Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
I am Yours


__ADS_3

"Lily ...," Pangeran Agartha pun berlutut di dekat jendela kamarnya. "Di manakah dirimu? Aku sangat merindukanmu. Sudah dua bulan ini kita tidak bertemu. Ada apakah gerangan? Apa kau sudah mengetahui siapa diriku sebenarnya?" Pangeran Agartha bertanya-tanya sendiri dalam kesedihannya.


Gadis bernama Lily itu tidak mengetahui jika pria yang selama ini ditemuinya di telaga adalah seorang pangeran. Lily juga tidak ingat siapa dirinya. Ia hidup sebatang kara di gubuk danau, di tengah kegelapan dan kedinginan. Namun, Lily selalu riang dan tidak menganggapnya masalah. Baginya bisa mendapatkan sepotong roti sehari, sudah mencukupi kebutuhannya. Hal itulah yang membuat pangeran iba dan membawakannya makanan dari dapur istana. Tanpa sadar jika di hatinya mulai merekah bunga-bunga cinta.


"Aku harap kedatangan mereka dapat menyelesaikan masalahku ini. Sepertinya mereka datang ke istana bukanlah tanpa alasan. Dua bulan ini aku bersandiwara kepada diriku sendiri. Hanya untuk meredam keributan yang bisa terjadi."


Pangeran Agartha berharap Rain dan Ara bisa membantunya dalam menemukan cinta yang hilang. Ia meyakini jika kedatangan Ara dan Rain ke istana bukanlah tanpa alasan. Ia berharap Lily dapat segera diketemukan, entah bagaimana caranya. Ia ingin bahagia bersama cinta yang merasuk ke dalam relung jiwa.


Cinta memang terkadang tidak mengenal logika. Cinta juga tidak memandang kasta dan tahta. Kenyamanan dan ketenangan saat bersama menjadi pondasi dasar dalam sebuah hubungan. Begitu juga yang dialami oleh pangeran. Ternyata di tengah kekuasan dan gemerlapnya harta, ia masih merasa sendirian. Cintanya hilang terbawa angin, entah ke mana. Namun, harapan itu selalu berkobar di dalam hatinya. Ia berharap cintanya masih dapat diketemukan.


Lalu, mampukah Ara dan Rain membantu pangeran untuk menemukan kembali cintanya? Hal apa yang akan mereka lakukan agar Lily dapat kembali ke pelukan pangeran?


Pagi harinya...


Sayup-sayup terdengar suara ayam jantan berkokok di telinga sang penguasa. Ia pun terbangun setelah melewatkan malam yang melelahkan bersama istrinya. Ia melihat keadaan sekitar masih tampak sunyi. Ia juga melihat di sampingnya tengah tertidur sang istri tercinta. Ia pun tersenyum lalu memutar tubuhnya ke arah sang istri.


Selamat pagi, Sayang.


Langit masih gelap namun fajar telah datang. Rain terbangun dari alam mimpi setelah menghabiskan hari bersama istrinya. Kini ia memandangi wajah seorang wanita yang amat dicintainya. Ia usap pipi wanita itu lalu ia kecup keningnya. Ia begitu sayang kepada sosok wanita yang kini tengah mengandung anaknya.


Kini ia tidak perlu malu lagi jika harus bertelanjang di depan sang istri. Mereka sudah menyatu dalam ikatan jalinan suci. Ikrar telah diucapkan keduanya di hadapan para saksi. Dan sekarang mereka tengah menanti kelahiran buah hati yang tidak akan lama lagi. Walaupun nyatanya janin yang dikandung Ara baru sebesar biji jagung.


Terima kasih telah mewarnai hidupku, Sayang.

__ADS_1


Rain tersenyum sendiri. Ia usap-usap pipi istrinya dengan penuh kasih. Tak lama kemudian ia pun menyadari sesuatu tentang perubahan yang terjadi pada tubuh istrinya. Ternyata pipi Ara lebih tembam dari biasanya.


Sayang, pipimu lebih tembam. Apakah karena sedang mengandung anakku?


Rain baru menyadari jika tubuh istrinya mengalami perubahan. Tidak seperti dulu yang masih imut bak boneka barbie. Kini tubuh istrinya lebih berisi semenjak mengandung anaknya. Dan entah mengapa Rain pun tertawa melihatnya. Ia memegangi kepalanya sendiri seraya tertawa geli.


