
Pada saat Rain ingin membuka tirai, di saat itu juga Ara menarik tirainya. Sehingga mereka sama-sama membuka tirai, namun dari berlawanan arah. Seketika Ara terkejut saat melihat Rain sudah ada di hadapannya. Sang penguasa pun merasa rencananya telah gagal.
"Tuan?" Ara kaget melihat Rain.
Untuk menutupi rencananya, Rain segera beralibi agar Ara tidak berpikiran macam-macam tentangnya. Ia menatap Ara dengan tatapan tajam sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. Ia pun berkata tegas kepada gadisnya.
"Aku ingin bicara padamu."
Sontak perkataan tegas dari Rain membuat Ara seperti mendapat titah sang raja. Ia mau tidak mau harus menuruti permintaan Rain.
Apa yang ingin dia katakan?
Sambil berjalan mengekor kepada Rain, Ara bertanya sendiri dalam hati. Gadis berdaster kuning itu merasa gelagat sang tuan kurang baik malam ini. Sesampainya di depan pintu kamar, Rain pun segera melakukan sesuatu hal tak terduga padanya.
"Tuan! Lepaskan!"
Rain menarik Ara, masuk ke dalam kamarnya. Ia mengunci pintu kamar lalu membuang kuncinya ke atas lemari. Sontak Ara tidak bisa lagi melarikan diri. Sang gadis terkurung di dalam kamar Rain.
"Tuan, apa yang Anda lakukan? Buka pintunya!" Ara menggerak-gerakkan gagang pintu agar terbuka.
"Duduklah, aku ingin bicara padamu tanpa harus terjeda." Rain meminta Ara duduk di pinggir kasurnya.
"Tuan ...."
"Duduklah, Ara," pintanya lagi.
Keadaan kamar terasa hening, hanya ada suara detik jam yang menemani. Ara pun duduk di pinggir kasur bersama Rain. Namun, jarak mereka berjauhan. Ara masih menjaga jarak dari tuannya.
"Aku sudah menyelidiki siapa orang yang mengirim foto-foto itu." Rain mulai bercerita.
Ara menoleh ke arah Rain.
"Maafkan aku, Ara. Aku cemburu. Aku terbawa emosi sampai menyakiti hatimu. Aku minta maaf." Rain pun menoleh ke arah Ara dengan tatapan sendu.
Tuan ....
Seketika Ara menyadari apa maksud Rain menariknya ke dalam kamar. Ia ikut merasa bersalah karena telah berburuk sangka kepada Rain.
"Aku tidak rela kau disentuh pria lain. Aku ingin kau hanya menjadi milikku seutuhnya. Aku tidak rela membagimu dengan siapapun," kata Rain lagi.
Ara menelan ludahnya. Ia tertunduk merenungi kata-kata Rain.
__ADS_1
"Ara ... aku serius ingin menikahimu. Tolong maafkan ucapanku yang kemarin. Aku tahu ini tidak mudah. Tapi tolong, cobalah untuk memaafkanku." Rain memohon.
Saat itu juga hati Ara terenyuh dengan kata-kata Rain. Jauh di lubuk hatinya ia juga tidak ingin kesenjangan ini kembali terjadi. Bagaimanapun ia mencintai Rain. Tapi, gelas-gelas kaca itu sudah pecah dan tak mampu dikembalikan seperti sediakala.
"Tuan, aku berterima kasih atas niat baikmu. Tapi ... rasanya aku tidak pantas menerima kata maaf itu." Ara berkata pelan.
"Ara ...." Rain pun menatap Ara dari sisinya.
"Aku hanya gadis miskin yang sedang berjuang melawan takdir. Sedang dirimu dengan mudah mendapatkan apa yang kau mau. Kau bahkan bisa membeliku dengan uangmu. Tapi, sayangnya kau tidak bisa membeli hatiku." Ara mengatakan hal yang membuat Rain tersentak.
"Ara, aku tidak pernah melihatmu dari sudut pandang itu. Yang kutahu kita memiliki rasa yang sama. Dan hal itu sudah cukup menjadi alasan untuk meneruskan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius." Rain mengemukakan pendapatnya.
"Ya, tapi derajatmu akan turun jika menjalin hubungan denganku. Kau akan ikut murahan, Tuan," tutur Ara lagi.
"Ara."
Seketika itu juga Rain berlutut di hadapan Ara. Ia amat menyesal karena telah mengatakan hal itu kepada gadisnya. Ia lalu memegang kedua tangan Ara yang seolah membeku karenanya.
