
"Byrne diminta oleh kakek untuk membuat virus yang mematikan sehingga dia berangkat ke laboratorium yang ada di Ukraina. Lalu ...," Perkataan Owdie terhenti sejenak.
"Lalu?" Rain penasaran.
"Kedua nomornya kini tidak aktif. Baik nomor organisasi maupun nomor pribadinya yang hanya aku dan dia yang tahu. Saat kucek melalui pelacak yang ditempelkan di jam tangannya, ternyata pelacak itu pergi menuju ke arah perbatasan Rusia. Aku khawatir padanya, Rain." Owdie menuturkan.
"Astaga ...." Rain pun memegangi kepalanya.
"Dia tidak mau melakukan tugas ini, tapi kakek memaksa. Bahkan kemarin dia sempat bercerita jika kakek memintanya untuk membuat virus yang lebih banyak lagi. Bryne kelelahan, tapi kakek seakan tidak peduli. Kakek hanya memikirkan keuntungan dan keuntungan organisasi," tutur Owdie lagi.
Saat itu juga Rain mengepalkan tangannya. Ia merasa kesal.
"Kau sudah sampai di USA? Aku telah menyelesaikan pekerjaanku dan berencana akan segera menyusul ke sana." Owdie ingin menyusul Rain.
Rain menghela napasnya. "Baik, aku tunggu kedatanganmu di sini. Masalah Bryne akan kita bicarakan lagi setelah kau sampai. Untuk saat ini bisa beri tahu aku pelacak yang kau maksud? Aku ingin melihatnya sendiri." Rain meminta.
Owdie mengangguk. "Baik. Sebentar akan kukirimkan."
Owdie mematikan sambungan teleponnya lalu masuk ke akun yang ia punya. Yang mana akun tersebut tersambung 24 jam dengan Byrne. Rain pun tak lama menerimanya. Ia kemudian melihat sendiri pergerakan pelacak yang ditempelkan di jam tangan Byrne. Dan ternyata memang benar menuju ke arah perbatasan Rusia.
Astaga ....
Saat itu juga Rain menyadari jika berita yang dimaksud oleh salah satu channel YouTube ada hubungannya dengan Byrne. Ia pun menelan ludahnya, tak percaya jika Byrne akan melangkah sejauh ini.
"Halo, Owdie." Rain menelepon Owdie kembali. "Bisakah mendengar percakapan yang terjadi di sana?" Ia meminta Owdie untuk membuka akses akunnya.
"Oke. Akan kukirimkan." Owdie pun segera menjawabnya.
__ADS_1
Kedua saudara seperasuhan itu sedang mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Bryne. Dan ternyata memang benar jika Bryne sedang dalam perjalanan menuju perbatasan Rusia. Rain pun mencari cara untuk menyelamatkan saudaranya. Ia tidak habis pikir jika laboratorium di tempat Byrne bekerja sampai dimasuki pihak intelijen Rusia. Ia merasa sang kakek sengaja menjebak saudaranya.
Kansas, pukul tujuh malam...
Rain termenung sambil menatapi perkotaan dari balik jendela kamar hotelnya. Lampu perkotaan itu tampak menghiasi sepanjang jalanan ibu kota. Hiruk-pikuk suasana seolah tidak pernah ada habisnya. Bahkan malam pun terasa seperti siang yang ramai.
Rain sedang memikirkan bagaimana cara untuk menyelamatkan Byrne. Ia tidak mungkin tinggal diam dan membiarkan Byrne menjadi tahanan Rusia. Owdie sedikit-banyak menceritakan bagaimana Byrne bisa membuat virus tersebut. Dan ia merasa Byrne tidaklah bersalah. Byrne hanya diperintah oleh kakeknya. Dan Rain harus segera menyelamatkan saudaranya.
"Sampai kapan kakek akan terus seperti ini?"
Rain tidak habis pikir dengan keinginan sang kakek. Selalu saja ingin memperbanyak harta tanpa memikirkan bagaimana batas kemampuan pekerjanya. Sang kakek seolah memeras tenaga cucunya sendiri. Sampai tidak memikirkan keselamatan dan kesehatan cucunya lagi.
Kini Rain sedang memikirkan cara agar bisa menyelamatkan Byrne. Tentunya dengan fasilitas yang organisasi miliki. Ia tidak mungkin menggunakan uangnya untuk menyelamatkan Byrne karena saat ini seluruh asetnya telah dibekukan. Rain harus mencari jalan lain.
