Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Stroll


__ADS_3

Jam makan siang...


Tak terasa waktu terus berlalu. Kini sudah tiba bagi kami untuk makan siang bersama. Ibuku juga baru saja keluar dari ruang kecantikan. Dia tampak cantik dan awet muda setelah selesai perawatan. Rupanya perawatan ekslusif di salon kecantikan ini memang benar hasilnya.


"Ibu." Aku berjalan menghampiri ibu, sedang tuanku membayar tagihannya di kasir.


"Ara, apa ini tidak terlalu mencolok?" Ibu seperti kurang percaya diri dengan penampilannya sekarang.


"Memangnya kenapa, Bu?"


Aku berjalan bersama ibu menuju pintu keluar salon. Kugandeng erat tangannya tanpa memedulikan ada yang melihatnya atau tidak. Aku sayang ibuku.


"Ibu tadi disuntik di sana dan di sini. Dipijat, ditotok, dilulur, diuap. Dan masih banyak lagi. Wajah ibu seperti terbakar tadi." Ibu menceritakan.


Aku jadi terkekeh sendiri. "Itu wajar kok, Bu. Lagipula mereka lebih tahu ukuran serum yang harus digunakan untuk seusia Ibu. Ibu jangan khawatir, ya. Kita sekarang makan siang dulu." Aku menenangkannya.


Kulihat ibuku tersenyum. Bersamaan dengan itu tuanku juga sudah selesai membayar tagihan perawatannya. Kami lalu berjalan bersama, keluar dari salon ini kemudian segera masuk ke dalam mobil.


"Ara ini punya ibu."


Saat di dalam mobil, tuanku memberikan tas berisi beberapa krim dari salon untuk ibu. Dia menyerahkannya padaku.


"Terima kasih." Aku pun tersenyum kepada pria di sisi kananku ini.


Tak lama mobil kami segera melaju menuju mal terbesar di kota ini. Rencana kami akan makan siang bersama sekaligus membeli pakaian baru untuk ibu dan juga acara nanti malam. Rasanya senang sekali. Mungkin setelah ini aku tidak pantas lagi untuk meminta gajiku. Tuanku sudah habis banyak untuk membiayai perawatan kecantikan ibu. Tentunya jumlahnya tidak sedikit karena salon kecantikan ini sudah membuktikan hasilnya. Ibu yang beberapa jam di dalam ruang perawatan saja bisa tampak lebih muda dari usia sebenarnya.


Inilah kekuatan uang yang sesungguhnya.


Kusadari jika hidupku sudah berubah, tidak lagi seperti dulu. Aku amat beruntung karena bisa bertemu dan menjalin cinta dengan tuanku. Walaupun masih tidak percaya menjalaninya, tapi aku yakin jika ini yang terbaik untukku.


Lima belas menit kemudian...


Kami akhirnya tiba di mal terbesar kotaku. Tuanku berjalan di sisi kanan sedang ibu di sisi kiri. Kami menuju pusat pakaian yang ada di lantai dua mal ini.


Mal terbesar di kotaku menjual berbagai macam barang berkualitas menengah ke atas. Tapi tuanku terlihat santai-santai saja. Dia masih setia mendampingiku dan menemani ibu berbelanja pakaian. Tanpa memedulikan berapa uang yang akan dihabiskan olehnya nanti. Dia amat dermawan.

__ADS_1


"Ibu, Ara duduk dulu, ya. Capek."


Kuakui jika berkeliling mal ini membuat rasa lelah menerjangku. Entah kenapa semenjak melihat pasir itu aku jadi mudah lelah. Atau mungkin aku mau datang bulan? Harusnya sih hari ini sudah datang, tapi belum juga. Mungkin karena banyak pikiran jadinya menstruasiku kurang lancar.


"Istirahatlah, ibu sedang ingin melihat-lihat baju di sini." Ibuku mengizinkan.


"Ara, kau sendiri saja, ya. Aku mau temani ibu." Tuanku berinisiatif.


"He-em." Aku pun mengangguk.


Sepertinya tuanku sedang mengambil hati ibu. Dia bersama ibu memilih baju, sedang aku dibiarkan sendirian olehnya, duduk di kursi tunggu sambil beristirahat sejenak dari rasa lelah sehabis berjalan-jalan. Dan kulihat tuanku membantu memilihkan kebaya untuk acara nanti malam.


Tuan, terima kasih.


Aku bahagia sekali. Rasanya seperti mimpi. Tepat pukul satu akhirnya ibu sudah selesai memilih pakaian yang dia inginkan. Tuanku pun segera membayarnya. Tapi yang namanya seorang ibu, tidak akan pernah melupakan anak-anaknya. Dia juga membelikan pakaian untukku dan kakak. Padahal aku bisa dengan mudah mendapatkannya dari calon suamiku sendiri.


