
Washington DC, pukul sebelas siang waktu sekitarnya...
Menjelang siang ini sinar matahari lebih terik dari biasanya. Sampai-sampai butiran salju mencair dan membuat semua jalanan basah. Ara pun membantu suaminya membersihkan salju di sekitaran teras rumah. Tapi, ia hanya membantu doa, karena Rain lah yang membersihkannya.
"Gitu dong, semangat!" Ara meledek suaminya.
Rain akhirnya selesai juga membersihkan salju di teras rumahnya. Ia mengelap dahinya yang berkeringat lalu meletakkan sekop ke pinggir teras. Ia menatap sang istri lalu berjalan mendekati. Rain pun berbisik di telinga istrinya.
"Tentu saja aku bersemangat, kan sudah dapat jatah pagi ini." Rain bergantian meledek Ara.
"Uh, dasar!" Ara berbalik, membelakangi Rain.
"Sayang." Rain pun memeluk istrinya dari belakang. "Kau suka gaya belakang, ya?" Rain lagi-lagi meledek istrinya.
"Sayang!" Ara gemas diledek Rain terus. Ia berbalik ke arah Rain dengan memasang wajah kesal.
"Apa? Mau lagi? Nanti penuh, lho." Lagi dan lagi Rain meledek Ara.
Ledekan Ara ternyata dibalas berkali-kali oleh Rain sehingga Ara pun dibuat kesal karenanya. Wanita berdaster kuning itu lalu mulai menjahili suaminya. Ia duduk berjongkok di hadapan Rain tanpa bicara sepatah kata juga. Seketika Rain pun terkejut dengan sikap istrinya.
"Sayang?!" Rain terbelalak.
Ara seperti tidak peduli. Ia mulai mendekatkan wajahnya ke perut Rain, sedang Rain terlihat pasrah saja. Ia seperti sedang menantikan hal apa yang akan Ara lakukan padanya. Sampai akhirnya...
"Aaaa!!" Ara mencubit perut Rain. "Sayang, apa yang kau lakukan?!" Rain kesakitan.
Ara beranjak berdiri. "Kau pikir aku mau apa? Dasar mesum!" Ara bertolak pinggang kepada Rain.
"Sayang ...." Rain pun mengusap-usap perutnya yang terkena cubitan Ara.
Suasana pagi ini diwarnai kejahilan Ara dalam membalas ledekan suaminya. Tak lama berselang, suara klakson mobil pun menyadarkan mereka dari canda yang tercipta. Mereka melihat jika ada tamu yang datang, seorang pria yang sedang membuka pintu gerbang. Lantas Ara pun cepat-cepat masuk ke dalam rumah karena tidak memakai rompi, sedang Rain tetap berada di tempat sambil melihat ke arah gerbang.
"Byrne?" Rain melihat jika Byrne lah yang datang.
Siang ini Rain kedatangan tamu. Dan ternyata tamu itu adalah saudaranya sendiri. Tak lama mobil yang ditumpangi oleh Byrne pun sampai di hadapan Rain. Ia kemudian keluar bersama seorang supir.
"Owdie?" Ternyata Owdie juga datang mengunjungi Rain.
__ADS_1
"Halo, Rain. Sepertinya kami mengganggu." Owdie menyapa saudaranya.
Rain tertawa. "Tidak. Aku sedang membersihkan salju tadi. Mau ngobrol?" tanya Rain segera.
"Tentu, tapi di sini saja." Owdie pun lekas-lekas duduk di kursi teras Rain.
"Em, baiklah. Tunggu sebentar. Aku buatkan kopi dulu." Rain berpamitan masuk ke dalam rumah.
"Baik." Owdie dan Byrne pun mengiyakan.
Keduanya datang di saat Rain sedang bercanda bersama Ara. Ara pun masih menunggu instruksi dari suaminya untuk keluar atau tidak. Ia masih bersembunyi di dalam kamar sambil memainkan ponselnya. Tak lama Rain pun membuka pintu kamarnya.
"Sayang, ada Owdie dan Byrne. Kau di sini saja, ya. Sepertinya mereka ingin membicarakan sesuatu padaku. Beristirahatlah." Rain berpesan.
"Oke." Satu kata Ara ucapkan kepada Rain.
"Dasar!" Rain pun tertawa. Ia kembali menutup pintu kamarnya.
Betapa senang hati Rain memiliki istri yang penurut dan juga usil seperti Ara. Kehidupannya berwarna-warni bagai taman seribu bunga. Dan begitulah bagaimana cinta dapat merubah semuanya.
Beberapa menit kemudian...
"Selamat, Rain. Aku sampai tidak ingat hari lagi. Maaf tidak membawa apa-apa." Byrne memeluk Rain.
"Ya, selamat. Semoga cinta kita juga abadi," celetuk Owdie saat berpelukan dengan Rain.
"Hei, kau kan sudah punya aku. Bagaimana, sih?" Byrne pura-pura cemburu.
