
Dubai, pukul sebelas siang waktu sekitarnya…
Ara baru saja menyelesaikan satu mata kuliahnya, dan kini ia menunggu dua mata kuliah selanjutnya yang akan dimulai pada pukul satu siang. Sehingga ia mempunyai dua jam untuk beristirahat.
Di sela-sela perjalanannya menuju taman kampus, ia teringat dengan pesan Lee yang meminta agar datang ke ruangan dosen. Sontak langkah kaki Ara terhenti lalu memutar arah, menuju ruang dosen. Ia melangkahkan kaki di tengah-tengah keramaian mahasiswa yang lalu-lalang di kampus.
Beberapa saat kemudian, ia tiba di sebuah gedung besar yang letaknya di tengah-tengah kampus. Ia lalu segera masuk ke dalam gedung untuk menanyakan di mana ruangan Lee berada. Resepsionis yang berjaga di depan pun memberi tahu kepada Ara. Sang gadis segera melangkahkan kakinya melewati banyak ruangan hingga akhirnya sampai di depan sebuah ruangan yang bertuliskan Lee, Arsitektur. Ara kemudian mengetuk pintunya.
Gedung ini adalah gedung khusus untuk para dosen, rektor dan dekan kampus. Di mana di dalam gedung disertai aula dan juga ruang presentasi besar sebagai tempat berkumpulnya para dosen jika sedang mengadakan rapat, baik internal maupun eksternal. Dan Ara hampir saja kebingungan jika tidak diberi petunjuk oleh resepsionis yang berjaga di depan.
“Permisi.” Ara melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang Lee.
Terlihat di kedua matanya sebuah ruangan yang cukup luas jika hanya untuk dihuni oleh seorang dosen. Ruang berukuran 3x3 meter itu tampak dipenuhi dengan rancangan gambar bangunan bahkan minionnya sendiri. Ara pun terbelalak melihat tatanan mini gedung yang ada di atas meja besar. Begitu indah, persis seperti aslinya.
“Akhirnya kau datang, Ara.”
Tak ada angin tak ada hujan, Lee tidak lagi memanggil Ara dengan sebutan nona. Ia kini memanggil Ara dengan sebutan nama aslinya.
“Dosen Lee, aku memenuhi undangan Anda.” Ara tersenyum segan kepada Lee.
“Duduklah. Ada hal yang ingin kubicarakan.” Lee mempersilakan Ara duduk di hadapannya.
Ara mengangguk. Ia duduk di depan Lee sambil memperhatikan keadaan ruangan. Sedang Lee yang sedari tadi menunggu Ara, segera memfokuskan pandangannya ke sang gadis, sambil duduk menyandar di kursi kerja.
“Kudengar dari Taka kau membutuhkan guru LOA, Ara.” Lee memulai pembicaraan.
“Em … iya.” Ara pun malu-malu menjawabnya.
“Kenapa tidak langsung menemuiku? Bukankah Taka sudah memberi tahu?” tanya Lee lagi dengan wajah serius.
“Em, aku ….” Ara tampak bingung menjawabnya.
__ADS_1
“Harusnya kita yang mendatangi ilmu, bukan ilmu yang mendatangi kita. Bukankah itu adabnya?” Pertanyaan Lee seolah menyudutkan Ara, entah apa maksudnya.
“Em, maaf. Aku masih belum memantapkan hati untuk mempelajarinya, Dosen Lee. Baru sebatas tertarik saja.” Ara menerangkan seraya tersenyum tak jelas. Ia sampirkan rambutnya ke belakang telinga karena grogi.
Lee menggabungkan kedua tangannya. “Aku bisa sedikit membantumu untuk mempelajari ilmu itu. Tapi aku ingin keterbukaan.” Lee meminta.
“Maksud Dosen Lee?” Ara tampak bingung.
“Aku ingin kita menjadi teman, tidak kaku seperti ini. Profesi hanya sebatas penghormatan. Kau mengerti maksudku?” Lee membuka laci meja kerjanya.
“Em ….” Ara memikirkan perkataan Lee.
“Hahaha, Ara-ara.” Seketika Lee tertawa melihat raut wajah Ara yang bingung. Dia ini lucu sekali. Lee membatin dalam hatinya.
“Dosen Lee, apa Anda baik-baik saja?” Ara semakin bingung melihat Lee tertawa tanpa sebab.
