
Lily mengangguk. "Aku bersedia untuk menjadi istrimu, Pangeran Agartha. Aku juga bersedia menjadi ibu dari anak-anakmu kelak. Dan aku juga bersedia menjadi ratu yang akan mendampingimu hingga akhir waktu. Aku menerimamu sebagai suamiku." Lily mengatakannya.
Sontak seluruh hadirin terharu dengan apa yang mereka ucapkan. Baru kali ini terdengar janji suci yang diikrarkan putra mahkotanya sendiri. Walaupun tanpa sang raja menemani, momen ini mampu membuat para pembantu raja diselimuti keharuan yang mendalam. Akhirnya negeri ini memiliki penerus tahta kerajaan.
Sesepuh istana kemudian meminta Agartha untuk menyerahkan sesuatu kepada Lily sebagai mas kawin. Agartha pun menyerahkan selembar surat kepada Lily. Namun, selembar surat bukan tanpa isi. Melainkan berisi mas kawin yang Agartha tuliskan untuk Lily. Dan Lily pun menerimanya.
"Selamat kalian sudah resmi menjadi sepasang suami istri."
Saat Lily menerima semua pemberian dari Agartha, saat itu juga sesepuh istana meresmikan ikatan suami istri pada keduanya. Pembawa acara kemudian meminta para hadirin untuk segera berdiri. Karena doa akan segera dipanjatkan sebagai rasa syukur atas pernikahan ini. Ara dan Rain pun mengikutinya dengan khidmat.
Beberapa saat kemudian...
Pesta pernikahan akhirnya berjalan dengan lancar. Ara dan Rain pun bergantian mengucapkan selamat kepada pangeran dan Lily di atas panggung pengantin. Sekaligus berpamitan karena mereka ingin segera kembali ke bumi.
"Selamat atas pernikahan Pangeran dan Lily. Kami turut berbahagia." Rain membuka percakapannya saat tiba di hadapan Lily dan pangeran.
"Terima kasih. Bahagia rasanya kalian bisa menjadi saksi pernikahan ini." Pangeran tersenyum. Raut wajahnya dipenuhi kebahagiaan.
"Nona, bagaimana keadaanmu?" Ara pun bertanya kepada Lily yang mendampingi pangeran.
Lily mengalihkan pandangannya ke Ara. "Kondisiku lebih baik sekarang. Terima kasih atas bantuanmu, Nona." Lily menjawabnya seraya berterima kasih.
"Aku yang seharusnya berterima kasih karena telah diperlakukan dengan baik di istana ini. Selamat ya." Ara memegang kedua tangan Lily sambil tersenyum bahagia.
Keduanya lalu berpelukan. Ara pun berharap Lily dapat segera menyusul dirinya yang dianugerahi buah hati tercinta. Doa terbaik menyertai pesta pernikahan pangeran dan Lily.
__ADS_1
"Kalau begitu kami sekaligus ingin berpamitan, Pangeran." Rain akhirnya mengutarakan tujuan utamanya.
Seketika pangeran terkejut. "Secepat ini?! Pesta saja belum selesai Tuan Rain. Apakah kalian ingin mengecewakanku?" Pangeran Agartha terlihat berat untuk melepaskan kepulangan Ara dan Rain.
"Kami sudah rindu dunia kami, Pangeran. Maaf tidak lagi bisa berlama-lama di sini." Ara menambahkan.
Tiba-tiba raut wajah pangeran terlihat sedih. Lily pun menyadarinya. "Tuan, Nona. Bisakah untuk hari ini saja kalian berada di sini? Hari ini adalah hari pernikahan kami. Kami ingin berbahagia tanpa harus bersedih karena kehilangan sosok tamu teristimewa kami. Bisakah aku memohon kepada kalian?" Lily begitu mengerti keinginan suaminya. Ia bahkan rela memohon.
Sontak ucapan itu membuat Ara dan Rain tidak enak hati sendiri. Rain pun melihat istrinya.
Ara seperti menyadari maksud Rain. "Sebenarnya kami sudah ingin kembali. Tapi jika Nona Lily yang meminta, kami akan memenuhinya. Namun, untuk esok kami tidak lagi bisa menyanggupi karena urusan di dunia juga belum terselesaikan." Ara akhirnya mengambil keputusan.
Sontak Lily tersenyum semringah. Ia kemudian memeluk Ara di hadapan Rain dan juga suaminya. "Terima kasih Nona. Terima kasih banyak." Lily pun riang gembira menyambutnya.
