Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Where Am I?


__ADS_3

Di tempat yang jauh...


Perasaanku mengatakan jika ini bukanlah dunia asliku. Entah bagaimana ceritanya aku bisa sampai di sini, tapi yang jelas aku merasakan jika kakiku menapak di bukit ini. Aku belum mati.


Aku berharap ini hanyalah mimpi, tapi entah mengapa terasa seperti nyata. Entahlah, aku tidak ingin berpikiran yang macam-macam karena hanya akan mengundang energi negatif menghampiriku. Aku positive thinking saja walaupun keadaannya seperti ini. Toh, semua sudah tertuliskan dan pasti mengandung hikmah yang luar biasa. Jadi ya, aku ikuti saja kisahku.


"Akhirnya ...."


Samar-samar aku mendengar suara seseorang dari luar. Suara itu seperti suara yang kukenal. Entah siapa gerangan, aku mencoba keluar saja dari dalam rerimbunan pohon tin ini. Kusingkapkan semua daun dan batang kecil yang menghalangi lalu segera melangkahkan kaki, melihat keadaan luar. Dan ternyata...


Siapa dia?


Kulihat ada seorang lelaki tidur dengan merentangkan kedua tangannya sambil menatap langit biru di angkasa. Aku tidak tahu siapa dia, namun kucoba untuk mendekatinya saja. Jarak kami yang tidak terlalu dekat membuatku harus berjalan ke arahnya agar bisa menyapa.


"Permisi," kataku padanya.


Lelaki bermanset baju hitam panjang itu terkejut dengan sapaanku. Dia segera bangkit lalu menoleh ke arahku. Dan saat dia menoleh, aku bergantian terkejut melihatnya. Jantungku ini serasa mau copot melihatnya.


"K-k-kau ...?!"


Aku seperti melihat hantu, padahal bukan melihat hantu. Yang kulihat ini adalah seorang pria amat tampan. Kedua bola matanya berwarna biru dengan rambut halus di sekeliling wajahnya. Dan dia mirip sekali dengan seseorang yang kukenal. Mungkin tidak hanya kukenal, tapi juga sebentar lagi akan menjadi teman tidurku.


"Sa-sa-sayang, ke-kena-kenapa kau ada di sini?!" tanyaku tak percaya dengan apa yang kulihat.


Dia segera berdiri, melihat ke arahku dengan tatapan aneh. Aku merasa yang di hadapanku ini adalah calon suamiku. Jadi aku menyebutnya dengan kata sayang. Entah benar atau tidak, aku tidak tahu. Yang kutahu dia mirip sekali dengan priaku, ya walaupun secara usia mungkin lebih muda pria di hadapanku ini.


"Hei, siapa kamu?!"


Tiba-tiba dia bertanya seperti itu. Rasanya hatiku patah-patah mendengarnya. Sesaat kemudian aku menyadari jika dia bukanlah priaku yang sebentar lagi akan menjadi suamiku.


"Bukannya ... kau itu adalah Rain?" tanyaku ragu.


Dia mengernyitkan dahinya. "Ya, aku Rain. Siapa kamu?!" tanyanya lantang.


Astaga ....

__ADS_1


Semakin lama aku merasa semakin bingung dengan keadaan ini. Mengapa bisa sampai ke sini dan mengapa bertemu dengan orang yang sama, tapi dia tidak mengenalku?


Apakah dunia pararel itu memang benar ada?


Aku menunduk sambil memikirkan kebenaran akan dunia pararel yang tidak pernah habis dibahas. Selalu saja menimbulkan pro kontra tentang keberadaannya. Tapi, bagaimana jika orang-orang di duniaku mengetahui hal yang kualami? Apakah mereka akan percaya jika ada bumi lain di alam semesta ini?


"Hei, aku bertanya padamu. Apa kau tidak mendengarku?" tanyanya lagi.


Aku terheran, sungguh terheran. Ternyata priaku ada dua di semesta ini. Satu pria di dunia asliku, dan satu lagi di sini. Tapi kalau dipikir-pikir ragaku bukannya masih di sana? Atau ini hanyalah mimpi?


"Ini di mana?"


Pertanyaan itu terucap begitu saja karena rasa penasaran yang menyelimuti hati dan pikiranku. Lelaki yang ada di hadapanku ini bertolak pinggang lalu mengembuskan napasnya dengan kuat. Sepertinya dia merasa lelah, atau jangan-jangan kesal padaku.


"Hei, Gadis Aneh! Aku bertanya bukannya dijawab malah balik bertanya. Kau ini tidak sopan sekali!"


