Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
I am Yours, Now and Forever


__ADS_3

Beberapa menit kemudian...


Aku baru saja ingin mengganti pakaian, tapi tiba-tiba getar ponsel menghentikanku. Kulihat ibu sudah tertidur di kasur, sedang aku segera mengangkat telepon yang masuk.


"Sayang?"


Kulihat yang menelepon adalah calon suamiku sendiri. Di pertengahan malam seperti ini dia meneleponku. Tidak tahu apa yang terjadi padanya, segera saja aku mengangkat telepon darinya dengan suara pelan.


"Halo?" jawabku.


"Ara, sudah tidur?" tanyanya.


Pertanyaan aneh ini muncul padahal jelas-jelas aku mengangkat teleponnya. Aku pun jadi ingin tertawa mendengarnya.


"Kenapa memang?" Aku bertanya balik padanya.


Dia terdiam sejenak. "Em, aku ... tidak bisa tidur. Bisa menemaniku ngobrol?" tanyanya.


Seketika aku jadi heran sendiri. "Kenapa, ada yang dipikirkan?" tanyaku lagi.


"Kau sudah berganti pakaian?" Dia malah balik bertanya.


"Em, belum. Kenapa?" Aku banyak bertanya padanya.


"Aku tunggu di depan pintu, ya. Aku juga belum sempat berganti pakaian. Kita ke atap hotel sekarang."


"Apa?!" Aku pun terkejut.


"Kita mengobrol di atap hotel. Kalau di kamarku kan tidak enak." Dia menyadarinya.


"Em..." Aku berpikir.


"Sudah, Ara. Aku tunggu. Aku sudah di depan pintu kamarmu sekarang."


Tak lama sambungan telepon pun terputus. Aku jadi bingung dengan keinginannya malam ini. Kulihat jam di ponsel juga sudah menunjukkan pukul dua belas lewat dua belas malam. Entah apa yang ingin dia bicarakan, kuturuti saja kemauannya. Aku bergegas keluar kamar dengan masih mengenakan kebaya dan sepatu hak tinggiku.


Lima menit kemudian di atap hotel...

__ADS_1


Dingin-dingin begini dia mengajak ku ke atap hotel. Sejak bertemu di depan pintu dia diam saja tanpa berkata sepatah katapun. Aku jadi ngeri jika ini adalah jelmaannya. Tapi kulihat kakinya masih menapak di tanah.


"Mau ke mana?"


Kami masih berdiaman hingga menaiki anak tangga. Kulihat ada dua orang office boy yang telah menunggunya. Calon suamiku ini kemudian meminta keduanya berjaga di bawah, sedang kami naik ke atas tangga, menuju atap hotel. Ya namanya juga orang kaya, mau apa saja mudah. Di jam segini pun dia bisa mendapatkan orang untuk berjaga di bawah tangga. Aku pun hanya bisa pasrah saja mengikutinya.


"Sayang, kamu kenapa, sih?"


Aku bertanya lagi walaupun dia diam saja sedari tadi. Sampai akhirnya kami berdiri di pagar atap hotel ini. Dan kulihat ke bawah lalu lintas jalan raya masih ramai. Tak lama kemudian dia memelukku dari belakang.


"Istriku," katanya dengan suara pelan.


Sontak aku membalikkan badan ke arahnya. "Sayang?" Aku jadi bingung sendiri dengan tingkahnya.


Kulihat dia tersenyum manis sekali. Tangan kanannya lalu mengusap pipiku ini. Kurasakan getaran berbeda dari sentuhannya. Tak lama dia pun mendekatkan wajahnya ke wajahku, berusaha meraih bibir ranum ini.


"Mmmh..."


Sebuah kecupan mendarat ke bibirku. Dan aku hanya diam saja sambil merasakan hangat napasnya. Tak lama ia pun melepaskan ciumannya lalu memelukku. Dia mengecup bibirku dengan satu kecupan yang lembut.


"Terima kasih."


"Kita percepat saja pernikahannya, ya?" katanya.


"Hah? Apa?!" Aku seperti salah mendengar.


Kulepaskan pelukan darinya lalu kutatap penuh arti pria yang ada di hadapanku ini. Sepatu hak tinggiku ternyata belum bisa menyaingi tinggi tubuhnya. Aku hanya sebatas telinganya saja.


"Aku ingin cepat-cepat berbulan madu. Kau tahu, rasa ini sungguh menyiksaku." Dia mencolek hidungku.


