Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
So Curious


__ADS_3

Aku menghela napas, ada rasa sesak menyelimuti hati. Tapi, tak dapat kupungkiri jika lewat gelang ini aku bisa bertemu dengan priaku. Mungkin kami memang dituliskan bertemu lewat jalan yang tak biasa.


"Apakah dia mengatakan siapa namanya?" tanyaku lagi pada Jack.


Jack membelokkan setir mobilnya ke kiri. Tak lama lagi kami akan sampai di depan kampus.


"Dia tidak mengatakan siapa namanya, Nona. Namun sepertinya, mirip dengan seseorang yang ada di foto waktu itu," katanya seraya mengingat-ingat.


Foto waktu itu? Astaga! Jangan-jangan ...?!


Mau tak mau pikiranku langsung tertuju pada Lee. Siapa lagi pria yang bisa disebut mirip seseorang di dalam foto selain dirinya? Pastinya pertengkaranku kemarin diceritakan oleh priaku kepada Jack. Tidak salah lagi.


"Em, terima kasih, Jack." Aku menutup pembicaraan ini.


"Kembali, Nona."


Kami akhirnya sampai di depan kampus. Segera saja aku keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke kampusku. Hari ini akan kuikuti jadwal mata kuliah pagi. Semoga saja nilai akhirnya memuaskan sebagaimana kesungguhanku dalam belajar.


Dua jam kemudian...


Embusan angin masuk lewat ventilasi jendela kelasku. Aku masih duduk di dalam kelas sambil serius mengerjakan tugas. Padahal jam istirahat sudah tiba, tapi aku lebih memilih untuk di dalam kelas saja. Aku lagi malas keluar.


Aku sedang mengerjakan algoritme. Mata kuliah ini terdapat dalam program studi fakultasku. Hitung-hitungan ala algoritme memang membuatku pusing. Badanku juga terasa ikut pegal-pegal semua karena melihat banyaknya angka.


"Ara, kau tidak keluar kelas?"


Salah seorang teman datang bertanya padaku. Dia sepertinya sudah selesai mengerjakan tugas, tidak sepertiku yang masih sibuk ini.


"Nanti saja, aku belum selesai," jawabku seraya tersenyum padanya.


Temanku namanya Minji, dia gadis yang sebaya denganku. Rambutnya panjang dan hampir sepinggang, juga berwarna pirang. Dia teman sekelas yang paling dekat di antara lainnya. Tapi, kami memang jarang berbincang jika tidak terlalu penting. Karena takut keterusan malah akhirnya mengghibah orang.


"Aku duluan, ya. Tak baik jam istirahat digunakan belajar. Otak juga perlu istirahat sejenak," katanya seraya tersenyum padaku.


Aku mengangguk pelan, membenarkan perkataannya.


Benar apa kata Minji. Tidak seharusnya jam istirahat digunakan belajar. Aku jadi goyah untuk meneruskan tugasku. Kulihat temanku semua sudah pergi berlalu. Dan aku hanya seorang diri di sini. Akhirnya kuambil ponsel untuk melihat pesan yang masuk. Kali-kali saja ada pesan dari priaku. Dan ternyata ... benar.


/Aku rindu./


Dua kata yang membuatku tersipu-sipu. Priaku ternyata merindukanku. Sama seperti rasa yang ada di hati ini.

__ADS_1


/Aku juga rindu./ Kubalas pesannya segera.


Rasa di hatiku berbunga-bunga kala mendapatkan pesan romantis darinya. Kami memang sudah amat dekat, tinggal resepsi pernikahan saja yang dipercepat. Tapi, kalau dipikir-pikir memang tinggal hitungan hari saja. Dan aku harus sabar menantinya.


/Gatal./


Tiba-tiba pesan masuk kuterima dengan satu kata yang membuat mataku terbelalak. Priaku membalas pesan yang membuat pikiranku tertuju ke arah sana.


Dasar mesum.


Kubalas lagi pesannya. Mungkin dia sedang memancingku kali ini. Sekarang aku tidak akan segan untuk menjahilinya karena dia akan menjadi pakaianku selamanya.


/Mau digaruk?/ tanyaku.


Aku tidak tahu sedang apa dia di sana. Jam segini bisa membalas pesanku dengan cepat. Mungkin dia sedang senggang sekarang.


/Hisap saja./


Si hujan membalas pesanku lagi. Tapi entah mengapa pikiranku semakin traveling ke mana-mana. Dia sepertinya sengaja memancingku. Semakin lama pesan kami semakin tidak beraturan bak trapesium.


