Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Red Lingerie


__ADS_3

“Sayang, aku sedang dalam perjalanan pulang. Kau ingin dibawakan apa?” tanyanya dari seberang.


Sontak aku tersentak mendengar pertanyaannya. Dia so sweet sekali. “Apa, ya?” Aku jadi berpikir sendiri. “Cepat pulang saja. Aku sendirian di rumah,” kataku.


“Ho-oh. Baiklah.” Dia terdengar amat bersemangat. “Aku sudah membeli obat kuat untuk malam ini. Sekarang berdandanlah yang cantik. Aku akan segera sampai,” katanya dengan yakin.


Hih, dasar! Di pikirannya hanya ada hal itu saja apa?


Aku mengernyitkan dahi. Priaku ini memang tidak pernah berubah sedari dulu. Dia selalu menginginkan hal itu dariku. Ditambah lagi status kami yang sudah sah sebagai suami-istri, lengkap sudah. Aku seperti tidak mempunyai alasan untuk menolak lagi.


“Sayang, tapi—“


“Tidak ada tapi, sebentar lagi aku masuk jalanan Palm Jumeirah,” katanya, lalu menutup sambungan telepon ini.


Telepon terputus. Saat itu juga kusadari jika sebentar lagi akan terjadi sesuatu hal pada kami. Namun, aku belum yakin bisa melakukannya malam ini. Menstruasiku belum bersih. Yang ada malah nanti terkena penyakit karena akunya belum suci.


Beberapa menit kemudian…


Priaku sampai di rumah. Dia mengetuk pintu dengan wajah semringah. Dia menyodorkan tangannya untuk kucium lalu memberikan koper kerjanya kepadaku. Setelah itu dia membuka sepatu kerja dan jasnya sendiri. Sedang aku segera mengambilkan air minum untuknya.


“Ini, Sayang. Minumlah.”


“Terima kasih.” Wajahnya tampak semringah malam ini.


Suamiku begitu bersemangat. Kurasakan pancaran energi yang begitu besar dari dalam dirinya. Dia kemudian melewatiku sambil tersenyum-senyum sendiri. Dia ternyata masuk ke kamar mandi.


“Tunggu, ya. Aku mandi dulu,” katanya sambil melempar ciuman jarak jauh untukku.


Hih … dasar.


Malam ini suamiku aneh sekali. Mungkin hasratnya sudah menggebu-gebu dan tidak bisa tertahan lagi. Tak biasanya dia sampai di rumah langsung mandi dengan wajah semringah. Dia sama sekali tidak menunjukkan kelelahannya sehabis beraktivitas hari ini. Aku pun jadi segan untuk mengatakan yang sebenarnya jika masih belum bersih.


Kasihan suamiku.


Aku terdiam sambil berpikir sejenak tentang hal ini. Rain memang sudah lama menantikan momen-momen bersamaku seperti ini. Saat belum menikah pun dia berulang kali memintaku, namun tidak kuberikan. Aku jadi kasihan padanya jika setelah menjadi istri masih belum bisa memberikannya. Tapi, apalah daya. Ini sudah kodrat seorang perempuan. Menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui. Dan aku tidak bisa melawannya.


“Ya, sudah. Kusiapkan makan malam saja.”

__ADS_1


Sambil menunggunya keluar dari kamar mandi, kusiapkan makan malam untuknya. Kebetulan aku juga sudah masak tumis udang dan sup kepiting hari ini. Semoga saja nanti dia menyukainya.


Lima belas menit kemudian…


Suamiku sudah selesai mandi dan kini dia sedang mengenakan pakaiannya di dalam kamar. Aku sendiri duduk di depan meja makan sambil menunggunya datang untuk makan malam. Dan saat dia keluar kamar, betapa harum semerbaknya ruangan ini. Suamiku mengenakan parfum khasnya yang begitu memabukkan. Namun, sepertinya tidak sedikit, melainkan satu botol penuh disemprotkan olehnya.


Haduh dia ini ….


Aku belum bilang jika menstruasiku belum bersih. Aku ingin dia menunggu sampai esok pagi. Aku khawatir masih ada darah kotor dan bercampur dengan miliknya. Setahuku hal itu akan sangat membahayakan bagi organ reproduksi. Dan aku tidak ingin hal itu sampai terjadi.


“Sayang, tidak berdandan untukku?” tanyanya seraya duduk di depanku.


“Sayang, sebenarnya—“


“Berdandanlah. Pakai lingerie merah yang kubelikan untukmu. Aku tunggu, ya.” Dia amat berharap padaku.