Aku tak menyangka jika mengandung bisa membuat seorang wanita jadi lebih berisi. Sayang, maafkan aku ya. Aku terlalu menyusahkanmu.


Rain kemudian memeluk tubuh istrinya. Ia kecup kening sang istri lalu dipeluknya sepenuh hati. Ia menyadari betapa besar perjuangan seorang istri dalam mengandung anaknya. Rasa sayang di dalam hati Rain pun semakin besar dan tak bisa terangkai kata-kata. Ara adalah segala baginya.


Kau wanita pemberani yang pernah aku temui, Sayang. Kau rela menanggung bahaya untuk menyelamatkanku di kapal pengeboran. Kau begitu setia padaku. Lalu masih pantaskah bagiku untuk selingkuh? Tidak Sayang. Tidak akan pernah kulakukan itu. Kita telah menandatangani kontrak cinta yang abadi. Dan aku akan menjaganya sampai mati.


Rain tidak tahu harus berkata apa lagi untuk mengungkapkan perasaannya saat ini. Ia telah menemukan dermaga hatinya. Ia tidak membutuhkan yang lain lagi. Cukup Ara saja yang selalu setia berada di sisinya.


Rain pun mengingat kembali awal pertemuannya dengan Ara. Di mana ia amat terkejut melihat kedatangan seorang gadis berdres putih, dengan rambut yang dibiarkan tergerai panjang. Hampir saja Rain menarik pelatuk pistolnya jika gegabah. Namun, ternyata semesta malah membuatnya terpana. Rain seperti dapat melihat masa depannya bersama Ara. Tidak hanya sekali, melainkan berkali-kali.


Ara yang sedang tertidur pun perlahan-lahan terbangun saat merasa tubuhnya seperti terguncang. Dengan mata yang masih mengantuk, ia melihat dirinya tengah dipeluk oleh Rain. Ara pun mendongakkan kepala untuk melihat wajah suaminya.


"Sayang, sudah bangun?" Mata Ara masih sepat sekali.


"Iya. Sudah." Rain menjawabnya singkat.


"Sepertinya yang lain juga ikut terbangun, ya?" Ara merasa ada sesuatu yang mengganjal di antara dirinya dan Rain.

__ADS_1


Seketika Rain tersadar. "Besar, ya? Mau lagi?" candanya kepada Ara.


"Ih!" Ara pun mencubit dada suaminya.


"Sakit, Sayang." Rain mengusap-usap dadanya karena merasa sakit.


"Beri aku waktu untuk bernapas. Kau ini tidak pernah ada puasnya." Ara menggerutu dalam kantuknya.


Rain pun tertawa. "Hahahaha. Aku memang begini, Sayang. Maklumi saja. Selama ini tertahan," bisik Rain yang membuat Ara geli.


"Sudah, ih! Nanti bercandanya keterusan. Aku masih ngantuk." Ara pun ingin tidur kembali.


Rain tersenyum. "Tidurlah. Tapi sambil pegang, ya." Rain mengarahkan tangan Ara ke suatu tempat di tubuhnya.


"Dasar mesuuummm!!!" Saat itu juga Ara tersadar dengan tingkah konyol suaminya. Ia segera mengambil bantal guling lalu membuat perbatasan. "Jangan melewati ini. Kalau berani ... satu bulan libur!" Ara mengancam dengan wajah kesal.


Seketika nyali Rain ciut. "Iya-iya. Tidak, Sayang. Maaf." Ia akhirnya memasang wajah memelas kepada Ara.


Ara pun menahan tawanya saat melihat tingkah Rain. Ia tak habis pikir di fajar seperti ini sang hujan mengajaknya bercanda. Ara pun tersenyum dalam kebahagiaannya.


Dia ini ada-ada saja. Sudahlah tidur lagi. Aku masih ngantuk.


Ara kembali memejamkan matanya dengan membelakangi Rain. Saat itu juga Rain ingin sekali memegang tangan istrinya. Tapi tak jadi karena ingat peringatan Ara.

__ADS_1


Apakah setiap wanita akan seperti ini jika kurang tidur? Ia berbicara sendiri di dalam hatinya.


Rain begitu menyayangi Ara. Perjalanan yang ia lalui untuk bersama Ara tidaklah mudah. Ia harus melewati fase-fase kritis dalam hubungannya untuk sampai ke jenjang pernikahan. Dimana ia pernah mengancam Ara dengan pistolnya. Rain akan menembak Ara jika pergi dari apartemen dan meninggalkannya.


__ADS_2