
Sore harinya…
Awan berarak mengantarkan kepulangan kami ke rumah. Kami pulang dengan menggunakan mobil priaku yang sudah dihias sedemikian cantik dengan bunga-bunga dan juga pita. Hari ini aku seperti putri sungguhan saja. Apa-apa dilayani dan diistimewakan. Semua orang begitu menghargai dan menghormatiku.
Kini aku baru saja sampai di rumah. Rasanya lelah sekali sehabis seharian menjadi pengantin. Dan sekarang waktunya untuk bersantai ria. Priaku juga meminta beberapa pengawal untuk berjaga agar tidak ada yang mengganggu kami malam ini.
Tadi selama di perjalanan, Rain tersenyum-senyum tak jelas kepadaku. Dia menatap seraya memegang tanganku ini dan tidak mau lepas. Hingga akhirnya kami sampai di depan rumah, barulah dia melepaskan tanganku. Namun, tak lama kemudian aku dibuat terkejut olehnya. Dia segera menggendongku sampai masuk ke dalam kamar. Dan kini dia sedang mandi, memintaku untuk menunggu. Sepertinya dia sudah tidak tahan lagi.
“Aduh, kok perutku sakit, ya?”
Aku bercermin dengan masih mengenakan gaun pernikahan. Kulihat keringat dingin mulai bermunculan dari dahiku. Entah karena lelah, entah karena sakit. Saat ini aku tidak dapat memprediksi kondisi tubuhku sendiri. Rasa bahagia di hati ini membuatku tak bisa merasakan sakit. Yang ada hanya bahagia dan bahagia.
“Sayang!” Priaku tiba-tiba saja memanggilku.
“Iya?” Segera kujawab panggilannya.
“Sayang, tolong bantu aku. Aku tidak bisa menggosok punggungku!” katanya seraya berteriak.
Mulai, deh ….
Aku merasa panggilan suamiku ini hanya sekedar pura-pura saja. Dia beralasan seperti itu agar aku datang mendekatinya. Apalagi? Dia ingin melahapku hari ini.
“Sayang?” Kubuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci, dan kulihat dia hanya mengenakan celana pendek ketatnya saja yang berwarna putih.
“Lepas gaunmu, Sayang. Lalu bantu aku,” katanya.
Dia memintaku melepas gaun ini sendiri, seperti menyiratkan jika aku harus menyerahkan diri tanpa perlu dipinta olehnya. Aku pun menurut, melepas gaun ini di depan pintu kamar mandi. Kubuka pelan-pelan hingga hanya dalamnya saja yang terlihat. Seketika itu juga priaku menelan ludahnya.
“Kemari, Sayang.” Dia memintaku untuk mendekat.
Shower air dihidupkan. Sekujur tubuh kekar priaku basah terkena pancuran air, membuat dirinya terlihat begitu menggoda pandangan. Dada bidangnya, lengan kekarnya, otot-otot di perutnya seakan membius penglihatanku. Ditambah kedua paha kekarnya yang seakan mampu menopang tubuhku. Pikiranku jadi melayang ke mana-mana karenanya.
__ADS_1
Lantas aku berjalan mendekat. Dia pun menyambutku dengan sebuah ciuman.
“Sayang, nanti dulu.” Aku yang belum siap mencoba untuk menahannya.
Dia menyandarkanku ke dinding kamar mandi, dekat dengan pancuran air. Dia kemudian memegang wajahku ini dengan kedua tangannya. Dia menatapku dalam hingga membuatku malu sendiri. Dan pada akhirnya, dia menarik pinggulku ke tubuhnya. Saat itu juga kusadari jika sudah ada yang mengeras di bawah sana.
“Sayang ….” Nada bicaranya menjadi lembut sekali.
“Suamiku ….” Kuucapkan kata itu untuk pertama kalinya.
Dia tersenyum hingga memperlihatkan gigi-gigi kecilnya. Aku pun ikut tersenyum kepadanya. Entah mengapa dadaku terasa lemah untuk mengambil udara. Atmosfer sekitar seperti menarikku agar melakukan sesuatu.
“Kau seksi sekali.” Dia memperhatikanku yang hanya mengenakan pakaian dalam saja.
“Kau juga.” Aku berusaha menepiskan rasa canggung yang tiba-tiba ini.
Jujur saja aku canggung untuk memulainya terlebih dulu, walupun kini kami sudah sah dinyatakan sebagai pasangan suami istri. Katakanlah jika aku masih malu-malu untuk melayaninya karena kami baru hitungan jam menikah. Inginku dia yang memulainya agar nanti aku bisa berinisiatif. Tapi sepertinya, dia ingin aku yang memulainya.
