
"Aku tak mengerti apa yang Kakek maksudkan." Rain menggelengkan kepalanya. Ia mencoba mengorek lebih detail hal yang dimaksudkan kakeknya.
Sam mengembuskan napas panjang. "Ada sebuah kepercayaan mengatakan, barang siapa dapat menguasai tanah itu, maka dapat menguasai dunia." Sam menuturkan.
Rain merasa heran. "Apa hubungannya, Kek? Menurutku kota itu sama seperti kota lainnya. Atau ada sesuatu hal yang disembunyikan di sana dan Kakek ingin mendapatkannya?" selidik Rain.
Sam mengembuskan napasnya. Ia tidak mungkin memaparkan lebih detail sesuatu hal yang ada di sana. Mengapa organisasi sampai menginginkan tanah itu.
"Rain, tetaplah berada di organisasi. Kau bisa mendapatkan apa saja yang kau mau. Harta, tahta, kedudukan, bahkan wanita manapun bisa kau miliki. Semua yang kau inginkan ada di sini. Jika masih bersikeras untuk keluar dari organisasi, maka semua asetmu akan disita. Dan kau akan kehilangan banyak harta kekayaan. Tidak inginkah menikmati hidup dengan bergelimpangan harta?" tanya Sam yang membuat Rain tertegun.
Atmosfer sekitar berubah drastis kala Sam merayu Rain dengan harta kekayaan yang dijanjikan. Saat itu juga Rain teringat dengan masa depan anak-anaknya. Tentunya ia tidak perlu mengkhawatirkan masa depan anak-anaknya jika masih berada di organisasi. Apapun yang ia inginkan akan cepat terpenuhi. Namun, di lain sisi hatinya menolak bersenang-senang di atas penderitaan banyak orang. Rain menyadari jika tujuan organisasi bertolak belakang dari kemanusiaan.
Ara, apakah kau sanggup bertahan jika aku tidak memiliki harta atau apapun untuk rumah tangga kita?
Rain mulai luluh dengan rayuan kakeknya. Ia merasa berada di antara polemik hati dan pikirannya. Haruskah ia menerima tawaran kakeknya untuk tetap berada di organisasi? Atau bersikeras keluar dengan tanpa membawa apa-apa. Sedangkan ia harus memperjuangkan masa depan anak-anaknya bersama Ara.
"Kakek masih menunggu jawabanmu, Rain."
Sam pun masih menunggu jawaban dari Rain. Saat itu juga ia teringat dengan sebuah peristiwa yang terjadi puluhan tahun lalu. Sebuah peristiwa yang membuat hatinya gelisah dan pikirannya dirundung ketakutan. Ia mengalami mimpi buruk yang tak terelakkan...
"Suamiku, bangun Suamiku." Seorang wanita tampak membangunkan suaminya yang gelagapan saat tidur malam.
Suaminya itupun terbangun dengan kejut. Ia terlihat keringatan seperti habis berlari jauh. Dadanya naik-turun menormalkan laju napasnya yang cepat. Rasa takut pun menyelimuti pikirannya. Sehingga akhirnya ia menampar wajahnya sendiri.
__ADS_1
"Suamiku, apa yang terjadi?! Sudah, cukup!"
Sang istri mencoba menghentikan ulah suaminya. Malam yang dituruni hujan deras ini menjadi saksi ketakutan seorang pria terhadap mimpi yang ia alami. Ia merasa was-was dengan keringat dingin yang bercucuran dari dahi. Mimpi buruk itu baru saja terjadi.
"Aku ... aku ...." Pria itu terbata untuk mengatakan hal yang sesungguhnya.
Sang istri pun menunggu. "Kau bermimpi buruk?" tanya sang istri lagi.
Pria itu menoleh ke istrinya lalu mengangguk. Sang istri pun segera mengambilkan segelas air minum untuknya. Pria itu kemudian meneguk air minum yang diberikan istrinya. Tak lama napasnya pun berangsur-angsur normal kembali.
"Aku mimpi buruk, Istriku." Pria itu menceritakan.
"Mimpi? Mimpi apa?" tanya sang istri kepada suaminya.
