
Malam harinya...
Suasana malam terasa hening seperti tidak ada kehidupan. Hatiku pun ikut hampa setelah apa yang terjadi. Kucoba menuangkannya dalam bentuk tulisan, tapi hati tidak berdaya untuk melanjutkannya. Seperti ada sekat yang membatasi.
Kutatap pancuran air dari balik kaca jendela. Sambil menghangatkan diri dengan memeluk tubuh yang membeku. Rasanya waktu berjalan amat lambat. Aku jadi gelisah menunggu pagi.
Sudah pukul sepuluh malam tuanku belum juga pulang. Tak ada pesan atau kabar darinya. Hanya pesan terakhir yang tidak kubalas siang tadi. Tapi, bukannya aku tidak mau membalas, melainkan bingung harus membalas apa.
Kuambil ponselku, berharap ada pesan masuk. Tapi ternyata, tidak ada juga. Aku jadi gundah-gulana menghadapi malam ini.
Haruskah aku menanyakan kabar kenapa dia belum pulang? Tapi rasanya tidak pantas karena aku hanya seorang pembantu. Dia tuan, majikanku. Aku tidak punya hak untuk itu, aku sadar diri.
Kurebahkan punggung di sofa sambil menyalakan televisi. Kucoba mencari hiburan malam ini. Tapi, lagi-lagi hatiku merasa tak nyaman. Kuambil ponsel lalu mencoba mengetik pesan untuknya. Aku ingin menanyakan di mana keberadaannya sekarang. Tapi, saat ingin kukirim, kubatalkan pesan itu. Aku tidak jadi mengirimkan pesan kepadanya.
"Aduh ... kenapa aku begini?"
Kupegang kepalaku yang penuh dengan namanya. Senyumnya, tawa kecilnya, wajah tampannya, dan semua yang ada pada dirinya. Aku tidak mampu mengusir bayang-bayangnya dari pikiran ini. Dia selalu saja memenuhi pikiranku. Dan kini hatiku ikut terusik olehnya.
"Apa aku telepon saja, ya?"
Ingin rasanya menelepon. Tapi, alasan apa yang harus kugunakan untuk meneleponnya? Aku tidak punya alasan kuat untuk menanyakan di mana dia berada sekarang.
Tuan ... apa kau sama gelisahnya sekarang?
Aku mencoba merebahkan diri, berharap bisa memejamkan mata agar lekas mengantuk. Kebetulan besok sudah mulai kuliah. Dan besok juga pagi-pagi harus berangkat ke kampus. Jika dibiarkan galau terus, bisa-bisa aku telat datang besok. Ya sudah, kurelaksasikan tubuh dan pikiranku. Kulemaskan badan lalu menarik napas dalam berulang kali, mencoba tidur di malam yang sepi.
Esok harinya...
Pagi-pagi aku terbangun dan segera menjalankan rutinitas harianku. Aku pikir tuanku pulang semalam. Tapi setelah mengecek kamarnya, ternyata kamarnya masih kosong. Dia benar-benar tidak pulang semalam.
Tuan ... apa kau benar-benar marah padaku?
Entah mengapa aku merasa hampa seorang diri di apartemen ini. Seperti tidak ada kehidupan di sekitarku. Apartemen yang luas tidak bisa kuisi sendiri. Aku ingin dia pulang dan kembali bersamaku.
Kulihat ponsel yang kuletakkan di atas meja makan, berharap ada pesan darinya. Tapi, lagi-lagi ponselku sepertinya sedang rusak, tidak ada yang menghubungi. Dan akhirnya aku galau pagi-pagi.
"Mandi saja kalau begitu. Sudah pukul enam juga."
__ADS_1
Aku bergegas mandi, membersihkan diri dan pikiran lewat pancuran air shower yang menghangatkan. Aku tidak boleh galau seperti ini. Bagaimanapun hari ini adalah hari pertama kuliahku, aku harus semangat.
Beberapa menit kemudian...
Setelah selesai mandi, aku keluar dengan mengenakan handuk putih sebatas dada hingga pertengahan paha. Aku pun segera mengenakan pakaian dengan menutup tirai yang kupasang di lorong antara kamar mandi dan dapur.
Hari ini kukenakan kemeja putih panjang dengan celana dasar hitam ketat. Aku juga mengenakan sepatu kets agar mudah jika diharuskan berlari. Namun, aku belum punya tas dan peralatan tulis untuk kuliah. Katanya sih Jack yang akan membawakannya untukku.
Sambil menunggu Jack datang, aku sarapan pagi terlebih dahulu. Sarapan nasi goreng dan segelas susu hangat. Setelahnya segera bersiap-siap berangkat ke kampus. Tak lupa mengecek kompor dan mengunci jendela-pintu apartemen.
Pakai sedikit saja.
Aku berdandan tipis di depan kaca yang ada di seberang meja makan. Sengaja kukenakan make up minimalis agar tidak norak dilihat orang.
