
Perjalanan kembali ke rumah, di komplek Palm Jumeirah...
Sekitar pukul delapan pagi kami keluar dari rumah sakit. Dokter mengatakan jika aku sudah bisa pulang hari ini. Kondisi tubuhku baik-baik saja setelah menjalani rawat inap semalam. Dan kini aku sedang menikmati aroma tubuh priaku yang belum mandi. Katanya sih terakhir mandi kemarin sore, sebelum pertemuan makan malam. Dan ya, luar biasa harumnya. Aku malah menyukai aroma parfum yang bercampur keringatnya ini. Seksi sekali.
Aku jadi ingin menggigitnya.
Sepanjang jalan aku merebahkan kepala di dadanya. Sekat pun harus sampai dinaikkan agar tidak terlihat oleh Jack yang sedang menyetir di depan. Maklum, aku masih malu jika ketahuan bermesraan. Ya, walaupun sebentar lagi kami akan menikah, tetapi tetap saja ada rasa was-was yang melanda. Apalagi kalau dia sedang usil. Mau taruh di mana mukaku ini?
"Sayang."
"Hm?"
"Sampai di rumah kita mandi bersama, ya?" katanya.
"Apa?!"
Seketika aku terperanjat, mengangkat kepala dari dadanya yang bidang. Lantas dia menarikku kembali sambil memegang erat lenganku ini.
"Sudah, jangan melawan. Nanti aku semakin tak tahan," katanya yang sontak membuatku menggigit dadanya. "Aw! Sayang?!" Dia pun terkejut.
"Rasakan! Nakal, sih!" gerutuku.
Sebenarnya kasihan sih melihat dia kesakitan. Tapi mesumnya itu lho tidak tahu tempat sama sekali. Aku kan jadi malu.
"Kau yang membuat aku seperti ini. Aku sampai gila, kan?" Dia malah tidak terima.
"Eh?!" Aku pun jadi bingung dibuatnya.
"Sayang, gatal." Tiba-tiba saja dia bicara seperti itu.
Tu, kan. Mulai. Dasar mesum!
Aku menggerutu dalam hati. Tak habis pikir dengan keinginan priaku ini. Ada saja dan tak tahu sedang berada di mana. Padahal aku baru keluar dari rumah sakit, harusnya dia bisa mengerti. Tapi ini entah dia menggodaku atau memang benar sudah tak tahan.
__ADS_1
"Ih, dasar mesum!" Kucubit saja perutnya kuat-kuat.
"Aaawww!" Dia pun kesakitan, lebih sakit dari yang tadi.
"Rasakan!" Segera saja aku menjauh darinya.
Aku duduk di pojokan sambil menempel di jendela mobil. Aku juga membelakanginya agar dia tahu kalau aku sedang marah. Tapi yang namanya hujan, tidak akan berhenti jika belum selesai. Dia lantas membisikkan sesuatu ke telingaku.
"Malam ini kau milikku," katanya yang sontak membuat sekujur tubuhku merinding mendengarnya.
Jika sudah seperti ini rasa-rasanya ingin cepat menikah saja. Karena bagaimanapun aku manusia biasa yang bisa tergoda. Apalagi priaku tidak akan berhenti jika belum mendapatkannya. Mungkin dia harus dicuci dulu pikirannya. Atau memang akunya yang cepat bereaksi atas kata-katanya? Entahlah. Aku berharap kami cepat berikrar di atas altar pernikahan.
Sesampainya di rumah...
Mungkin hanya dibutuhkan waktu sekitar setengah jam perjalanan dari rumah sakit, kami akhirnya sampai di hunian sederhana ini. Sesampainya kami pun lekas masuk ke dalam dengan tak lupa mengucapkan salam terlebih dulu. Jack pun ikut membawakan barang kami, sampai aku lupa jika telah membeli keperluan untuk mengerjakan tugas kuliah. Dan kini peralatannya kuterima kembali.
"Tuan, kakek Ali berpesan untuk mengadakan doa bersama sebelum menggelar pernikahan." Jack sepertinya mengingatkan priaku.
"Ya, diatur saja, Jack. Aku serahkan semuanya padamu. Aku ingin beristirahat dulu. Terima kasih." Priaku menepuk bahu Jack, sepertinya dia ingin Jack cepat-cepat pergi dari sini.
"Hati-hati." Priaku berpesan.
