Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Miscalculation


__ADS_3

Apartemen Marina, pukul 4.30 sore...


Sebuah kawasan apartemen elit di dekat komplek Palm Jumeirah ini menjadi tempat yang dituju oleh Rain, Byrne dan juga Owdie. Mereka baru saja sampai di halaman parkir lalu segera berpisah. Di tubuh Rain sudah dipasang alat perekam suara mini untuk membuktikan semua perbuatan Jane kepada Ara. Sedang kedua saudaranya menunggu giliran waktu untuk menjalankan misi.


Rain melangkahkan kaki ke nomor pintu di mana apartemen Jane berada. Kedatangannya tentu saja disambut suka cita oleh Jane di sana. Jane memeluk Rain saat datang dan bahkan mencium pipi Rain walau Rain menahannya. Wanita itu melancarkan aksinya untuk menggoda sang penguasa.


Jane mengenakan gaun hitam yang terbuka di bagian dada dan paha. Keduanya lantas berbicara di ruang tamu apartemen. Jane menempel pada Rain sambil mengatakan rindu dan kehilangan. Tapi Rain tetap bersikap biasa saja.


Ruang tamu apartemen itu menjadi saksi perbincangan mereka. Dan karena tidak ingin membuang-buang waktu, Rain segera mengutarakan niatnya menemui Jane.


"Ada hal yang ingin kutanyakan padamu." Rain terus terang.


"Apa, Rain? Katakan saja. Apapun itu aku akan menjawabnya." Jane merebahkan kepalanya di pundak Rain dengan manja.


"Jane, aku ingin tahu apa alasanmu datang ke kampus Ara?" tanya Rain yang sontak membuat Jane menjauh dari tubuhnya.


"Jadi kau datang untuk menanyakan hal itu?" Jane merasa kecewa.


"Jane, aku berniat serius padanya. Tapi kenapa kau malah mengancamnya?" Rain langsung ke inti pembicaraan.


Jane menelan ludahnya. Sialan! Jadi gadis itu sudah mengatakan kejadian kemarin kepada Rain?! Memang cari masalah denganku!


Jane tidak terima. Ia lantas berdiri, mengambilkan minuman untuk Rain. Anggur merah yang telah ditambahkan serbuk perangsang dengan tingkat keberhasilan 100% pada tegukan pertama.


"Minumlah dulu, Rain. Aku baru saja membeli anggur ini langsung dari tempat produksinya. Katanya rasanya sangat enak." Jane memberi Rain segelas anggur merah.


Jane sendiri segera meneguk gelas anggurnya. Ia sengaja menandai punyanya dari punya Rain dengan bekas lipstik sehingga tidak akan tertukar.


"Terima kasih. Tapi aku ingin mendengar jawabanmu dulu," kata Rain lagi.


Jane lantas berpikir. Ia tidak mungkin memaksa Rain untuk segera meminum anggurnya. Ia harus mencari cara agar Rain meminum anggur itu sendiri. Jane lantas berpikir cepat.

__ADS_1


"Rain ...," Jane memasang wajah sedihnya. "Aku hanya datang ke sana untuk membicarakan hak ku saja. Aku tidak mengancamnya. Mengapa dia bisa berkata seperti itu padamu?" Jane menempel pada tubuh Rain. Ia mengusap paha Rain.


"Jane, tolong jaga sikapmu. Aku sudah bilang hubungan kita hanya sebatas teman. Tidak lebih dari itu." Rain menjelaskan.


Jane kesal. "Rain, aku tidak percaya jika selama tujuh tahun ini kau tidak mempunyai sedikit rasa pun padaku!" Jane berdiri.


Rain berusaha tenang, tidak ingin terpancing emosi. "Sejak kecil aku sudah diarahkan hanya untuk menjalankan tugas dari kakek. Tidak ada hal lain selain itu. Maaf, maafkan aku jika telah membuatmu salah paham." Rain meminta maaf.


"Tidak." Jane menggelengkan kepalanya. "Tidak, Rain. Aku tidak bisa. Aku mencintaimu." Jane akhirnya mengatakan hal itu.


Rain tersentak mendengar pengakuan Jane. Ia merasa sedikit bersalah dan juga kasihan. Tapi, ia juga ingat kepada Ara. Rain tidak mungkin mengkhianati gadisnya.


"Kedatanganku ke sini untuk menyelesaikan apa yang terjadi. Aku minta tolong jangan ganggu Ara lagi." Rain meneruskan.


Jane mengambil gelas anggurnya lalu meneguknya sampai habis. Sehingga hanya tersisa gelas Rain saja. AC apartemen sengaja dimatikan oleh Jane agar membuat Rain gerah sehingga meminum anggur yang telah disediakannya. Tapi, sampai detik ini juga Rain belum meminum anggur itu. Jane lantas membuat tipu daya untuk sang penguasa.


"Beri aku kesempatan untuk malam ini saja. Jika aku tidak mampu untuk merubah keputusanmu, aku bersedia pergi." Jane merayu.


