Ia adalah Nick, cucu kandung dari sang penguasa perekonomian dunia. Ia dipenuhi kedengkian yang mendalam terhadap Rain. Padahal Rain tidak melakukan apapun terhadapnya. Bahkan Rain seperti merelakan apa yang telah terjadi padanya karena ulah Nick tersebut. Tapi entah mengapa Nick seperti ketakutan sendiri saat melihat kehadiran Rain, kembali ke Washington DC. Ia ingin melenyapkan Rain selama-lamanya.
Hal itu diam-diam diketahui oleh Sam yang menunggu Nick di depan pintu. Sang kakek ternyata menguping hal yang terjadi pada cucunya. Ia kemudian masuk dan mengejutkan Nick yang sedang frustrasi di dalam. Ia hadir di tengah rasa kesal yang Nick rasakan. Sontak Nick pun terkejut dengan kehadiran kakeknya.
"Ka-kakek?!"
Nick tak menyangka pria tua berusia delapan puluh tahun itu datang dan memasuki ruangannya dengan memegang tongkat berwarna cokelat. Raut wajah Sam pun seperti tidak enak dilihat. Ia tampak marah kepada cucunya.
__ADS_1
"Aku telah mendengar semuanya, Nick." Sam memergoki Nick.
Telepon itu adalah telepon dari anak buah Nick yang mengabarkan jika mereka gagal melenyapkan Rain. Tentu saja hal itu membuat Nick naik pitam dan memaki mereka. Tanpa sadar jika sang kakek tengah berada di depan pintu ruangannya.
"Ka-kakek, ak-aku ...." Nick seolah tidak bisa berkata apapun.
Sam berdiri tegak di hadapan Nick. Ia menunjukkan sisi kewibawaannya sebagai seorang kakek dan juga pemegang tahta organisasi.
"Kau amat menginginkan tahta organisasi sampai harus sembunyi-sembunyi untuk melenyapkan saudaramu. Tidakkah kau mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada kakekmu?" tanya Sam yang berdiri di hadapan Nick.
Jarak mereka hanya sekitar tiga meter saja. Dari sini Sam bisa melihat betapa besar keinginan Nick untuk menguasai organisasi. Sam pun menatap cucu kandungnya dengan perasaan iba. Ia mengingat sesuatu yang pernah terjadi di masa lalunya. Masa di mana ia melakukan hal yang sama terhadap saudaranya hanya untuk memperebutkan tahta organisasi. Namun, ia seperti menyesalinya sekarang.
"Ak-aku ... aku tidak menyukainya, Kek. Aku tidak ingin dia ada di organisasi." Nick akhirnya mengakui.
Nick tertunduk. "Mungkin." Ia merasa malu untuk mengakuinya.
Sam menghela napas dalam-dalam. "Dulu kakek pikir dengan menguasai tahta organisasi hidup akan menjadi senang. Tapi ternyata hal itu salah, Nick. Kakek harus menanggung kegelisahan dari setiap tindakan yang kakek lakukan. Kakek bahkan harus memeriksakan kondisi psikis ke psikiater agar tenang. Namun nyatanya, ketenangan itu bukanlah didapatkan dari tahta. Melainkan didapatkan dari sini." Sam menunjuk hatinya.
Nick terkejut. Ia tidak tahu mengapa sang kakek bisa berkata seperti itu kepada dirinya.
"Mungkin Rain memang selalu beruntung jika dibandingkan dirimu. Keberuntungan bisa dibilang selalu berpihak kepadanya. Tapi mungkin semua itu karena buah baik dari dirinya sendiri. Dia tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh dan selalu taat pada aturan. Bahkan sekelas Jane saja ditolak olehnya. Dia begitu berbeda dengan kalian." Sang kakek menuturkan pendapatnya.
Nick diam. Ia tidak tahu harus berkata apa.
__ADS_1
"Rain telah mengundurkan diri dari organisasi dan kau tak layak lagi untuk mengkhawatirkannya. Seharusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri, Nick. Apa yang telah kau perbuat sudah melampaui batasan keluarga Empire Earth." Sam seolah memberi pencerahan kepada cucunya.
Nick terdiam.
Sam menunduk sejenak. "Kau tahu. Siapapun yang memegang tahta organisasi akan terikat dengan perjanjian iblis. Hidupnya tidak tenang dan dipenuhi dengan kecemasan yang berlebihan. Walau nyatanya bergelimpangan harta, tetapi tetap saja hal itu tidak berguna sama sekali. Apa kau mau hal itu terjadi padamu?" Sam bertanya.
"Ap-apa?!!" Seketika itu juga Nick tersentak hebat. Ia tidak percaya dengan hal yang dikatakan kakeknya.
"Itu benar, Nick. Maka dari itu aku merasa senang jika Rain lah yang memegang tahta organisasi. Karena secara tidak langsung dia yang akan terikat dengan perjanjian iblis. Di mana darah harus ditumpahkan untuk memperkuat kekuasaannya. Namun, di sisi lain hatinya akan diliputi kecemasan dan ketakutan yang berlebihan. Tapi mungkin hal inilah yang dinamakan keberuntungan. Dia mengundurkan diri dari organisasi sebelum pengangkatan tahta." Sam memaparkan.
Ja-jadi ...?
Saat itu juga Nick merasa tertipu dengan gemerlapnya harta yang ingin ia miliki. Ia tidak menyangka jika perjanjian iblis akan mengikat dirinya saat menduduki tahta organisasi. Namun, ia sudah jauh bertindak untuk mendapatkan itu semua. Nick merasa enggan mundur dari tujuannya.
"Apa sekarang kau masih berminat untuk memegang tahta organisasi?" tanya Sam lagi.
Nick menelan ludahnya. Ia merasa berat untuk mengemban tahta. Namun, ia juga merasa enggan untuk melepas semua kemewahan yang diberikan organisasi.
"Perjanjian iblis itu akan terjadi di akhir hidupmu. Kau akan merasakan hal yang sama denganku. Maka pikirkan kembali niatanmu itu, Nick." Sang kakek meminta.
Sam segera berbalik lalu melangkah menuju pintu keluar ruang kerja Nick. Ia meninggalkan cucunya yang sedang diliputi kebimbangan akan kesenangan duniawi. Nick sendiri tampak tidak bisa berbuat apa-apa saat kakeknya pergi. Ia membiarkan Sam meninggalkan ruangannya. Sedang Sam terus melangkahkan kakinya ke luar ruangan sambil berharap Nick menimbang kembali keinginannya. Ia tidak ingin Nick mengalami hal yang sama.
Perjanjian itu tidak akan pernah berakhir. Nick, timbang kembali keinginanmu.
__ADS_1
Sam berharap di dalam hatinya.