
Pukul 7.30 malam di hotel...
Rain tampak gelisah. Ia sedari tadi mondar-mandir di dalam kamar hotelnya. Pria berjas hitam lengkap itu sedang menunggu Jack selesai beribadah di kamar sebelah. Dan kini ia mencoba duduk di pinggir kasurnya.
Ya Tuhan, kenapa jantungku berdebar sekali?
Jantungnya berdebar tak karuan, napasnya tidak beraturan, pikirannya pun tidak tenang. Semua keperluan lamaran sudah dipersiapkan. Tapi semakin mendekati keberangkatan, hatinya semakin gelisah, cemas dan khawatir berpadu satu. Malam ini malam terpenting baginya. Menurutnya, jika malam ini lancar maka malam-malam selanjutnya akan dimudahkan.
Rain pertama kali melamar seorang gadis sehingga membuat jantungnya berdebar tak karuan. Ia berpikir pastinya banyak sekali sanak-saudara Ara di sana yang membuatnya jadi gugup tak terkendali. Ia khawatir kesan pertama akan membuat keluarga Ara membicarakannya. Dan ia tidak ingin hal itu sampai terjadi.
"Tuan." Terdengar suara ketukan di pintu.
"Masuk." Rain pun mempersilakan masuk. "Jack?" Rain melihat jika Jack lah yang datang.
"Kami sudah siap, Tuan." Jack memberi tahu.
"Seserahan sudah dibawa semua?" Rain pun beranjak dari pinggir kasurnya.
"Sudah, Tuan. Semua sudah saya masukkan ke dalam mobil. Supir juga akan ikut menemani malam ini." Jack menjelaskan.
"Baik. Kita berangkat sekarang." Rain akhirnya memutuskan untuk berangkat.
"Baik, Tuan. Silakan." Jack mempersilakan tuannya berjalan lebih dulu. Ia kemudian mengikutinya setelah mengunci pintu kamar.
Rain melangkahkan kaki menuju parkiran hotel di mana mobil telah menunggunya. Ia bersama Jack dan keluarga akan berangkat ke rumah Ara. Tak lain untuk melamar sang gadis tercinta. Pria berjas hitam itu sudah siap meminta sang gadis kepada ibunya. Dalam debaran jantung yang berpacu cepat, ia mencoba mengambil napas panjang. Dalam hati ia berdoa semoga semuanya dilancarkan.
Sementara itu di rumah Ara...
Rumah Ara sudah ramai kedatangan tetangga. Sanak-saudara terdekat juga ikut hadir untuk menyambut kedatangan Rain beserta keluarga. Terlihat sang gadis yang berulang kali mengambil napas saat waktu semakin mendekati prosesi lamaran. Dalam balutan kebaya ungu panjang dan sanggul rambut berhias jepit merak, ia siap menerima kedatangan Rain untuk melamar. Namun, di dalam hatinya sungguh dag-dig-dug tak karuan.
Sejak tadi siang dia belum juga menghubungiku. Apakah dia sengaja membuatku cemas?
__ADS_1
Ara melihat ponselnya, tapi tidak ada satu pun pesan masuk untuknya dari Rain. Ia lalu mencoba menghubungi Rain lewat jaringan selular telepon. Tapi...
"Kenapa tidak diangkat?" Seketika pikirannya cemas bukan main.
Dia sengaja membuatku khawatir, kah? Semua sanak-saudara sudah datang, bahkan tetangga sekitar rumah juga telah berkumpul menunggunya. Tapi kenapa dia malah seperti ini?
Pikiran Ara tidak tenang saat teleponnya tidak dijawab oleh Rain. Menit demi menit pun ia lalui terasa begitu berat tanpa ada kabar dari Rain. Dan akhirnya sang ibu datang membawakan sebotol air mineral untuknya.
"Ara, minumlah ini. Tunggu di sini, ya. Jangan keluar sebelum dipanggil." Sang ibu meminta Ara tetap berada di dalam kamar.
"Baik, Bu." Ara pun mengiyakan.
Ruang tamu di rumah Ara sudah dihias sedemikian rupa dengan karpet tebal yang dihamparkan di seluruh lantainya. Sesepuh setempat pun ikut datang menjadi saksi prosesi lamaran. Yang mana tentu saja mengundang rasa keterkejutannya akan pernikahan Ara. Ia merasa baru kemarin melihat Ara bermain boneka-bonekaan bersama teman sebaya. Tapi sekarang ia sudah akan melihat Ara dilamar orang.