Senyumnya, wajahnya, intonasi lembut kata-katanya, seolah membiusku agar tidak menolak. Aku seperti terhipnotis untuk menuruti keinginannya. Tubuhku seperti tergerak sendiri untuk berjalan ke kamar lalu mengenakan pakaian sesuai yang dia inginkan. Aku pun akhirnya memoles make up dan lipstik merah menggoda pada wajah ini. Entah mengapa tanganku seperti tergerak sendiri untuk memenuhi permintaannya.


Inikah yang dinamakan surga dunia?


Lantas setelah berdandan cepat, aku kembali ke meja makan. Kulihat priaku tengah memerhatikan penampilanku malam ini. Kulihat dia membasahi bibirnya, seolah ingin cepat-cepat bermain denganku. Aku pun jadi risih dengan lingerie yang kupakai ini. Begitu terbuka dan menggoda pandangan. Pendek, tipis dan menerawang.


Aku mendekat. Saat itu juga dia menarikku ke atas pangkuannya. Kedua pahaku dilebarkannya saat kami saling berhadapan. Cocok sudah. Tinggal menunggu adegan selanjutnya.


“Sayang, aku belum bisa untuk—“


“Sssst. Kita pelan-pelan saja,” katanya tanpa peduli dengan menstruasiku yang belum bersih.


“Tap-tapi—“


“Tidak ada tapi. Aku sudah lima hari menunggumu. Apa kau tega membiarkanku menunggu lagi?” Dia tidak terima penolakan.


Astaga ….


Saat itu juga aku bingung harus bagaimana. Rain seperti tidak menerima penolakan atau alasan apapun dariku. Yang dia inginkan malam ini hanya diriku.


“Sayang?!” Tiba-tiba aku merasa kaget saat dia menggendongku.

__ADS_1


“Cium aku,” pintanya sambil menggendongku.


Kedua kakiku mengapit di pinggangnya. Dia juga memintaku untuk menciumnya. Tanpa peduli rekasi yang terjadi dari ciuman ini. Pastinya dia akan meminta lebih.


Sayang ….


Kucium bibirnya dengan sepenuh hati. Saat itu juga dia meremas pinggulku tak terkendali. Api di dalam tubuhnya seakan menyala-nyala dan mencari mangsa. Tinggal bagaimana menjelaskan padanya jika aku belum bisa memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri. Bukan karena tidak mau, tapi karena menstruasiku yang belum bersih.


“Sayang, hentikan.” Dia menggendongku ke dalam kamar.


“Tidak.” Dia menolak untuk berhenti, terus saja meremas pinggulku.


“Sayang, aku belum bisa melakukannya.” Akhirnya kami sampai juga di dalam kamar. “Kamu makan malam dulu, gih. Pastinya lapar, bukan?” Aku mencoba bernegosiasi.


Dia menurunkanku dari gendongannya. Merebahkan tubuh ini ke atas kasur dengan lembut. “Aku ingin memakanmu saja.” Dia menolak permintaanku.


“Sayang, tapi—ah! Jangan ….” Dia mulai menciumi leherku.


Kalau sudah begini, aku bisa apa di bawah tubuhnya?


“Sayang, aku sudah tidak tahan.”


Suamiku rupanya tidak dapat menahan hasratnya lagi. Dia melepas bajunya sendiri tanpa dibantu olehku. Dia seperti orang yang kepanasan. Bara api di dalam tubuhnya sudah menggelora tak terkendali.


“Sayang, jangan. Tunggu besok saja, ya.” Kedua tanganku menahan dadanya yang mendekat.


“Tunggu besok? Tidak. Malam ini kau milikku.” Dia menghujamiku dengan ciumannya.


"Sayang, aahh ...."


Kedua tanganku dipegang olehnya, sementara bibirnya mulai bergerilya di dadaku. Dia menarik tali lingerie yang kukenakan dengan bibirnya. Hangat napasnya serasa menggelikan seluruh saraf tubuhku ini. Aku seperti lemas dan tidak bertenaga untuk menghentikan keinginannya.


"Sayang, jangan ...."


Aku melenguh tertahan. Aku masih mencoba untuk menghentikan aksinya ini, namun tidak bisa. Tenaga suamiku sangat kuat sekali. Hingga akhirnya aku hanya bisa pasrah.


Lidahnya itu ....

__ADS_1


Lidahnya mulai bermain-main, menyusuri setiap inchi dari lengan dalamku secara perlahan. Aku merasa kegelian sekali, hingga tak bisa mengendalikan tubuh ini. Aku menggeliat ke sana dan kemari.


__ADS_2