Tentu saja hal ini membuat Pangeran Agartha tersenyum lega. Karena di hari pernikahannya, ia masih bisa menjamu tamunya. Apalagi Ara dan Rain bukanlah tamu biasa. Melainkan tamu yang sudah merubah segalanya. Andai Ara dan Rain tidak datang, mungkin kepahitan yang menimpa Lily tidak akan pernah terungkapkan. Dan gadis itu akan selamanya membeku di ruang bawah tanah.
Ara dan Rain pun mengangguk. Keduanya lalu turun dari atas panggung pengantin. Mereka bergandengan tangan menuju meja hidangan.
"Sayang, apakah keputusan yang kuambil ini benar?" Ara bertanya saat berjalan bersama Rain menuju meja hidangan.
"Kau pasti tahu yang terbaik, Sayang. Istriku sudah dewasa walaupun usianya masih remaja." Rain merangkul istrinya.
Ara tersenyum. Ia bahkan sampai lupa jika perbedaan usianya cukup jauh dengan Rain. Perjalanan yang mereka lalui tidak lagi mempersoalkan jarak, kasta, harta atau tahta. Bahkan umur sekalipun bukanlah sebuah persoalan bagi mereka. Karena kebahagiaan adalah segalanya.
Pesta dansa istana...
__ADS_1
Alunan musik yang dimainkan seolah menjadi penggerak kedua langkah kaki sepasang suami istri ini untuk terus bersama dalam kehangatan acara pesta. Suara seluring bambu yang merdu dan harpa yang dimainkan, berpadu mengiringi acara dansa keduanya.
Kini Ara sedang bergelayut manja pada Rain di atas lantai dansa. Kedua tangannya melingkar di leher Rain sambil memandangi paras indah sang penguasa. Sedang Rain melingkarkan kedua tangannya di pinggul Ara sambil menatap kedua bola mata Ara yang hitam. Mereka saling berpandangan dalam syahdu cinta.
"Kau tampan, Sayang." Ara memuji ketampanan suaminya.
"Kau juga amat cantik, Istriku." Rain membalas pujian Ara.
Mereka saling membalas senyuman. "Rasanya aku sudah tidak sabar ingin melihat anak-anak kita." Ara menuturkan seraya menatap Rain.
Rain mengangguk. "Waktu itu akan segera tiba, Sayang. Dan sebelumnya, aku akan mempersiapkan kelahiran mereka." Rain berjanji.
Ara pun merebahkan kepalanya di dada Rain. Kedua tangannya perlahan turun, melingkar di pinggang suaminya. Ara memeluk Rain sambil mengikuti irama musik dansa.
"Aku mencintaimu. Jangan pernah menyesali apa yang terjadi." Ara meminta.
Rain memberatkan kepalanya di kepala Ara. "Aku tidak pernah menyesali pertemuan ini, Sayang. Aku hanya tidak ingin melihatmu menderita. Aku tidak tega. Jika aku bisa menggantikannya, aku rela." Rain mengungkapkan isi hatinya.
Ara tersenyum. Ia kembali menatap wajah suaminya. "Kehadiranmu sudah cukup untuk memberiku kekuatan untuk terus menjalani hidup ini. Jadi, jangan pernah menyesali diri sendiri lagi. Aku mencintaimu." Ara mengatakannya kembali.
Rain terharu. Ia kemudian mencium kening istrinya. Ia tidak lagi memedulikan ada yang melihatnya atau tidak. Yang ia tahu di hadapannya ada sang istri tercinta, Aradita. Seorang wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.
"Aku juga mencintaimu, Sayang."
Tatapan Rain dipenuhi syahdu cinta kepada Ara. Ia lantas merendahkan sedikit tubuhnya untuk mencium bibir istrinya. Ciuman di tengah rasa bahagia yang menyelimuti perjalanan hidupnya. Ara pun membalas ciuman Rain tanpa merasa sungkan kepada yang lain. Ia melingkarkan kedua tangan di leher suaminya. Hingga akhirnya kecupan itu selalu berulang dan terus berulang.
__ADS_1
Mereka saling menekan dan menarik bibir pasangannya. Sampai akhirnya lampu istana menyorot kebersamaan mereka. Saat itu juga semua mata tertuju kepada cinta yang ada di sana. Ara dan Rain bak pasangan abadi sepanjang masa.