“Hah ….” Lee mengembuskan napasnya. Ia beranjak bangun.
“Aku sudah lama mempelajari ilmu ini dan mencoba menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Aku mencoba menarik masa depan, namun ternyata malah bertemu denganmu.” Lee menceritakan.
“Eh …?”
“Ara.”
“Ya?”
“Aku percaya di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Semua sudah tertulis termasuk pertemuan kita yang berulang. Dan pada akhirnya…” Lee mendekati Ara. “Kita bertemu lagi.” Lee berbicara di dekat telinga Ara.
Seketika laju jantung Ara berpacu cepat. Ia merasa geli dengan tindakan Lee yang seperti menggodanya. Ia pun lekas-lekas memahami apa maksud dari perkataan sang arsitek yang berbicara kepadanya ini.
Apa maksud pembicaraan ini mengarah ke sana, ya? Ara berpikir sendiri.
__ADS_1
"Jika kau berminat, aku bisa menunggumu besok pagi di toserba kemarin, dekat dengan apartemen. Kita bertemu lagi di sana pukul lima. Udara pagi amat baik untuk pernapasan, dan kau membutuhkan pernapasan dalam pelatihan hukum ini. Bagaimana Ara?" Lee menawarkan diri.
Ara terdiam sejenak dengan tawaran yang Lee berikan. Pikirannya mulai menaruh curiga terhadap tawaran ini. Tapi jika dipikir ulang, Lee tidak akan macam-macam dengannya karena Lee adalah dosen di kampusnya sendiri.
"Em, aku tidak bisa datang tepat waktu, Dosen Lee. Tapi aku akan mengusahakannya besok." Ara sedikit ragu.
"Tak apa. Aku bisa menunggumu sambil berolahraga pagi. Kalau begitu kita bertemu besok." Lee tersenyum lalu kembali duduk.
Ara pun ikut tersenyum. Senyuman terpaksa karena menghargai Lee yang seorang dosen di kampusnya. Ia kemudian berpamitan kepada Lee karena tidak ada hal lagi yang ingin dibicarakan.
"Kalau begitu aku permisi." Ara membungkukkan badannya.
Lee mengangguk. Ia pun mengantarkan Ara sampai ke depan pintu ruangan. Sikap Lee yang ramah kepada sang gadis tentu saja menjadi bahan bisik-bisik mahasiswi yang melihatnya di sana. Tanpa sadar jika Rose dan Jasmine pun melihat bagaimana cara Lee memperlakukan Ara. Keduanya segera bersembunyi di balik dinding koridor setelah melihat Ara dan Lee.
Gadis itu ....
Tersirat kekesalan pada diri Rose saat melihat Lee mengantarkan Ara sampai ke depan pintu ruangan. Dosen tampan itupun menebarkan senyumannya kepada Ara, membuat hati Rose semakin terbakar tak bersisa.
"Rose, lihat!" Jasmine yang berada di samping Rose pun menunjuk Ara yang baru saja keluar dari ruangan Lee.
"Diam! Jangan banyak bicara!" bisik Rose kepada Jasmine.
Rose kesal bukan main. Ia merasa Ara telah berani menyalip usahanya untuk mendekati sang dosen.
Gadis itu ternyata bukan gadis sembarangan. Berani-beraninya dia menggoda dosen Lee. Lihat saja nanti. Aku akan memberinya pelajaran.
Rose segera mengajak Jasmine meninggalkan koridor lalu mengikuti ke mana langkah kaki Ara pergi. Mereka tidak jadi menyelesaikan urusannya dengan dosen yang dituju.
Lee sendiri akhirnya memberanikan diri untuk mengajak Ara bertemu esok pagi. Ia akan mengajarkan bagaimana cara penerapan LOA yang sebenarnya. Ara pun tampak ragu membuat janji temu dengan dosen fakultas teknik itu. Tapi, ia berusaha memercayainya.
Lee meyakinkan Ara akan ilmu yang diajarkannya nanti. Entah ada motif apa dibaliknya, sang arsitek seperti tertarik dengan kepribadian gadis asal Indonesia ini. Terlepas dari status Ara sebagai seorang mahasiswi, Ara mencoba mengikuti arahan dari Lee. Entah bagaimana kelanjutannya, mereka seperti mengikuti alur ceritanya sendiri.
__ADS_1