Dia memarahiku dengan intonasi kesalnya. Tapi, aku merasa biasa-biasa saja. Entah mengapa malah teringat dengan sosok pria yang sudah membuatku menangis karenanya. Dia adalah seorang pria yang sebentar lagi akan menjadi pakaianku selamanya. Tapi jika dipikir-pikir, lebih tampan pria yang ada di hadapanku ini.


Ah, Ara. Masih sempat-sempatnya membandingkan di saat situasi sudah seperti ini.


"Maaf, aku hanya bingung. Ini tempat yang aneh," kataku padanya.


"Kau yang aneh. Lihat pakaianmu!" Dia memintaku melihat pakaian yang kukenakan.


Aku melihat apa yang dia tujukan padaku. Dan sepertinya pakaianku ini biasa-biasa saja. Pakaian khas pasien rumah sakit yang berwarna biru muda. Tidak ada yang aneh, sih. Tapi entah kenapa dia malah menganggapku aneh.


Aku semakin bingung. Benarkah yang ada di hadapanku ini adalah priaku di masa muda? Atau ini memang di dunia berbeda? Dan karena ingin mencari kepastian, aku melakukan sesuatu saja padanya.


"Kau tidak bisa seperti ini padaku. Aku calon istrimu," kataku padanya, yang masih berdiri berhadapan dengan jarak sekitar dua meter pandangan.


"Calon istri? Hahahaha." Entah mengapa dia malah tertawa. "Aku tidak tertarik padamu, dan tidak akan pernah tertarik. Begitupun pada gadis lainnya!" tukasnya ketus.


Seketika hatiku terasa tercabik-cabik mendengarnya.


"Sayang, apakah ini dirimu?" Aku serasa ingin menangis mendengar ucapan ketus darinya.

__ADS_1


"Hei, kau ini siapa, sih?! Dasar gadis sinting!" Dia berniat meninggalkanku.


"Tunggu!" Aku menghadangnya, merentangkan kedua tangan agar dia tidak pergi. "Kau tidak bisa seperti ini padaku. Kau sudah melamarku di depan ibu dan keluargaku. Kita akan segera menikah!" Aku berkata serius padanya.


"Melamar? Melamar apa maksudmu? Kehidupanku hanya sebatas istana dan asrama tentara. Kau sudah gila, ya?!"


Seketika aku terdiam, tertegun, termenung sendiri. Ternyata dia memang benar bukan priaku. Tak lama kemudian dia bersiul, seperti memanggil sesuatu. Dan kulihat dari kejauhan seekor kuda hitam berlari ke arahnya.


Apakah dia mau meninggalkanku sendiri di sini?


Entah mengapa aku jadi cemas jika ditinggalkan sendiri. Aku tidak tahu ada di mana dan akan ke mana. Satu-satunya orang yang kutemui hanyalah dia di sini. Dan aku tidak boleh membiarkannya pergi. Setidaknya dia memberi tahu terlebih dahulu kepadaku di mana jalan pulang berada.


Dia menaiki kudanya. "Tunggu!" Aku menahan kakinya sebelum menapak di pelana kuda.


"Hei, lepaskan kakiku!" Dia menghempaskan kakinya yang kupegang.


"Tidak. Tidak boleh kau meninggalkanku. Kau harus menolongku!" kataku padanya.


"Hei, Gadis Aneh! Menyingkir dari sini atau kalau tidak aku akan menendangmu!" Dia mengancamku.


Lelaki di hadapanku ini seperti tidak mempunyai rasa belas kasihan sama sekali. Dan karena kesal bercampur rasa takut ditinggalkan, aku tarik saja kakinya sekuat tenaga. Dan kemudian dia akhirnya...


"Aduuhh!!!"


Dia terjatuh ke rerumputan bukit dengan pantat yang membentur tanah. Sedang aku diam saja di tempat sambil melihatnya.


"Dasar gadis gila!" Dia marah-marah padaku sambil memegangi pantatnya.


"Tuan, tolong aku. Bantu aku mencari jalan pulang," kataku sungguh-sungguh.


"Tuan-tuan!" Dia beranjak bangun. "Aku ini pangeran. Pangeran Rain!" katanya dengan nada sombong.


Pangeran Rain ...? Jadi ini ...?


Entah mengapa aku merasa familiar dengan keadaan ini. Aku tidak mengerti mengapa bisa sampai nyasar ke sini. Aku bingung. Benar-benar bingung.

__ADS_1


Ara belum menyadari di mana gerangan dirinya berada. Ia mencari-cari tahu sendiri sampai akhirnya didapatkan jika dirinya bukanlah di dunia aslinya. Dan pria yang di hadapannya ini bukanlah pria yang melamarnya. Ia merasa bingung kenapa bisa sampai ke sini. Hatinya pun bertanya-tanya dengan sejuta tanya di dada. Ia ingin kembali ke dunia aslinya.


__ADS_2