Tiga perkara yang selalu menjadi rahasia Tuhan dan tidak akan ada satupun yang bisa mengetahuinya. Jodoh, rezeki, maut, ketiga hal itu hanya Tuhan yang mengetahuinya. Kapan dan di mana terjadi.
Dua puluh menit kemudian...
Jack kemudian mengucapkan salam setelah sampai di depan pintu. Pihak keluarga Ara pun menyambutnya.
"Silakan duduk."
Terlihat ibu Ara yang sudah didandani dengan mengenakan kebaya biru. Istri Jack lalu bersalaman dengan ibu Ara dan menyerahkan seserahan yang dibawanya. Tampak seorang pemuda berkemeja putih memotret momen itu dengan kamera digitalnya.
"Mari, silakan." Ibu Ara mempersilakan Rain bersama rombongan untuk duduk bersama.
Acara segera dimulai dengan doa yang dipimpin oleh sesepuh setempat. Setelahnya pihak keluarga Rain, Jack menyampaikan maksud kedatangannya kepada pihak keluarga Ara. Sedang Rain terlihat diam saja sedari tadi. Bahkan senyum pun tidak bisa. Ia begitu canggung malam ini.
Ara, di mana dirimu? Kenapa belum terlihat?
Jantungnya berdebar. Ia tidak tahu jika Ara tadi meneleponnya. Kedua ponselnya sengaja di-silent agar tidak mengganggu proses lamaran. Terlihat pria bermata biru itu berusaha tersenyum kepada hadirin sambil mencari di mana gerangan calon istrinya berada. Tapi, menit demi menit ia lalui tanpa membuahkan hasil apapun. Ara belum juga terlihat di matanya.
__ADS_1
"Jadi begitu." Perwakilan keluarga Ara akhirnya mengerti akan maksud tujuan Rain sekeluarga datang setelah Jack mengutarakannya.
"Lalu rencana kapan akan diselenggarakan pernikahannya?" tanya seorang pria paruh baya yang duduk tak jauh dari ibu Ara berada.
"Rencana pernikahannya akan di Dubai dalam waktu dua minggu mendatang." Jack menuturkan kembali.
Seketika yang hadir terkejut.
"Kenapa tidak di sini saja?" tanya pria tua yang lain.
"Kebetulan pekerjaan calon mempelai pria tidak bisa ditunda lebih lama. Senin pagi kami sudah harus kembali ke Dubai. Jadi malam ini akan kami tuntaskan segala keinginan pihak keluarga calon mempelai wanita." Jack berkata lugas.
Ibu Ara akhirnya menyadari jika anaknya sebulan yang lalu telah pergi jauh dari rumah. Amat jauh hingga membuatnya kaget bukan main.
Pantas saja wajahnya seperti bule.
Sang ibu bergumam dalam hati. Bersamaan dengan itu sesepuh setempat menanyakan persyaratan apa saja yang diminta olehnya agar bisa merelakan pernikahan Ara dan Rain. Namun, air matanya tiba-tiba menetes begitu saja.
"Saya tidak minta apa-apa selain kebahagiaan Ara untuk ke depannya. Saya berharap Nak Rain bisa menjaga putri saya sebagaimana yang saya lakukan sejak dulu," ungkap sang ibu.
Seketika semua yang hadir terharu.
Rain lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. "Ibu, ini adalah tanda keseriusan Rain kepada Ara. Mohon terimalah. Rain berjanji akan membahagiakan Ara dan juga Ibu." Rain menyerahkan satu kotak kecil berbentuk persegi panjang dengan hiasan pita merah di atasnya.
Ibu Ara pun menerimanya. "Ibu terima, Rain. Terima kasih. Tolong jaga Ara," pesannya lagi sambil berusaha menahan tangis.
Terlihat genangan air mata di wajah tuanya. Ia hampir tidak percaya jika prosesi lamaran akan seharu ini. Padahal seingatnya baru kemarin menimang putri bungsunya. Tapi kini sudah mau dibawa orang.
"Rain berjanji Ibu. Janji sebagai menantu dan suami Ara." Rain lalu mencium tangan ibu Ara dengan sepenuh perasaan.
Ucap syukur akhirnya dipanjatkan seluruh hadirin saat ibu Ara menerima tanda keseriusan dari Rain. Entah apa isinya, ibu Ara tidak ingin membukanya di depan muka. Sampai akhirnya pihak keluarga Ara memintanya. Seketika yang hadir terkejut bukan main melihat apa isinya.
__ADS_1