Banyak sekali.


Aku tak percaya tas belanjaan ibu sampai belasan jumlahnya. Tuanku pun membawakannya tanpa ragu. Dia benar-benar calon mantu idaman.


Seketika hatiku terenyuh dengan perhatiannya.


"Ibu makan yang biasa-biasa saja, Nak Rain. Ibu ikut kalian." Ibu menjawabnya.


"Baiklah. Rain juga ikut Ibu." Tuanku tersenyum sambil melirikku.


Kulihat senyum menawan hati dia berikan kepada ibuku. Sontak ibuku merasa senang sekali dengan kehadirannya. Selain dermawan, tuanku juga pintar mengambil hati calon mertua. Aku tak menyangka jika dia bisa seperti ini, padahal awal kami bertemu sangatlah menakutkan.


Aku menyayangimu, Tuan.


Kami akhirnya bergegas menuju restoran yang ada di mal ini. Tak lupa meminjam keranjang dorong agar belanjaan kami bisa didorong sampai ke restoran. Ya sudah, kami akhirnya makan siang bersama di restoran mahal yang ada di mal ini.


Di restoran...


Ibu memesan ayam rica-rica sama sepertiku. Sedang tuanku memesan spageti. Ia ingin mencicipi bagaimana rasa spageti di sini. Kami pun sedang menunggu pesanan datang sambil bercengkrama ria.

__ADS_1


"Jadi rencana kapan akan diselenggarakan resepsinya, Nak Rain?" Ibu bertanya kepada tuanku.


"Rain inginnya sih dari kemarin-kemarin, Bu. Tapi Ara selalu menundanya." Tuanku jujur sekali.


"Ara?" Ibu segera menoleh ke arahku.


"Em, anu, Bu ...."


Aku seperti tidak dapat berkata-kata. Tuanku seakan meminta pembelaan dari ibu atas sikapku yang menunda-nunda kemarin. Kulihat dia menahan tawanya di depanku. Dan tanpa diketahui oleh ibu, dia menjulurkan lidahnya ke arahku, mengejek.


Awas kau ya! Aku pun menggerutu di dalam hati.


"Jika kalian sudah saling mencinta, kenapa tidak dipercepat saja pernikahannya. Semakin lama ditunda, malah semakin mengkhawatirkan. Apalagi kalian masih muda." Ibu bergantian melihat ke arah kami. Aku pun tertunduk mendengarnya.


"Mungkin Rain kurang menarik di mata Ara, Bu." Tuanku semakin menjadi-jadi.


"Sayang!!!" Seketika aku greget padanya.


"Hahaha."


Kulihat dia tertawa sambil tertunduk di hadapan kami. Tawa yang begitu manis dan menenangkan hati. Aku pun tidak jadi marah kepadanya. Malahan ingin cepat-cepat melangsungkan pernikahan bersamanya. Dia berhasil membuatku jatuh hati dan takut kehilangan.


"Ya, sudah. Kita makan dulu."


Tak lama pesanan kami pun datang. Dengan segera kami menyantap makan siang bersama. Dan kulihat tuanku tersenyum-senyum sendiri di depanku. Sepertinya dia bahagia sekali karena telah merasa menang dariku dan berhasil merebut hati ibu.


Awas kau, Sayang! Aku akan membalas perbuatanmu!


Rain mulai membiasakan diri bersikap luwes di hadapan calon mertuanya. Ia tidak lagi canggung saat berhadapan dengan ibu Ara. Tidak seperti saat pertama kali datang ke rumah. Rain dengan mudah menyesuaikan diri di hadapan calon mertuanya. Yang tentu saja membuat hati ibu Ara semakin bahagia.


Rain sendiri tak henti-hentinya menggoda Ara. Sehingga Ara harus merona malu karenanya. Nada bicaranya seolah meminta pembelaan dari sang ibu. Dan akhirnya ibu Ara membela dirinya. Rain pun merasa menang telak dari gadisnya.


Kau kesal padaku? Ini belum seberapa, Ara. Aku akan lebih membuatmu kesal saat di ranjang pengantin nanti. Aku akan menaklukkanmu.


Siang ini ketiganya menyantap makan siang bersama di salah satu restoran yang ada di mal kota. Rain tidak lagi perhitungan dengan berapa besar uang yang akan dikeluarkannya dalam menjamu calon mertua. Karena bagi Rain, Ara adalah segalanya.

__ADS_1


__ADS_2