Awas dia, ya. Di jam belajarku bisa-bisanya dia membuat pikiranku traveling.


Jangan bilang mau minta jatah saat jam kuliah. "Halo?" Aku segera mengangkat teleponnya.


"Kenapa tidak dibalas pesannya, Sayang?" tanyanya tanpa merasa berdosa.


"Memangnya tidak sibuk?" tanyaku balik, berusaha biasa-biasa saja.


"Sibuk, sih. Tapi untukmu apa yang tidak," katanya yang membuat pipiku merona.


Dia ini bisa saja. "Masih banyak pekerjaannya?" Aku berbasa-basi.


Kudengar dia seperti menumpuk dokumen di sana. "Akan ada pertemuan sebentar lagi. Ini aku sedang menunggu klien datang," katanya.


Oh ... jadi dia sedang menunggu.


Lantas aku menyemangati. " Semangat ya, Sayang. Demi masa depan kita." Kuingatkan kembali tujuan kami menikah.


"Iya. Kamu juga semangat. Aku menyayangimu, Ara." Dia mengucapkan kata yang selalu ingin kudengar.


"He-em." Aku pun mengangguk.

__ADS_1


Kusadari jika kami tidak bisa berlama-lama bertelepon karena priaku masih berada di jam kerjanya. Aku juga sebentar lagi akan masuk mata kuliah selanjutnya. Jadi ya sudah, kemesraan kami harus tertunda sementara. Semoga saja rinduku ini bisa tertahankan dan tidak terbawa pikiran. Aku menyayangi hujanku.


Jam makan siang...


Aku keluar dari kelas lalu segera melangkahkan kaki menuju ruang dosen kampus. Aku berniat menanyakan tentang perihal yang diceritakan oleh Jack tadi pagi. Benarkah jika Lee yang menolongku saat kecelakaan?


Sejujurnya aku tidak ingin menemuinya. Namun, rasanya kurang pantas jika sudah ditolong tapi tidak mengucapkan terima kasih. Sedang di negeriku menjunjung tinggi keramahtamahan dan juga kesopanan. Sehingga hal itulah yang mendorongku untuk menemui Lee.


Tak lama aku pun sampai di depan ruangannya. Segera saja kuketuk pintunya tiga kali.


"Masuk." Ternyata orangnya ada di dalam.


Kubuka pintu ruangannya. "Permisi, Dosen Lee," sapaku. Kulihat dia sedang menilai lembar kerja mahasiswanya.


"Ara?" Dia menyadari jika aku yang datang.


"Dosen Lee, apa Anda sibuk? Ada hal yang ingin kutanyakan," kataku terus terang.


Dia terdiam sejenak, lalu merapikan lembaran kerja mahasiswanya. "Jika menyangkut urusan pribadi jangan di sini," katanya seraya melihatku.


Aku mengerti maksudnya, karena merasa hal yang kutanyakan nanti memang berkaitan dengan urusan pribadi, bukan mata kuliah. Jadi kuiyakan saja.


"Baik, Dosen Lee." Aku mengangguk.


"Kita ke atap gedung saja, Ara." Dia mengajak ku keluar ruangan.


"Atap gedung?" Aku jadi heran dengan permintaannya.


"Kau keberatan?" tanyanya seperti memaksaku mengikuti.


Aku berpikir sejenak. Rasa-rasanya jika tidak dituruti, rasa penasaran di hati semakin bertambah saja. Tapi jika dituruti, apa tidak apa-apa? Setahuku Lee sudah dekat dengan Jasmine sekarang.


"Dosen Lee ...." Aku merasa keberatan.


"Ada apa?" Dia beranjak dari duduk setelah merapikan lembar kerja mahasiswanya.


"Kenapa tidak di sini saja atau di kantin?" tanyaku lagi.


Lee tersenyum. "Ini masih jam kuliah, Ara. Tidak enak berbicara urusan pribadi di muka umum," katanya sambil berjalan ke arahku. Dia kemudian membuka pintu ruangan, mempersilakan aku keluar duluan.


Entah mengapa aku seperti tidak menemukan jalan keluar selain mengikuti perkataannya. Akhirnya aku pun keluar ruangan, berjalan bersamanya menuju ke atap gedung kampus ini. Mungkin dia mengajak ku ke sana karena khawatir ketahuan oleh Jasmine.

__ADS_1


__ADS_2