"Baiklah, aku siap."
Karena rindu dengan tuanku, sengaja kusemprotkan parfumnya di tubuhku, agar aku bisa merasakan jika dia ada di sekitaranku. Walaupun nyatanya, dia tak ada.
"Jack?"
Tak lama kudengar bel apartemen berbunyi. Dengan segera kubukakan pintu dan melihat siapa yang datang. Dan ternyata, memang Jack lah yang datang. Dia membawa banyak alat tulis untukku.
Akhirnya aku bisa merasakan belajar di perguruan tinggi. "Terima kasih, Jack." Aku tersenyum padanya.
"Kalau begitu apa kita bisa berangkat sekarang, Nona?" tanyanya kemudian.
"Em, ya. Baiklah. Aku letakkan dulu ke dalam alat tulis ini."
Kuletakkan di dekat TV peralatan tulis yang Jack bawakan. Setelahnya barulah aku berangkat ke kampus bersamanya. Jack akan mengantar di hari pertamaku kuliah. Inginnya sih tuanku, tapi karena dia tak ada, Jack pun jadilah.
Kami akhirnya sampai di parkiran apartemen. Aku pun segera masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang. Sedang Jack duduk di depan mengendarai mobilnya. Mobil hitam milik tuanku ini segera melaju menuju kampusku.
Di perjalanan...
Sepanjang perjalanan aku hanya diam saja. Aku masih memikirkan tuanku. Aku rindu padanya. Entah mengapa hati ini terasa terikat olehnya.
"Nona, semalam tuan Rain menginap di rumah saya." Jack membuka percakapan.
__ADS_1
"Menginap?" tanyaku memastikan.
"Ya, dia tidur di rumah karena tidak mau pulang ke apartemen. Jika boleh saya tahu, sebenarnya ada apa? Mengapa belum genap sehari semuanya sudah berubah?" tanyanya, seperti memancingku agar bercerita.
"Em ... tidak ada apa-apa, Jack. Mungkin dia hanya salah paham padaku saja," jawabku seraya tersenyum palsu.
"Tuan Rain sebelumnya tidak pernah seperti ini. Ini pertama kalinya dia mau menginap di rumah saya. Bahkan mengajak kedua putra saya bermain."
"Benar, kah?!" Aku terkejut mendengarnya.
"Ya, tuan Rain adalah sosok yang ramah. Dia menganggap semua pekerjanya seperti saudara sendiri. Maka dari itu saya juga betah bekerja dengannya. Tapi, di saat dia merasa kurang nyaman, saya seperti tidak bisa diam begitu saja." Jack menjelaskan dirinya.
Aku mengerti akan maksud ucapan Jack. Tapi, apa aku harus mengatakan yang sesungguhnya? Sungguh aku belum siap jika ada orang lain tahu hubungan ini hanya sebatas kepura-puraan.
"Nona, saya pikir tuan Rain mempunyai niat baik kepada Nona. Apakah Nona tidak ingin menerima niatan baiknya?" tanya Jack, membuyarkan lamunanku.
"Em, maksudnya?" Aku kurang mengerti.
"Maaf, Nona. Saya tidak ada maksud untuk mencampuri urusan Nona dan tuan. Tapi sebagai pekerja dan juga saudaranya, saya merasa bersimpatik atas apa yang terjadi. Tidak baik jika membiarkan masalah berlarut-larut," katanya lagi.
Aku terdiam, mencoba berpikir apa yang harus kulakukan ke depannya.
"Nona, kita sudah sampai."
Tak lama berselang, kami akhirnya sampai di depan gerbang kampusku. Aku juga segera turun dari mobil sambil membawa tas yang kusampirkan di pundak kanan. Jack pun ikut turun.
"Jack, terima kasih. Maaf, aku belum bisa berkata apapun," kataku padanya, menutup perjumpaan ini.
"Tak apa, Nona. Semuanya memang membutuhkan proses. Apakah nanti pulangnya ingin saya jemput?" tanyanya santun.
"Em." Aku berpikir. "Nanti aku pulang sendiri saja, Jack. Aku ingin berjalan-jalan sendiri hari ini," jawabku.
"Baik, Nona. Kalau begitu saya permisi." Jack pun berpamitan.
"Ya, hati-hati."
Jack segera masuk ke dalam mobil lalu melaju pergi, meninggalkanku di depan gerbang kampus sendiri. Kutarik napas panjang dan dalam sambil berusaha menghidupkan api semangatku. Aku harus bisa menghilangkan rasa galau dari hati dan pikiranku ini. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan kuliah yang diberikan tuanku.
__ADS_1
Semangat Ara! Badai pasti berlalu!
Kubalikkan badan lalu melangkahkan kaki menuju ruang pertemuan mahasiswi baru dengan dosen program studi. Aku harus mengejar ketertinggalan agar bisa lulus tepat pada waktunya. Entah bagaimana nanti, aku berjuang saja semampunya. Aku yakin aku bisa.