Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
No Reaction?


__ADS_3

Sore harinya...


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, dan kini sudah pukul tiga saja. Banyak hal yang kami lakukan saat liburan dan meninggalkan kenangan yang mendalam. Di depan ibu, calon suamiku tidak henti-hentinya meyakinkan jika bisa membahagiakanku lahir maupun batin. Walaupun sejujurnya kami ingin sekali pernikahan nanti dihadiri oleh ibu, tapi karena alasan medis tidak memungkinkan ibu untuk ikut ke Dubai.


Ibuku sudah memasuki usia senja dan harus lebih banyak beristirahat dibandingkan bekerja. Pekerjaannya untuk menghidupiku sedari kecil sangat menguras banyak tenaga dan juga waktu. Hingga akhirnya ibu tidak bisa lagi berpergian amat jauh. Tidak mungkin jika aku menggunakan gelang ini untuk mengantarkan ibu ke sana. Bisa-bisa nanti malah akan menimbulkan banyak pertanyaan.


Di pantai tadi kami bermain banana boat bersama. Semuanya ikut terkecuali istri Jack saja. Sedang si supir entah ke mana. Sehabis mengantarkan kami dia segera pergi. Katanya sih ada urusan dengan orang di pemukiman dekat pantai. Tapi saat kami mau pulang, tiba-tiba saja dia sudah kembali.


Saat perjalanan pulang ke hotel, tak lupa kami membeli oleh-oleh terlebih dahulu. Barulah setelahnya kami segera kembali ke hotel. Dan sekarang aku sedang merebahkan diri di atas kasur kamar bersama ibuku. Ibu terlihat kelelahan walaupun kutahu dia begitu senang hari ini.


"Ibu, ibu yakin tidak ikut?" tanyaku yang sudah mengantuk.


"Ibu ingin ikut, Nak. Tapi kondisi ibu tidak memungkinkan. Jika dipaksakan nanti malah akan merepotkan. Ibu merestui pernikahan kalian. Andai bisa lebih lama di sini, pernikahan akan diadakan di sini terlebih dulu. Tapi kan calon suamimu harus segera bekerja, dan ibu memakluminya." Ibu mengusap wajahku.


Kami tidur berhadapan, membuat hatiku semakin terharu karena kata-kata ibu. Ibu amat memercayakan diriku kepada pria yang sebentar lagi akan menjadi suamiku. Aku pun mengangguk seraya tersenyum di depan ibu. Dan lantas kupejamkan kedua mata ini karena rasa lelah menerjangku.


Rasa kantuk memaksaku agar segera mengetuk alam mimpi. Ya, sudah aku rebahan sebentar sebelum makan malam tiba. Rencana makan malam akan diadakan di atap hotel sambil mengadakan acara bakar-bakar bersama. Entah apa yang dibakar nanti, asal jangan perasaanku saja. Aku tidak ingin terluka lagi setelah bahagia dirasa.


Ara mulai menyamankan diri, tidur di atas kasur hotel bersama ibunya. Tepat pukul tiga sore keduanya mulai terlelap dan mengistirahatkan tubuh sejenak dari lelah, setelah seharian bermain di pantai. Tak ayal rasa kantuk pun datang dan membuat mereka terlelap dalam mimpi.


Lain Ara, lain pula dengan Rain. Sang penguasa tampak tersenyum-senyum sendiri di dalam kamar hotel saat melihat foto bersama Ara di gubuk tadi. Ia mengusap foto yang ada di ponselnya itu. Ia cium dan besarkan hingga terlihat jelas apa yang tersembunyi di sana.

__ADS_1


Aku menyayangimu, Ara.


Terlihat jelas jika Rain bermanja-manjaan di atas dada sang gadis. Namun, wajah Ara hanya terlihat sebatas bibirnya saja, sedangkan Rain terlihat penuh dengan posisi bibir yang sedang mengecup dada ranum sang gadis. Ia nekat melakukan aksi itu untuk mengunci gadisnya agar tidak bisa lari ke mana-mana.


Entah kenapa aku bisa segila ini. Rasanya ingin cepat menikah saja.