Bibir lembutnya mulai hinggap di bibirku. Perlahan-lahan merayap, seolah memberi tanda ingin beradu. Lidahnya pun ikut keluar di antara gerakan bibirnya pada bibirku. Aku jadi seperti terhipnotis sendiri. Tubuhku terasa lemas dan tidak bertenaga. Hingga akhirnya aku tak berdaya dan mulai membalas ciumannya.
Deru napas kami mulai berat, mewarnai ciuman ini. Dia menghisap bibirku, menariknya dengan lembut lalu kembali mengajak lidahku beradu. Dia menekan masuk lidahnya sampai dapat menari-nari di langit-langit mulutku. Seketika itu juga aku merasa kehilangan udara. Namun, aku tetap ingin menikmatinya. Seluruh saraf di otakku merespon tindakannya yang membuat cairan kimia di tubuhku beraksi. Aku mulai kehilangan kendali.
Sayang, sudah ….
Tidak sampai di situ, dia mulai menurunkan pakaian dalamku. Hingga akhirnya sesuatu yang tersembunyi mulai terlihat tanpa penghalang. Dia menyudahi cumbuannya lalu beralih mencium leherku. Hingga akhirnya bibir tipisnya mulai bergerilya di dada ini. Memutar-mutar lalu berkeliling di lingkaran paling sensitif dadaku.
“Sayang ….”
Tanpa kusadari tanganku meremas rambutnya. Aku juga menggigit bibirku sendiri saat merasakan lidahnya menari-nari, menyentuh pucuk dada ini. Rasanya amat geli, hingga dadaku naik-turun dibuatnya. Priaku terus saja memainkannya lalu menghisapnya. Aku jadi tidak bertenaga sama sekali.
“Hah … hah ….”
__ADS_1
Aku bisa gila jika terus seperti ini. Kucoba menjauhkan wajahnya dari dadaku, namun tak bisa. Dia segera menahan tanganku yang mendorong wajahnya. Hingga akhirnya dia menggendongku keluar kamar mandi. Saat itu juga aku baru bisa bernapas lega, walaupun seperti terengah-engah.
Sayang ....
Kini aku di gendongannya. Gendongan ala pengantin yang membuatku dimabuk kepayang. Aku memang telah menjadi haknya dan harus menjalani kewajibanku sebagai seorang istri. Dan ya, kuberikan apa yang dia mau.
“Sayang, wajahmu imut sekali.”
Dia menciumku kembali. Sambil menggendongku dia menciumku, menuju kamar pengantin kami. Dia seperti enggan lepas dariku. Dan sepertinya dia tidak akan melepaskanku malam ini. Tersirat dari wajahnya yang begitu menginginkanku.
“Sa-sayang ….”
Tak lama kami pun sampai di dalam kamar pengantin. Kami berbasah-basahan dari kamar mandi, tanpa handuk yang menutupi. Aku pun diturunkan perlahan olehnya hingga kami berdiri berhadapan. Namun, tiba-tiba saja dering ponsel menyadarkan dari situasi ini. Ada telepon masuk di ponselnya.
“Sayang, itu ….” Aku memintanya untuk mengangkat telepon terlebih dulu.
“Biarkan saja, Sayang. Aku sudah tegang,” katanya jujur.
Aku tertawa mendengarnya, dia jujur sekali. Lantas aku cubit dadanya karena gemas. Saat itu juga kulihat dia memegang dadanya yang terkena cubitanku. Kulihat ke bawah dan memang benar sesuatu itu telah menegang penuh. Aku jadi kasihan jika diakhiri begitu saja. Pasti dia akan pusing tidak karuan, bukan?
“Angkat saja, Sayang. Sambil menungguku berdandan,” kataku, mencoba meyakinkan jika tidak akan lari darinya malam ini.
“Em ….” Dia terlihat ragu.
“Sayang, aku takut ada hal penting. Aku berdandan dulu, ya?”
Kudorong dirinya keluar kamar sambil menahan tawa. Lekas-lekas kuambil lingerie seksi yang kubeli kemarin. Aku akan memuaskan fantasinya malam ini.
“Tak terasa hari sudah memasuki malam saja.”
Kuambil peralatan make up lalu berdandan secantik mungkin. Kubiarkan priaku menerima telepon yang entah dari siapa. Aku akan membuat dirinya semakin bergairah malam ini. Katanya sih berdandan untuk suami mendatangkan pahala. Jadinya aku tidak akan tanggung-tanggung berdandan untuknya malam ini.
__ADS_1