
**) Sudut Pandang Ke-tiga
...
Meskipun kesepian sudah menjadi teman dalam hidupku.
Kugantungkan hidupku di tanganmu.
Orang bilang aku ini gila dan aku buta.
Karena mengambil risiko tanpa berpikir panjang.
Dan bagaimana caramu membutakan aku, masih menjadi misteri.
Aku tak bisa mengusirmu dari kepalaku.
Tidak peduli apa yang tertulis di masa lalumu.
Selama kau masih di sini bersamaku.
Aku tak peduli siapa dirimu.
Darimana asalmu.
Apa yang sudah kau lakukan.
Selama kau mencintaiku.
Semua hal kecil yang sudah kau katakan dan lakukan.
Terasa merasuk ke dalam relung hatiku.
Tak masalah jika engkau sedang melarikan diri.
Tampaknya kita sudah ditakdirkan bersama.
Telah kucoba tuk menyembunyikannya agar tak ada yang tahu.
Tapi kurasa semua terkuak saat kutatap matamu.
Apa yang sudah kau lakukan dan darimana asalmu.
Aku tidak peduli.
__ADS_1
Selama kau mencintaiku, Kasih...
...
Angin berembus dari utara ke selatan. Terasa dingin, namun menghangatkan saat tercampur sinar mentari. Sehangat hati seorang wanita yang kini tengah bersiap-siap berangkat ke USA. Ia mengenakan sweter berbahan dasar wol yang tebal dan juga celana jeans panjang. Sementara sang suami membantunya memakaikan jaket.
Sepasang suami istri itu bernama Rain dan Ara. Keduanya baru saja menikah, mengikat janji suci dalam pernikahan. Disaksikan puluhan orang dan dirayakan dengan ucap syukur kepada Tuhan. Mereka adalah salah satu contoh keluarga harmonis karena memasrahkan semuanya kepada Tuhan.
Suka duka, tangis bahagia, menyertai perjalanan kisah cinta mereka di kota metropolitan Timur Tengah. Ada kala air mata jatuh membasahi pipi, ada kala gelak tawa mewarnai. Tak sampai dua bulan bersama, akhirnya mereka berikrar janji suci.
Kini keduanya sedang bersiap-siap berangkat ke USA, pulang kampung ke negeri adidaya. Ara dengan setia menemani sang suami saat akan kembali ke negaranya. Ia terlihat sigap mempersiapkan segala sesuatu untuk berangkat ke sana. Hingga akhirnya supir pribadi sang penguasa datang untuk menjemput mereka. Keduanya pun lekas-lekas keluar dari rumah lalu segera menguncinya. Mereka akan melaju ke bandara kota.
"Owdie, aku sudah dalam perjalanan. Cepat menyusul." Rain berbicara di dalam telepon kepada saudaranya.
"Baiklah. Aku tunggu di Oman. Byrne sebentar lagi sampai." Suara dari seberang menjelaskan.
"Baik, sampai nanti." Rain mematikan sambungan teleponnya.
Sang istri menatap suaminya dengan penuh cinta. "Kenapa Sayang?" tanyanya khawatir.
Rain menoleh, mengusap kepala istrinya. "Tidak apa-apa. Owdie minta jemput di Oman. Katanya Byrne juga sebentar lagi akan sampai di sana." Rain menceritakan.
Ara mengangguk dia lalu memeluk suaminya. Dihirupnya dalam-dalam arofa parfum sang suami yang memabukkan. Keduanya lalu menikmati perjalanan menuju Bandara Internasional Dubai. Mereka akan menjemput Owdie dan juga Byrne di Oman.
Semoga istriku kuat melakukan perjalanan jauh ini.
Beberapa jam kemudian...
Rain dan Ara baru tiba di Bandara Oman. Dan kini mereka sedang beristirahat sejenak di salah satu restoran terdekat bandara bersama Byrne dan juga Owdie yang baru saja datang. Seluruh izin penerbangan sudah dikantongi oleh Rain, sehingga ia bisa tenang tanpa takut terhambat jadwal penerbangan. Ia menggunakan jet pribadi milik organisasi, sehingga tak ayal transportasi udara semakin mudah digunakan.
"Sudah ada hasil belum?" Owdie berbisik kepada Rain saat sedang makan siang bersama.