"Maafkan aku, Ara. Maafkan aku. Aku tidak ada maksud untuk berkata seperti itu. Maafkan aku." Rain memohon.
Linangan air mata terlihat jelas di kedua mata sang gadis. Ia menahan sesak yang mulai menyelimuti dadanya, karena teringat dengan kejadian waktu itu. Ara pun mencoba menepiskan tangan Rain yang memegang tangannya. Tetapi...
"Tuan, jangan begini." Ara pun tidak dapat menahan sesaknya lagi.
"Aku tidak bisa didiamkan seperti ini olehmu. Tolong, cobalah untuk memaafkanku. Beri aku kesempatan untuk memahamimu. Aku memang bodoh, Ara. Aku ...,"
Ucapan Rain terhenti. Ia tidak sanggup lagi untuk melanjutkan kata-katanya. Ia rebahkan kepalanya di atas pangkuan Ara, berharap Ara akan mengusap kepalanya.
"Cobalah untuk memaafkanku. Cobalah, Ara."
Rain meminta dengan sebenar-benarnya permintaan. Baru kali ini ia melakukannya kepada seorang gadis. Tak lain hanya kepada Ara seorang. Ia masih juga belum bisa menyatakan bagaimana perasaan yang sesungguhnya kepada Ara, walaupun keadaannya sudah seperti ini.
"Tuan, bangunlah. Kita makan malam." Ara mengajak Rain bangun.
"Tidak." Rain menggelengkan kepalanya. "Sebelum kau memaafkanku," kata Rain lagi.
Tuan ....
"Ara." Rain mendongakkan kepalanya ke Ara. "Aku ...," Rain menatap Ara dengan linangan air mata yang tertahan.
Ara pun menunggu Rain melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Maaf, ada sesuatu hal yang belum bisa kuceritakan padamu. Aku masih menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya. Tapi kumohon, maafkan aku." Rain meminta lagi.
Kristal bening itu tanpa sadar jatuh, membasahi pipi sang gadis. Hatinya terasa dilema melihat Rain yang memohon maaf padanya. Tapi, perasaan sakit itu masih membekas di hatinya. Ara membutuhkan waktu untuk menata kembali hatinya yang berantakan.
"Aku memaafkanmu," kata Ara yang seketika membuat Rain tersenyum. "Tapi..."
"Tapi apa, Ara?" tanya Rain segera.
"Aku ... masih membutuhkan waktu untuk kembali seperti dulu." Ara menjelaskan.
Sejenak Rain terdiam. "Baiklah. Jika itu maumu, aku akan menunggunya. Tapi tolong jangan diamkan aku seperti ini," pinta Rain lagi.
Ara mengangguk pelan, mengiyakan.
"Terima kasih, Ara."
Rain pun semringah dalam sekejap. Ia pandangi wajah gadisnya dengan perasaan bahagia. Perlahan-lahan wajahnya mendekat ke wajah Ara, berniat meraih bibir polos itu.
"Kita biasa-biasa saja, ya."
Seketika Ara menahan bibir Rain yang mendekat ke arah bibirnya. Ia menolak ciuman dari Rain.
Ara ....
Rain tak menyangka jika Ara akan menolak ciumannya. Rupanya sang gadis tidak begitu saja memaafkan kesalahannya.
"Baiklah. Kalau begitu peluk saja." Rain berniat memeluk Ara.
Ara menggelengkan kepalanya, menolak kembali.
"Ara?!" Rain pun bingung.
"Beri aku waktu," pinta Ara sambil menatap wajah Rain.
Seketika Rain tersadar bagaimana sikap Ara yang sesungguhnya.
Ara, hanya karena sebuah kata kau menolak ciuman dan pelukan dariku. Bagaimana jika mengetahui sifat asli diriku? Apa aku harus menjadi orang lain di hadapanmu?
Ada sebuah rahasia yang belum Rain ungkapan kepada gadisnya. Ia masih menyimpan rahasia itu sampai waktu yang tepat untuk mengatakannya. Tapi setidaknya kesenjangan yang terjadi dapat sedikit terkikis karena Ara sudah mau bicara padanya.
Rain harus berjuang untuk mengembalikan perasaan Ara ke sediakala. Mau tak mau ia harus banyak bersabar untuk menghadapi sang gadis. Walaupun sejujurnya ia ingin sekali bermesraan dengan gadisnya. Tapi demi keadaan yang lebih baik, Rain harus menepiskan hasratnya sementara.
__ADS_1