Sontak sang istri menyadari apa yang terjadi pada suaminya. "Sudah, beristirahat lah. Kau terlalu bekerja keras untuk memiliki ladang minyak yang ada di sana. Sehingga sampai terbawa mimpi. Sekarang tidurlah. Tenangkan pikiranmu," pinta sang istri kepada suaminya.
Pria itupun mengangguk namun hatinya masih merasa ketakutan. Ia merasa mimpi buruknya nyata terjadi, seolah pertanda untuk kehidupan selanjutnya. Ia mencoba tertidur lagi dengan menepiskan kecemasannya sejenak. Mengambil napas dalam-dalam lalu memejamkan mata kembali.
Kenapa beberapa hari ini aku mengalami mimpi yang sama?
Pria itu adalah Sam di awal masa kejayaannya. Ia baru saja naik tahta organisasi dan mengendalikan perekonomian dunia. Tidak ada satu orang pun yang berani padanya. Ia memegang kendali atas laju uang di dunia. Semua orang tunduk pada perintahnya.
Sam kemudian berencana mendatangi markas besarnya untuk mengetahui arti dari mimpinya itu. Ia pun menanti matahari terbit dengan kegelisahan yang menyelimuti pikiran. Ia merasa harus berantisipasi sebelum hal itu benar-benar terjadi. Sam dilanda ketakutan atas mimpinya sendiri.
__ADS_1
.........
"Maaf, Kek. Jika Kakek ingin aku tetap berada di organisasi, maka hentikan chemtrail ini." Rain akhirnya mengambil keputusan.
Apa?!
Saat itu juga Sam tersadar dengan keadaan yang sebenarnya. "Rain, kita tidak bisa menghentikan hal ini. Kakek sudah menandatangani perjanjian dengan tuan DJ." Sam menceritakan.
Rain menarik napasnya. "Jika Kakek tidak bisa menghentikannya, maka relakan aku keluar dari organisasi. Aku tidak bisa melanjutkan kinerjaku tanpa imbalan yang berarti. Terima kasih atas usaha Kakek dalam membesarkanku selama ini. Semoga Tuhan membalasnya berkali-kali lipat. Permisi." Rain pun berpamitan kepada kakeknya.
"Rain! Tunggu!" Sam lekas menahan kepergian Rain. "Kau tidak ingin membalas budimu kepada Kakek?" tanya Sam yang masih berusaha merayu Rain.
Rain menoleh sedikit ke belakang. "Kematian ayahku tidak sebanding dengan balas budi kepadamu, Kek. Beruntung aku tidak menuntut ganti rugi atas nyawa ayahku. Permisi." Rain pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Sam.
"Rain!!!"
Saat itu juga Sam berusaha menahannya. Namun, jantungnya terasa amat sakit untuk menahan Rain pergi. Ia akhirnya terduduk di kursi lalu segera meminum obatnya. Sam tidak dapat berlama-lama berada di bawah tekanan batin seperti ini. Penyakitnya kambuh dan merepotkan sekali.
Maaf, Kek. Aku terpaksa melakukan hal ini.
Sementara Rain terus saja melangkahkan kakinya, keluar dari ruangan Sam. Ia menemui Owdie. Terlihat Owdie yang sudah menunggu sambil menyandarkan punggung di dinding ruangan. Keduanya lalu memutuskan meninggalkan manshion setelah urusan Rain selesai. Tapi, saat menuruni anak tangga, saat itu juga keduanya melihat Nick berjalan ke arah mereka. Sontak Nick tersentak hebat melihat Rain ada di rumah kakeknya.
Di-dia ... dia masih hidup?!!
__ADS_1
Jantung Nick berdegup kencang. Ia tak percaya jika sosok yang telah disingkirkannya kini sedang menuruni anak tangga rumah kakeknya. Nick pun menelan ludah karena rasa takut yang mulai menggerogoti pikirannya. Ia gelisah dan ingin melarikan diri dari situasi. Namun, Tuhan malah mempertemukan mereka. Seolah meminta pertanggungjawaban atas apa yang Nick lakukan sebelumnya.