Jane lalu duduk di atas pangkuan Rain. Ia menurunkan tali gaunnya sendiri sehingga membuat Rain risih. Rain ingin bangun tapi Jane menahannya. Sehingga pemandangan bongkahan daging lembut itu membuat Rain seperti kehausan. Bohong jika pria biasa-biasa saja saat melihat bukit ranum menantang di depan matanya, terlebih hanya setengah bagian saja yang terlihat. Tentunya membuat pria semakin penasaran.


Bel berbunyi...


Saat Rain hampir menyentuh gelas anggur itu, tiba-tiba bel apartemen Jane berbunyi. Rain pun segera tersadar jika sedang menjalankan misi bersama kedua saudaranya. Ia kemudian bergantian menyerang Jane dengan sandiwaranya.


"Jane, siapa?" Rain pura-pura bertanya.


"Sebentar, ya."


Jane tidak tahu jika Rain sudah menyiapkan sesuatu. Ia segera beranjak membukakan pintu. Namun, saat dilihat ternyata yang datang adalah dua orang pria yang dikenalnya. Seketika Jane terkejut, ia pun ingin menutup pintunya kembali. Tapi Byrne dan Owdie segera menerobos masuk ke dalam.


"Kelihatannya kau kehausan, Rain."

__ADS_1


Byrne masuk lalu mengeluarkan tabung kecil dari balik jasnya. Ia menuangkan formula khusus ke dalam minuman itu. Sedang Owdie menutup pintunya dari dalam.


"Kalian mau apa ke sini?!" Jane marah karena apartemennya dimasuki tanpa izin.


Owdie tersenyum tipis kepada Jane sambil merekam apa yang terjadi. Jane pun berusaha mengambil kamera ponsel milik Owdie.


"Apa yang kau lakukan?! Matikan kamera itu!" Jane terlihat panik.


Beberapa detik kemudian, minuman anggur Jane berubah menjadi biru setelah dicampurkan formula khusus milik Byrne. Byrne pun terkejut melihat hasilnya, walaupun ia sudah mempersiapkan diri untuk mengetahui hal ini.


"Wow, dia memasukkan serbuk perangsang tingkat tinggi ke dalam minumanmu, Rain." Byrne mengambil sampel minuman itu untuk dijadikan bukti.


"Rain, kau!" Jane berbalik, melihat Rain dengan tatapan penuh amarah.


Seketika itu Rain mengeluarkan foto-foto yang berhasil didapatkannya. "Ini di Uni Emirat Arab. Kejahatan apapun hukumannya akan dibalas sesuai dengan yang berlaku di negeri ini. Jane, kau telah banyak melakukan kejahatan. Kau bekerja sama dengan seorang pria untuk mencelakai Ara. Dan kini kau berniat untuk menjebakku. Coba pikirkan baik-baik, dengan dua orang saksi mata apa kau bisa lolos dari jeratan hukum di negeri ini?" Rain menyilangkan kedua tangan di dada.


"Rain, aku ...." Jane seolah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia sudah kepergok.


"Ingin kami laporkan atau hentikan semua kejahatanmu?" Byrne ikut bertanya.


"Hei, Nona. Tidak seharusnya kau menganggu hubungan orang lain yang sudah ingin menikah. Terlebih orang itu tidak mencintaimu. Mengapa kau sangat bodoh?" Owdie dengan santainya bertanya.


"Diam!!!" Jane marah mendengar Owdie bicara.


"Jika hal ini kuadukan kepada ayahmu, apa kau masih bisa berpikir akan mendapatkan pembelaan darinya, Jane?" Rain kembali bertanya.


Byrne dan Owdie menyelesaikan tugasnya. Mereka menghela napas lalu segera keluar dari apartemen sambil membawa barang bukti, apa yang telah dilakukan Jane pada Rain sore ini. Sedang Rain...


"Aku minta maaf jika telah membuatmu merasa membuang-buang waktu. Tapi, aku tidak mencintaimu. Yang kucintai adalah Ara. Dan kami akan segera menikah minggu depan. Aku minta keikhlasan darimu. Tolong jangan ganggu rumah tangga kami. Jika kau sampai melakukannya, maka aku tidak akan segan memperlakukanmu seperti orang yang tak kukenal. Permisi."


Rain tersenyum palsu. Ia kemudian pergi meninggalkan apartemen itu. Sedang Jane tampak memegangi kepalanya sendiri. Hatinya kacau bukan kepalang. Ternyata niatnya untuk menjebak malah dijebak balik oleh Rain. Jane salah perhitungan.

__ADS_1


Rain, kau benar-benar membuatku semakin dendam padanya!!!


Pintu apartemen ditutup dari luar. Ketiga saudara itu pergi meninggalkan Jane yang terpojok karena ulahnya sendiri. Ucapan Rain sudah cukup menjadi ancaman besar baginya. Jane pun harus memikirkan ulang tentang rencana apa yang akan ia lakukan selanjutnya.


__ADS_2