Ponselnya berdering. "Halo?" Rain pun segera menjawabnya.
"Hm, ya. Apa kau ada waktu? Aku sedang di Kansas saat ini." Rain menceritakan.
"Em ...," Seseorang di seberang sana tampak berpikir. "Aku masih ada jam praktik, Rain. Sepertinya malam tidak sempat untuk menemuimu. Kebetulan aku jaga malam di rumah sakit. Apakah ada sesuatu yang sangat penting?" tanya seseorang itu.
Rain tertegun sejenak. Ia menyadari jika seseorang itu sangatlah sibuk. "Oh, baiklah. Kalau begitu laksanakan tugasmu. Maaf telah mengganggu." Rain merasa tidak enak hati sendiri.
"Hahahaha." Seseorang itupun tertawa. "Santailah, Rain. Aku memang benar-benar sedang sibuk. Nanti jika sudah senggang, aku akan segera menghubungimu," janji seseorang itu.
"Em, baiklah. Kalau begitu sampai nanti." Rain berniat mematikan sambungan teleponnya karena tidak ingin mengganggu.
Banyak hal yang sedang Rain pikirkan. Tentang organisasi dan juga saudara seperasuhannya. Ia mengetahui perjanjian tahta organisasi. Tapi ia juga tahu jika Nick amat menginginkan kedudukan itu. Sedangkan jika kedudukan itu diberikan kepada Nick, Rain khawatir Nick akan menyalahgunakan kekuasaannya. Belum menduduki tahta organisasi saja ia sudah berani melampaui batas, apalagi jika diberi tahta organisasi.
__ADS_1
Di lain sisi Rain amat menginginkan hidup tenang bersama istrinya. Ingin sekali menimang bayi mungil yang sudah dinantikannya selama ini. Tapi, saat ini Rain harus menepiskan keluarga sejenak untuk menyelesaikan masalah yang ada. Ia berniat mengakhiri segala perjanjiannya dengan organisasi. Tentunya Rain siap dengan segala konsekuensinya.
Esok harinya...
Pagi telah datang. Matahari terbit dengan sempurna. Membangunkan Rain yang masih tertidur dengan kaus oblong putihnya. Ia tampak mengusap wajah saat menyadari hari sudah pagi.
Diambilnya ponsel dan dilihatnya sudah jam berapa sekarang. Ternyata waktu telah menunjukkan pukul tujuh pagi waktu Kansas dan sekitarnya. Segera saja ia beranjak bangun lalu membasuh wajahnya. Ia pun membuat sarapan.
Pagi ini Rain menunggu kabar dari Owdie yang akan datang menemuinya. Rain pun menyantap roti lalu melihat ponsel pintarnya kembali. Saat itu juga dering ponsel terdengar. Ternyata Owdie lah yang menelepon.
"Halo?" jawab Rain sambil menyantap rotinya.
"Rain, kau di mana? Aku sudah sampai di bandara."
Terlihat di seberang telepon seseorang yang sedang menarik kopernya dengan mengenakan jaket hodie berwarna abu-abu. Ia adalah Owdie yang baru saja tiba di bandara Kansas.
"Kau sendirian?" tanya Rain kepada saudaranya.
Owdie melihat ke sekelilingnya. "Ya. Aku sendiri. Sepertinya tidak ada mata-mata organisasi di sini." Owdie merasa yakin.
Rain meneguk air minumnya. "Baiklah. Kita ketemu di kafetaria kota satu jam lagi. Lantai atas paling sudut." Rain membuat janji temu.
Owdie pun melihat jam di tangannya. "Oke. Sampai nanti." Ia segera mematikan sambungan teleponnya.
Owdie terpaksa menggunakan jalur penerbangan eksekutif untuk menemui Rain. Ia tidak menggunakan jet pribadi milik organisasi karena khawatir keberadaannya akan terlacak. Ia sampai rela terbang seorang diri untuk menemui saudaranya. Owdie sudah ingin bertemu dengan Rain.
Pagi ini kedua saudara seperasuhan itu akan segera bertemu dan membicarakan rencana yang akan dilakukan bersama, sebelum menemui sang kakek di Washington DC. Karena mereka harus tetap berhati-hati di setiap langkah agar tidak terjadi hal-hal tak terduga. Bagaimanapun keduanya tahu ada siapa di sana. Seseorang yang tidak menyukai kedatangan Rain dan juga pembelanya, Owdie.
__ADS_1