"Oh, iya. Aku lupa." Owdie pun bergantian memeluk Byrne.
"Ya sudah kita berpelukan saja." Rain memeluk kedua saudaranya.
Ketiganya berpelukan di teras rumah bak Teletubbies yang saling menyayangi. Ketiganya pun kembali duduk setelah saling menyemangati.
"Kau tidak ada rencana untuk membayar penjaga di rumahmu ini, Rain?" tanya Owdie sambil menuang kopi ke dalam cangkirnya.
"Belum. Rumah ini jarang kutempati. Lagipula tidak ada barang berharga di dalamnya," jelas Rain.
__ADS_1
"Iya, sih. Tapi apa kau tidak khawatir jika sewaktu-waktu ada yang masuk tanpa diundang?" tanya Owdie lagi, seolah memberi tahu sesuatu.
Rain menatap kekejauhan. "Ada penjaga di portal depan. Aku rasa itu sudah cukup." Rain mencoba optimis.
"Berapa lama kau akan tinggal di sini bersama Ara?" tanya Byrne bergantian.
"Mungkin dua hari lagi. Selesai rapat tahunan," jawab Rain.
Byrne pun mengangguk.
"Memangnya ada apa? Mengapa kalian seperti mencemaskanku?" Rain menyadari maksud pertanyaan kedua saudaranya.
Owdie menghela napas. Ia merebahkan punggung di kursi. "Ada baiknya jika kau berhati-hati dengan Nick. Kemarin tanpa sengaja aku melihatnya masuk ke dalam kamar kakek. Mungkin saja dia mengatakan sesuatu sebelum kau datang." Owdie curiga.
"Benar, Rain. Nick seperti kurang menyukaimu. Ditambah statusmu yang sudah menikah sekarang. Aku khawatir dia mengira pernikahanmu hanya karena ingin mengambil tahta organisasi." Byrne menambahkan.
Rain berpikir serius. "Semalam dia juga menatap Ara dengan pandangan yang berbeda. Tidak tahu kenapa." Rain mengungkapkan perasaannya.
Owdie mengangguk. "Sebenarnya tidak seharusnya dia mengkhawatirkan kehadiranmu di sini. Toh, kau juga tidak berminat dengan tahta organisasi, bukan?" Owdie seakan meminta kepastian.
"Ya. Aku memang menikah dengan Ara karena cinta, bukan karena tahta," tutur Rain amat yakin.
"Tapi masalahnya kita tidak tahu bagaimana orang menilai. Aku khawatir jika Nick merencanakan sesuatu di belakangmu. Mungkin ada baiknya jika kalian membicarakan hal ini sebelum dia lebih salah paham lagi." Owdie menyarankan.
Rain mengerutkan dahinya. "Tapi tidak mungkin tiba-tiba aku bilang padanya jika tidak menginginkan tahta organisasi. Pasti dia akan tersinggung padaku." Rain berpendapat.
"Rain benar, Owdie. Kita tidak bisa langsung mengatakan hal itu kepada Nick." Byrne menyetujui pendapat Rain.
"Lalu?" Owdie meminta jalan tengah.
Byrne menghela napas panjang. Ia menoleh ke Rain. "Kau harus tetap berhati-hati. Di belakang Nick ada dua saudara kita yang mendukungnya. Aku khawatir akan terjadi perpecahan di organisasi jika kalian sampai berseteru. Aku harap kau bisa mengambil keputusan sendiri." Byrne menepuk pundak Rain, menyemangati.
Rain mengangguk. "Sebisa mungkin aku tidak mengusiknya. Tapi jika dia duluan yang mengusikku, tentu saja aku tidak akan tinggal diam. Tapi, terima kasih atas peringatan ini. Aku amat menghargainya." Rain berterima kasih kepada kedua saudaranya.
"Santai saja. Selama kami bisa membantu, apa salahnya." Owdie tersenyum. Ketiganya lalu adu tinju sebagi tanda kekompakan.
Siang ini Byrne dan Owdie datang untuk memperingatkan Rain akan gerak-gerik Nick yang mencurigakan. Rain pun mewaspadainya. Ia tidak akan mengusik Nick selama Nick tidak mengusiknya. Namun, jika Nick berani mengusiknya, maka jangan salahkan Rain jika bertindak di luar batas kesopanan. Karena Rain tentu tidak akan diam begitu saja.
__ADS_1
Ternyata kedua saudaraku merasakan hal yang sama. Aku jadi harus lebih waspada lagi ke depannya. Jangan sampai dia menyakiti Ara. Jika itu sampai terjadi, aku tidak akan diam begitu saja.
Rain sependapat dengan kedua saudaranya. Ke depannya ia akan lebih berhati-hati lagi. Rain tentu saja akan melindungi Ara dari setiap bahaya yang mengancam. Termasuk dari saudaranya sendiri, Nick Holms.