Owdie dan Byrne berkumpul bersama Rain dan Ara di restoran terdekat bandara. Namun, mereka tidak sendiri, melainkan bersama beberapa bodyguard yang menyerta. Beberapa bodyguard itu ikut menemani, namun tampak menjauh dari tempat di mana mereka duduk. Bodyguard-bodyguard itu hanya mengawasi keadaan sekitar untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Rain mengerutkan dahinya. "Kepo!" Ia mematahkan pertanyaan Owdie.
"Hahaha, aku cuma bertanya. Begitu saja marah," gerutu Owdie.
Ara menahan tawa saat melihat keduanya berbincang. Ia menyeruput jus melon di tengah-tengah perbincangan yang terjadi antara sang suami dan kedua saudaranya. Ia terlihat bahagia karena bisa hadir di tengah-tengah ketiganya. Karena baginya suatu keberuntungan besar dan amat sayang jika dilewatkan begitu saja. Selain cinta ada harapan dibalik itu semua.
"Kakek bilang besok malam akan diadakan pertemuan. Jadwal dimajukan dari yang seharusnya. Biasanya akhir bulan diminta berkumpul, tapi sekarang malah awal bulan." Byrne terlihat memainkan pena ponselnya.
"Mungkin saja kakek ingin membagi harta warisannya, Byrne." Owdie menoleh ke arah Byrne yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Entahlah, aku tidak tahu. Bagaimana menurut pendapatmu, Rain?" Byrne bertanya kepada Rain yang duduk di depannya.
Rain menghela napas panjang. "Sejujurnya aku tidak peduli. Aku hanya bekerja berdasarkan perintahnya. Selebihnya mungkin bisa dikatakan balas budi." Rain meneguk kopinya.
"Tapi aku rasa tahta organisasi akan jatuh kepadamu," kata Byrne lagi.
"Kepadaku?" Rain tak percaya.
"Ya. Kau satu-satunya dari tiga belas cucu kakek yang sudah menikah. Secara hukum telah diakui keresmiannya. Aku rasa kau lebih berhak mendapatkan tahta organisasi." Byrne menuturkan pendapatnya.
Ara tertegun sejenak, ia tampak berpikir.
"Bagiku tahta organisasi tidaklah penting. Lagipula masih ada yang lebih berhak mendapatkannya," balas Rain.
"Siapa?" Owdie bertanya dengan antusias.
"Nick. Dia cucu kandung dari kakek sendiri. Aku rasa dia lebih berhak daripada aku." Rain menuturkan.
"Tapi, Rain. Perjanjian menyatakan bahwa tahta organisasi akan jatuh kepada salah satu di antara kita yang sudah menikah. Dan sampai detik ini Nick belum menikah. Dia masih bermain dengan banyak wanitanya." Owdie membela Rain.
"Hei, bagaimana dirimu yang masih sendiri?" Byrne mencandai Owdie.
Owdie menoleh ke Byrne. "Apa sih, Sayang. Aku kan sudah punya dirimu." Owdie mencolek dagu Byrne tanpa malu.
"Ohok! Ohok!" Tiba-tiba saja Ara tersedak minumannya sendiri.
"Ara, kau tidak kenapa-kenapa?" Rain khawatir, ia segera mengambilkan air mineral untuk istrinya.
"Em, tidak. Aku tidak kenapa-kenapa." Ara segera mengelap mulutnya dengan tisu.
Rain beralih ke Owdie. "Kau sih seperti orang gila. Istriku jadi tersedak, kan!" Rain kesal kepada Owdie.
"Eh, kok malah aku yang disalahkan? Nih penyebabnya!" Owdie menunjuk Byrne.
"Heh? Kok malah aku?" Byrne tidak terima.
"Sudah, Kak. Sudah. Aku tidak kenapa-kenapa, kok. Mungkin hanya belum terbiasa. Hahaha." Ara tertawa.
"Tapi, Sayang." Rain khawatir.
"Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya merasa lucu saja tadi." Ara tersenyum manis kepada suaminya.
"Aduuuhhh ... sepertinya aku juga harus cepat-cepat menikah." Owdie mengusap kepalanya sendiri saat melihat kemesraan Ara dan Rain.
__ADS_1
"Cepatlah menikah agar semakin banyak jatah." Byrne menambahkan.
"Eh? Bagaimana denganmu sendiri?" Owdie mematahkan ucapan Byrne.