Jack juga membungkukkan badannya ke arahku, dan aku mengangguk. Kulihat pria berkemeja abu-abu itu pergi meninggalkan kami. Dia lantas pergi dengan membawa mobil priaku. Mungkin priaku yang memintanya sendiri.
"Baiklah, Nyonya Rain. Saatnya kita bermain air."
Aku masih melihat kepergian Jack, tapi tiba-tiba saja dia menggendongku. Gendongan ala pengantin yang aku tahu persis apa maksudnya. Dia lantas membawaku ke dalam kamar mandi.
"Sayang, turunkan aku! Aku baru saja keluar dari rumah sakit!" seruku.
"Hei, Nyonya Rain. Dokter bilang baik-baik saja, hanya sebatas trauma ringan karena kejadian kemarin. Jangan banyak alasan, ya. Kau tahu, aku sudah lama tersiksa." Dia seperti memperingatkanku.
Mau tak mau akhirnya aku hanya bisa pasrah saja. Dan tahu sendiri apa yang kami lakukan di kamar mandi. Ya, kami mandi. Mandi bersama dengan beberapa permainan yang menyelingi. Sungguh priaku ini memang tidak tahu waktu.
__ADS_1
Awas saja jika sudah menikah, aku akan membuatmu kerepotan sendiri.
Kami akhirnya menikmati mandi pagi bersama. Air yang dingin membuat priaku menyalakan pemanas airnya, hingga akhirnya kami bisa berendam bersama di bathtub. Walaupun rumah ini sederhana, tapi fasilitasnya bisa dibilang mewah. Mencukupi kebutuhan dan hasrat kami untuk terus betah tinggal di sini.
Palm Jumeirah, pukul sepuluh pagi...
Aku dan calon suamiku sedang bersantap bersama di teras lantai dua rumah. Kukenakan daster tanpa lengan berwarna putih, sedang priaku mengenakan kemeja putih lengan pendek dan celana pendek putihnya. Kami kompak mengenakan pakaian berwarna putih hari ini.
Semilir angin pantai membuatku harus menggulung rambut dengan cepat. Priaku tampak memperhatikanku yang tengah risih sendiri. Beberapa suapan harus terhenti karena rambutku ikut masuk ke mulut. Lalu akhirnya aku memutuskan untuk menggulung rambutku ini.
Sebenarnya priaku menyukai wanita berambut panjang. Tapi kalau boleh jujur, terlalu panjang juga membuatku ribet sendiri. Tapi demi dia, apa sih yang tidak. Semua akan kulakukan untuknya. Bahkan bertarung nyawa untuk melahirkan anaknya pun aku rela.
Inilah cinta, memang gila dan tidak kenal logika. Aku berharap rasa yang ada di hatiku sama seperti rasanya. Hanya tinggal hitungan hari kami menikah dan sah menjadi pasangan suami istri. Dan aku berharap kami cepat dikaruniai buah hati.
Sungguh tak sabar rasanya melihat bayi kami. Perpaduan antara wajahku dan wajahnya menjadi satu. Mungkin jika perempuan akan cantik sekali. Bayi perempuanku pasti akan mewarisi paras ayahnya. Tentunya paras priaku tidak perlu diragukan lagi. Tampan, tampan, dan tampan.
"Sayang, hari ini kita mau ke mana?" tanyanya sambil mengambilkan tisu untuk mengelap mulutku.
"Kita di rumah saja, ya. Aku ada tugas kuliah," jawabku segera.
"Tidak ingin jalan-jalan?" tanyanya lalu meneguk air minum.
"Hm ... memangnya mau ke mana?" tanyaku balik.
"Kita bisa surfing atau bermain jet ski," katanya.
Lantas aku berpikir. "Kita jalan-jalan di pantai saja bagaimana?" Aku memberikan saran.
Sebenarnya aku ingin sekali berjalan-jalan mengelilingi kota bersamanya. Mengunjungi tempat wisata yang ada alpacanya. Ya, aku sempat membaca artikel tentang kota ini jika ada tempat untuk menunggangi alpaca. Aku kan belum sempat melihat wujud asli hewan itu. Katanya sih lucu dan menggemaskan, jadi aku tertarik ke sana. Tapi karena banyak tugas, aku memilih liburan di sekitaran rumah saja.
"Hanya jalan-jalan?" Dia meletakkan gelas air minumnya ke meja.
"He-em." Aku mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah. Kita akan—"
Belum sempat dia meneruskan kata-kata, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Priaku lantas mengambil ponsel dari saku dan melihat siapa yang meneleponnya.