Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Starting


__ADS_3

Angin siang menemaniku menyantap makanan kaki lima di taman ini. Sedangkan Lee, dia masih menerima telepon yang entah dari siapa. Tapi sepertinya amat penting. Kudengar dia membahas proyek pembangunan perumahan. Lebih jelasnya sih aku tidak tahu.


Di tengah-tengah menunggu, ponselku bergetar di saku celana. Aku pun segera melihat ponselku. Dan ternyata ada pesan dari Jack. Dia bilang akan menjemputku setengah jam lagi. Masih lama, padahal aku ingin segera beristirahat di apartemen.


"Ara." Lee kemudian menyapaku.


"Ya?" Aku pun segera tersadar jika dia sudah selesai menerima telepon.


"Berapa nomormu?" tanyanya yang melihat ponselku.


"Em ...." Seketika aku jadi bingung untuk menjawabnya.


Aduh, bahaya kalau dia sampai tahu nomorku. Nanti tuan malah marah padaku.


Aku tersenyum sambil memikirkan alasan apa yang harus kubuat untuk menolak pertanyannya. "Maaf, Dosen Lee. Ini ponsel bukan punyaku. Ini ponsel titipan. Aku belum punya ponsel sendiri," kataku beralasan.


Aku bingung harus menjawab apa. Jadi ya kubilang saja begitu. Dia pun mengangguk dengan wajah seperti memikirkan sesuatu. Entah apa.


"Aku mendapat proyek besar. Nanti setelah selesai, aku belikan ponsel ya," katanya.


Apa?!!


Seketika aku terbelalak kaget mendengarnya. "Ti-tidak perlu. Terima kasih," kataku grogi.


"Ara, kenapa? Apakah ada sesuatu yang kau khawatirkan?" tanyanya.


Aku meminum jus alpukatku sambil memalingkan pandangan darinya. Aku pura-pura tidak dengar saja. Tapi sepertinya, dia menyadari sesuatu.


"Kau sudah punya pacar, ya?" tanyanya yang tiba-tiba serius.


Aku menoleh cepat ke arahnya. "Dosen Lee, aku ... aku sudah mau menikah," kataku ragu.


"Apa?!" Seketika dia terkejut.


Aku tidak tahu apa yang ada dipikirkannya saat ini. Tapi, aku sudah jujur padanya jika akan menikah. Jadi aku harap dia menghargai ucapanku. Aku khawatir dia mempunyai perasaan yang lebih sampai-sampai ingin membelikanku ponsel baru. Ini tidak boleh terjadi.


Ara mengatakan terus terang kepada Lee jika sudah akan menikah. Tentu saja hal ini sangat mengejutkannya. Belum lama Ara bilang mempunyai hubungan yang rumit kepadanya. Tapi hari ini sang gadis sudah bilang ingin menikah saja. Tentunya amat membuatnya terkejut dan juga heran.

__ADS_1


Apa benar dia sudah mau menikah? Bukannya kemarin ...?


Lee masih tidak percaya dengan apa yang Ara katakan padanya. Hatinya entah mengapa terasa sakit saat mendengar kata-kata itu dari sang gadis. Tapi, Ara hanya berusaha jujur padanya. Entah bagaimana nantinya, Lee belum percaya jika belum melihat kebenarannya sendiri.


"Dosen Lee, kita segera kembali ke kampus ya. Nanti aku mau dijemput." Ara meminta.


"Em, baiklah." Lee pun mengiyakannya.


Lee segera meminta rincian pembayaran atas makanan yang dipesan. Dia pun ingin membayarnya sendiri.


"Dosen Lee, biar aku saja." Dengan cepat Ara melarangnya.


"Ara?" Lee tampak terkejut.


"Aku punya utang traktiran padamu. Dan hari ini aku membayarnya. Lunas, ya?" Sang gadis tersenyum seraya membayar semua makanan yang dipesan.


Ara ....


Seketika itu juga Lee terenyuh dengan sikap Ara yang menepati janji. Ia merasa Ara adalah tipikal gadis yang bertanggung jawab dan bisa menjaga janji yang sudah diucapkan.


Ara, apa benar kau akan menikah? Kenapa cepat sekali? Kenapa tidak memberiku waktu untuk mengenalmu lebih lama?


Semilir angin siang mengantarkan Ara kembali ke kampusnya. Gadis kepunyaan Rain ini ternyata tidak memberi peluang sama sekali kepada Lee untuk mendekat. Dan Lee hanya bisa menjaga hati dari perasaannya sendiri. Lee kecewa mendengar Ara sudah mau menikah.