"Oh, jadi itu alasannya diam saja?" tanyaku.


Dia menggelengkan kepalanya. "Aku ingin selalu bersamamu, Ara." Dia menekan kedua pipiku dengan telapak tangannya.


"Ish, apaan sih. Kata cinta saja belum terucap, bagaimana aku bisa percaya?" Aku memancingnya dengan pura-pura ngambek.


"Oh, jadi itu alasannya?" Dia membalikkan kata-kataku.

__ADS_1


Seketika aku terdiam. Kusadari jika ternyata dia orangnya dendaman. Apa yang aku katakan, dia balikan lagi kepadaku. Aku jadi merasa bingung untuk melanjutkan pembicaraan.


"Ara." Dia lalu memegang wajahku dengan sedikit membungkukkan badannya agar kami sama tinggi. "Aku akan mengatakannya." Dia membuat pernyataan yang membuatku terkejut.


"Benar, kah?" tanyaku serius.


"He-em." Dia mengangguk. "Benar. Sebentar lagi," katanya.


"Kapan? Sekarang?" Aku bertanya kembali.


"Tunggu aku siap," jawabnya.


APAAAA?!!


Seketika aku kesal bukan main. Kupukul saja dadanya untuk melampiaskan rasa kesalku. Lama-lama aku jadi jengkel sendiri, dia amat lama mengungkapkan kata cinta. Aku juga kan ingin dimanja, bukannya dia saja.


"Jangan membuatku gemas, Ara." Dia memegang tanganku yang memukuli dadanya.


Kami akhirnya bertatapan. Dan tak lama kemudian...


"Hei, apa yang kau lakukan?!" Aku digendong olehnya menuju suatu tempat. "Turunkan aku! Turunkan aku!" Aku berteriak minta diturunkan.


Dia menggendongku ke tempat yang lebih tinggi. Ternyata di atap hotel ini ada tempat yang lebih tinggi lagi. Dia membawaku ke sana entah untuk apa. Mungkin untuk melihat bulan lebih dekat. Saat sudah sampai, aku pun diturunkan olehnya. Dan kulihat ada kasur dengan tirai putih yang mengelilinginya di atas sini. Aku pun terkejut melihat apa yang telah dia persiapkan untukku.


"I-ini?!" Aku menoleh ke arahnya yang berdiri di sisi kiriku.


Dia melepas jas hitamnya lalu merebahkan diri di atas kasur. "Malam ini aku ingin bersamamu," katanya.


"Tap-tapi," Aku mencoba menolak.


"Tidak akan ada yang tahu. Sebentar saja agar aku bisa tidur nyenyak. Sini." Dia memukul-mukul kasur dengan tangannya agar aku ikut merebahkan diri di sampingnya.


Tak tahu apa yang akan dia lakukan padaku, entah mengapa aku menuruti saja apa katanya. Aku pun merebahkan diri di sampingnya tanpa melepas sepatu hak tinggi ini. Dia lalu menarikku ke dalam pelukannya. Sepertinya dia memang benar-benar menginginkanku malam ini.


Ara tidak tahu apa yang terjadi pada Rain. Tapi malam ini sang penguasa mulai melancarkan aksi yang sempat tertunda beberapa lama. Malam ini ia mengecup bibir sang gadis dengan satu kecupan lembut. Yang mana kecupan itu diterima dengan senang hati oleh Ara. Dan kini keduanya sedang merebahkan diri di atap paling tinggi hotel ini. Rupanya office boy yang berjaga di bawah tangga sudah menyiapkannya. Tak ayal keduanya pun menghabiskan malam bersama beberapa jam lamanya.


Tidak ada yang tahu apa yang mereka lakukan di sana. Baik Ara maupun Rain sama-sama menikmati kebersamaan ini. Dua minggu terasa begitu lambat jika dibandingkan dengan hasrat yang sudah menjerat. Rain tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk bersama gadisnya.

__ADS_1


Ara sendiri tidak mampu melawan kehendak calon suaminya. Ia seperti terhipnotis oleh setiap kata yang diucapkan Rain. Apa yang Rain pinta, Ara turuti. Hingga akhirnya kebersamaan itu membuahkan hasil yang membuat ketagihan keduanya. Bulan dan bintang menjadi saksi atas kasih sayang yang tersalurkan.


__ADS_2