Ia duduk di sofa kamar seorang diri. Ia pandangi langit-langit kamar hotel yang berplafon putih. Ia bayangkan saat menikahi gadisnya, menunggu Ara datang di altar pernikahan. Terbayang jelas gaun putih nan panjang yang dikenakan gadisnya. Sedang dirinya mengenakan jas putih dengan bunga mawar di saku atas.


Andai pernikahan kami bisa dipercepat.


Waktu seperti memburu, begitu cepat berlalu hingga tidak mengenal rindu. Rain sejujurnya masih ingin berduaan bersama Ara. Ia amat menantikan momen di mana Ara tidak berkutik di hadapannya. Ia khawatir sekembalinya ke Dubai Ara akan menjaga jarak lagi dengannya. Padahal setiap waktu senggang ingin ia habiskan dengan bermanja-manjaan bersama gadisnya.


Aku harap sesampainya di Dubai dia tetap seperti ini.


Di lain tempat...


Seorang wanita tampak gelisah karena belum juga mendapatkan kabar yang diinginkan. Ia tidak bisa tidur di waktu menjelang fajar ini. Pikirannya tidak tenang karena memikirkan sesuatu hal. Tak lain hanya karena Rain seorang.


Ialah Jane yang gelisah karena sampai saat ini belum juga ada kabar memuaskan untuknya. Ia sudah menggunakan jasa sihir untuk menaklukkan hati Rain. Tapi, satu hari berlalu belum ada tanda-tanda untuknya. Ia kemudian menelepon orang suruhannya, Nail.


Beberapa detik menunggu, akhirnya teleponnya diangkat oleh Nail. Pria berkebangsaan Eropa yang menetap di Dubai itu segera menjawab panggilan masuk dari Jane. Percakapan pun terjadi di antara keduanya.

__ADS_1


"Nona?" jawab Nail dari seberang.


"Nail, kenapa belum ada tanda-tanda? Katanya satu hari. Ini sudah lewat waktu, tapi Rain belum juga menghubungiku." Jane panik sendiri. Ia bolak-balik di depan kasur kamarnya.


"Nona Jane, harap menunggu sebentar. Penyihir itu tidak mungkin meleset dari target sasaran. Mungkin ada sesuatu yang menghalangi sihirnya masuk ke tuan Rain," kata Nail lagi.


"Penghalang? Apa itu?" Jane sangat antusias.


"Kemarin saat penyihir itu memberikan media sihirnya, dia berkata sihir ini hanya cepat bereaksi saat dalam satu daratan yang sama. Jika target menyeberangi lautan, maka sihirnya akan netral." Nail menjelaskan.


Sejenak Jane berpikir. Jangan-jangan Rain sedang tidak berada di Dubai? Ia bergumam sendiri.


"Baiklah. Aku tunggu kabar selanjutnya. Aku ingin kepastian dan bukti. Jangan kecewakan aku." Jane berpesan.


"Baik, Nona." Nail pun menyanggupi.


Jane segera memutus sambungan teleponnya. Ia merasa cemas jika Rain ternyata sedang pergi melamar Ara.


"Aku tidak boleh terlambat. Sebelum hari pernikahan itu tiba, aku sudah harus menaklukkan hati Rain bagaimanapun caranya. Aku tidak rela jika sampai kehilangannya."


Cinta di hati Jane begitu membutakan segalanya. Ia tidak lagi bisa berpikir rasional mengenai keputusan Rain yang akan menikahi Ara. Ia merasa jika Rain harus menikah itu hanyalah dengannya. Karena selama ini dialah yang menemani Rain sejak di bangku kuliah.

__ADS_1


Kadang kala kenyataan berjalan tidak sesuai dengan harapan. Rasa sakit dan luka mendalam dirasakan korban perasaan. Dan kadang membuat frustrasi bahkan sampai depresi di pihak korban. Namun, di saat itulah logika seharusnya dimainkan.


Perjalanan hidup masih panjang dan mau tak mau dilanjutkan. Waktu juga akan terus berjalan bagaimanapun luka menerjang. Tapi percayalah, skenario terbaik adalah milik Tuhan. Walau pahit, sudah sepantasnya untuk menerima. Karena sebagai hamba kita tidak bisa merubah ketentuan-NYA.


__ADS_2