Satu jam kemudian...


Aku diantarkan pulang oleh Jack tapi tidak sampai masuk ke gedung apartemen. Jack hanya mengantarkanku sampai ke halaman parkirnya saja. Karena dia harus menjemput tuanku di pelabuhan. Sepertinya tuanku cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya agar bisa ditinggal beberapa hari untuk menemui ibuku.


Tuan, aku tunggu kau pulang.


Aku keluar dari lift lalu berjalan menuju pintu apartemen tuanku. Sepanjang jalan koridor apartemen di lantai ini memang begitu sepi. Sepertinya semua penghuninya memang belum pulang dari bekerja.


Kuteruskan langkah kaki ini hingga sampai di depan pintu. Aku pun menscan jariku agar kuncinya terbuka. Setelahnya aku beranjak masuk ke dalam. Tapi, entah mengapa aku tidak bisa membuka gagang pintu ini.


Kenapa, ya?


Tangan kananku bahkan tidak bisa mendorong pintu ke dalam, seperti tertahan. Dan tanpa sengaja aku melihat ada hamburan pasir di bawah pintu. Pasir berwarna putih seperti pasir pantai. Aku lalu berjongkok untuk memastikan pasir ini. Dan saat ingin kupegang dengan tangan kananku, tanganku seperti menahannya.

__ADS_1


Astaga!


Entah kenapa tangan kananku tidak mau memegang pasir ini. Aku pun mencoba memegang pasir dengan tangan kiriku. Dan hasilnya...


"Lho, kok bisa?!"


Tangan kiriku ternyata bisa memegang pasirnya. Aku pun mencoba kembali dengan tangan kananku. Kali-kali tadi keram sehingga tidak bisa memegangnya. Tapi, saat aku mencoba kembali mengambil pasir itu dengan tangan kananku, tanganku tidak mau lagi mengambilnya. Seperti kutub magnet yang saling bertolakan.


Sebenarnya ada apa?


Aku bingung, amat bingung. Lantas saja kubersihkan tangan kiriku dengan tisu yang ada di tas kuliahku. Kubersihkan tangan kiriku lalu menelepon bagian kebersihan untuk membersihkan pasir ini. Tak lama satu orang petugas pun datang dengan membawa alat kebersihannya. Aku minta tolong kepadanya untuk membersihkan pintu apartemen.


"Mohon maaf, Nona. Kami tidak tahu jika ada pasir di sini. Tadi pagi keadaan lantai di sini sudah bersih." Petugas berseragam hitam itu memberi tahuku.


"Ya, tidak apa-apa. Mungkin karena warnanya putih seperti lantai, jadi tidak terlihat," kataku.


Petugas kebersihan meminta maaf karena tidak melihat pasir yang ada di bawah pintu apartemen tuanku. Aku pun mengiyakannya. Aku pikir dia memang tidak salah.


"Sudah selesai, Nona."


Tak lama dia pun sudah selesai membersihkannya. Menyapu dan mengepelnya. Kini lantai di depan pintu apartemen tuanku bersih kembali.


"Ini untukmu." Aku memberikannya sisa-sisa uang dari mentraktir Lee.


"Tidak usah, Nona. Terima kasih." Dia menolaknya, mungkin tahu siapa aku.


"Sudah, tak apa. Ambil saja."


Kuserahkan sisa uangku kepadanya. Tidak banyak sih, mungkin jika dikonversikan ke rupiah hanya sekitar seratus atau dua ratus ribu saja.


"Kalau begitu terima kasih, Nona. Saya permisi." Petugas kebersihan berpamitan padaku.


Aku mengangguk, lalu segera masuk ke dalam. Dan ternyata aku bisa langsung melangkahkan kaki masuk. Aku jadi curiga pasir apa itu.


Kenapa tangan kananku menolaknya? Apa jangan-jangan karena gelang ini?


Aku tidak tahu kenapa. Tapi sepertinya gelang pemberian dari nenek itu mulai berfungsi. Aku jadi khawatir jika pasir yang ada di bawah pintu bukanlah pasir sembarangan, melainkan sihir.

__ADS_1


Astaga. Ya Tuhan lindungi kami.


Aku segera berdoa karena merasa cemas apa yang kukhawatirkan benar adanya. Aku pun duduk sebentar di sofa berniat beristirahat. Tapi entah mengapa, tiba-tiba kepalaku terasa pusing sekali. Dan akhirnya aku tidak ingat apa-apa lagi.


__ADS_2